
"Ada apa?"
"Mama saya kritis! Dia pingsan dan tidak mau bangun. Tubuhnya mendingin," aduh Bastian dengan wajah yang sangat panik serta bibirnya yang bergetar, ingin menangis.
...****...
Mobil yang ditumpangi oleh Bastian kini berhenti saat mobil mewah itu telah berada di depan ruangan IGD. Begitu sangat beruntungnya Bastian telah dipertemukan oleh pria tua itu, pak Dewantoro yang telah membawa Mamanya ke rumah sakit.
Pak Dewantoro melangkah dengan cepat menuruni mobil lalu berteriak dengan keras membuat para perawat dan beberapa dokter itu berlari.
"Ada apa pak?" tanyanya dengan panik.
"Cepat bawa berangkar! Ini keadaan kritis!!!" teriaknya.
Bastian hanya memasang wajah yang begitu sangat panik, tak tahu harus mengatakan apa dan berbuat apa sekarang ini. Rasanya sekujur tubuhnya menjadi lemas, tak sanggup lagi untuk melangkah. Rasanya juga ia tak mampu untuk bernafas seperti biasanya seakan ada yang mengganjal pada dadanya itu hingga tak berselang lama para perawat-perawat yang berseragam putih itu berlarian pergi lalu tak berselang lama mereka muncul sambil membawa berangkar dan ia meletakkan tubuh Mamanya yang telah kaku itu di atas berangkar dan mendorongnya pergi membuat Bastian berlari bersama dengan pria tua itu di belakang sana.
Benar saja wajah Mamanya itu kian memucat membuat pikiran-pikiran aneh bermunculan di pikirannya. Ia tak ingin jika Mamanya itu benar-benar pergi meninggalkannya.
Bastian hanya mampu terdiam menatap Mamanya di balik kaca pintu ruang IGD di sana ia bisa melihat Mamanya yang sedang dipasangkan bantuan pernafasan dan beberapa tim dokter yang nampak menekan-nekan bagian dada Mamanya berserta beberapa alat dipasangkan di dadanya hingga terlihat dengan jelas layar monitor yang menggambarkan garis lurus.
Entah mengapa perasaan Bastian sekarang tidak enak. Rasanya Bastian ingin menangis tapi air mata ini begitu sangat susah. Sepertinya tubuhnya ikut mendingin.
Dia menggigit ujung jari-jari tangannya yang kian menjadi cemas. Ia melangkahkan kakinya mondar-mandir tak jelas sementara pak Dewantoro terlihat terdiam. Ia nampak duduk di kursi panjang sepertinya pria itu juga cemas dengan keadaan Mamanya
"Bastian kemarilah! Duduk di sini!" pintanya lalu menepuk-nepuk kursi yang berada di sampingnya membuat Bastian mengangguk lalu melangkah mendekati pria tua itu.
"Kau tenang saja! Mama kau pasti tidak apa-apa, oke?"
Bastian mengangguk setelah mendengar perkataan itu namun, rasanya apa yang dikatakan oleh pak Dewantoro tidak sesuai dengan apa isi hatinya sekarang ini. Dia berharap Mamanya akan baik-baik saja namun, mengapa perasaannya tidak enak.
Rasanya ada seseorang yang akan pergi meninggalkannya.
"Mama kamu sakit apa?"
Bastian menggeleng, bibirnya bergetar. Dia tahu harus berkata apa tapi ucapan ini tak mampu lagi bisa ia utarakan dengan jelas. Rasanya sangat susah. Bibirnya seakan membeku.
"Sakit?"
__ADS_1
"Iya pak," jawabnya dengan susah payah.
"Sakit apa?"
"Hanya batuk," jawabnya sambil sesekali boleh menutup ke arah pintu berharap dokter keluar dengan memberikan kabar yang baik.
"Batuk? Kamu tidak pernah membawa Mama kamu itu ke rumah sakit untuk memeriksakan diri?"
"Tidak pernah, pak."
"Kenapa?"
"Kata Mama, Mama takut suntik tapi saya yakin Mama tidak mau pergi ke rumah sakit karena tidak mau bayar uang rumah sakit."
"Dia tidak punya uang. Di rumah hanya Bastian yang bekerja pak. Beli beras aja susah, pak jadi bagaimana harus periksakan Mama di rumah sakit."
Pak Dewantoro hanya terdiam. Tak ada sebuah anggukan atau tanggapan sedikitpun darinya hingga tak berselang lama pintu terbuka membuat Bastian dan pak Dewantoro dengan kelompok segera bangkit dari tempat duduk dan melangkah mendekati dokter itu yang nampak melepaskan stetoskop dari telinganya.
"Bagaimana, pak? Bagaimana keadaan Mamanya anak ini?" tanya pak Dewantoro membuat dokter yang telah menangani mamanya Bastian itu menghela nafas berat dan cukup panjang membuat Bastian seakan telah mengetahui apa jawaban dan bagaimana keadaan Mamanya sekarang.
