Aku Kau Jadi Kita

Aku Kau Jadi Kita
Seperti Biasanya


__ADS_3

Setelah kondisi Ana benar-benar pulih, ia kembali beraktivitas seperti biasanya. Yang membedakan nya kali ini, kkegiatannya bertambah semenjak ia memiliki kekasih.


Waktu Ana terbagi antara bersama dirinya, kekasihnya, sahabat dan keluarganya.


Hubungan dengan sahabtnya berjalan dengan baik, tak ada masalah yang membuat ketiganya saling berjauhan. Di saat ada waktu senggang mereka selalu menyempatkan untuk bertemu meski hanya seminggu sekali atau pun sebulan sekali.


Hubungan dengan kedua orang tuanya pun semakin hangat. Mamah Ana banyak bertanya kepada Ana bagaimana dengan kondisinya, bagaimana hubungannya dengan kedua sahabatnya itu, dan bagaimana dengan calon menantunya juga. Entahlah, mungkin efek dari ia sudah mendapatkan pacar, Ana semaking banyak bicara tidak seperti biasanya. Namun Ana tetaplah Ana bagi orang yang baru kenal dengannya.



Setahun kemudian, hubungan antara Ana dengan Rendra masih baik-baik saja. Komunikasi, kepercayaan, dan kejujuran keduanya mengantarkan mereka pada hubungan yang langgeng. Namun sampai saat ini Rendra belum juga mengenalkan Ana kepada kedua orang tuanya.


Saat ini Rendra sudah mulai menyusun skripsinya, sedang Ana masih di semester 5. Semangat belajar Ana semakin meningkat semenjak keduanya berpacaran. Sering kali Ana meminta bantuan Rendra dalam pengerjaan tugasnya, begitu pun sebaliknya. Saling membantu satu sama lain.


Di kampus, Rendra tetpalah Rendra yang dingin dan beku sehingga kaku. Tak ada yang mengganggu hubungan nya dengan Ana karena di kampus tak ada yang mengetahuinya. Keduanya fokus untuk segera lulus dan bisa secepatnya hidup bersama dengan mahligai rumah tangga dan cinta di dalamnya. Ah betapa indah bayangannya.


Meskipun hubungannya sekarang baik-baik saja, di dalam perjalanan sebelumnya ada kerikil yang harus dilewati. Sempat kala itu Rendra marah dengan Ana, sehari semalam tak memberi kabar kepada Ana. Rendra balas dendam dengan Ana karena saat itu tak sengaja Ana terlalu banyak menahan pipis nya sehabis olah raga, setibanya di rumah ia pun langsung masuk ke dalam dan menuju toilet. Tak sadar bahwa handphone nya berada di saku celana, saat menurunkannya handphone nya pun masuk ke dalam toilet dan mati.


Hari itu adalah hari di mana tak ada jam kuliah, jadi ia pun bersantai di rumah tanpa memegang hp. Tak terpikirkan bahwa Rendra akan cemas akan keadaannya. Di malam harinya Rendra langsung berkunjung kerumahnya untuk memastikan keadaan Ana.


Tak memikirkan lelah yang ia rasa selepas berpergian urusan perusahaan bersama papanya yang diinginkan sekarang adalah mengetahui kondisi kekasihnya itu baik-baik saja.

__ADS_1


Sesampainya di sana dan mendapati kondisi Ana baik-baik saja Rendra pun lega, lelahnya pun terbayar. Tetapi yang membuatnya dongkol ialah di saata Ana bercerita menikmati harinya dengan bersantai ria dan tidur tanpa ada niatan untuk memberikan atau pun menanyakan kabar nya yang tengah berkelana demi masa depan mereka.


Astaga, di saat lelah seperti ini dia tak sama sekali berniat untuk memperhatikanku, sial, gerutu Rendra yang langsung berpamitan dengan orang tua Ana setelah mendengar cerita suka cita kekasihnya itu.



“Hai,” sapa seseorang.


“Hah, iya kenapa,” jawab Ana yang tengah duduk di perpustakaan.


“Mmmm boleh aku duduk di sini?” Tanya lelaki itu yang menunjuk kursi di depan Ana.


“Silahkan aja duduk toh nggak ada larangan kan untuk duduk di situ asal kan jangan menganggu,” jawab Ana.


Tak ada perbincangan dalam beberapa saat. Ana masih sibuk dengan bacaannya, si lelaki itu pun sungkan hendak mengajak Ana berbicara. Mendapatkan tanggapan yang seperti itu dari seorang wanita membuatnya seperti tertantang.


Dengan tampangnya yang menawan bisa mendapatkan keramahan dari orang-orang dengan mudah, tetapi tidak untuk kali ini. Wajahnya pun hanya dilihat beberapa detik saja. Sangat berbeda dengan biasanya, bahkan ada orang yang menatapnya tanpa berkedip sampai menabrak sesuatu di depannya ada juga yang sampai meneteskan liur nya. Tetapi ini tidak sama kali.


Hampir sejam sudah lelaki itu memperhatikan Ana. Ditatapnya terus wanita itu dengan seksama. Biasanya ia yang ditatap seperti ini oleh kaum hawa, tetapi sekarang oh Tuhan dia diabaikan begitu saja.


“Kalau tidak berkepentingan dengan perpus lebih baik pergi. Masih banyak yang ingin duduk untuk sekedar membaca atau mengerjakan tugas nya,” ucap Ana tanpa mengalihkan perhatian dari bukunya. Ia merasa risih dari tadi diperhatikan oleh lelaki di depannya ini.

__ADS_1


Tidak terbayang olehnya jika sampai Rendra tahu ia diperhatikan oleh lelaki lain. Bahkan Rendra pun maish saja suka cemburu dengan keberadaan Andra sebagai sahabatnya. Astaga bisa jadi masalah kalau sampai ia mengetahuinya.


Ana menjadi tidak fokus dengan pekerjaannya karena keberadaan lelaki di depannya ini. Selalau terbayang bagaimana sikap Rendra yang selalu saja cemburu jika ada lelaki lain yang memperhatikan Ana. Meskipun itu bukan salahnya karena semua orang memiliki mata yag berfungsi untuk melihat tetapi tetap saja Rendra akan marah terhadapnya. Bukan marah, lebih tepatnya kesal dan akhirnya ia yang diabaikan sementara Rendra menikmati rasa kesalnya itu.


Akhirnya Ana pun berkemas untuk meninggalkan tempat itu. Ia takut tiba-tiba Rendra muncul di hadapannya, kan tak ada yang tak mungkin.


“Hei dah selesai kah, mau kemana,” tegur lelaki itu yang melihat Ana berkemas.


Ana menengok kan wajahnya ke sumber suara itu. Baru saja membuka mulutnya untuk menjawab namun diurungkan dan kkerutan di dahi yang bermunculan.


“Ingat nggak?” Tanya lelaki itu sambiil tersenyum dan menaikan kedua alisnya menggoda Ana.


“Hihhh masih aja narsis,” sahut Ana yang langsung pergi dari tempat itu. Lelaki itu pun hanya tertawa di tempat melihat tanggapan Ana yang masih saja sama dari Ana yang dikenalnya dulu.


.


.


.


**Jangan lupa like komen dan sarannya yaa

__ADS_1


Terimakasih😊🤗**


__ADS_2