Aku Kau Jadi Kita

Aku Kau Jadi Kita
Keberangkatan


__ADS_3

Ana yang mendengar penuturan Rendra terlihat ada haru di matanya. Tak ada l


keraguan sedikit pun yang terlihat. Ana mencoba meyakinkan diri, bahwa Rendra betul-betul serius dengan dirinya.


Jujur saja, untuk masalah cinta Ana merasa awam dengan itu. Tetapi ia mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa Rendra akan menepati janjinya. Dia lah lelaki pertama Ana, dan mungkin akan menjadi yang terakhir.


“Kita berjuang sama-sama ya. Jangan lupa sama komitmen kita juga. Aku juga meminta kesetiaanmu di sana. Di sini juga aku akan setia selama kamu nggak berulah. Jangan kecewakan aku, ini yang pertama buat aku, dan aku juga mau ini jadi yang terkahir,” jawab Ana dengan senyumnya.


“Sudah jangan khawatir oke. Kamu di sana baik-baik, di sini juga aku terus berusaha untuk tetap baik dan menjadi yang terbaik,” lanjut Ana dengan tangan mengusap pipi kekasihnya itu.


Setelah makan, mereka memutuskan untuk pulang karena esok hari Rendra sudah harus melakukan perjalanan bisnisnya. Ana khawatir jika Rendra nantinya kurang istirahat jika terus bersama dengan Ana malam ini.


Jujur saja Ana pun masih ingin menghabiskan waktu bersama Rendra, ia masih rindu. Tetapi Ana tak boleh egois meskipun Rendra juga menginginkan hal yang sama, tubuh Rendra membutuhkan istirahat yang cukup untuk esok hari.


Akhirnya Rendra pun menuruti keinginan pujaan hatinya itu. Lalu ia berpamitan dengan orang tua Ana serta memberitahukan bahwa dalam beberapa hari ini ia sedang melakukan perjalanan bisnisnya. Ia menitipkan Ana agar tetap bisa menjadi pendampingnya, ia berpesan jikalau ada yang datang tiba-tiba melamar Ana untuk menolaknya. Ana hanyalah miliknya dan akan selalu menjadi miliknya.


“Aku pamit ya,” ucap Rendra yang sudah di samping mobilnya.

__ADS_1


“Besok aku terbang jam 5 pagi kayanya jadi kamu nggak usha antar ke bandara ya. Kamu baik-baik aja di sini okey,” pesan Rendra seraya mengusap kepala Ana lembut. Ana pun hanya mengangguk menjawab penuturan Rendra.


“Dan ingaat kamu Cuma buat aku titik,” lanjutnya.


Ana yang mendengar pesan Rendra tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


“Iya iya sayangku cintaku. Tenang aja aku akan setia kok. Kamu juga baik-baik di sana ya,” tutur Ana


“Iya yaudah aku pulang ya,” pamitnya lagi dan mengecup seluruh wajah Ana.


Mulai dari kening, mata kanan, mata kiri, hidung, kedua pipi, dagu, dan yang terakhir ia mengcup bibir Ana. Hanya mengecup saja, ia takut kelewatan jika melakukan hal lebih di saat seperti ini,. Bisa saja ia mengurungkan niatnya untuk pulang sekarang.


“Issh gemees deh, dadah Assalamualaikum,” ucsp Rendra yang melihat rona wajah Ana yang memerah.


Rona merah di wajahnya terlihat sangat kontras dengan kulit putih Ana. Ana pun melambaikan tangannya seiring dengan kepergian Rendra. Sudah tak terlihat mobil Rendra dari jangkauan matanya, ia pun kembali masuk ke rumahnya.


__ADS_1


Keesok paginya, Rendra sudah berada dalam pesawat, sebenatr lagi akan lepas landas. Ia pun mengirim pesan pada kekasihnya bahwa ia akan meluncur sebentar lagi, lalu ia pun mematikkan ponselnya.


Di waktu yang sama namun di lain tempat, Ana masih bergelung dalam selimut seperti kepompong. Ia masih menimati mimpinya.mungkin ia sedang bermimpi sangat indah sampai-sampai ia pun sesekali tersenyum.


Beberapa jam kemudian setelah sarapan handphone Ana bergetar. Tertera nama Rendra di layar yang menelpon nya.


“Hai yank aku sudah sampe tempat penginapan. Hari ini mungkin aku susah untuk ngabarin kamu. Jadi maaf ya kalo nanti aku kurang respon kamu. Jadwalku padat banget. Maaf ya sayang, kamu baik-baik di sana,” ~Rendra.


“Iya nggakpapa kok ini juga aku mau kuliah, iya kamu juga hati-hati di sana. Harus terus inget kalo ada aku di sini yang lagi nungguin kamu,” ~Ana.


Setelah menjawab ucapan Rendra di telpon nya, terdengar suara seorang wanita di seberang sana yang mengajak Rendra agar segera masuk ke dalam ruangan. Suara wanita itu terdengar sangat lembut, bisa jadi ia juga sangat cantik dan sexy pikir Ana.


Di seberang sana Rendra yang mendapat titah dari sekretaris nya pun mempercepat langkahnya sambil mendengarkan ucapan Ana , tetapi ia menginjak batu kerikil hingga ia pun sedikit kehilangan keseimbangannya dan tak sengaja ia menekan hp nya yang ternyata menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilannya.


Rendra yang sudah berada di depan ruangan untuk menyapa para pebisnisnya di hotel tempatnya menginap pun mau tak mau langsung memasuki ruangan itu. Urusan Ana lagi-lagi menjadi yang kedua.


Ana yang mendapati Redra mengakhiri panggilannya pun hanya mendengus kesal.

__ADS_1


“Issshh,” gerutunya. Ia cemburu dengan wanita itu. Iya wanita yang tadi terdengar suaranya di telpon nya. Wanita itu sekarang pasti sedang berada di dekat kekasihnya itu. Iya Ana cemburu.


__ADS_2