Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
15. Makan Malam Enak


__ADS_3

Bastian melangkahkan kakinya menuju pulang ke rumah. Ia bahkan tak berniat untuk kembali ke tempat Master koran karena ia takut jika dua preman itu tidak sampai ditangkap oleh seluruh polisi yang mengejarnya tadi dan akan mengadukan apa yang ia lakukan kepada Master koran terlebih lagi koran dan tisu itu telah ia buang ke jalanan. Masih untung jika Joy mengambilnya jika tidak maka mungkin ia telah akan dicekek oleh Master koran karena telah membuang koran dan hal itu tentu saja semuanya akan menyebabkan kerugian karena ulah Bastian.


Bastian dengan senang hati melangkahkan kakinya bergantian menuju pulang ke rumah. Ada rasa bahagia yang terpancar dari wajahnya. Senyumnya bahkan merekah tanpa henti. Kali ini ia benar-benar sangat bahagia sambil sesekali menunduk menatap barang-barang yang telah diberikan oleh pak Dewantoro.


Sengaja Bastian memilih beberapa makanan seperti beberapa bungkus mie, sabun ,aneka snack, coklat dan masih banyak lagi. Bagi Bastian hal ini adalah hal yang langka. Ia tak mungkin lagi bisa membeli makanan ini sebegini banyaknya, tak lupa juga ia membeli sebungkus beras yang mungkin bisa ia makan beberapa minggu yang akan datang.


Waktu yang baik bagi Bastian tidak akan datang dua kali mungkin akan datang tapi keadaannya yang berbeda. Hal itu yang menjadikan Bastian tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan saat pak Dewantara menyuruhnya untuk memilih apa yang ia suka di dalam supermarket itu.


Maka dengan senang hati Bastian memilih yang makanan yang bagus dan sangat penting serta beberapa obat batuk untuk ibunya. Di dalam hatinya Bastian tak henti-hentinya memikirkan bagaimana pendapat Mamanya jika mengetahui ia punya obat untuknya hari ini.


Bahagia? Tentu saja Bastian telah menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh Mamanya. Langkah Bastian memelan saat ia menatap bingung ke arah rumahnya yang terlihat begitu gelap, tak ada cahaya lampu yang meneranginya.


Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 08.00 malam tapi mengapa Mamanya belum juga menyalakan lampu teras rumah padahal biasanya jika Bastian pulang lampu yang di teras itu selalu menyala.


Bastian kini merasa tidak nyaman dengan situasi ini membuat ia dengan cepat melangkah laju. Langkah kakinya menginjak satu persatu anakan tangga dan dengan susah payah karena barang yang ia bawa begitu berat.


Jantung Bastian berdetak dengan cepat. Rasa takut menghantuinya. Ia dengan cepat membuka pintu dan berteriak berusaha mencari sosok Mamanya yang tak kunjung terlihat.


"Mama! Mama!" teriak Bastian yang menelusuri setiap ruangan.


Bastian membuka pintu kamar mendapati sosok Mamanya yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya. Ia meletakkan barang itu di bibir pintu lalu berlari masuk menghampiri Mamanya yang masih tertidur.


"Mama! Mama!" teriak Bastian yang begitu histeris namun, suara teriakan histeris itu seketika bungkam saat melihat kedua mata Mamanya terbuka.

__ADS_1


"Bastian? Kenapa teriak-teriak?" kesal Mamanya membuat Bastian bernafas legah. Akhirnya apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


Mamanya masih hidup membuat Bastian merasa lebih lega.


"Kau pulang lambat sekali?"


"Maaf, maafkan Bastian tapi Mama pasti bakalan senang karena Bastian punya banyak makanan buat Mama," ujar Bastian lalu meraih sekantong besar itu dan membukanya lebar-lebar di hadapan Mamanya yang tersenyum.


Wajahnya memucat dan kedua matanya terlihat sayu.


"Hari ini banyak yang beli koran ya?"


"Bukan Ma, ini itu dari orang baik."


"Iya jadi waktu pagi Bastian nolongin pak Dewantoro."


"Pak Dewantoro?"


"Iya itu orang kaya, kopernya hilang dicuri sama 2 preman. Bastian tolongin, nah ini adalah tanda terima kasih untuk Bastian."


