Aku Kau Jadi Kita

Aku Kau Jadi Kita
Banyak Bunga-Bunga


__ADS_3

Drrt… drrt..


Olivia is calling


“Mampus kan,” gumam Ana.


Ana merasa bingung harus kah mengangkatnya atau tidak. Akhirnya ia biarkan ponsel itu berdering, lalu ia bersiap untuk tidur. setelah berganti baju, cuci muka, dan ritual sebelum tidur dilakukan handphone nya masih tetap berdering al hasli ia menjalankan aksi.


“Hmmm apa Liv,” jawab Ana dengan suara parau khas bangun tidur yang dibuat-buat.


“Katanya tidur, kok ngangkat,”


“Kamu berisik tau nggak, yaudah kalo nggak ku matikan aja.” Ucap Ana.


“Eh eh eeh bentar. Kamu beneran di rumah aja kan?” Tanya Olive meyakinkan.


“Iyalah tidurku ke ganggu gara-gara luu tau nggak,” jawab Ana bohong.


“Hmm yaudah deh, semoga beneran ya nggak bohong kalo enggak liat aja awas lo, yaudah ya selamat lanjut tidur,” telepon pun langsung dimatikan Olive.


“Huuh selamet,” uajr Ana sambil menghela nafas lega.


Pemandangan malam ini sangat indah. Bintang dan bulan menyinarkan cahaya terbaiknya malam ini menemani umat manusia yang tengah memperjuangkan hidupnya, melepas penat, menjadi ketenangan bagi sebagian orang yang gundah dan menambah kebahagiaan bagi yang tengah berbahagia.


Ana membaringkan tubunya telentang menatap langit-langit kamarnya. Merasakan apa yang tengah dirasakan hati nya, seperti ada yang membuncah. Mungkin kalau dibuka bagian jantung yang berdegup kencang akan mengeluarkan kembang api, Bunga serta aroma terapi yang manis dan harum menenangkan.


Ting..


“Selamat malam Ana, selamat tidur. see you next time, have a nice dream yaa😇” ~Rendra.


Dibacanya pesan dari Rendra, kedua sudut bibir Ana pun reflek tertarik ke atas. Sekitar 5 menit Ana menikmati pesan itu, membacanya ulang-ulang, dalam otaknya terlintas potongan-potongan kisah antara keduanya.


“Thank You😊”~Ana.


“Aku telpon boleh?”~Rendra.


“gimana?”~Rendra


“Boleh lah ya hehe,😂”~Rendra.


Belum sempat Ana membalas pesannya,


Rendra is calling


Ditekannya tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Rendra.


Selama beberapa detik hanya hening antara keduanya.


“Hai An, sorry ya malam-malam ganggu,” sapa Rendra.


“Hmm nggakpapa belum tidur juga kok. Ada apa emang?” Tanya Ana tak tertinggal senyumannya.

__ADS_1


“Hmm?” gumam Rendra yang bingung mencari alasan kenapa dia menelpon Ana jam segini. Padahal tadi baru saja bertemu.


“Hmm nggakpapa emang nelpon harus ada alsannya, enggak kan,” lanjut Rendra menjawab pertanyaan dari Ana.


“Setau ku sih gitu. Kalau orang nelpon itu pasti ada alasannya,”


“Hmm? Iya juga sih ya. Kalau aku sebutin alasannya aku nelpon kamu nanti kamu nggak percaya lagi,”


“Apa emang alasannya? Pasti ada perlukan? Apa mau pinjam buku kemarin lagi? Perasaan masih di kamu kan itu bukunya?” tebak Ana akan alasan Rendra kenapa menelponnya.


“Hehe bukaaaan sok tau kamu ya,” jawab Rendra dengan suara santai, lembut, tapi nggak lebay.


“Apa terus? Nggak usah bertele-tele deh,” tanya Ana lagi.


“Aku rindu” jawab Rendra lirih.


Beberapa detik kemudian tak ada jawaban dari Ana, Rendra pun hanya diam saja. Perkiraan Rendra, Ana saat ini pasti sedang tersipu malu.


“Apa Ren alasannya ditungguin juga dari tadi nggak bilang-bilang,” shaut Ana setelah beberapa detik.


“Hah? Jadi nggak kamu nggak denger?” Tanya Rendra.


“Enggak. Tadi aku minum bentar,” jawab Ana.


Rendra pun hanya menepuk jidatnya dan menghela nafas kasar.


Jadi tadi aku udah siapin nyali buat ngomogn itu dianya enak-enak minum astaga, gumam Rendra dalam hati.


