
Sore hari Ana berada di kafe yang dikelola oleh Rendra, bukan tanpa sengaja Ana mendatangi kafe itu. Karena Rendra yang susah untuk dihubungi membuat ia sedikit kepikiran dan gelisah meski ia telah mengetahui bahwa Rendra di sana sedang bekerja. Namanya seorang wanita yang terkadang bahkan hampir selalu mengedepankan perasaannya disbanding dengan logika dan kenyataan.
Ditambah dengan adanya sekretaris Rendra di sana. Hanya dari suara yang ia dengar di telpon tadi membuat opini negative langsung terbangun secara otomatis. Mungkin Rendra tak akan macam-macam duluandengan sekretarisnya itu,tetapi jika sekretarisnya itu menggoda itu menggoda Rendra, ia takut Rendra tergoda.
“Ahh sial,” gerutu Ana dengan segala pemikiran negative terhadap Rendra itu.
Disedotnya minuman yang ada di mejanya sampai tandas tak tersisa. Ana merasa sangat butuh hiburan saat ini. Biasanya jika ia merasa butuh hiburan, ia akan memainkan ponselnya. Entah itu bermain game atau hanya melihat-lihat konten yang ada di media sosialnya.
Tetapi sekarang setiap kali melihat hand phone nya itu selalu saja kesal. Karena Ana selalu teringat akan telpon dan pesan nya yang tak mendapatkan respon dari kekasih nya itu.
Tak lama setelah itu ia pun memutuskan untuk pergi dari kafe itu. Sebelumnya ia merasa tenang karena teringat tentang kejadian pertemuannya dengan Rendra kala itu.
Mengingat itu rasa kesal Ana juga timbul setelah rasa tenang mengahmpirinya. Teringat bahwa kekasihnya sekarang ini tak merespon nya meskipun telah tahu alasan mengapa kekasih nya itu mengabaikannya. Tetapi tetap saja ia tidak terima akan hal itu.
…
Di lain tempat, Rendra sedang sibuk membahas proyek bersama dengan klien nya. Di sore harinya Rendra berada di kantor mendiang kakeknya itu. Sebelum berdiskusi dengan orang kepercayan Papa nya ia merogoh saku jasnya mencari handphone nya. Niatnya hendak menghubungi Ana, namun naas ia lupa untuk mengisi daya baterainya. Terakhir ia melakukan itu sewaktu ia masih berada di rumah, berarti terakhir kali mengecas handphone nya itu malam hari setelah bertemu dengan Ana.
__ADS_1
Bersamaan dengan pikiran yang mengingat kapan terakhir kali mengecas, Om Bisma orang kepercayaan papa nya itu tiba ke dalam ruangan nya.
“Gimana Ren menurut kamu?” tanya Om Bisma kepada Rendra mengenai proyek yang akan dijalaninya dalam waktu dekat ini.
“Aman aja Om. Kalau misal mau nambah pekerja boleh aja biar cepat selesai juga. Kayanya keuangan kita nyukupi, papa juga udah nge acc kalau misal mau ditambahin.” Jawab Rendra.
Sebenarnya kemampuan Rendra dalam berbisnis sangatlah mumpuni. Kecerdasannya akan timbul saat ia langsung berada di lapangan, berbeda dengan kemampuan belajarnya di kampus. Rendra merasa malas, karena menurutnya itu terlalu bertela-tele. Ia lebih suka langsung bertindak dengan perhitungan yang matang, dari pada harus mempelajari teori ia lebih suka mempelajri masaalah yang ada di lapangan.
…
Di taman ini,taman dekat lingkungan perumahannya. Ana duduk di salah satu bangku yang menghadap ke aliran sungai.
“Aku rindu,” ucap Ana lirih. Ia berharap angin mendengar suaranya yang bergetar menahan tangis dan sudi untuk menyampaikan rindunya untuk kekasihnya itu.
Rasanya rindu ini berat, persis seperti kata Dilan kalau rindu itu berat. Tak lama setelahnya air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya jatuh tanpa permisi. Hanya karena rindu tak mendengar suaranya Ana tersedu-sedu di senja kali ini.
Dalam pikirannya ada yang dilebih-lebihkan, pikirannya dengan bagaimana nanti jika memang dirinya akan berhubungan jarak jauh dengan Rendra. Terbiasa dengan kehadirannya di setiap hari meski tidak 24 jam, bahkan rasa rindunya sekarang saja sudah seperti ini. Padahal entah esok atau lusa ia pasti bisa bertemu kembali dengan Rendra. Bagaimana dengan nanti, bisa saja sebulan atau dua bulan baru bisa untuk bertemu.
__ADS_1
Diambilnya ponsel dalam tas kecilnya. Diketikan pesan untuk kekasihnya itu, “Aku rindu,” setelah terkirim ia langsung menuju kerumahnya. Senja kini berganti malam.
Sesampainya di rumah ia langsung bergegas ke kamar menaruh tas dan handphone nya di atas nakas, lalu kembali lagi ke bawah untuk makan malam. Ana merasa lapar setelah mennagis tadi, ternyata rindu juga butuh tenaga.
Tak banyak pembicaraan di meja makan, ia langsung kembali ke kamar untuk membersihkan badan. Berendam beberapa saat, berharap pikiran negatifnya segera hilang dari otak kecilnya. Dirasa cukup berendamnya, ia membilas tubuhnya yang dipenuhi busa itu, lalu memakai bathrobe dan keluar dari kamar mandi untuk memakai baju.
Setelah berpakaian Ana kembali ke kamar mandi, ia lupa untuk menggosok giginya ketika mandi dan sekalian membasuh wajahnya nya. Ketika berkaca, nampak ada bintik merah di pipi Ana. Disentuhnya, ada rasa sakit di sana.
“Haih jerawat. Terakhir kali jerawatan perasaan pas SMP, kok bisa ada lagi,?”
.
.
.
**Like, kritik, dan sarannya ditunggu yaa🤗
__ADS_1
Terimakasih😊😊😊**