Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
20. Sekolah


__ADS_3

Setiap malamnya Bastian akan berdiri di depan pintu utama rumah pak Dewantoro dengan niatnya yaitu, menanti pak Dewantoro pulang. Di rumah ini hanya pak Dewantoro yang selalu ia rindukan dan berharap selalu ada di sampingnya karena hanya pak Dewantoro yang benar-benar menyayanginya. Bagaikan sosok kedua orang tua pengganti Mamanya.


Tak berselang lama suara mobil terdengar hingga suara langkah kemudian disusul pintu yang terbuka membuat Bastian dengan cepat meraih koper kerja milik pak Dewantoro dan menyambutnya dengan bahagia.


"Kamu belum tidur?"


"Belum pak."


"Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa?"


"Karena Bastian belum melihat Bapak."


"Benarkah?"


"Iya pak."


Pak Dewantoro tersenyum. Ia membelai rambut Bastian lalu merangkulnya dan membawanya ke kursi sofa.


Sementara di satu sisi nampak Melinda dan Reno terlihat berdiri di ujung lemari membuat Melinda membisikkan sesuatu ke telinga Reno.


"Lihat! Bastian itu tidak baik. Dia itu mengambil Opah kamu dan sekarang lihat bukan kamu yang dirangkul tapi Bastian."


"Dan sekarang kamu masih mau sayang dan peduli sama Bastian? Bastian itu orang jahat, dia hanya masuk ke rumah ini hanya untuk mengambil Opah kamu," lanjutnya.


"Oh ya Bastian."


"Iya pak," sahut Bastian yang terlihat duduk di sofa tepatnya di samping pak Dewantoro.


"Bapak ingin memberikan sesuatu hal."


"Apa itu pak?"


"Saya yakin kamu pasti akan senang."


Pak Dewantoro kembali mengelus rambut Bastian dengan penuh perhatian membuat Bastian semakin nyaman berada bersama dengan pak Dewantoro.

__ADS_1


"Bapak sudah memutuskan kalau besok kamu akan sekolah."


"Sekolah?" tanya Bastian tidak menyangka.


"Iya sekolah. kamu mau kan sekolah?"


"Mau pak, mau," jawab Bastian membuat Melinda yang mendengar hal itu semakin terbakar hatinya.


"Oh iya, Bapak akan menyuruh anak buah Bapak untuk membeli perlengkapan sekolah untuk kamu dan bapak juga sudah mengurus surat-surat agar kamu bisa sekolah dan sekarang lihat Bastian!" perintahnya lalu ia merogoh kopernya dan mengeluarkan sebuah kertas.


"Lihat ini! Ini adalah akte kelahiran kamu dan di sini ada nama pak Dewantoro dengan nama almarhum istri Bapak."


Kedua mata Bastian bergerak menatap permukaan kertas yang bertuliskan namanya di sana juga terdapat nama pak Dewantoro dengan almarhum istrinya lalu apakah itu berarti ia telah resmi menjadi anak dari pak Dewantoro?


"Oh iya Bastian, Bapak mau kasih tahu sama kamu kalau misalnya ada yang bertanya kamu anak siapa maka sebut saja kalau kamu itu adalah anak dari pak Dewantoro, mengerti?"


Bastian hanya mengangguk. Ia mengelus permukaan kertas dimana ada namanya di sana.


"Bagaimana? Apakah tinggal rumah ini baik? Kamu senang tinggal di sini?"


Mendengar hal itu membuat perasaan Bastian menjadi ingin menangis. Rasanya ia ingin mengadukan sikap dan sifat Melinda, anaknya itu kepada pak Dewantoro namun, ia tak bisa dan dia juga takut jika harus mengatakan ini. Sontak kedua mata Bastian yang sudah terhalang air mata itu menatap ke arah Melinda yang terlihat mempelototinya seakan sedang mengancamnya di ujung sana bersama dengan Reno yang raut wajahnya juga nampak berbeda. Ia bisa melihat raut wajah amarah untuknya.


