
"Hah shht,” umpat Rendra dna berlalu kembali ke tempat makan.
Sesampainya di tempat makan Rendra langsung meminum minumannya yang belum sempat ia minum tadi hingga tandas. Sang adik yang melihat hal tersebut pun bingung. Berbagai macam pertanyaan pun berkecamuk di otak kecilnya.
Kenapa Kakak? Ngapain tadi langsung lari keluar? Kok lama? Trus balik-balik lesu kenapa?
“Udah kakak nggakpapa,” ucap Rendra yang seakan mengerti tentang apa yang sedang dipikirkan adiknya itu.
Eh?
Sovia yang mendengar ucapan sang kakak terkejut.
“Habis ini langsung pulang ya kakak cape pengen istirahat,” lanjutnya.
Sang adik pun menganggukan kepalanya sebagai pertanda setuju akan ajakan kakaknya.
…
Sovia Dian Kasariota adalah anak kedua dari pasangan Rional Tarunawiguna dengan Kania Sanjaya yang berarti Sovia adalah adik dari Rendra Kasariota.
Sovia masih duduk di bangku SMA kelas 2, kepribadiannya yang manja dengan sang kakak membuat keduanya seperti sepasang kekasih yang harmonis jika tidak mengetahui status yang sebenarnya.
Keluarga besar Kasariota terkenal dengan kehangatan keluarganya, terlihat dari hubungan antara anak dengan orang tuanya yang saling membutuhkan dan mengerti akan keadaan satu sama lain.
Keluarga Kasariota memiliki perusahaan besar peninggalan orang tua Rional yang berada di kota kelahiran kakeknya Rendra, namun Rional lebih memilih mengelola perusahaan tersebut dari rumahnya yang lumayan jauh dari tempat tinggal orang tuanya. Sedikit yang mengetahui perusahaan Taruna adalah milik Rional saat ini. Karena public hanya mengetahui jika Rional hanya memiliki perusahaan yang bergerak dibidang periklanan kelas menengah.
Beda halnya dengan Ardi Jaya yaitu papah dari Marina yang memang hanya mengelola sebuah restoran makanan, namun restoran yang dimilikinya sudah memiliki cabang di beberapa kota besar di negaranya. Meskipun begitu keluarga Ana tetap untuk memilih hidup sederhana yang menurut keluarganya dapat mendatangkan ketenangan dan kenyamanan tersendiri.
…
Di lain tempat Olive yang sudah sampai di rumah langsung menghubungi Ana. Berulang kali Olive menelpon Ana, menerornya lewat pesan singkat namun nyatanya tak ada sama sekali respon yang diberikan Ana kepadanya.
Olive pun merasa geli sendiri dengan tingkah Ana yang seperti itu. Bagaimana bisa seorang Ana yang pintar dan cerdas hanya melihat hal yang belum tentu kebenarannya langsung bisa terprovokasi.
Padahal dari cerita mamah Reni yang didapatnya, Ana tak seharusnya bersikap demikian. Toh keduanya tidak memiliki ikatan lebih dari seorang teman.
Childiss, gumam Olive dengan tawa kecilnya yang mengingat tingkah Ana tadi.
Karena penasaran dengan Ana, akhirnya Olive menghubungi mamah Reni dan menceritakan kejadian yang terjadi di tempat makan, termasuk tingkah Ana yang sepertinya salah paham terhadap Rendra.
…
Setelah turun dari taksi, Ana langsung masuk ke dalam rumah dengan gemuruh membara di hatinya. Diedarkannya pandangan ke sekitaran rumah tak ada orang. Ana pun mengambil hp nya untuk menghubungi mamahnya untuk menanyakan keberadaannya namun sebelum menelepon ia melihat ada satu pesan dari mamahnya yang memberitahukan bahwa beliau sekarang berada di restoran bersama sang papah. Ana pun langsung menuju kamarnya setelah melihat pesan itu.
