
“Hei..” sapa si pria yang menahan tangan Ana tadi.
Ana pun langsung memeluk pria tadi. Wajah nya berubah menjadi sangat ceria berbanding terbalik dengan beberapa menit yang lalu.
Di tempat duduk lain di sana ada pria yang menggerutu kesal melihat kejadian itu. Ya Rendra. Sekarang giliran Renda yang entah mengapa hatinya menjadi panas dan gelisah.
“Huuh dasar” gerutunya.
“Andra kapan balik? Kuliah disini? Kok ngak pernah liat sii? Aaaah aku rindu.”
“Satu-satu dong An kalo nanya. Kita duduk di taman depan aja yuk temu kangen.” ucap si pria dengan senyum manisnya.
Ya pria itu adalah Andra teman terdekat Ana sejak kecil. Hubungan keduanya sampai saat ini benar-benar hanya teman. Tidak lebih. Keduanya saling menyayangi layaknya seorang saudara. Mereka saling mempertahankan hati mereka untuk tidak saling jatuh cinta karena takut nanti merusak hubungan pertemanan mereka.
Hingga saat itu Andra harus pindah sekolah di waktu SMA untuk mengikuti orang tuanya karena sang ayah ialah seorang TNI yang suka berpindah-pindah tugas. Sebelumnya Andra terus bersama dengan Ana termasuk dengan sekolah meskipun tidak tinggal satu rumah dengan ayah. Andra pun tinggal dengan neneknya, namun bebarapa tahun yang lalu di saat Andra di SMA kelas 1 semester 1 neneknya pun meninggal.
Jadi Andra memutuskan untuk tinggal bersama sang ayah dan ibu dari pada tinggal sendiri di rumah nenek nya karena sang kakek telah lebih dulu meninggalkannya di saat ia berusia 7 tahun.
“Iya aku baru balik lagi. Ayah dipindah tugas lagi ke daerah luar. Terus setahun lagi ayahku juga udah mulai pension. Jadi, aku mutusin buat nempatin rumah nenek soalnya rencana ayah sama ibu setelahh ayah pensiun kita bakal netap di tempat nenek.” Jelas Andra kepada Ana.
“Oooh gitu bakal bareng lagi dong kita aaaa hehe..” sahut Ana.
“Oiya kamu di sini kuliah ambil jurusan apa?” Tanya Ana lanjutnya.
“Kedokteran.” Jawab Andra seraya membusungkan dadanya seakan ialah yang paling hebat dengan bangganya.
__ADS_1
“Wah wah selamat ya An. Kesampaian juga akhirnya ahaha.”
“Itu juga butuh pergulatan panjang antara aku ayah dan ibu. Hampir setahun aku bahas itu sama ayah ibu sampe akhirnya bisa gol.”
“Udah kaya nyusun strategi main bola aja sampe setahun baru gol ahahah” sahut Ana dengan candaannya.
Ya memang Ana orang yang susah ditebak. Terlihat sombong bagi mereka yang belum mengenalnya secara intens. Tetapi jika sudah bisa mengenalnya secara intens tanpa maksud dan tujuan apapun kepadanya, Ana akan bersikap selayaknya kepada orang itu.
“Yaudah aku cabut dulu ya An. See you ntar atur jadwal ketemu deh. Ntar aku main kerumah yaaa."
“Oke deh bye.”
…
Di balik pohon rindang di dekat taman depan perpustakaan ternyata ada seseorang yang dari tadi mengamati Ana dan Andra dengan khusyuk. Tetapi naas, meskipun sudah khusyuk dia tidak dapat mendengarkan apapun pembicaraan sepasang manusia yang duduk di bangku taman perpus itu. Hanya rasa kesal yang ia dapat.
Saat ia menengok ke tempat di mana sepasang manusia itu sedang berbincang ternyata perbincangan itu sudah selesai yang menyisakan perempuan seorang diri.
Akhirnya Rendra mendekatkan diri kepada perempuan itu. Ya, pengamat itu adalah Rendra. Si pria tampan nan rupawan itu.
“Hai pendek,” sapa Rendra dengan senyum manisnya.
Meskipun Rendra tersenyum dengan sangat manis tetapi kemanisan senyumannya itu tidak mendapatkan balasan yang manis juga. Tetap sama seperti biasanya, mendapatkan keasaman dari perempuan di depannya ini.
“Issh.” Ana tidak menjawab sapaan dari Rendra, ia hanya menggumam kesal akan Rendra, lalu berbegas hendak meninggalkan Rendra.
__ADS_1
Tetapi baru hendak melangkahkan kaki, badannya langsung tertahan oleh tangan Rendra yang menghadangnya lalu mendudukannya. Meskipun Ana telah melawan untuk tidak mengikuti arahannya, tetap saja tidak bisa. Kekuatan pria itu lebih besar dari Ana.
“Sini bantuin aku dulu siapa tau kamu bisa sangat membantuku. Aku pengen cepet-cepet selesai kuliah ni. Bantuin aku ya An. Banyak yang bilang dari teman-teman kelasku kamu itu pintar. Bantuin aku yaaa.” Pinta Rendra ke Ana.
Entahlah kenapa Rendra yang biasanya begitu dingin terhadap wanita tetapi dihadapan wanita yang satu ini ia suka sekali memohon.
Ana hanya memandangnya serta mengerutkan alisnya dengan bingung.
“Teman-teman? Aku merasa tidak mempunyai teman sebanyak itu!” seru Ana yang merasa bingung mengapa ada orang yang mengetahui tentangnya padahal tidak sekelas dengannya, tidak juga sejurusan dengannya, apalagi mengenalnya.
“Itulah kamu yang kurang peka dengan keadaan sekitar. Tetapi bagus kamu rendah hati seperti itu, tapi juga membuat orang kesal seakan kamu tidak perduli dengan lingkungan sekitarmu.”
Lagi-lagi Ana hanya mengerutkan dahinya akan ucapan Rendra.
“Banyak orang di kampus ini yang mengagumi mu. Cantik dan pintar, baik terkadang karena kamu suka menolong orang yang membutuhkan bantuan. Dan kenapa aku bilang terkadang. Itu karena kamu jutek.”
Jelas Rendra dengan menoyor kepala Ana dengan telunjuknya di kalimat terakhir.
“Ah terserah deh. Sini dah ku bantuin mumpung lagi gak ngapa-ngapain.”
Akhirnya malaikat putih Ana berhasil membawa Ana ke jalan kebaikan yaitu membantu Rendra dalam mengerjakan tugasnya.
Ana yang membantu Rendra di depan taman perpus menjadi perhatian bagi setiap mahasiswa di sana. Tak sedikit yang membicarakan mereka. Karena Ana yang bisa dibilang tidak mau membantu mahasiswa lain dalam mengerjakan tugasnya secara pribadi. Apalagi dengan seorang pria. Pasti Ana akan membantu mahasiswa yang meminta bantuan tentang tugas dengan membentuk sebuah kelompok belajar. Tidak seperti yang dilakukan Ana terhadap Rendra seperti saat ini.
**Jangan lupa tinggalin Like dan komen kalian yaaa..
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir🤗**