
Di pagi hari yang cerah ini Ana telah terbangun dari tidur nya. Infusnya pun telah dilepas ia pun sudah bisa berjalan dengan baik tanpa keluhan yang berat hanya saja tubuhnya masih lemas.
Ana memasuki toilet yang ada di kamar rawatnya untuk membersihkan badannya tetapi tidak untuk mandi. Ia hanya menyeka permukaan tubuhnya, gosok gigi, dan cuci muka.
Setelah membersihkan tubuhnya Ana kembali duduk di ranjang pasiennya dan mengecek ponsel seraya menunggu papahnya selesai mengurus administrasi.
Dilihat ada beberapa pesan di handphone nya. Dibukalah pesan dari Olive yang mengatakan tidak bisa untuk menjemputnya ke rumah sakit karena kesiangan dan malas jadi ia menunggu di rumah Ana langsung . kebetulan juga tidak ada kelas hari ini.
Setelah membalas pesan Olive, Ana melihat ada pesan dari Andra,
“Aku jenguk ke rumah sakit ya, oek An lagi otw nih,” ~Andra
“Eh nggak usah ini aku udh mau pulang. Kalo mau jenguk di rumah aja ada Olive di sana kok. Tunggu aja di rumah,” ~Ana
“Ooh okelah, take care dijalan” ~Andra
“Oke” ~Ana
Setelah itu dilihat lagi beranda pesannya terdapat pesan dari kekasihnya itu.
“Sayang maaf ya aku nggak bisa jemput kamu. Ada jam kuliah mendadak. Jangan marah yaa oke. Nanti aku ke rumah kok. Hati-hati ya di jalan ingati pesan dokter oke. Love you An,” ~Rendra
Baru saja Ana ingin mengetik kan balasan untuk Rendra, papahnya telah usai dengan urusannya. Ia pun akhirnya keluar dari rumah sakit. Ana menuju ke rumahnya bersama dengan papah dan mamahnya. Dalam perjalanan mereka sesekali membahas tentang apa yang mereka lihat di sepanjang jalan sampai papah Ardi mengingatkan Ana perihal hubungannya dengan Rendra.
“An kalo mau pacaran dirumah aja ya. Janga terlalu sering jalan keluar berdua. Kalo mau jalan berdua ingat Rendra harus ijin dulu sama papah atau mamah. Jangan sampe kamu keluar sama Rendra tapi nggak ngomong sama papah mamah kamu ya,” ucap papah Ardi dengan intonasi yang rendah tetapi terdengar tegas di telinga Ana.
“Iya pah,”
__ADS_1
“Kamu juga harus lulus dulu baru boleh nikah. Kalo enggak paph buang kamu. Mamah sama papah bikin yang baru lagi,” penuturan papah Ardi kini mengundang tawa dari Ana dan mendapatkan cubitan dari sang istri.
Pembahasan itu berakhir ketika mereka memasuki gerbang rumah nya.
Terlihat Olive dan Andra tengah duduk di kursi yang ada di teras rumah Ana. Melihat ketiganya turun dari mobil, Olive dan Andra pun membantu untuk membawakn barang-barang yang ada di bagasi mobil dan memasukannya ke dalam rumah.
“Loh Rendra nggak jadi jemput to An,” Tanya Olive kepada Ana yang mengundang pertanyaan di kepala Andra tentang siapa itu Rendra.
Ana yang mendengar pertanyaan Olive pun menepuk jidatnya teringat akan pesan Rendra yang belum dibalasnya. Lalu menjawab pertanyaan Olive kalau Rendra tiba-tiba ada kelas dadakan makanya ia tak bisa ikut untuk menjemput Ana.
“Iya nggakpapa. Semangat kuliahnya. Ku tunggu di rumah ya. Take care,” ~Ana
“Ayo masuk dulu semua ngobrol di dalam aja ya,” ajak mamah Reni yang melihat anak-anak masih berada di teras rumah.
