
Ting… Tong…
Ceklek
“Assalamualaikum Tan,” sapa Rendra.
“Eeeeh ada Rendra, masuk dulu Ren,” sambut Mamah Ana.
“Tumben, ada perlu apa? Bukannya tugasnya udah beres ya?” lanjutnya bertanya.
Rendra pun hanya memasang wajah senyum sedari tadi untuk mengurangi rasa gugupnya, padahal ia sudah sering berhadapan dengan orang tua Ana, hanya saja kali ini dengan niat berbeda. Mendapat pertanyaan seperti itu membuatnya menjadi semakin gugup.
“Mmmmh biasa Tan mau ketemu Ana,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ooh yaudah bentar Tante panggilin Ana dulu.”
…
Tok..Tok..Took..
“An ini Mamah, di luar ada Rendra tuh,” panggil Mamahh Ana.
Bukan menjawab panggilan dari Mamahnya, Ana pun langsung keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.
“Loh tumben rapi gini, mau kemana emang?” Tanya Mamahnya.
Ana pun hanya mengedikan bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan sang mamah, lalu keduanya pun berlalu ke ruang tamu menemui Rendra.
Sesampainya di ruang tamu ketiganya pun langsung duduk di sofa yang ada di sana. Mamah Ana duduk di sofa single menghadap kea rah Ana dan Rendra yang duduk berdampingan.
“Gini Tan, aku mau minta ijin sama Tante mau bawa jalan Ana malam ini.”
Dengan rasa gugup Rendra pun memberanikan diri untuk meminta ijin. Terbilang ini adalah pengalaman pertama baginya.
“Oooh mau kemana emang Ren, biasanya juga di rumah aja sama buku,” Tanya Mamah terkekeh.
“Paling ke mall aja Tan. Mau refreshing, pusing juga kalo sama buku terus mah hehe,” jawab Rendra. Sedangkan Ana dari tadi hanya memandang interaksi antara kedua insan yang ada di hadapannya ini.
“Hehe iya bener hidup juga jangan terlalu kaku ya. Yaudah sana, tapi jangan kemalaman, paling nggak jam 10 dah di rumah loh yaa. Jagain juga anak gadis tante satu-staunya ya Ren,” jawab Mamah Ana mengijinkan.
“Iya Tan, insyaallah kalau nggak macet. Kan malem minggu Tan,”
“Iyasudah sana keburu malem. Yang penting jangan malam malam sama jagain Ana nya yaaa,” pinta Mamah Ana lagi.
“Iya Tan, yaudah kami pamit. Assalamualaikum.”
“Ingat An, jaga jarak aman,” peringatan sang Mamah kepada anak gadisnya.
“Iya mah, assalamualikum.”
__ADS_1
“Iya waalaikum salam, hati hati,” jawab Mamah Ana dengan lambaian tangannya ke mobil Rendra.
…
Di mobil
“Mau kemana si Ren,” Tanya Ana.
“Rencana kita ke mall main game, trus santai-santai duduk aja nikmatin malam di café.
Gimana,?” jawab Rendra meminta persetujuan.
“Boleh,” jawab Ana.
Di dalam mobil keduanya merasa kikuk satu sama lain. Padahal biasanya jika bertemu keduanya tak pernah tertinggal yang namanya perdebatan. Tapi kali ini menjadi pernah.
Rendra yang biasanya selalu menggoda Ana kali ini seperti kehabisan kata-kata. Hawa dingin benar-benar terasa di dalam mobil itu.
Di luar ekspetasi Rendra bahwa suasana dalam mobil akan secanggung ini.
Hampir 15 menit perjalanan dalam kesunyian, akhirnya ada juga yang membuka percakapan.
“An,” panggil Rendra yang entah akan berbicara apa. Yang ada dalam pikirannya hanyalah jangan sampai sepi seperti ini. Seperti berada di dalam mobil seorang diri. Padahal ada snag bidadari di sampingnya.
“Hmmm,” jawab Ana dengan pandangan masih menatap jalanan.
“Hmmm,” jawab Ana masih sama dengan posisi seperti tadi.
“Aaann,” panggil Rendra lagi dengan intonasi yang lebih keras.
Akhirnya Ana pun menolehkan pandangannya ke Rendra.
“Apasih Ren,”
Rendra pun hanya menjawab nggak papa dengan senyum manisnya. Ana pun hanya mendengus kesal dengan sikap Rendra, tetapi seperti ada bunga-bunga dalam hatinya.
Tepat saat itu Rendra telah memakirkan mobilnya. Keduanya pun turun dan naik ke lantai atas di mana mereka akan bermain.
“Ren, aku mau main itu,” pinta Ana dan menunjuk ke tempat capit boneka.
