
...***...
Suasana ruangan rumah sakit yang masih dihuni oleh pak Dewantoro benar-benar kini menjadi sangat sunyi. Setelah perbincangan percakapan hangat itu kini pak Dewantoro tertidur dengan lelap sementara Bastian menarik selimut untuk menutupi separuh tubuh pak Dewantoro.
Bastian tersenyum lalu ia mengecup kening pak Dewantoro dan ia melangkahkan kakinya agak menjauh dari pak Dewantoro yang masih terbaring di sana. Ia merogoh ponsel dan menekannya beberapa kali.
Berdering...
Bastian terdiam beberapa saat menantiku seseorang mengangkatnya di sana.
"Halo."
Suara dari seberang terdengar membuat Bastian langsung tersenyum lebar. Ia menoleh menatap ke arah pak Dewantoro yang masih tertidur lelap di sana membuat Bastian kembali menatap ke arah pintu.
"Halo, kak Melinda-"
"Kamu tuh ngapain, sih telepon saya terus. baru saja saya mau istirahat dan kamu ganggu saya lagi."
"Maaf kak kalau Bastian ganggu tapi apa kak Melinda tidak ingin menjenguk Bapak?"
"Kamu nggak usah, ya! Sebut-sebut kata Bapak! Bapak itu apa Papa saya bukan Papa kamu! Ngerti nggak kamu!"
"Bastian cuman mau bilang tolonglah kak Melinda datang ke rumah sakit untuk menjenguk Bapak. Pasti Bapak juga senang kalau dijenguk sama kak Melinda."
"Kamu dengar, ya! Jangan pernah telepon saya karena suara kamu itu bikin saya jadi kesel."
"Tapi kak, Bastian enggak bermaksud untuk-"
Tut tut tut...
Sambungan terputus membuat Bastian memejamkan kedua matanya dengan erat saat kak Melinda telah memutuskan teleponnya.
Bastian menoleh. Ia masukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya dan melangkah kembali duduk di samping tempat tidur pak Dewantoro. Ia menyentuh punggung tangan pak Dewantoro dan mengelusnya dengan lembut.
"Maafkan Bastian. Bastian tidak bisa membujuk kak Melinda untuk datang menjenguk Bapak. Bastian tahu walaupun Bastian ada di sini di samping Bapak tapi Bastian tahu yang sangat Bapak harapkan untuk menjenguk dan menemani Bapak di saat-saat sakit seperti ini pasti kak Melinda."
"Bastian sangat sadar diri, pak. Bastian ini hanya anak angkat bahkan dulunya hanya anak penjual koran. Ini pun hidup bergelimang harta hanya karena diangkat menjadi anak pak Dewantoro."
"Tapi benar, pak Bastian begitu sayang dengan Bapak walaupun Bapak ini bukanlah Bapak kandung dari Bastian. Bapak semoga cepat sembuh, pak semoga cepat sembuh."
Bastian menyandarkan kepalanya itu di pinggiran kasur sambi jemari tangannya yang menyentuh punggung tangan pak Dewantoro hingga secara perlahan kedua matany terpejam dan gerakan tangannya yang mengelus punggung tangan pak Dewantoro pun terdiam.
__ADS_1
Bastian tertidur dengan lelap hingga tak berselang lama kedua mata pak Dewantoro terbuka. Ya sejak tadi ia tak benar-benar tidur. Kedua matanya memang tertutup tapi dia bisa mendengar semuanya dengan sangat jelas. Sekarang pak Dewantoro benar-benar tahu siapa yang menyayanginya dan siapa yang tidak.
Melinda memang anak kandungnya tapi kasih sayang dari Bastian lebih besar daripada putrinya itu.
"Kau terlalu baik, nak. Kau terlalu banyak berbuat kebaikan untuk Bapak. Bapak tidak akan pernah bisa membuat kamu tersenyum tapi suatu saat nanti kau akan merasakan kebahagiaan."
"Bapak janji."
...***...
Kepala Bastian bergerak nyaris terjatuh dari pinggiran kasur membuat kedua matanya dengan cepat terbuka. Ia tersadar dari tidur lelapnya. Kedua matanya yang masih memerah karena mengantuk itu melirik menata pak Dewantoro yang nampak masih tertidur membuat Bastian tersenyum.
Ia menguap beberapa kali lalu ia menggerakkan tangannya menyentuh punggung pak Dewantoro namun, sontak jemari tangannya yang telah berhasil menyentuh punggung tangan pak Dewantoro dengan cepat ia tarik.
Jantungnya langsung berdetak dengan sangat cepat. Tubuhnya nyaris membeku setelah ia merasakan jika punggung tangan jemari pak Dewantoro begitu sangat dingin. Ia tak mengerti mengapa tubuh Dewantoro menjadi dingin seperti itu.
Bastian memberanikan diri untuk mendekatkan tanganya untuk menyentuh wajah pak Dewantoro.