Ana melangkah masuk ke dalam rumahnya, ia terasa sangat merindukan suasana rumah nya ini. Rumah yang cukup luas dengan desain interior yang cukup sederhana. Lalu ia pun menginjakan kaki untuk ke kamar atas yang berada di antai dua bersebelahan dengan kamar orang tuanya.
Dibukanyalah pintu kamar itu lalu mempercepat langkah dan membantingkan diri di kasur.
“Aww,” jerit Ana. “Issh sakit,”
Ana tak melihat bahwa ada buku yang cukup tebal di kasur nya. Jadilah pinggangnya itu sakit.
Pintu kamar yang masih terbuka membuat Olive juga melihat apa yang terjadi dengan Ana, dan…
“Ahahahah kapok. Pecicilan sih luu An. Baru sembuh juga udah jempalitan ahahah,” seru Olive sambil menertawakan sahabatnya itu.
“Isssh berisik, udah sana ke bawah ntar aku nyusul. Bantuin mamah bikin cemilan sana,” ucap Ana yang mendorong Olive untuk keluar dari kamarnya.
__ADS_1
“Siap tuan putri,” jawab Olive dengan mengayunkan tangannya layaknya seperti pelayan yang tengah memberi hormat kepada majikannya.
Memang hubungan antara Olive dengan Ana sangatlah dekat. Keluarga Olive yang sangat sibuk dengan urusannya masing-masing membuat ia kesepian. Orang tuanya sibuk bekerja, sama halnya dengan abangnya.
Mendapatkan teman seperti Ana seperti memiliki kakak perempuan bahkan terasa seperti memliki adik.
Orang tua ana yang welcome dengan adanya Olive menjadi teman Ana juga membuat Olive merasa mendapatkan kasih sayang sama dari orang tua Ana. Ia bersyukur mempunyai keluarga yang hangat di rumah Ana ini, yang mungkin tidak bisa ia dapatkan di rumahnya. Bahkan ketika ia sakit, orang tuanya hanya menengoknya saja di pagi hari kemudian ia dititipkan oleh ART yang ada di rumah. Padahal Olive hanya ingin bersama orang tuanya di rumah bersama menghabiskan waktu sehari saja, setengahnya pun tak jadi masalah.
Di jam makan siang semuanya telah berkumpul di meja makan, hanya papah Ardi saja yang tak ada di sana karena ada pekerjaan yang mendesaknya harus datang kali ini. Ana, Olive, dan Andra berkumpul di meja makan selagi menunggu makanan matang. Mamah Reni yang memasang, ketiga anak itu sudah menyiapkan minum dan piringnya. Sambil bercerita dan sesekali tertawa.
Ting..Tong..
“Coba liat An siapa itu,” suruh mamah Reni untuk melihat siapa gerangan yang datang ke rumahnya itu.
“Iya”
Ceklek..
“Assalamualaikum,” sapa si tamu dengan senyum nya.
“Waalaikum salam,” balas Ana dengan senyumnya juga.
“Taraaa,” ucap Rendra sambil mengeluarkan tangan yang ia sembunyikan di balik badannya.
Ana yang melihat itu terkesima, ia pun menyambutnya kemudia ia hirup wanginya dalam-dalam. Ya. Renda membawakan Ana sebuket mawar merah.
“Terimakasih, yuk masuk,” ajak Ana. Ia pun menutup pintunya kemudian menaruh bunga-bunga itu di beberapa vas bunga yang ada di rumahnya itu. Rendra yang melihatnya itu langsung ingin duduk di sofa sambil menunggu Ana selesai dengan urusannya.
__ADS_1
“Jangan duduk di situ,” sentak Ana tiba-tiba.
“Hah? Kenapa?” Rendra pun sangat bingun dan terkejut mendengar Ana yang berbicara dengan nada sedikit tinggi terhadapnya.