
"Ayo," ajak Rendra. Digenggamnya tangan Ana di hadapan semua orang termasuk kedua orang tuanya.
Ia pun berlalu mendahului orang tuanya juga Olive menuju mobil yang dibawanya sendiri tanpa menghiraukan tatapan tanya di mata kedua orang tuanya.
"Nanti aku jelasin mah pah," seru Rendra dari kejauhan.
"Wah wah sepertinya kita akan dapat kabar bahagia pah," kata Mama Rendra dengan raut wajah bahagia.
"Mudah-mudahan mah. Yaudah yok kita susul. Olive naik mobil sendiri atau ikut om sama tante?"
"Olive sendiri aja om. Biar nanti ga bolak-balik. Lagian Olive juga bawa mobil sendiri kok."
"Yasudah kalau begitu. Langsung ke lokasi aja ya Liv."
"Iya Om."
Papah Rendra pun menggamit tangan sang istri menuju mobil.
Di perjalanan Rendra pun tak henti-hentinya menciumi tangan Ana yang berada dalam genggamannya. Raut wajah bahagia sangat terlihat antara keduanya. Meskipun mereka tahu kedepannya pasti takan berjalan mulus. Yah namanya juga kehidupan, roda pasti berputar.
"Yank," panggil Rendra.
"Hmm," sahut Ana sambil menoleh kepada Rendra yang ada di sampingnya.
Ia menyadari satu hal, pacarnya sangatlah gagah dan tampan. Tak terasa terbit senyum kecil dari wajahnya.
"Kenapa si kamu senyum gitu. Baru sadar yah pacarmu ini tampan hmmm." Diacak-acaknya rambut Ana.
__ADS_1
"Ishh. Berantakan Ayy."
Rendra hanya melihat Ana yang kembali merapikan rambutnya. Ia merasa gemas dengan Ana. Entahlah rasanya ia seperti sudah cinta mati dengan Ana.
Digenggamnya lagi tangan Ana. Diusap-usap dengan ibu jarinya untuk menetralisir kegugupan yang ada di benaknya.
Sadar akan kegelisahan sang pacar, Ana pun turut mengenggam tangan Rendra.
"Kenapa sih, kok kayak yang gugup gitu."
"Yank, kamu tau kan aku sayang banget sama kamu."
Mendapat pertanyaan seperti itu Ana pun kembali menghadap Rendra dan menganggukinya.
"Aku mau kamu tetap disisi aku apa pun yang terjadi. Aku juga mau kita terbuka satu sama lain biar ga salah paham nantinya. Karna ku lihat-lihat kebanyakan pasangan itu terkadang tidak saling terbuka dengan dalih menjaga hati. Aku kurang setuju dengan itu, nantinya juga akan ada masanya kita mengetahui apa yang disembunyikan seseorang. Akan lebih baik kalau kita lebih dulu mengetahuinya dan diberi pemahaman. Aku takut banget kehilangan kamu, aku enggak mau. Udah cinta mati kayanya aku sama kamu," ujar Rendra yang disambut pukulan manja Ana di lengannya.
"Bener sayang," kata Rendra lagi sambil mencuri satu kecupan di pipi Ana.
Akhirnya di dalam mobil selama perjalanan itu hanya ada aksi Rendra yang menggoda Ana. Seperti mendapat kepuasan tersendiri jika ia berhasil membuat Ana tersipu. Ah, indahnya dunia ini.
Sesampainya di tempat makan yang terbilang sederhana namun nyaman dan asri. Lahannya terbilang luas, terdapat ruang indoor dan outdoor. Mereka pun memilih tempat outdoor dengan konsep makan lesehan di pondok-pondok kecil seperti gazebo. Di sekelilingnya pun ada beberapa tanaman bungan seperti anggrek dan bonsai serta ada beberapa kolam ikan yang tidak terlalu besar.
Adanya pepohonan di sekitarannya membuat nuansa terasa sejuk dan asri. Membayangkannya saja sudah terasa menyenangkan.
Sambil menunggu kedatangan kedua orang tua Rendra dan Olive, Ana dan Rendra memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Sebelumnya orang tua Rendra dan juga Olive sudah melihat menu makanan yang terdapat di laman media sosial restoran tersebut. Jadi mereka tinggal menitip pesanan kepada Ana dan Rendra.
"Yank," kata Rendra.
__ADS_1
"Hmm." Ana hanya menanggapinya dengan deheman sambil melihat tampilan wajahnya lewat cermin kecil yang ada dalam tas.
Jujur saja sekarang ini Ana merasa gugup untuk menghadapi kedua orang tua Rendra. Dia akan berusaha menampilkan yang terbaik untuk mrmberi kesan yang baik kepada kedua orang Rendra.
"Misal kita LDR gimana yank?" tanya Rendra. Ana cukup terkejut, meskipun dia sudah memperkirakan hal itu akan terjadi. Bukan tanpa sebab Rendra menanyakan hal itu, karena mungkin kedepannya Rendra akan semakin disibukan dengan pekerjaan atau studi lanjutannya.
"Kalau boleh milih aku ga mau kita LDR," terang Ana sambil memainkan jemari tangannya. "Emang kamu mau kemana si? Pindah luar kota atau liat negeri? Kalau masih dalam satu kota tapi cuma jarang ketemu itu namanya ga LDR ayy."
"Kemungkinan LDR kita cuma bakal jarang ketemu aja. Ga bakal seintens waktu kemarin-kemarin. Ya pasti kamu tau lah yaa," ucap Rendra.
Ana tak langsung menanggapi setelah mendengar helaan napas Rendra. Ia menegapkan badannya dan mengambil tangan Ana untuk digenggam. "Aku harap kamu mengerti aku dan akan selau begitu. Meskipun ada waktu libur tapi kemungkinan besar juga aku bakal tetap bekerja di waktu itu. Aku ngeliat papa aku seperti itu. Di hari weekend kadang ada panggilan mendadak. Jadi aku bilang dari sekarang sama kamu supaya nanti ga kaget lagi semisal aku jarang nemuin kamu ya sayang." Ditatapnya mata Ana, terlihat raut kegelisahan disana.
"Untuk itu aku minta kalau kits harus saling terbuka satu sama lain. Kedepannya pasti akan banyak cobaan buat hubungan kita." Ana hanya bisa menatap kedua manik mata kekasihnya itu dan mengangguk.
"Kalau kita bertengkar nantinya kita harus mendengarkan penjelasan satu sama lain. Jangan sampai kita ga mau mendengarkan penjelasan itu. Percaya atau ga percaya itu urusan nanti setelah kita dengarkan penjelasan yang ada. Oke sayang?"
Lagi-lagi Ana hanya bisa menganggukan kepalanya. Rendra yang melihat itu tentu saja gemas dibuatnya. Iapun bangkit dan berdiri di sebelah Ana lalu memeluknya yang sedang duduk.
Ana tersipu dan merasakan kasih sayang yang dicurahkan Rendra untuknya. Ia balik memeluk Rendra dengan menyembunyikan kepala di perut Rendra. "Love you," ucap Ana.
"Love you too," balas Rendra dan dikecup sayang kepala Ana.
.
.
.
__ADS_1
Hay readers aku kembali melanjutkan ini. Mungkin ga akan rutin, tapi akan tetap terus update yah. Karena di sini pun aku masih belajar dan mencari jati diri wkwk. Aku lagi bingung nanti aku mau jadi apa, kerja apa, karena aku ga bisa apa apa. Terimakasih semuaa, mohon maaf lahir batin yah🙏