Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
10. Koper Milik Orang Kaya


__ADS_3

Di bawah naungan panas terik matahari kota Jakarta kini Bastian memilih untuk berteduh di depan supermarket yang nampak begitu ramai. Di sini ia bisa berteduh sambil sesekali menoleh menatap beberapa para pengunjung supermarket yang keluar masuk melewati pintu besar itu.


Rasanya Bastian juga ingin sekali bisa masuk ke dalam ruangan supermarket itu dan memilih beberapa makanan yang bisa ia beli namun, Bastian sadar jika harga dari barang-barang yang dijual di supermarket itu pasti jauh lebih mahal.


Dan pastinya juga ia tak punya banyak uang untuk bisa membeli jajanan yang dijual di dalam supermarket. Melihat dari luar saja sudah membuat hati Bastian menjadi senang apalagi jika ia bisa membelinya. Sekarang Bastian bertekad jika nanti yang menjadi orang kaya maka ia akan memborong supermarket ini.


Bastian kini bangkit berdiri di depan kaca besar itu membuat kedua tangannya menempel pada permukaan kaca sambil mengintip beberapa pembeli yang sedang mengantri panjang. Mereka semua terlihat sedang begitu serius.


Dari sini Bastian bisa melihat ada Begitu banyak yang orang-orang itu beli bahkan barang-barang yang ia beli mereka letakkan di dalam troli hingga membuat Bastian menjadi ngeri sendiri melihat banyaknya yang mereka beli.


Berapa kira-kira harga yang harus mereka keluarkan untuk membayar barang-barang yang mereka semua beli itu?


Hah, tentu saja mereka bisa membelinya karena mereka semua adalah orang kaya dan berbeda seperti Bastian yang hanya merupakan anak penjual koran.


Uang lembaran merah saja tidak pernah lalu bagaimana ia bisa masuk dan membeli barang-barang yang dijual di supermarket itu.


Mimpi, iya jika Bastian bisa membeli salah satu barang yang dijual di supermarket itu mungkin itu hanyalah sebuah mimpi atau sebuah harapan yang selalu di idam-idamkan oleh sosok Bastian.


"Hei, menyingkir dari situ! Kau menghalangi pembeli. Dasar anak kotor, penjual koran. Sekarang cepat menyingkir!"


Suara bentakan itu bisa Bastian dengar dan dengan cepat Bastian melangkah mundur saat wanita berseragam supermarket itu melangkah keluar melewati pintu besar yang terbuat dari kaca tembus pandang.


Bastian bisa melihat sorot mata wanita itu yang terlihat begitu tajam sepertinya ia benar-benar marah atau memang dia tidak suka melihat sosok anak seperti Bastian yang ada di sekitar supermarket.

__ADS_1


Bagi mereka anak-anak seperti Bastian hanya menjadi bahan pengganggu atau mungkin ia takut jika Bastian akan meminta-minta kepada para pembeli yang berada di supermarket ini padahal niat Bastian tidak lain hanya ingin berteduh, itu saja tidak lebih.


Pandangan orang-orang kaya memang seperti itu menganggap orang-orang kecil selalu berniat untuk meminta-minta kepada mereka namun, itu semua tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada kenyataannya.


Bastian tidak berniat untuk meminta-minta tapi kalau ada yang memberi siapa yang akan menolak?


Bastian kini masih berhadapan dengan wanita yang memiliki kening mengernyit. Kedua alis yang melengkung itu kini telah mirip karakter angry birds, bener-bener sangat menyeramkan.


"Dasar anak miskin penjual koran. Jangan sentuh kaca ini! Kaca ini sudah dibersihkan kalau kau menyentuhnya dengan tangan kotor kau itu nanti bisa membuat kacanya bisa kotor lagi."


"Kalau kacanya kotor kau mau membersihkannya? Hah? Mau?!!" teriaknya membuat Bastian kini hanya mampu terdiam hingga beberapa orang-orang melihat ke arahnya dan membuat Bastian kini menjadi pusat perhatian.


Tak ada yang ingin membela Bastian, tentu saja di mata orang-orang banyak Bastian yang memiliki kesalahan.