Bener saja pak Dewantoro kini mendingin membuat Bastian menyentuh kedua pundak itu.
"Bapak! Bapak! Bangun, pak!".panggilnya sambil mengguncang pundak pak Dewantoro yang belum juga sadar.
"Bapak! Bapak!" panggilnya yang terus mengguncang pundak pak Dewantoro.
Bibir Bastian bergetar dengan hebat. Begitu sangat ketakutan. Gambaran dan kenangan saat Mamanya yang telah meninggalkannya sudah cukup lama itu kini terbayang di pikirannya.
Apakah keadaan Mamanya yang dulu sama dengan apa yang terjadi
dengan pak Dewantoro? Apakah pak Dewantoro meninggal Bastian? Bastian menggelengkan kepalanya, tak mungkin,.ini tidak mungkin.
"Dokter! Suster! Dokter!!!" teriak Bastian yang berlari.
Ia mendorong pintu dengan keras lalu menoleh kiri, kanan menatap lorong yang begitu sangat sunyi. Entah jam berapa sekarang. Begitu sangat sunyi.
Bastian berlari dengan kencang melewati beberapa ruangan-ruangan yang lampunya masih menyala. Banyak orang-orang sakit di sana.
"Dokter! Suster!" teriak Bastian, tak peduli banyak orang yang melihatnya.
"Dokter! Suster!"
"Ada apa, pak?"
__ADS_1
"Tolong! Tolong Bapak aku!"
"Pak Dewantoro?" tebaknya.
Yah, Bastian dan pak Dewantoro cukup terkenal di rumah sakit ini hingga para dokter dan perawat cukup mengenalnya.
"Iya, tolong! Tolong Bapak aku!"
"Apa yang terjadi?"
"Bapakku tidak sadarkan diri mungkin dia pingsan!" tebak Bastian membuat suster berlari untuk memanggil rekan-rekannya dan kemudian mengikuti langkah Bastian menuju masuk ke dalam ruangan.
Sesampainya di dalam ruangan Bastian bagus sangat cemas membiarkan dokter-dokter dan perawatan dengan cepat menangani pak Dewantoro. Entah apa yang dilakukan kepada pak Dewantoro membuat tubuh pak Dewantoro tersentak ke atas saat sebuah alat dipasangkan di dadanya.
Monitor dipasangkan menggambarkan sebuah garis di sana. Suara dari monitor itu terdengar membuat Bastian semakin cemas saja. Nafas Bastian terasa sangat sesak, tak bisa untuk mengaturnya. Dia sangat takut suatu hal buruk terjadi kepada pria yang sudah sangat banyak memiliki jasa untuknya.
Hatinya sejak tadi memanjatkan ribuan doa. Memohon agar pria itu tak diambil oleh Tuhan. Ia masih membutuhkan pria itu. Dia belum bisa memberikan kebahagiaan kepada pria itu.
"Pak Bastian!"
Suara dokter itu terdengar membuat kedua mata Bastian dengan cepat terbuka. Dia menghampiri pria berjas putih itu yang melangkah mendekatinya sambil sesekali ia menoleh menangkap ke arah pak Dewantoro.
"Bagaimana dokter?"
"Saya minta maaf. Bapak Dewantoro telah meninggal dunia."
Kedua mata Bastian terbelalak. Nafasnya tertahan di dada dengan kedua mata yang bergetar ia menatap ke arah belakang dimana pak Dewantoro telah ditutup dengan kain putih.
"Meninggal?" Tatapnya tidak percaya.
"Iya pak. Kami turut berduka cita."
Pria berjas itu menepuk pundak Bastian yang terasa begitu lemas. Tenaganya seakan hilang begitu saja. Mereka semua pergi meninggalkan Bastian, menutup pintu rapat-rapat.
Mulut Bastian terbuka, tak menyangka dengan kepergian pak Dewantoro yang begitu sangat cepat meninggalkannya. Kedua kakinya begitu lemas hingga berhasil tumbang membuat kedua lututnya terbentur dengan keras di permukaan lantai.
Ia menunduk hingga air matanya itu menetes jatuh ke lantai. Kedua matanya terpejam dengan erat. Rasanya hatinya begitu sangat sakit, tak ada bedanya saat rasa kesedihan yang melanda saat ia mengetahui Mamanya telah pergi meninggalkannya.
Pak Dewantoro memanglah bukan Bapak kandungnya tapi mengapa rasanya begitu sangat menyakitkan.
Tetap dengan kedua matanya yang masih terhalang oleh air mata itu. Ia menatap pak Dewantoro yang telah tertutupkan dengan kain putih. Bukan ,bukan pak Dewantoro yang ada di sana melainkan malaikat,.malaikat penolongnya.
__ADS_1
Malaikat yang telah menolongnya dan membantunya untuk membawa Mamanya itu ke rumah sakit. Bagi Bastian ia bukanlah seorang pria tua melainkan seorang malaikat, malaikat penolong dan kini malaikat yang telah menolongnya itu pergi, pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.