Aku Kau Jadi Kita

Aku Kau Jadi Kita
Biang Gosip


__ADS_3

Di rumah Ana, ketika Ana pergi mamahnya menunggu kedatangan sang papah untuk menyampaikan berita tentang yang terjadi pada anak gadisnya. Kedatangan anak lelaki di rumah Ana menjadi keinginan yang ditunggu-tunggu oleh mamahnya. Ia sudah tak sabar untuk menimang cucu dari anak tunggalnya itu. Padahal umur Ana terbilang masih sangat muda. Berbeda dengan papahnya yang mengikuti alur saja.


Sempat saat itu Ana baru menginjak kelas dua SMA mamahnya ingin menjodohkannya dengan anak temannya yang usianya kurang lebih 2 tahun di atas Ana. Ana yang mengetahui itu marah besar kepada mamahnya. Mungkin karena hal itu juga Ana menjadi lebih malas berinteraksi dengan mamahnya. Padahal dulunya Ana termasuk kedalam golongan anak manja.


Yang membuatnya sangat marah dengan mamahnya, Ana disuruh menikah dengan jodoh yang disediakan mamahnya setelah lulus SMA. Hal itu tentu saja diluar ekspetasinya. Ana masih ingin belajar, bebas, tidak terikat, dan yang paling penting ia ingin terlebih dulu merasakan nikmatnya mencari uang sendiri sebelum ada yang menjamin hidupnya setelah kedua orang tuanya.


“Hallo,”


“Papah kapan pulangnya sih kok lama banget,” Tanya Mamah Reni yang tak lain ialah mamah dari Ana.


“Baru jam 8 Mah. Biasanya aja Papah kadang pulang sampe jam 9. Bentar lagi pulang kok Mah, kenapa emang?”


“Yaudah cepetan pulang ya Pah. Hati-hati di jalan yah, mamah mau cerita pokonya,"


Setelah menelepon sang suami, Mamah Reni duduk di ruang keluarga sambil menonton tv. Melihat drama romantic yang ditontonnya membuat ia membayangkan hal itu terjadi dengan anaknya sekarang yang tengah berkencan dengan sang kekasih.


Asik dengan lamunannya, rak terasa sang suami telah berada di rumah dan langsung menghampiri istrinya.


“Ngapain sih Mah? Kok senyum senyum sendiri kaya anak abg lagi jatuh cinta aja.”


“Hah, Papah ni bikin kaget aja lo,” sahut Mamah Reni yang terkejut. Lalu menepuk sofa kosong di sebelahnya dengan maksud agar suaminya itu duduk di sebelahnya.


“Papah tau nggak,” Tanya sang Mamah yang memulai aksinya.


“Enggak. Emang ada apa? Trus Ana mana kok nggak keliatan biasanya di meja makan jam gini,”


“Nah itu Ana yang Mamah mau ceritain ke Papah,”


“Emang kenapa sama Ana, nggak buat ulah kan dia,?” Tanya Papah Ardi dengan rasa penasaran.


Tak biasanya istrinya ini bersikap seperti ini. Kalau ingin bercerita biasanya ia langsung bercerita dan tidak biasanya ia menyuruhnya cepat pulang.


“Ana lagi jalan Pah,” sahut Mamah Reni seraya melepaskan dasi suaminya.


“Tumben,”


“Papah tau nggak diaa lagi jalan sama siapa?”


“Sama Olive kan kalo nggak sama si Andra. Oiya Andra baru balik kesini kan, pasti jalan bertiga kan mereka,”


“Iya si Andra tadi kesini trus ngajak jalan bertiga tapi Ana nggak mau malam ini, paling besok mereka baru jalan.” Jawab Mamah Reni yang menciptakan pertanyaan di kepala suaminya itu. Kalau tidak jalan dengan mereka lalu Ana anaknya jalan dengan siapa.

__ADS_1


Biasanya Ana tidak pernah mau jalan dengan orang lain yang baru dikenalnya. Biasanya ia hanya akan jalan dengan sahabatnya itu Olive.


“Jadi Ana keluar sendiri?” Tanya Papah Ardi yang penasaran.


“Enggak,” jawab Mamah Reni dibarengi dengan gelengan.


