
Setelah dipikir-pikir ucapan tukang parkir itupun ada benarnya juga. Hubungan mereka harus ada kepastiannya. Setidaknya sebelum mencapai proses pernikahan ia harus melamar Ana terlebih dahulu. Apalagi rencananya mereka akan menjalani hubungan jarak jauh.
Rendra yang pikirannya kacau karena urusan perusahaan ditambah lagi dengan sikap Ana yang seperti itu pun frustasi.
“AAaaaaarghh,” teriaknya dengan mengacak-acak rambutnya.
Ia pun langsung pergi dari kantor untuk menuju rumah Ana. Ia tak tahan dengan semua ini.
…
Setelah pertemuannya dengan Rendra tadi, Ana pun langsung menuju taman yang kala itu ia datangi di hari pertama Rendra mengabaikannya.
Sesampainya di sana Ana kembali duduk di kursi yang menghadap ke arah alirasn sungai. Kali ini ia tidak menangis seperti hari itu, di mana untuk pertama kalinya ia menjalani hubungan dengan Rendra diabaikan. Kali ini Ana tersenyum dan beberapa kali terlihat mengehela nafas nya untuk menekan rasa yang mengganjal di hatinya.
“Ya Tuhan kok gini sih rasanya,” gumam Ana dan merosotkan badannya ke sandaran kursi itu.
Terlihat ada beberapa penjual jajanan di sekitaran sana. Ia pun melihat ada penjual es krim, akhirnya Ana pun bergegas untuk membeli es krim itu. Berharap mood nya dapat kembali stabil setelah memakan es krim itu.
“Bang es krim jumbo rasa vanilla coklat ya,” pesan Ana.
“Oke siaaap," jawab si abang.
“Ni neng,” ujar si abang tukang es krim.
“Makasih ya bang. Kembaliannya ambil aja buat bonus abang udah banyak bikin seneng anak kecil.” Sahut Ana
__ADS_1
“Makasi banyak neng,” ucap tukang es krim itu. Ana pun menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum sebelum meninggalkan tempat es krim itu.
Ana kembali duduk untuk menikmati es krimnya itu. Es krimnya sudah habis ia makan dan dirasa perasaannya sudah cukup stabil ia pun bergegass kembali ke rumah karena sudah sore, gerah sekali badannya ingin segera menyentuh air dan memakai pakaian bersih.
Sesampainya di depan rumah Ana melihat sebuah mobil yang taka sing baginya, tetapi ia lupa milik siapa mobil itu sebenarnya. ana pun melanjutkan masuk ke dalam garasi mobilnya.
Sebenarnya Rendra melihat mobil Ana sebelum masuk ke dalam gerbang rumah, jadi Rendra bersembunyi dekat pot besar di teras rumah Ana. Setelah Ana memakirkan mobilnya di garasi rumah, Rendra pun keluar dari persembunyiannya dan mempersiapkan diri untuk hal yang akan dilakukannya nanti ketika berhadapan dengan kekasihnya itu.
Ketika Ana berada di teras rumahnya, ia pun menampilkan raut wajah yang biasa saja melihat Rendra ada di sana dengan sebuket bunga mawar merah. Rendra terlihat menyodorkan bunga nya kepada Ana, dan Ana pun menerimanya tanpa berkata apa pun.
Setelahnya Rendra pun berjongkok di hdapan Ana dan mengeluarkan sebuah kotak yang dibuka di dalamnya berisi sebuah cincin putih cantik dan berkilau. Mungkin itu cincin berlian.
Melihat perlakuan Rendra yang seperti itu baru lah Ana mengubah ekspresinya. Ia mengerutkan dahinya, seolah-olah sedang mempertanyakan apa maksud yang dilakukan kekasihnya itu.
“An aku suka padamu. Aku menyayangi mu dan sangat sangat menyayangimu. An aku mencintaimu will you marry me?” ucap Rendra dengan menatap Ana.
Rendra yang kesal Ana tak menjawab perntanyaan nya pun langsung bangkit.
“Issh aku tu lagi ngelamar kamu Anaaaaa,” ucap Rendra kesal.
Meskipun kesal Rendra langsung memeluk Ana karena dia masih rindu dan mungkin akan selalu merindu.
“Aku tau kamu marah, maafin aku ya. Aku nggak bisa berjanji tapi aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu,” ucap Rendra seraya mengeratkan pelukannya.
Ana yang mendengar ketulusan dari ucapan Rendra pun akhirnya membalas pelukan itu. Ia tak munafik, ia sangat-sangat mneginginkan Rendra untuk selalu bersamanya tapi apalah daya, maka dari itu Ana sedang berusaha untuk bisa bersikap dewasa.
__ADS_1
“Iya aku maafin,” jawab Ana sambil mengelus-elus punggung Rendra.
“Jadi lamarannya diterima nggak?” Tanya Rendra yang merasa mood Ana telah membaik.
“Aku belum bisa terima lamarannya. Aku mau dilamar sama kamu, tapi sama ornag tua kamu juga yang meminta aku ke orang tua aku. Tapi aku terima cincinnya, lamarannya belum,” jawab Ana dengan senyumnya.
“Dassar,” sahut Rendra dengan tawa kecil. Rendra langsung memakaikan cincin itu ke jari Ana.
“Nggakpapa kamu belum terima lamaran aku. Setidkanya dengan kamu pakai cincin ini lelaki lain udah bisa nebak kalo kamu itu udah dilamar,” lanjutnya.
“Iya kalo yang tau. Kalo enggak ya enggak,” jawab Ana.
“Bagus, aku sukaa” lanjutnya.
Rendra mengangkat tangan Ana yang terdapat cincin darinya itu, lalu dikecupnya dilanjutkan memeluk Ana lagi. Ia masih belum puas, mungkin tak akan pernah puas jika itu dengan Ana.
“Tetap jadi Ana ku. Love you,” ujar Rendra seraya mengecup kening Ana lebih lama dari sebuah kecupan tanpa melepaskan pelukannya.
“Love you too,” sahut Ana dengan mengeratkan pelukannya.
.
.
.
__ADS_1
**Like, kritik, dukungan, dan sarannya di tunggu ya😊
Terimakasih yang sudah membaca🤗😊😊**