"Lain kali kalau menolong orang itu yang ikhlas jangan mau dikasih kayak ginian nanti dikiranya kamu nolongin dia cuman mau dikasih beginian."


"Enggak, kok Ma. Bastian udah nolak tapi pak Dewantoro maksa. Ya udah mendingan Bastian turutin lagian kan juga enak Ma Bastian bisa pilih-pilih barang-barang yang dijual di supermarket itu," jelasnya bercerita membuat Mamanya itu hanya bisa tersenyum-senyum saat mendengar penjelasan Bastian terlebih lagi saat ia menceritakan saat adegan kejar-kejaran antara ia dengan preman itu begitu sangat mengasyikkan bagaikan mendengar sebuah adegan drama yang ada di TV, ini jauh lebih menarik daripada yang ia pikirkan.

__ADS_1


Bastian semakin semangat dalam menceritakan semuanya saat ia melihat Mamanya yang begitu sangat antusias saat mendengarkan jalur ceritanya.


Malam ini menjauh lebih membahagiakan bagi Bastian karena makanan yang Mamanya masak begitu sangat banyak. Beberapa mangkuk mie tersedia, nasi yang wangi tercium aromanya karena beras yang ia beli dari supermarket itu tidak sama seperti beras yang dijual oleh koh Li yang ada di kedainya.


Malam ini mereka bersantap dengan begitu bahagia sesekali Bastian dan Mamanya itu tertawa saat Bastian kembali menceritakan kisah lucunya yang bersembunyi di tong sampah hingga bau semerbak tercium.


Malam ini begitu sangat berbeda, raut wajah bahagia Mamanya seakan membuat dirinya begitu bahagia. Momen yang langka serta senyum yang setiap harinya selalu dirindukan oleh Bastian.


Ini yang Bastian inginkan selamanya ini yaitu ingin melihat Mamanya menjadi tersenyum. Tak ada sebuah tangisan, tak ada sebuah air mata, tak ada sesegukan dan tak ada kalimat penyesalan yang selalu dilontarkan oleh Mamanya setiap hari.


Bastian sangat beruntung bener-bener bersyukur telah bertemu dengan pria bernama pak Dewantoro itu. Jika saja ia tak menolongnya mungkin ia tidak akan makan enak malam ini dan membuat Mamanya menjadi bahagia seperti ini.


Mamanya mungkin saja mengatakan untuk tidak meminta imbalan kepada pak Dewantoro tetapi dia satu sisi dia juga bahagia bisa makan makanan enak malam ini bahkan di saat ia bersiap untuk tidur Bastian tahan terhentinya menceritakan kisah lucunya dan juga sekaligus menegangkan momen ini seakan tak bisa dan takkan pernah dilupakan oleh Bastian sampai kapanpun.


Adegan yang selalu hanya ia lihat di tv-tv terjadi kepada dirinya. Bastian memeluk tubuh Emaknya dengan erat menyandarkan kepalanya di lengan Mamanya yang hangat. Senyum yang merekah menjadi pengantar tidur di saat ia bisa melihat wajah Mamanya yang bersinar bagaikan bulan malam ini.


Raut wajahnya sedikit terlihat berbeda, jauh lebih bercahaya dari biasanya. Ya mungkin saja karena malam ini ia telah makan makanan enak. Hah, makanan itu ternyata mempengaruhi keadaan hati seseorang.


Dalam hati Bastian berpikir semoga saja ia besar dan menjadi orang kaya lalu bisa memberikan makanan-makanan enak untuk Mamanya jadi Mamanya tak akan pernah menangis karena memikirkan kehidupannya yang miskin.


Bastian juga ingin menjadi orang kaya seperti pak Dewantoro yang rupanya di dalam koper itu berisi uang-uang merah yang baru saja ia ambil dari bank. Jika ia menjadi orang kaya pasti kehidupannya tidak akan seperti ini.


Ia tentu saja akan memasukkan Mamanya ke dalam rumah sakit yang bermerek di mana ada begitu banyak para tim dokter dan perawat yang profesional yang akan membuat Mamanya menjadi sembuh dan tak sakit-sakitan seperti ini lalu mereka tentu saja akan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik daripada apa yang ia rasakan seperti ini.

__ADS_1


Ini adalah sebuah harapan, harapan kecil dari anak si penjual koran.


__ADS_2