“Dia jalan sama Rendra Pah si tampan itu,” lanjutnya dengan semangat.


“Yang bener Mah?” sahut Papahnya yang tak percaya karena menurutnya Ana baru saja mengenal Rendra. Dan sekarang ia mau diajak jalan berdua dengannya. Padahal Ana tipekal orang yang susah berinteraks dengan orang yang baru dikenal.


“Iya Pah. Terus tadi Rendra yang jemput Ana. Terus yang yang bikin Mamah seneng lagi Rendra yang minta ijin sama dan pamit sama Mamah kalo dia mau bawa Ana jalan buat refreshing katanya.”


Papah Ardi hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan dari istrinya itu.


“Gimana Pah? Bagus kan, gentle lagi. Aaah Mamah jadi nggak sabar. Papah setuju kan kalo Ana sama Rendra?”


“Ya Papah sih setuju-setuju aja. Asalkan Ana bahagia dan si lelaki memang bisa bertanggung jawab terhadap Ana,” jawab sang Papah sambil mengelus sayang rambut sang istri.


….


Ana dan Rendra sampai di depan rumah Ana. Sebelum Ana membuka pintu Rendra telah mencegahnya dengan membuka suaranya.


“Terimakasih buat hari ini ya An. I’m happy. Really happy.” Ucap Rendra dengan tulus sambil menatap Ana.


“Iya santai aja kali. Aku juga makasih ya dah dapetin bonekanya,” jawab Ana dengan sneyumnya yang manis itu, lalu turun dari mobil Rendra dan membalikan badan nya. Ia heran mengapa Rendra tak langsung pulang dan malah mengikutinya turun dari mobil.


Aduh An jangan gitu aku nggak tahan, ucap Rendra dalam hati.


“Ngapain?” Tanya Ana keheranan.


“Antar kamu," jawab Rendra santai.


“Kan sudah nih sampe depan rumah”


“Kan tadi aku ngambilnya di dalem rumah, jadi mau ku kembaliin juga sampe dalam rumah,” jawab Rendra yang langsung masuk mendahului Ana.


Ana pun kesal dengan sikapnya yang main nyelonong aja.


“Ayok kok diem aja. Tadi pengen pulang. Ayok dah malem,” ajak Rendra dan mengamit tangan Ana.


Ting.. Toong…

__ADS_1


Ceklek..


“Eeh udah pulang ayo masuk,” sambut Mamah Reni.


Keduanya pun masuk kedalam namun tidak duduk karena Rendra keduluan berucap.


“Oiya Tan, aku langsung pulang kan Ana nya udah saya antar selamat sampai tujuan. Makasih juga ya Tan udah kasih ijin.”


“Iya sama-sama, Tante juga seneng akhirnya Ana bawa pulang calon,”


Ana yang mendengar itu pun langsung bersungu-sungut. "Apa sih calan calon calan calon,” sahut kesal Ana.


Namun berbeda dengan Rendra dan Mamah Reni yang malahan tersenyum melihat itu.


“Oiya Tan saya pamit ya. Salam juga sama


Om nya. Assalamualaikum,” pamit Rendra sopan.


Waalaikumsalam, jawab keduanya.



Setelah mengantaar kepergian Rendra Mamah Reni dan Ana masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga ia melihat sang papah.


“Ciieee cieeee ada yang abis ehm ehm niiiii,” olok mamahnya.


“Ciieee anak Papah udah gede yaaa ternyata,” Papah Ardi ikut menimpali.


“Ihh berisik deh, dah Ana mau tidur capek besok mau main sma Adra sama Olive,” sahut kesal Ana menutupi rasa malu dan gugupnya.


“Dasar, mau jalan sama Rendra aja sampe pake bohongin sahabatnya sendiri. Kalo mamah jadi sahabatmu mamah smabit kamu,” ucap mamah Reni.


Ana yang merasa malu dan gugup pun langsung berlari ke kamarnya tanpa menanggapi omongan sang mamah.


Kedua orang tuanya yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anknya itu yang sedang falling in love menurutnya.


.


.


.

__ADS_1


**Jangan lupa like komen dan dukungannya yaaa kritik dan saran juga sangat ditunggu penulis untuk bisa lebih baik kedepannya😊


Terimakasih yang sudah baca🤗**


__ADS_2