
“Gimana kalau kamu jadi sama dia An?”
Ana yang telah tau maksud dari ucapan sang mamah pun lansung kaget dan dengan otomatis ia berdiri dari tempat duduknya lalu menghela nafas atas ketidak percayaan dari apa yang diucapkan mamahnya itu dan ia pun duduk kembali lalu memandang tajam kepada sang mamah dengan kesalnya.
“Hah ngaco deh Mamah, dah ah aku ke kamar” jawab Ana dengan raut wajah kesalnya.
“Gimana Pah? Papah oke nggak?” Tanya sang mama kepada papah Ana.
Papah pun hanya mengedikan bahu sebagai tanda jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan istri tercintanya itu.
“Papah sih terserah anaknya aja gimana. Toh juga dia yang ngejalani nantinya. Kalau memang itu baik ya papah dukung, kalau memang enggak papah cuma bisa nasehatin aja,” lanjut sang papah.
….
Di kamar Ana, yang tadinya berniat ingin melanjutkan tugasnya menjadi malas akibat dari pernyataan sang mamah yang dilontarkan kepadanya. Moodnya tiba-tiba berubah kesal mengingat akan hal itu.
Padahal tak ada yang salah dengan itu, jadi buat apa dia harus merasa kesal. Aneh.
Setelah makan malam tadi, Ana hanya berbaring menatap langit-langit kamar.
Terlintas dalam benaknya akan Rendra yang hadir dalam hidupnya. Ia merasa bahwa hanya dengannya ia merasa kesal dan mau menanggapi apa yang ia lakukan.
Padahal biasanya ia merasa masa bodoh dengan apa yang diucapkan dan dilakukan orang terhadapnya.
Tetapi berbeda dengan Rendra, ia menanggapi yang diucapkannya hingga kala itu menimbulkan sebuah perdebatan.
“Iisssh ngapai juga si pake muncul diotak. Hush husssh,” ucap Ana seraya mengibaskan tangannya di kepala seolah-olah tengah menyapu nama Rendra dalam otaknya agar tak ada lagi nama itu.
__ADS_1
Drrt Drrttt Drrrtt…
“Apa Liv?”
“Eh ni anak, salam dulu kek,”
“Ah iya Waalaikum salam” ujar Ana dengan malasnya mengangkat telepon dari Olive, sahabatnya itu.
“Ah serah lo dah. Eh besok bareng ya?” ajak Olive ke Ana.
“Iya tapi kamu yang kesini. Lagi males bawa motor. Oke bye assalamualaikum see you ditunggu nggak boleh telat titik.” Ana pun langsung menutup telepon dari Olive tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
“Dasar bocah,” gerutu Olive kepada sahabatnya itu.
….
Di pagi hari Ana dan Olive berangkat menggunakan mobil Olive. Olive memang berasal dari keluarga yang sangat berada. Berbeda dengan Ana yang keadaan ekonominya berada di bawah Olive, tetapi bukan berarti Ana tidak memiliki mobil. Ada. Namun Ana jarang sekali menggunakannya, mungkin disaat tertentu seperti hujan, dan malas pakai motornya.
“Kenapa si An ko loyo banget. Biasanya beku kaya es batu ko cair begini sih, lembek. Jelek tau”
“Entahlah lagi males aja.”
“Apa yang terjadi kemarin coba cerita deh siapa tau aku dapat jawabannya dari cerita kamu An. Cepetan!” seru Olive.
“Hmm?” gumam Ana.
“Cepetan!”
__ADS_1
Akhirnya Ana pun menceritakan apa yang dilaluinya kemarin termasuk bertemu dengan Rendra kemarin dan kejadian pertama kali antar mereka berdua yang menyebabkan mereka berdua berhubungan.
“Wah wah wah, ternyata loyo gara-gara si tampan ahaha” gurauan Olive terhadap Ana.
“Isssh sama aja kaya mamah. Dah ah males sana sana” gerutu Ana terhadap sahabatnya itu yang mengoloknya.
….
Seperti biasa jikalau ada waktu senggang Ana akan mengahabiskan waktunya di perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya itu. Tenggat waktu tugasnya tinggal 2 minggu lagi jadi ia harus segera menyelesaikan tugasnya sebelum ada tugas-tugas yang lain jadi tidak akan menumpuk nantinya. Pikir Ana begitu.
Tanpa sengaja Ana melihat sosok seorang pria sedang berbicara santai dengan teman wanitanya yang duduk di sebelahnya. Jaraak antara Ana dengan sosok pria itu terpisah 3 meja. Ana berada di paling belakang sedangkan si pria berada 3 meja di depannya. Kebetulannya lagi si pria memang duduk menghadap kebelakang jadi si pria tepat menghadap Ana. Dan Ana duduk menghadap ke depannya jadi tepat untuk melihat si pria.
Entah kenapa Ana merasa kesal melihat pria itu bersama teman wanita nya itu.
“Huuuuh dasar” gerutu Ana tak jelas.
Setelah meilhat sosok pria itu pikiran Ana menjadi tidak fokus terhadap pekerjaannya. Hatinya merasa panas sekali. Akhirnya Ana hanya bisa menyoret-nyoret tak jelas seperti anak usia dini yang sedang menggambar benang kusut.
Semakin lama semakin panas dan gelisah hatinya. Ada gemuruh yang harus ia keluarkan. Akhirnya ia pun menumpuk buku menjadi satu yang ada di meja nya, lalu ia mengangkatnya kemudian menghempaskannya dengan sekuat tenaga ke meja di depannya hingga menghasilkan bunyi yang keras dan mengejutkan orang-orang yang ada di sana.
Bbrruugggh
“Woy berisik!!”
“Diem coba!!”
“Kalo mau oleh raga, angkat besi sana di gym bukan angkat buku di perpus. Ganggu aja!!!”
__ADS_1
Protes beberapa mahasiswa yang ada di sana. Ia pun langsung berlalu begitu saja untuk meninggalkan perpus. Namun baru beberapa langkah ia berjalan ada saja yang menahannya. Ia pun kesal kembali, tingkat kekesalannya pun meningkat akibat ada yang menahannya.
Ia pun menengok ke arah yang menahan tangannya itu. Dan ia pun langsung tersenyum bukan menggerutu kesal lagi.