
Konyol
Hari-hari berganti, hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, tak terasa 3 bulan telah berlalu sejak Rendra melamar Ana dengan sederhana. Hubungan keduanya terus berjalan dengan baik.
Ngomong-ngomong Olive juga berubah semakin bertambah rajin dalam belajarnya. Entah ada angin apa yang menerpa dirinya menjadi semakin rajin. Tetapi sangat bagus jika Olive berubah menjadi lebih baik. Mungkin Olive lelah menjadi orang yang seperti itu itu saja.
Andra, Olive dan Ana masih sering berkumpul bersama. Tak jarang ketiganya bermain ke rumah Ana, hanya sekedar saling menyapa atau bertukar pikiran. Seperti saat Andra mulai jenuh dengan kuliahnya, kedua sahabatnya itu selalu memberikan dukungan untuknya. Bukan hal yang mudah kuliah dibidang kedokteran.
“Eh nanti ngafe yuk sama Andra juga. Kayanya dia bisa deh,” ajak Olive yang tengah duduk di kelasnya menunggu dosen masuk.
“Boleh kayanya sekalian makan siang. Udah lama juga ya kita jarang ketemu,” sahut Ana memberi jawaban.
“Hiiiih itu mah kamu aja An. Aku sama Andra masih sering ketemu. Semenjak pacaran perasaan kamu jarang banget sama aku, paling ketemu di kampus doang. Baru aja mau makan di luar adaa aja tu satpam kesayangan,” keluh Olive kepada Ana.
“Heheh, ya maaf bukan maksud ngejauh atau apa. Tapi yaa gitu heheh,” jelas Ana yang dirasa Olive tak memberikan jawaban apa pun.
“Gak jelas luuu,” Olive yang melihat dosen sudah memasuki kelas langsung merapikan cara duduknya yang tadinya di atas meja ke kursi. Belum juga ia duduk, meja yang ia duduki tidak seimbang di saat Olive hendak turun dari meja itu. Al hasil ia pun jatuh tertimpa meja.
Ahahahha
Riuh suara tawa mahasiswa di kelas itu.
“Makanya kalau mau latihan parkur itu niatnya harus bulat,” ucap dosen itu ditengah tawa para muridnya sambil membuat lingkaran di udara dengan telunjuknya.
…
“Udah di mana An,” Tanya Olive melalui hand phone nya.
“Udah di jalan nih, pesen aja duluan jadi aku sampe tinggal makan nggak perlu nunggu lagi,” sahut Andra di seberang sana.
“Okey,”
Klik
Setelah mematikan saluran telponnya Olive dan Ana pun memesan beberapa makanan. Masih sama seperti kebiasaan mereka sebelum sebelumnya, memesan makanan berbeda dengan tujuan agar dapat merasakan makanan lain dengan tidak memesan makanan berlebih.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang dan Andra juga terlihat sudah melangkah ke pintu masuk kafe yang mereka datangi. Ana dan Olive menempati posisi di tengah-tengah kafe jadi mereka dpat melihat keadaan luar dengan jelas, karena kafe itu hanya berdinding kaca dengan lukisan-lukisan dinding unik ber cat puith yang kontras dengan nuansa kafe yang bertema cokelat cream.
Buggh..
“Aduh maaf maaf mba maaf banget nggak sengaja,” ucap Andra seraya membantu wanita itu memunguti barang yang terjatuh dari dalam tasnya.
“Iya nggakpapa mas., maaf juga. Saya juga salah tadi jalan nggak liat-liat sambil beresin barang-barang soalnya keburu-buru juga,” wanita itu mengakui kesalahannya juga.
Terlihat dari perawakannya wanita itu mungkin seumuran juga dengannya. Berkulit oriental dengan rambut hitam sebahu, ditambah dnegan keramahannya terlihat sangat menarik.
“Makasih mas, kalo gitu saya duluan seklai lagi maaf ya,” wanita itu langsung beranjak dari sana.
Tanpa banyak bicara Andra hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda jawaban, ia pun melenggang pergi menuju meja yang sudah terdapat Ana dan Olive di sana.
