Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
18. Anak Angkat


__ADS_3

Suara isakan kecil terdengar sambil Bastian mengelus papan kayu nisan yang bertuliskan nama Mamanya di sana beserta tanggal kelahiran dan tanggal kematiannya.


Taburan beberapa kelompok bunga mawar bertaburan di atas makam yang masih basah itu. Tak ada orang-orang yang berdatangan untuk memberikan semangat untuk Bastian. Hanya ada anak kecil itu dan juga sosok pak Dewantoro yang begitu setia menemani Bastian.


Pak Dewantoro berlutut di samping Bastian mengelus pundak kecil itu berusaha menabahkan hati yang sudah rapuh itu agar bida sabar dalam menerima kenyataan pahit ini.


"Nak, sabar! Semuanya telah diatur sama Tuhan."


"Kepergian Mamamu itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kamu. Dia tidak ingin melihat kamu harus apa kesusahan menjaga dan merawat Mama kamu seorang diri."


"Dia juga tidak ingin melihat Mama kamu itu kesakitan seperti itu-"


"Ta-ta-tapi Bastia masih bisa menjaga Mama, pak. Bastian masih bisa-"


"Iya saya tahu," potongannya.


"Tapi saya tidak bisa melanggar apa yang sudah menjadi keinginan dan ketentuan dari Tuhan. Tuhan yang memiliki semuanya dan Tuhan pula yang memberikan semuanya lalu Tuhan pula yang bisa mengambil semuanya begitu saja dengan semau-Nya."


"Kita tidak bisa marah dan menghalangi-Nya. Semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana yang telah diatur oleh Tuhan."


"Bagaimanapun dan sekeras apapun kita berusaha untuk menahan Tuhan tapi tetap kita hanyalah manusia biasa. Kita hanya bisa menerima dan menjalankan saja. Jangan bersedih, Nak!"


Bagaimanapun cara pak Dewantoro untuk meyakinkan dan memberikan semangat kepada Bastian tapi tetap saja air mata dan kesedihan itu tak mampu ia mendung rasa sakit hatinya sudah mendalam membuatnya tak bisa menghentikan tangisannya.


Bastian mengusap pipinya yang basah itu lalu ia menggerakkan kepalanya menoleh menatap pak Dewantoro yang masih setia menatap makam Mamanya itu.


"Pak Dewantoro tidak ingin pulang?"


"Kalau saya pulang kamu tinggal sama siapa?"


"Bastian masih punya rumah, pak."


"Tinggal sendiri. Bastian harus tinggal dengan siapa lagi pak? Satu-satunya orang yang tinggal dengan saya juga sudah pergi."


"Saya juga tidak ingin meninggalkan kamu sendiri di sini."


Kini Bastian hanya mampu terdiam. Ia kembali mengelus papan kayu nisan milik Mamanya itu. Tak berselang lama ia mengelus pundak Bastian dan memandangnya begitu sangat tulus.

__ADS_1


"Kalau kamu mau kamu bisa tinggal bersama dengan saya."


Sontak mendengar kalimat itu membuat Bastian dengan cepat mengusap pipinya yang basah itu.


"Apa pak?" tanyanya tidak menyangka.


"Iya saya mau kamu tinggal bersama saya di rumah milik saya. Kamu mau, kan?"


"Tapi saya malu, pak"


"Kenapa harus malu?"


"Kalau saya tinggal di rumah bapak itu berarti saya akan makan dan tidur di sana dan saya tidak ingin merepotkan Bapak."


Pak Dewantoro tersenyum. Dengan lembut ia mengelus kepala Bastian. Ia benar-benar kagum dengan sosok Bastian.


"Saya akan merasa jauh lebih senang jika kamu tinggal bersama saya. Saya telah menganggap kamu sebagai anak Bapak sendiri dan Bapak ingin kamu menjadi bagian dari anggota keluarga saya. Bapak mau kamu menjadi anak angkat saya. Kamu mau kan?"


Bastian terdiam tak tahu harus menjawab apa. Jujur saja ia tak enak jika harus tinggal di rumah pak Dewantoro ini tetapi jika ia menolak maka ia akan tinggal bersama dengan siapa?


...***...


"Ini rumah pak Dewantoro?" tanya Bastian.


