
Hari yang ditunggu semua mahasiswa sejak pertama kali menyandang gelar baru itu, satu tingkat dari siswa.
Suka dan duka menjadi mahasiswa memenuhi ruang tersendiri dalam diri. Di mana pengerjaan tugas yang deadline nya hanya beberapa jam bahkan menit, sulitnya mencari bahan skripsi, pengajuan skripsi yang alot, revisi skripsi yang berkali-kali jadi hal yang menjengkelkan saat itu namun jadi cerita lucu di masa depan.
Rasanya tuh mmm kaya ada asem asem manis seger gitu kaya rujak.
Beda hal nya dengan Rendra yang memang menganggap itu semua adalah hal yang biasa-biasa saja. Skripsi yang ditandai dosen bukankah wajar, itu tandanya ada hal yang perlu diperbaiki.
Rendra tak suka membesar-besarkan hal yang seperti itu. Kecuali ada hal yang berhubungan dengan keluarganya dan Ana. Ah wanita itu. Baru beberapa menit lalu tak mendengar suaranya sudah rindu.
Entah racun apa yang diberikan Ana kepadanya. Sampai-sampai Rendra terus saja merasakan efeknya. Bahagia. Ya, itu efeknya. Dasar cinta.
"Mah Pah, kalian masuk duluan ya lewat pintu situ. Rendra langsung gabung sama teman-teman. Nanti Rendra balik lagi kalo sudah selesai."
"Iyaa. Hmn Mamah gak nyangka aja anak mamah udah bujang. Bentar lagi wisuda lagi. Perasaan kemaren baru wisudaan TK," kata Mamah Rendra sambil merapikan penampilan anak laki-lakinya itu.
Rendra hanya tersenyum mendengar ucapan sang mamah. Dielusnya sayang tangan yang menggendongnya kala ia kecil, dikecupnya lalu beranjak menjauh menuju tempatnya di barisan terdepan.
Terlihat ramai di sana, kursi-kursi yanh disediakan sudah diisi para undangan yang hadir. Mahasiswa yang di wisuda kali ini terlihat memakai toga dengan rapi, sepatu mengkilat, dan wangi. Berbanding terbalik saat jam kuliah kemarin yang berpenampilan seadanya yang terpenting sopan. Entah sudah mandi atau belum tak terlihat bedanya.
.
.
.
Di satu sisi ada si junior yang mengintip prosesi wisuda seniornya itu. Dua wanita cantik berpenampilan sederhana tapi tetap menarik. Wangi? Jangan ditanya lagi. Sabun cuci 900 gr pun kalah wangi dengan mereka.
__ADS_1
"Ah pengeeen,"
"Makanya yang rajin kejar sks biar cepet lulus Liv," ujar Ana.
Ya. Dua wanita itu Ana dan Olive yang sedang mengamati rangkaian acar wisuda itu. Entah maksud dan tujuannya apa. Mungkin untuk persiapan.
"Ish apa sih An. Pengen es kok kejar sks. Aneh luu,"
Ternyata yang mengamati rangkaian acara hanyalah Ana. Olive sedari tadi tergiur dengan es yang tengah diseruput anak kecil di kursi yang tengah menemani ibu nya menghadiri acara wisuda itu.
"Ah makanan mulu lu yang dipikir"
"Yee namanya haus juga. Panas gini lagi. siapa coba yang bakal enggak ke goda es di tengah gurun pasir,"
"Yaudah yuk ngadem. Dipikir-pikir ngapain juga kita ngintipin gini. Ntar juga ngerasain,"
"Aneh lu An,"
"Berarti be** lu mau aja ngikut" ejek Olive. Keduanya pun tertawa sambil menuju kantin.
Sesampainya di kantin keduanya pun memesan jus jeruk dengan cup cake coklat. Lumayan lah untuk mengganjal perut di jam tanggung seperti saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Menjelang tengah hari, di tempat acar wisuda Rendra pun mulai ber bubaran meninggalkan tempat acara
Parkiran mobil yang tampak penuh tadinya sudah terlihat lapang kembali. Ah iya, Rendra dinobatkan menjadi mahasiswa yang lulus dengan predikat cumlaude. Tak sia-sia ia mengerjakan tugas dengan sungguh sungguh ternyata.
Sehabis acara, Rendra langsung mendatangi orang tuanya.
"Mah Pah langsung pulang atau kemana?" tanya Rendra.
"Makan aja dulu yuk di luar hitung hitung rayain kelulusan kamu,"
Papahnya pun menyetujui usulan istrinya itu.
Ketika menuju parkiran, entah memang jodoh atau hanya kebetulan mereka bertemu dengan Ana dan Olive.
"Oliive," sapa Mamah Rendra yang melihat ponakannya itu.
"Eh tante, udah selesai tan?" Olive yang mendengar ada yang menyapanya pun memberhentikan langkahnya ternyata tantenya.
"Iya ini mau sekalian makan siang. yuk ikut ajak juga sekalian temanmu," ajak Mamah Rendra pada Olive dan Ana.
Mamah Rendra tak mengetahui kalau salah satu di antara mereka adalah calon menantunya.
Ana yang mendapat ajakan dari sang calon mertua yang tak mengetahui calon menantunya pun serasa canggung. Satu sisi ia ingin pergi dengan keluarga Rendra, tapi satu sisi ia juga takut. Takut kalau ia tak bisa diterima oleh keluarga Rendra sebagai calon menantunya.
"Ehhm gimana ya tan," jawab Olive yang melirik pada Ana meminta persetujuan.
"Udah yok ikut aja. Panas nih,"
__ADS_1
Rendra yang mengetahui kebimbangan Ana pun akhirnya menyahuti sambil menatap Ana dan menganggukan kepalanya seolah meyakinkan Ana bahwa semuanya akan baik baik saja.
bersambung