Sekitar Jam setengah tujuh malam Ana berada di rumah, tak ada acara mandi bahkan mengganti baju atau mencuci mukanya. Ana langsung menelungkupkan badannya ke kasur dan mendusel kan wajahnya ke bantal lalu berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Setelah berteriak Ana membalikan badanya dan menatap langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong, kemudian memejamkan matanya, beberapa detik setelah itu Ana bangkit dan melakukan ritual sebelum tidur.
Tepat jam 9.15 Ana sudah selesai dan membaringkan tubuhnya ke kasur empuk itu untuk menjemput mimpinya. Dan Ana pun terlelap.
Sepulangnya orang tua Ana dari restoran, mamah Reni langsung mengecek keadaan anaknya dalam kamar. Dilihat anaknya itu tengah tertidur. Ada rasa lega dalam benaknya. Dalam pikirannya setelah mendengar cerita Olive di telepon beberapa jam lalu, kemungkinan Ana tengah bersedih lalu menangis sesenggukan hingga bantalnya basah. Tetapi tidak sama sekali.
Diusapnya pipi Ana dengan lembut. Ana yang merasa disentuh pun bergumam,
Eengh..
Namun tak membuatnya membukakan kedua kelopak matanya.
…
Di pagi hari yang cerah ini mamah Reni tengah memasak untuk keluarga kecilnya. Anak perawannya itu masih berada di dalam kamar.
Ana meggeliatkan tubuhnya mendengar kicau burung saling bersahutan yang menganggu tidur nyenyaknya. Padahal waktu tidur nya telah melewati batas. Dijangkau handphone nya di atas nakas. Ada rasa kecewa karena Rendra sama sekali tak mengabarinya. Hanya Olive yang menghubunginya dengan ratusan panggilan dan pesannya.
Akhirnya Ana pun tidur kembali.
Sekitar pukul 10 pagi, mamah Reni yang merasa tak ada kehidupan di kamar anaknya pun langsung menghampirinya. Dilihatnya Ana masih saja tertidur. Langkahnya mendekat sampai ia duduk di pinggiran kasur.
Di usap rambutnya, seperti ada rasa hangat di rambut anaknya itu. Turun lagi ke bawah menjangkau dahi sang anak.
Cukup terkejut, setelah 4 tahun lalu Ana demam dan dirawat baru kali ini Ana demam lagi. Akhirnya dibangunkan anaknya untuk meminum obat.
Ana menggelengkan kepalanya atas ajakan mamahnya itu. “Nggak usah,” lanjutnya.
“Gimana nggak usah, mamah takut kamu kaya dulu lagi An,”
“Udah nggakpapa, kalo nanti malam belum turun demamnya baru deh kesana,” usul Ana untuk mengurangi rasa khawatir sang mamah.
Akhirnya mamahnya pun mengalah, lalu menghubungi papahnya. Papah Ardi pun terkejut akan hal itu. Sejak kejadian demam nya Ana yang sampai dirawat di rumah sakit, kedua orang tuanya sangat menjaga Ana agar tak sampai dirawat lagi di rumah sakit. Akhirnya sang papah memanggilkan dokter untuk mengecek keadaan Ana.
Tak lama dokter memeriksa keadaan Ana yang tengah tertidur lagi akibat efek dari obat yang diminumnya. Dokter menyarankan agar Ana dirawat di rumah sakit. Akhirnya papah Ardi langsung membawa Ana ke rumah sakit.
Mamah Reni pun menghubungi Olive, memberi kabar bahwa Ana tengah berada di rumah sakit.
Diagnosa dokter mengatakn bahwa Ana kelelahan, lalu terlalu banyak memendam emosi, dan terlalu lama berendam dalam air di malam hari, ditambah kurang nya minum air putih. Dokter mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah Ana terlalu banyak memendam emosi di malam itu ditambah lagi kegiatan lainnya yang mendukung kondisi Ana menjadi lemah.