“Ehm kayanya nyangkut nih,” ejek Ana.
“Nyangkut apaan orang nggak ada yang kesangkut ko. Aneh nih bocah,” sahut Andra yang pura-pura tak tahu maksud dari ucapan Ana.
“Sudah sudah mendingan makan langsung, laper tauk,” Olive menengahi ucapan keduanya sebelum berlanjut panjang kali lebar sama dengan luas.
…
“Ayok cabut, aku ada kelas lagi habis ni. Kalian balik kampus apa kemana?” Tanya Andra sambil menyapu bibir nya dengan tisu.
“Aku di sini aja tadi katanya Rendra mau ke sini,” sahut Ana yang mendapat tatapan kesal dari Olive.
“Baru aja sama-sama An udah mau sama ayang beb aja. Huuuuuh dasar bucin lu,” Olive pun langsung mempersiapkan diri untuk langsung pulang. Tadinya ia hendak bermain ke rumah Ana sekalian mengantarnya tapi apa boleh buat jika sepupunya itu telah memonopoli Ana darinya.
“Dah berarti ku tinggal ya. Kalo sepupu ku itu nggak dateng pulang naik taksi aja ahha,” ejek Olive ke Ana untuk mengurangi rasa kesal nya.
Baru saja Olive pergi dari sana sudah ada yang menyapanya tetai bukan kekasihnya melainkan serangga baginya.
“Ngapain sih Rooon makan di sini sana di meja lain ah,” Ana merasa risih dan takut Rendra salah paham. Karena tadi ia pamit dengan Rendra makan siang dengan Olive dan Andra, ditambah Rendra yang memang belum mengenal Aron.
“Santai aja kali Na,” ucap Aron sambil menyodor-nyodorkan botol saus ke hadapan Ana.
__ADS_1
Ana yang kesal pun berdiri memukul bahu Aron dengan tas nya.
“Hussh hush sana ah. Aku tu mau ngedate tauu sana Ah ganggu aja,” lagi-lagi Ana mengusirnya sambil memukul bahu Aron.
“Ahahahah pacar-pacar apa pacar siii,” goda Aron lagi
Rendra yang melihat itu sebelumnya merasa geram karena telah berspekulasi bahwa Ana membohonginya. Tetapi setelah mendengar pengusiran Ana yang mengatakan bahwa ia akan negdate dengan pacarnya merasa lega. Berarti lelaki di depannya ini bukan saingannya. Buktinya saja Ana mengakui kalau ia sudah memiliki pacar.
Kali ini Aron tidak hanya menerima pukulan dari Ana, Rendra datang tepat dibelakang tubuh Aron yang memang tidak diketahuin Aron langsung menjewer telingan lelaki yang sedang usil terhadap kekasihnya.
“Aduuu duu duuuh aaah lepasin,” terdengar rintihan dari Aron. Rendra memang menjewer telinga Aron dengan tenaga. Hasilnya ialah warna merah yang tertinggal di sana.
“Hussh hush sana pergi pacar Ana sudah datang,”
“Iya iya, bayarin makan tapi ya,” ucap Aron dengan terburu-buru pindah mencrai meja kosong sebelum dijewer lagi oleh Rendra.
“Kamu ni ada-ada aja looo,” ucap Ana yang terlihat geli dengan sikap kekasihnya itu.
Rendra hanya diam saja memasang wajah dinginnya kemudian duduk di samping Ana.
“Karena kamu udah deket-deket sama laki laki lain sebagai hukuman kamu temani aku makan titik,” ucap Rendra.
“Tapi yank aku udah makan. Nanti aku muntah karna kebanyakan makan gimana,” benar memang Ana sudah merasa sangat kenyang saat ini.
“Yaudah suapin,” Ana pun hanya tersenyum mendengar permintaan Rendra yang terdengar manja di telinganya. Di tempat umum ini Ana pun menyuapi Rendra seperti bayi yang memang belum bisa memegang sendok untuk makan sendiri.
.
.
.
**Like, dukungan, kritik, dan sarannya ditunggu ya😊
Terimakasih yang udah baca🤗😊😊**
__ADS_1