Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
13. Kata Terima Kasih


__ADS_3

Bagi Bastian itu semua tidaklah penting. Yang ia pikirkan adalah yang penting ia selamat. Mereka hanya tidak tahu saja apa masalah yang telah dilewati olehnya hingga seperti ini.


Bastian melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat dimana ia melihat pria tua itu jatuh saat di dorong oleh preman yang berusaha merebut koper dari tangannya.


Bastian sesekali menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal. Bau-bau menyengat serta tubuhnya yang lengket, tak bisa dihiraukan ia mendengus dirinya sendiri. Bau tubuhnya benar-benar sangat busuk.


Ia kini merasa jika saat ini ia telah mirip seperti si Mandra, temannya yang busuk itu. Ia sekarang ia tak jauh beda seperti temannya itu.


Semoga saja teman-temannya tak ada yang melihatnya jadi tak ada yang menertawainya seperti ini atau bahkan bertanya kenapa kau seperti itu? Ih tubuhmu sangat bau sekali kau? Dari mana kau dapat koper? Apa itu yang kau pegang?


Yah, Bastian tak ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari teman-temannya itu. Ia menatap ke arah belakang dengan harapan semoga saja tak ada preman itu yang kembali mengejarnya.


Dari kejauhan Bastian bisa melihat sosok pria tua yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa polisi. Hah, polisi! Untung saja ada orang itu jadi perasaan Bastian merasa lebih lega.


Bastian melangkah mendekati segerombolan orang-orang yang kini menatapnya hingga para petugas polisi yang Bastian pikir akan berusaha untuk melindunginya dari preman-preman itu malah melangkah mundur saat bau menyengat menusuk indra pembawaan mereka sementara pria tua yang melihat ke arah tangan Bastian langsung dibuat tersenyum.

__ADS_1


Dia terlihat begitu sangat bahagia seakan beruntung melihat dan bertemu dengan Bastian. Pria tua itu melangkah lebih dekat lalu membuat Bastian menjulurkan koper yang sejak tadi berusaha untuk ia lindungi.


"Maaf pak kopernya busuk karena aku tadi sembunyi di tong sampah. Dua preman itu mengejar aku."


"Maaf jika kopernya busuk," ujarnya lagi.


"Tidak apa-apa, nak. Tidak apa-apa," ujarnya lalu mengusap kepala Bastian dengan lembut menghiraukan kotoran sampah yang memenuhi kepala Bastian.


Kini saat koper itu berada di tangan pemiliknya membuat Bastian jauh merasa lebih tenang. Akhirnya koper itu tak berada di tangan orang yang salah semoga saja ini bisa berbuahkan sebuah kebaikan dan pahala ini ia tunjukkan untuk Mamanya.


Semoga saja dengan cara ia membantu orang-orang bisa membuat sakit Mamanya jadi berkurang. Ya, Bastian tahu semua kebaikan pasti dilihat oleh Tuhan dan sebuah kebaikan akan membuahkan sebuah hasil.


Setelah koper itu telah berada di tangan sang miliknya para polisi-polisi yang melihat hal tersebut membuat mereka saling berbincang dengan pria tua itu. Mungkin ia sedang menjelaskan tentang koper itu dan kejadian di mana pencurian itu terjadi.


Bastian yang sejak tadi terdiam kini baru menyadari jika korang-korang serta tisu-tisu yang akan ia jual ia buang di jalanan semoga saja Joy mengerti maksudnya saat ia membuang koran-koran dan suara teriakannya cukup bisa didengar oleh Joy.

__ADS_1


Bastian yang sejak tadi terdiam kini menatap ke arah jalanan dimana dua sosok preman sedang berlari namun, langkah dua preman itu terhenti saat melihat segerombolan polisi yang masih berbincang-bincang membuat Bastian menoleh menatap ke arah polisi itu yang rupanya belum mengetahui atau melihat kedatangan dua preman yang telah mencuri koper milik pria itu.


"Pak polisi koper milik bapak itu dicuri oleh mereka!"


Suara teriakan Bastian membuat polisi-polisi itu dengan cepat berlari. Bastian suka dengan kepergian kepergian polisi-polisi yang mengejar dua preman yang lari terbirit-birit karena ketakutan.


Suara tembakan terdengar seakan menembak langit yang biru di atas sana. Kedua mata Bastian berbinar sungguh kagum melihat segerombolan polisi yang berjalan begitu gagah bahkan dari mereka ada yang berlari dan berteriak membuat semua orang menoleh menatap ke arahnya seakan polisi itu adalah sebuah pahlawan yang siap meluluh letakkan kejahatan.


Wah, keren sekali itu. Itu yang dipikirkan oleh Bastian saat melihatnya.


"Nak!" panggilan terdengar membuat Bastian menoleh menatap pria tua yang kini menghampirinya.


"Terima kasih, ya kau sudah membantu Bapak."


Rasanya tersentuh hati Bastian yang benar-benar diketuk oleh pria tua itu. Untuk pertama kalinya ada seorang pria asing memanggilnya dengan sebutan anak kehadiran sosok Bapak memang sangat dirindukan oleh sosok Bastian hingga tak sadar air matanya menetes membasahi pipi.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau menangis?"


Bastian menggeleng tak mampu untuk ia berbicara kali ini. Air matanya memperlihatkan bagaimana kondisi hatinya sekarang.


__ADS_2