"Maaf pak, kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa wanita itu sudah tidak bisa diselamatkan."
"Anda saja anda membawanya lebih cepat mungkin bisa diselamatkan. Saya turut berduka."
Dokter itu menepuk bahu Bastian yang rapuh di detik itu juga. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu kedua mata Bastian memanas, merah hingga kedua matanya terhalang beberapa gerangan air mata.
Perasaannya hancur, benar-benar hancur. Dadanya seakan di sayat oleh benda tajam yang menghantam dadanya dengan keras membuat perasaannya begitu sangat perih.
"Tidak, tidak mungkin," ujarnya menggeleng menolak kenyataan itu membuat kedua air matanya yang menggantung akhirnya menetes.
Bastian segera berlari mendorong pintu ruang IGD dengan keras menghampiri Mamanya yang sudah terbaring di sana bahkan salah satu perawat itu menutup wajah Mamanya dengan selimut panjang berwarna putih.
"Jangan! Jangan tutup mata Mama saya! Jangan tutup muka Mama saya juga dengan selimuti!"
"Nanti Mama saya tidak bisa bernafas!!!" teriak Bastian lalu menarik kain putih itu memperlihatkan wajah Mamanya yang telah benar-benar pucat.
Bastian mengusap wajah Mamanya yang begitu dingin. Wajah ini, bukan seperti Mamanya yang selalu ia lihat.
__ADS_1
"Mama! Ini Bastian! Tolong buka mata!"
"Ma-ma! Ini Bastian Ma! Mama kenapa tinggalkan Bastian?!!"
"Mama tidak boleh tinggalkan Bastian!"
"Cukup Ayah saja yang tinggalkan Bastian jangan Mama!!!"
"Kalau mau pergi maka siapa yang jaga Bastian?!!"
"Mama? Si-siapa-si-apa lagi yang akan sayang dengan Bastian?!!" teriaknya sambil mengguncang tubuh Mamanya yang benar-benar telah kaku.
Bastian menyandarkan kepalanya itu di dada mamanya yang tak kembang kempis lagi seperti apa yang selalu ia rasakan. Tak ada kehangatan tubuh Mamanya lagi saat ini.
Tubuh Mamanya itu telah benar-benar mendingin. Kedua matanya kini telah meneteskan air matanya dengan tangan Bastian yang memaksakan tangan Mamanya untuk menyentuh wajahnya namun, tangannya terlalu kaku untuk ia gerakkan.
"Mama! Tolong! Tolong jangan tinggalkan Bastian! Bastian tidak bisa! Bastian tidak bisa!"
"Tolong Bastian! Bastian hanya punya Mama di dunia ini. Bastian harus tinggal sama siapa lagi kalau bukan sama Mama?"
Pak Dewantoro kini hanya bisa terdiam sambil mengusap air matanya yang juga sempat menetes. Baru kali ini ia menangis dan air mata itu berhasil dibuat menetes saat melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Bastian.
Bukan hanya pak Dewantoro yang menangis saat itu namun, beberapa perawat yang telah menangani Mamanya juga ikut menangis. Hal ini benar-benar menyentuh perasaan orang-orang yang mendengarnya.
Bisakah kalian membayangkan apa yang dirasakan oleh Bastian? Bocah yang baru berusia sepuluh tahun itu harus ditinggalkan oleh sosok Mamanya?
Anak kecil yang harus membiayai kehidupan Mamanya. Bersusah payah membeli beras agar bisa makan sesuap nasi dan mempertahankan hidup.
Membeli obat dari hasil penjualan koran untuk Mamanya yang sakit-sakitan dan akhirnya di akhir cerita semuanya harus pergi. Pergi meninggalkan sosok anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang Mamanya.
Bagaimana perasaan seseorang saat melihatnya? Hancur, tentu saja hancur. Orang satu-satunya yang selalu ada untuk Bastian kini pergi setelah Ayahnya pergi dengan mementingkan keegoisan dirinya dan kini pula Tuhan harus memisahkan Bastian dari Mamanya.
Kini ia seorang diri. Jika Mamanya pergi maka dengan siapa Bastian akan hidup di dunia ini? Siapa? Tolong katakan! Bastian masih membutuhkan kasih sayang. Baru semalam ia bersama dan bahagia karena ia bisa melihat Mamanya makan makanan enak namun, kali ini ia harus melihat Mamanya itu pergi untuk selama-lamanya.
Masih bisakah ia tersenyum? Masih bisa kah ia berharap? Masih bisakah ia mengharapkan dunia ini memberikan senyuman untuknya?
Masih bisakah ia berarap ada seseorang yang bisa membuatnya tersenyum? Apakah ia masih bisa berharap ada seseorang yang membuatkan masakan dan menantinya pulang di rumah setiap pulang.
__ADS_1
Dan masih bisakah ia tersenyum bahagia jika surganya telah pergi untuk selama-lamanya?
Penjual koran yang malang.