Bastian tahu sepertinya Melinda telah berhasil mempengaruhi Reno agar Reno juga ikut membencinya.


"Jadi kamu anaknya pak Dewantoro?"


"Iya pak," jawab Bastian sambil mengangguk saat pria bertubuh gemuk itu membaca sebuah kertas lalu ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Bastian membuat Bastian sedikit risih.


Ya sepertinya Bastian tahu kalau pria ini sepertinya tidak terlalu percaya jika ia adalah anak dari pak Dewantoro. Sepertinya Bastian juga tahu kalau anak orang kaya memiliki aura tersendiri sedangkan anak miskin tetap saja akan memiliki aura kemiskinan walaupun telah diangkat menjadi anak orang kaya. Harus apa lagi ini sudah ketentuannya.


Hari ini Bastian resmi masuk sekolah dan Bastian juga tidak menyangka jika dia langsung dinaikkan ke kelas 5, ini adalah kelebihan salah satu orang kaya yakni bisa membayar semuanya hingga Bastian tidak perlu bersusah payah harus duduk di bangku kelas 1 SD karena umur Bastian yang sudah menginjak usia 10 tahun.


Bastian tidak pernah menyangka jika ia akan sekolah di sekolah yang begitu sangat bermerek. Bangunan yang bertingkat, kantin yang luas, perpustakaan yang besar dan dipenuhi dengan orang-orang kaya.


Sepanjang proses belajar mengajar Bastian terus menatap serius ke arah guru yang sedang mengajar itu sepertinya tidak terlalu susah untuk memahami pelajarannya hanya saja Bastian harus mengikuti les belajar membaca, menghitung dan menulis ketika sore hari dan itu semua dibayar oleh pak Dewantoro, baik sekali pria itu.


Hari pertama sekolah sepertinya menjadi hal yang begitu tidak menyenangkan bagi Bastian bahkan ia tidak punya teman sedikitpun. Semuanya terlihat sibuk hingga akhirnya kedua mata Bastian terbelalak sekaligus senyumnya merekah menatap sosok Joy, sahabat si penjual korannya yang terlihat asyik berbincang-bincang dengan teman-temannya.


Bastian mengusap kedua matanya itu tak menyangka jika ia harus bertemu dengan Joy yang sudah cukup ia rindu.

__ADS_1


"Joy!" teriaknya membuat Joy menoleh dan sontak kedua matanya ikut terbelalak.


Bastian tahu Joy juga tidak akan menyangka jika Bastian bisa ada di sekolah ini.


"Bastian!" Tunjuk Joy tidak menyangka.


...****...


Kini Bastian dan Joy duduk di sebuah taman menatap orang-orang yang sedang bermain di sana.


"Jadi Mama kau itu telah meninggal?"


"Iya," jawab Bastin sambil menunduk.


"Jadi waktu kau buang tisu dan koran-koran itu ke jalanan saat itu kau sedang dikejar oleh preman-preman?"


Bastian mengangguk


"Aku pikir kau cukup beruntung diangkat menjadi anak orang kaya."


"Ah, tidak juga. Anak pak Dewantoro itu jahat."


"Ya aku tahu terkadang seisi rumah itu tidaklah berhati malaikat semua, pasti ada salah satu yang menjadi iblis," jelasnya membuat aku tertawa kecil.


"Oh iya, aku cukup senang kita bisa bertemu lagi pula sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan kau."


"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?"


"Siapa?"


"Semuanya. Badrul, Sodiq-"


"Baik-baik saja cuman ada yang sedih," potongnya.


"Siapa?"


"Mandra."


"Mandra?"

__ADS_1


"Iya gerobaknya hilang."


Kedua mata Bastian membulat. Ia lupa mengembalikan gerobak milik si Mandra itu.


__ADS_2