Sejak kedatangan keduanya, perhatian para pekerja mall yang ada di situ teralihkan kepada sepasang manusia itu yang saling berjalan beriringan. Ana yang cantik dengan tampilan sederhananya membuat ia terlihat cantik natural. Rendra yang tampan berkulit langsat dengan T-shirt putih dengan celana jeans dan sepatu kets sangat terlihat cocok di badannya yang ateltis, membuat mereka seperti pasangan yang harmonis. Di tambah Ana yang meminta untuk bermain capit boneka langsung dituruti oleh Rendra, padahal biasanya lelaki itu malas untuk bermain itu dengan alasan malu. Membuat iri orang-orang yang ada di situ.
Setelah mendapatkan tiket keduanya pun bermain.
“Nih main. Coba aku maubliat anka pinter main ginian bisa nggak,” ejek Rendra. Ana pun hanya memicingkan matanya ke lelaki yang mengejeknya.
“Kalo aku dapet ku gigit kepalamu,” ancam Ana dengan seringai liciknya.
“Udah cepetan main sana.”
__ADS_1
Selama bermain, Rendra hanya mengamati Ana dari samping. Ketika Ana gagl mendapatkan bonekanya, Rendra menertawakan Ana, dana Ana mengerucutkan bibirnya yang menambah tawa Rendra. Karena gemas dengan Ana, Rendra pun mengacak-acak pucuk dan kepala dan mencubit pipi Ana yang menambah kekesalan Ana.
Karena kesal Ana memukulkan tangannya ke dada Rendra karena jarak yang keduanya yang dekat hingga memudahkan Ana untuk memukul dada bidang Rendra. Menanggapi hal itu Rendra hanya tersenyum dan tertawa, lalu menangkap kedua tangan Ana yang memukulnya dan menggenggamnya hingga kedua mata mereka saling beradu pandang satu sama lain.
Ada sorot mata berbeda Rendra yang dirasakan Ana. Namun Ana enggan menanggapinya serius. Hingga tertahan beberapa detik pandangan itu sampai ada.
“Om sama Tante lagi main jadi patung ya,” ucap anak kecil yang berumur 4 tahun itu dengan logat cadel nya.
“Hah?” sahut Ana yang merasa terkejut. Dengan cepat ia melepaskan tangannya dari genggaman Rendra.
“Iya Om sama Tante lagi main-main patung mesra, trus kamu dateng nggak jadi deh mesranya,” sahut Rendra.
Ana terperangah dengan jawaban Rendra dan mengajak Rendra untuk cepat-cepat prig dari sana.
“Enggak ko dek, tadi kita lagi latihan drama,” sahut Ana untuk menghilangkan pikiran anak kecil itu dari jawaban yang diberikan Rendra.
“Yaudah ya, Om sama Tante mau pulang dulu soalnya udah malem, dadaaah,” lanjutnya serya menarik tangan Rendra dan menjauh dari sana.
Orang tua dari anak kecil itu pun hanya menggeleng kecil melihat kelakuan dua anak manusia itu.
Setelah menjauh dari area permainan itu, Ana pun mengajak Rendra untuk pulang karena sudah mendekati jam yang ditentukan oleh sang mamah. Rendra pun hanya menurutinya dan merasa waktu berjalan sangat cepat, padahal hanya bermain satu permainan tetapi memakan waktu berjam-jam.
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil lebih hangat dari suasana keberangkatan tadi. Keduanya saling bercerita tentang apa yang pernah mereka lalui. Ya bisa dipastikan bahwasannya Rendra lah yang lebih banyak berbicara daripada Ana. Karena Ana jika berada di dekat Rendra kesannya menjadi malu-malu tapi mau.
“An, kamu pernah pacaran?” Tanya Rendra yang hanya dijawab gelengan oleh Ana.
“Kalau jatuh cinta,” tanyanya lagi.
“Entahlah aku nggak tau apa itu cinta. Tapi aku ngerasa nggak pernah tuh uring-uringan kaya orang pacaran, yang selalu mikirin cowok yang dia suka. Jadi bisa dibilang aku belum pernah jatuh cinta,” jawab Ana yang hanya ditanggapi anggukan oleh Rendra.
“Masa sih An kamu nggak pernah jatuh cinta sama orang. Kamu kan cantik pasti banyaklah yang naksir,” Tanya Rendra lagi.
“Ya itu berarti mereka yang jatu cinta. Bukan aku,” sanggah Ana lagi.
“Dasar beku banget hati mu An,” candanya.
Ana pun hanya menanggapinya dengan senyuman.
Dulu iya beku Ren. Tapi sekarang kayanya udah nggak beku lagi deh.
.
.
.
**Jangan lupa like komennya ya, kritik dan sarannya juga ditunggu banget nih😊
Terimakasih buat yang udah mampir dan baca sampe akhir 🤗**
__ADS_1