"Ah, bukan. Ini bukan rumah Bapak tapi sudah menjadi rumah kamu juga."


"Benarkah, pak?" tanya Bastian tidak percaya.


"Benar, bapak tak pernah berbohong. Ayo masuk!" ajaknya lalu ia melangkahkan kakinya masuk mengikuti langkah pak Dewantoro.


Kekaguman Bastian semakin meninggi saat nuansa rumah yang begitu sangat megah terlihat saat ia masuk ke dalam rumah. Dan hal ini membuat Bastian mendongak menatap ke segala arah.


Baru kali ini ia melihat rumah semegah ini. Ada kursi-kursi besar, lemari yang juga besar, lampu yang mewah dan tangga yang panjang persis seperti rumah-rumah orang kaya yang ia lihat di TV milik koh Li saat ia membeli beras bersama teman-temannya.


"Papa! Papa udah pulang?"


Suara sapaan itu terdengar membuat Bastian yang sejak tadi menoleh ke segala arah itu kini menatap ke arah sosok wanita yang menyambut kedatangan pak Dewantoro namun, langkah wanita itu terhenti setelah ia berhasil melihat sosok Bastian.

__ADS_1


Ia menatapnya kebingungan. Menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Bastian dengan tatapan yang begitu sangat menjijikan seakan Bastian adalah sosok sampah yang berserakan di dalam rumah mewah ini.


Bastian merasakan perasaan buruk melihat raut wajah wanita ini yang seakan tidak menyukainya. Kini Bastian baru menyadari jika pak Dewantoro tidak tinggal sendiri di rumah ini melainkan ia punya keluarga.


Bastian baru menyadari jika pak Dewantoro mungkin saja bisa menerima kehadirannya di rumah ini namun, sepertinya tidak dengan wanita yang kini masih berdiri di hadapannya.


"Iya Papa baru pulang soalnya Papa ada kesibukan sedikit," jawab pak Dewantoro lalu ia menoleh menatap ke arah Bastian saat putrinya itu melihat ke arah Bastian.


"Oh iya Melinda ini namanya Bastian. Bastian ini namanya Melinda, Putri bapak satu-satunya."


Bastian mengangguk lalu ia tersenyum sambil menjulurkan jemari tangannya ke arah putri dari pak Dewantoro.


Melinda terlihat tersenyum kecil lalu mengangguk seakan tidak tertarik untuk menjabat tangan Bastian.


Bastian menenguk salivanya lalu mengurungkan niatnya dan memilih menyembunyikan jemari tangannya itu di balik tubuhnya.


"Oh iya sekarang Bastian juga akan tinggal di sini."


"Apa?" kaget Melinda begitu sangat terkejut dengan tatapannya yang begitu tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh pak Dewantoro itu.


"Iya dan Papa juga sudah putuskan kalau Bastian telah Papa angkat menjadi anak Papa dan dia akan tinggal di sini bersama kita semua."


Semua? batin Bastian seakan bertanya dan itu berarti bukan hanya wanita ini yang tinggal di sini melaingkah masih ada yang lain.


"Opah!"


Suara teriakan pria kecil terdengar membuat Bastian menoleh menatap sosok anak laki-laki yang hampir seumuran dengannya berlari memeluk pak Dewantoro.


Pak Dewantoro berlutut lalu mencium kedua pipi anak laki-laki itu.


"Bastian ini namanya Reno, ini cucu Bapak anaknya Melinda," jelasnya membuat Reno tersenyum lalu menjulurkan jemari tangannya membuat Bastian tersenyum. Ia pikir cucu dari pak Dewantoro ini akan bersikap seperti Mamanya namun, ternyata tidak.


"Hai Bastian, nama saya Reno."


"Oh iya Reno, Bastian sekarang sudah menjadi anak dari Opah jadi sekarang dan selamanya Bastian akan tinggal di sini."


"Benarkah?" tanyanya tidak menyangka lalu tak berselang lama ia melompat bahagia dan menarik Bastian mengajaknya bermain membuat pak Dewantoro tersenyum.

__ADS_1


Selain ia mendapat anggota keluarga baru akhirnya cucunya itu juga mendapat sahabat baru.


__ADS_2