"Maaf, kak. Aku tidak bermaksud untuk mengotori kacanya, lagi pula tangan saya tidak kotor," ujar Bastian membela sambil menjulurkan kedua tangannya memperlihatkan kepada wanita itu jika ke telapak tangannya benar-benar tidak kotor seperti apa yang dia pikirkan.


Ya, rupanya memang benar apa yang dikatakan oleh wanita itu jika tangannya terlalu kotor untuk menyentuh permukaan kaca. Bastian tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya, tidak begitu nyaman rupanya.


Benar apa yang dikatakan oleh wanita ini kalau tangannya memang kotor.


"Maaf, kak. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengotorinya kalau begitu saya bersihkan dulu, ya," ujar Bastian lalu dengan jemari yang bergetar ia menggosok-gosokkan telapak tangannya di permukaan dinding kaca membuat wanita itu menjerit kesal.


"Eh, jangan sentuh itu! Lihat kacanya tambah kotor! Kau itu tidak punya telinga atau apa, sih dasar anak bodoh!"

__ADS_1


"Makanya kau itu sekolah! Mana orang tua kau? Kenapa kau tidak sekolah? Kenapa hanya menjual koran saja bikin menghalangi jalanan."


"Kau tahu kehadiran kau itu di supermarket hanya mengganggu orang. Sana pergi! Kalau para pembeli melihat kau di sini adanya orang tidak akan jadi beli."


"Melainkan dia akan pergi ke tempat lain. Sana pergi!" usirnya membuat Bastian hanya mengangguk.


Orang-orang kaya yah memang seperti ini. Dia dengan teganya menghina orang kecil seperti ini. Harus apa? Marah pun tidak bisa karena yang kaya tetap akan menjadi pemenangnya sedangkan orang miskin tetap akan menjadi sang pengalah.


Sebelum semakin banyak orang yang menjadinya pusat perhatian Bastian akhirnya memutuskan untuk melangkah pergi. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di bawah terik panas matahari yang berada di bawah lampu merah.


Ia menggunakan koran-koran yang berada di atas kepalanya sebagai pelindung dari sengatan panas matahari di kota Jakarta yang perlahan tak dihiasi dengan pepohonan lagi.


Ya, pepohonan di sini cukup jauh hingga suhu panas semakin menjadi saat jam-jam seperti ini.


Suara kendaraan knalpot, suara bunyian klakson yang bertebaran seakan menikam gendang telinga, keringat bercucuran, panas, lesu, dan lapar. Semuanya menyatu menjadi satu namun, Bastian tak boleh menyerah ia harus tetap bisa menaklukkan semuanya, ini demi satu hal demi yaitu, Mama.


Setelah menjajakan koran-koran dan tisu saat lampu merah ia kembali duduk di bawah lampu merah. Ia duduk di pinggiran batu pondasi tiang lampu lalu beberapa saat menatap orang-orang yang berlalu lalang begitu saja seakan tidak menganggap sosok Bastian ada di tempat ini.


Kedua mata Bastian kini berpusat pada beberapa orang dengan penampilan yang mencurigakan. Tentu saja karena penampilannya persis seperti preman yang ada di tv-tv.


Mereka berbaju hitam, banyak sobekan, rambut gondrong dan aksesoris sebagai pelengkap membuat mereka semakin terlihat seperti orang penjahat.


Bastian dibuat terdiam sejenak bahkan saat lampu hijau berubah menjadi merah dimana di saat itu ia selalu menjajakan koran-koran dan tisu-tisunya kini Bastian dibuat terdiam menatap preman yang terlihat berbisik-bisik sambil melirik ke arah seorang pria tua yang sedang ingin menyebrang.

__ADS_1


Dari sini Bastian bisa melihat sosok pria berjas hitam dengan perawakan seperti orang kaya sedang memegang koper hitam yang cukup besar.


Bastian menatap mereka dengan lekat-lekat dan mengintai setiap gerak-gerik yang orang itu lakukan. Cukup lama preman-preman itu terdiam sambil menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya dan tanpa sadar jika ada sosok Bastian yang sejak tadi menatapnya hingga kedua mata Bastian membulat saat preman itu langsung menarik koper milik pria berjas hitam itu dengan paksa dan membawanya pergi sementara temannya yang satu lagi mendorong pria tua itu hingga terjatuh ke aspal.


__ADS_2