“Hmmm,”


“Jadi apa alasannya?” Tanya Ana lagi.


“Denger baik-baik ni yaa,”


“Iyaa,” jawab Ana.


“AKU RINDU”


Tut.. Panggilan terhenti.


Ana termenung akan alasan Rendra yang menelponnya. Tak lama setelahnya ia tertawa.


Ahahaahahah… rindu dia bilang ahahahh….


Lelah tertawa Ana kembali menatap layar ponselnya sambil berbaring memeluk gulingnya. Dalam pikirannya terlintas tentang kebersamaannya bersama Rendra beberapa hari belakangan ini. Tingkahnya yang menyebalkan, selalu mengajak berdebat tetapi tak jarang membuatnya tertawa.


Setelah mengenal Rendra dan banyak berinteraksi dengannya hidupnya terasa berbeda, sangat berbeda. Biasanya hari-harinya terasa datar-datar saja, mungkin sedikit berbeda disaat bersama Olive yang sering menggodanya dengan tingkah konyolnya itu. Memikirkan itu Ana hanya bisa menghela nafas panjang saja. Huuuuh.


Kembali ditatap layar ponselnya itu yang tertera nomor handphone seseorang yang tengah ada di pikirannya itu sampai ia tak sadarkan diri menggapai mimpi.


….

__ADS_1


Di pagi hari di hari minggu itu Ana bangun kesiangan, sekitar jam 8 pagi ia baru bangkit dari ranjangnya. Membuka matanya perlahan lalu bangkit mengucek mata kemudian meminum air putih di atas nakas. Rasanya tidur malam tadi nyaman sekali, sampai malas untuk bangkit dari kasur empuknya. Akhirnya ia memanjakan badannya kembali mengikuti naluri hati untuk tidur kembali.


Baru saja ia menempelkan punggungnya ke kasur, pintu kamar terbuka. Nampaklah ibu yang melahirkan dirinya itu berjalan menuju ranjangnya.


“Banguuuun,” suruh Mamah Reni seraya menarik baju anak gadisnya itu.


“Iyaaaa,” jawab Ana dengan malasnya. Sebenarnya ia ingin tidur kembali, tetapi karena merasa lapar mau tidak mau ia turun dari ranjangnya menuju meja makan.


Sebelumnya ia sempatkan untuk menyuci mukanya untuk merangsang matanya agar tidar merapat kembali.


“Jangan lupa itu kasur diberesin sama diganti sprei nya mau mamah cuci sekalian,” suruh mamah Reni.


“Hmmm,”


Sesampainya di meja makan, Ana langsung mengambil piring dan mengambil nasi serta lauknya. Papah Ardi telah berada di belakang untuk memandikan burung kesayangannya. Sedangkan sang mamah masih berkutat di dapur untuk membuat camilan.


“Assalamualikum,” salam Olive yang tiba-tiba datang dan langsung masuk ke dalam rumah Ana.


“Waalaikum salam,” sahut mamah Reni dan Ana yang tengah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


“Eeh Olive, duduk Liv ikut sarapan,” sambung mamah Reni.


“Iya Tan, udah tadi di rumah,” tolak Olive secara halus.


“Ooh mau kemana nih Liv pagi-pagi tumben rapi banget, kan minggu nggak kuliah kan?” Tanya Mamah Reni.


Ana pun hanya diam melihat interaksi antara sahabatnya dengan mamahnya itu sambil menghabiskan makanannya.


“Hah enggak Tan. Kita mau senang-senang sama Andra juga kan dah lama nggak main bareng kan dia juga baru dateng,”


“Ooh kenapa nggak tadi malam aja kan malam minggu seru tuh biasanya kalo jalan malam minggu,” lanjut Mamah Reni bertanya.


Mendengar pertanyaan mamahnya kali ini Ana masih santai saja reaksinya. Bisa saja ia lupa dengan kebohongan yang ia buat.


“Maunya gitu Tan, tapi si Ana katanya cape pengen tidur istirahat yaudah jadinya pagi ini deh,” jawab Olive, Ana pun masih tak menghiraukan.


“Ooooo gitu, tapi tadi malem dia jalan tuh,” ucap Mamah Reni dengan santainya yang menjaili anaknya itu.


Ana yang mendengar itu pun memelototkan matanya dan langsung berlalri menuju kamarnya.


“Aku mandi dulu ya,” Ana mengatakan itu sambil berlari menuju kamarnya.


.


.


.


**Jangan lupa like dan komennya yaa. Kritik dan sarannya ditunggu yaaa🤗


Terimakasih buat yang udah baca😊**

__ADS_1


__ADS_2