
“Sssshhtt,” ucap Ana sambil mendekat ke arah kekasihnya itu.
Ciee kekasih wkwk
“Karena aku nggak mau kamu duduk di sini sendirian. Ayok kita makan siang,” lanjutnya sambil menggandeng tangan Rendra menuju dapur untuk makan siang.
“Uhhuy udah kaya gerbong kereta aja kemana-mana gandengan,” ejek Andra yang melihat Ana menggandeng seseorang masuk ke area meja makan.
Ana yang mendapat ejekan dari sahabatnya itu hanya berdecih menanggapinya.
“Wah baru ya An. Yang lama dikemanain An,” usil Andra.
“Sstt diam ah. Udah ada makanan di depan mata nggak boleh dianggurin. Makan dulu,” jawab Ana yang enggan menanggapi ucapan Andra. Sebenarnya lebih takut Rendra akan salah paham nantinya.
Rendra yang mendengar gurauan Andra menjadi penasaran dengan Ana. Setahunya dari Olive, Ana belum pernah berpacaran atau dekat dengan seorang pria. Dia lah pria pertama Ana. Setelah mendengar gurauan Andra mungkin ada baiknya nanti ia tanyakan kepada Ana sendiri.
Semuanya makan siang dengan tenang. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan priring, hening. Ketika sudah selesai, para wanita membereskan meja makan, Andra dan Rendra ngobrol berdua di meja makan untuk mengenal satu sama lain. Keduanya terlihat sudah akrab seperti sudah lama saling mengenal.
Hal yang menyenangkan bagi Ana, berharap kedepannya kekasih hatinya itu tak akan salah paham dengan kehadiran Andra.
Tak terasa sudah jam 2 siang, Andra dan Olive pamit karena kebetulan ada jam kuliah sebentar lagi. Keduanya pun pamit.
“Jangan lupa ya catatan sama titip absen ya Liv,” pinta Ana.
__ADS_1
“Hmm. Pulang dulu ya Tan, Ren. Assalamualaikum,” pamit Olive yang langsung menuju kampusnya.
…
Setelah kepulangan kedua sahabat Ana itu, Rendra dan Ana berpindah ke ruang tamu, sedangkan mamah Ana masih berkutat di dapur untuk membuat kue untuk camilan.
Ana dan Rendra sibuk dengan pembicaraannya hingga Rendra berpamitan untuk pulang Karena diminta untuk mendatangi papa nya di kantor.
“Yank aku pulang dulu ya,” ujar Rendra.
“ Sebentar ya sampe aku tidur yaa pliiis,” pinta Ana yang langsung bersandar di bahu Rendra dan memejamkan mata.
“Dasar manja,” sahut Rendra dan menjawil hidung Ana.
Ana yang merasa diperlakukan seperti itu langsung memeluk Rendra,kedua tangannya di kaitkan di pinggang Rendra. Nyaman, itu lah yang dirasakan Ana. Dalam hatinya bersumpah akan bersama selamanya dengan Rendra apa pun itu yang terjadi selama Rendra masih mencintainya.
Tak jauh berbeda dengan Ana, Rendra pun merasakan hal yang sama. Pelukan Ana sehangat pelukan mamanya di rumah. Sudah lama Rendra tak merasakan pelukan mamanya itu, ah jadi rindu.
Memikirkan kedekatannya dengan Ana membuatnya membulatkan tekad, untuk menjadikan Ana satu-satunya wanita yang memilikinya dan yang dimilikinya. Hanya Ana, Ana, dan Ana. Ia tahu pasti tak akan mudah menjalaninya. Menunggu ia wisuda kurang lebih masih membutuhkan waktu satu setengah tahun lagi. Belum lagi ada satu hal diminta oleh papanya yang bisa jadi menghambat hubungannya dengan Ana. Ia bingung dan pusing memikirkannya.
Sementara waktu ia menkmati saja dulu apa yang ada. Untuk ke depannya ia akan mengambil tindakan sesuai dengan keadaan nantinya.
Diusapnya lagi rambut Ana, dihirupnya wangi rambut Ana yang menenangkan itu. Terdengar hembusan nafas Ana yang teratur, dirasa tidurnya sudah pulas ia pun membaringkan tubuh Ana di sofa dengan hati-hati. Di taruhnya bantal di ujung sofa untuk menyangga kepalanya, dirasa Ana aman dan nyaman ia pun beranjak ke dapur untuk pamit ke mamahnya Ana.
__ADS_1
“Tan..,” panggil Rendra.
“Iya Ren. Ana nya mana,”
“Oh itu di depan dia lagi tidur Tan. Nah saya mau pamit untuk pulang dudlu Tan,” ucap Rendra.
“Nah kalo gitu tolong bawa Ana ke kamranya yaaa, sini Tante anterin ke kamar Ana.”
Akhirnya Rendra pun mengangkat tubuh Ana menuju kamarnya. Tak terusik dengan gerakan yang Rendra lakukan.
“Dasar kebo,” gerutu Rendra lalu meniup rambut Ana yang menutupi wajah Ana.
Selepas meletekan Ana di kamarnya, Rendra pun berlalu menuju perusahaan untuk bertemu papanya.
Karena Rendra adalah anak laki-laki satu-satunya ia diminta untuk menjadi penerus papanya kelak. Jadi dimulai dari sekarang ia belajar bersama papanya. Di saat ada waktu senggang ia diminta untuk datang ke perusahaan papanya. Sampai saat ini ia belum berbicara persoalan hubungannya dengan Ana.
.
.
**Jangan lupa like dan komennya yaa.. Dukungan, kritik, dan sarannya ditunggu😊
Terimakasih bagi yang sudah baca, tinggalkan jejak jangan lupa🤗😊**
__ADS_1