…
Olive yang mendapatkan informasi dari orang tua Ana langsung memberitahu Rendra tentang kondisi Ana. Rendra pun khawatir dengan kondisi Ana yang berada di rumah sakit, dan langsung mengajak Olive untuk langsung datang ke rumah sakit. Tetapi Olive menolak, dan mengajaknya ke rumah sakit sekitar jam 3 sore.
Rendra pun menurutinya saja, ingin langsung mendatangi Ana saat itu juga, namun tak tahu di mana rumah sakit tempat Ana dirawat. Mau tak mau ia pun mengikutinya saja. Kebetulan jam makan siang nanti Rendra diminta untuk datang ke perusahaan papahnya karena ada hal yang harus dibicarakan.
__ADS_1
Sekitar Jam 3 Ana sadar dari tidurnya, ia pun disuapi sanag mamah untuk makan. Setelah makan Ana hanya berbaring menatap langit-langit kamar perawatannya kemudian mengecek ponselnya, lalu memejamkan matanya sebentar dan membukanya lagi. Begitu terus hingga suara pintu diketuk.
Tok tok tok..
Mamah Reni yang duduk di sofa dekat pintu membukanya. Terlihat di mata Ana, Olive datang bersama dengan Rendra yang datang dengan buah di tangannya.
Ana yang melihat kedatangan Olive dengan Rendra langsung menutup matanya kembali dan tak ingin melihat keduanya. Apakah Olive menghianatiku? Ah kenapa sakit sekali. Tapi bukan salah nya kan dia nggak tau aku dekat sama dia. Ana hanya dapat bermonolog dengan hati dan pikiran negatifnya.
Olive langsung mendekat ke bad pasien. Mengusap sayang kepala Ana.
“Cepat sembuh ya An. Jangan lama-lama sakitnya. Aku sedih tau. Pokonya besok udah harus pulang,” kata Olive, berbicara dengan Ana yang berpura-pura tidur itu.
Tak sengaja Olive melihat bulu mata Ana bergerak-gerak,
Oooh jadi main pura-puraan nih ahaha, Olive yang melihat tingkah Ana pun tertawa kecil, pasti Ana salah paham dengannya karena datang bersama Rendra.
Olive menjauh dari ranjang pasien Ana dan duduk di sebelah Rendra. Rendra hanya bisa menatap terus ke arah Ana yang berbaring di ranjang tak jauh dari tempat duduknya. Ia ingin berbicara dengan Ana, tapi malu dengan keberadaan mamah Ana dan Olive. Ia terus saja menatap Ana tanpa mendengar apa yang sedang dibicarakan Olive dengan mamah Ana itu.
Mamah Reni yang melihat pun langsung memberi kode Olive untuk meninggalkan mereka berdua.
“Liv temani tante ke bawah yuk, kebetulan ada yang mau dicari nih,” ajak Mamah Ana ke Olive yang dibalas anggukan oleh Olive.
“Tante titip Ana sebentar ya Ren, kemungkinan jam 4 papahnya datang, Tante mau cari makan sama cari barang khas wanita dulu yaa,”
“Ooh iya Tan,” jawab Rendra dengan senyumnya karena akhirnya ia bisa berbicara dengan Ana hanya berdua.
Setelah mamah Ana dan Olive pergi beberapa saat kemudian Rendra mendekati Ana. Rendra duduk di tempat duduk yang berada di samping ranjang Ana.
“An,” sapa Rendra.
“Buka matanya udah ngak usah tidur-tiduran, tinggal ada kita berdua sekarang.” Lanjutnya.
“Aaan,” panggilnya lagi. Diberanikannya untuk menggenggam tangan Ana.
Akhirnya Ana pun mau tak mau membuka matanya karena telah ketahuan dengan aktingnya.
Ana membuka matanya perlahan disambut dengan senyuman manis Rendra.
.
.
.
**Jangan lupa like dan komennya yaa... Dukungan, kritik, dan saran ditunggu ya😊
__ADS_1
Terimakasih yang sudah baca🤗**