Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
9. Kegiatan Setiap Hari


__ADS_3

Masih pagi-pagi sekali Bastian sudah berada di dalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja. Seperti biasa ia akan pergi ke tempat master koran untuk absen dan mengambil koran-koran dan tisu yang akan ia jual.


Bastian melangkah ke depan cermin, sedikit merapikan rambutnya yang masih basah itu lalu menyentuh kelompok matanya yang terlihat membengkak. Yah, ini karena ulah semalam yang tak henti-hentinya menangis.


Sudah pasti tak mampu ia kendalikan rasa sedihnya. Terlebih lagi saat melihat Mamanya yang terus-menerus sesegukan. Bastian berharap semoga teman-temannya itu tak ada yang memperhatikan kelompak matanya yang membengkak. Malu rasanya jika ada yang tau jika ia telah menangis.


Bagi mereka anak-anak yang suka menangis adalah anak-anak yang cengeng dan lemah. Bastian tidak ingin jika mereka semua, teman-temannya berpikir seperti itu.


Setelah cukup lama ia bergelut dengan cermin yang di hadapannya kini Bastian memutuskan untuk melangkah menuruni tangga setelah berpamitan dengan Mamanya.


Sebelum Bastian berangkat ke tempat kerja ia sebelumnya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah, seperti mencuci piring, menyapu, mencuci beberapa baju yang telah digunakan oleh Mamanya dan juga dirinya lalu tugas yang selanjutnya yang harus wajib ia lakukan adalah memeriksa bahan-bahan makanan. Apa saja yang kurang di dapur seperti beras, gula, garam dan masih banyak lagi yang cukup penting.


Uang tidak terlalu banyak jadi Bastian harus pandai-pandai memilah mana yang patut untuk dibeli dan mana benda yang bisa ditunda.


Bastian melangkah menuruni anak tangga, baru saja ia ingin melangkah mendekati rumah Mandra tak berselang lama pintu yang lampu di teras rumahnya itu langsung meredup terlihat sosok anak kecil melangkah keluar dari rumah.


Bastian tersenyum, sepertinya hari ini Mandra terlihat jauh lebih rapi, tak seperti biasanya yang nampak sangat kotor. Maklum saja ini masih pagi dan jika ingin melihat Mandra menjadi anak yang paling kotor maka tunggu saat ia pulang dari kerja karena seluruh tubuhnya akan penuh dengan debu.


"Kau sudah siap?"


"Iya, kau bagaimana?"


"Aku juga."

__ADS_1


Mandra melangkah turun dari rumahnya setelah ia menutup pintu rumah dan tak berselang lama bkini Bastian dan Mandra melangkah bersamaan hingga di depan sana sudah ada Badrul dan juga Sodiq hingga jadilah mereka berjalan bersama menuju ke tempat perkumpulan master koran.


Secara kebetulan Joy juga baru melangkah keluar dari rumahnya pagi-pagi sekali sambil menenteng tas bermereknya lengkap dengan seragam sekolahnya.


Ya, sebenarnya jika kalian ingin tahu kalau Joy selalu meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah. Tak ada rasa curiga yang ditaruh oleh kedua orang tuanya saat Joy meminta izin pergi ke sekolah di waktu yang terlalu pagi mungkin orang tuanya akan merasa kagum karena melihat Joy yang begitu semangat dalam bersekolah padahal mereka tidak tahu kalau Joy pergi pagi-pagi sekali bukan untuk datang ke sekolah melainkan ia akan menjual koran.


Entahlah Bastian juga tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Joy itu sepertinya menjual koran lebih menyenangkan daripada belajar di sekolah.


Antrian panjang kini kembali Bastian lihat saat mereka semua mengantri, tak ada bedanya saat Bastian mengantri untuk memberikan hasil jualan koran dan tisu kepada master koran.


Satu persatu para anak-anak yang nyaris seusia Bastian diberikan beberapa lembar koran dan sekantong tissue yang jika dihitung hasil pendapatan akan mencapai sekitar seratus ribu. Ada cukup banyak anak-anak yang menjadi anggota dari master koran sehingga hasil setiap harinya cukup banyak pendapat yang ia dapatkan.


"Ini untuk kau dan juga tisu. Hari ini aku ingin kau menjual semuanya. Jangan sampai ada koran dan tisu yang tersisa."


Bastian hanya mengangguk lalu melangkah mundur setelah aku mendapatkan beberapa tumpukan koran dan juga tisu.


Bastian tak langsung pergi bersama dengan teman-temannya untuk menjajakan koran dan tisunya melainkan mereka semua harus berdiri serta bersusun rapi menjadi tiga baris panjang menyamping.


Bastian dan juga kawan-kawannya bisa melihat sosok master koran yang kini berdiri dengan gagahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada persis seperti bos yang sedang mengawasi anak-anak buahnya, terlihat begitu gagah dan pemberani.


Ya, sepertinya itu cukup cocok.


"Sekarang sebelum kalian pergi untuk mencari pembeli maka yang perlu kalian tahu adalah yang pertama jangan memperkenalkan asal usul kalian kepada pembeli."

__ADS_1


"Aku tahu banyak pembeli yang akan merasa ibah kepada kalian."


"Yang kedua jika mereka menanyakan tentang keluarga kalian maka bilang saja kalau kalian tidak punya keluarga kalian adalah anak yatim piatu."


"Yang ketiga jika pembeli menanyakan di mana rumah kalian maka bilang saja kalau kalian tidak punya rumah dan kalau boleh kalian bilang kalau kalian hanya tinggal di bawah kolong jembatan. Mengerti?"


"Mengerti master," jawab mereka dengan kompak lalu setelah mendengar peraturan-peraturan itu semuanya menyebar dari segala sisi dibagi menjadi beberapa tempat.


Beberapa balasan anak ditempatkan di sisi kanan, ada pula di sisi kiri, depan dan belakang. Semuanya menyebar, cukup banyak. Ini adalah strategi dalam penjualan tak heran jika penghasilan yang didapatkan oleh Master koran cukup banyak.


Hari ini seperti biasa Bastian menjajakan koran-koran dan tisu yang sejak tadi ia jinjing berdesakan pada kendaraan-kendaraan beroda empat dan dua serta beberapa kendaraan lainnya saat pemberhentian lampu merah.


Pagi hari merupakan waktu yang paling menyemangatkan bagi mereka karena saat itu matahari belum panas-panasnya. Masih terlalu hangat untuk menyentuh permukaan kulit.


Perlahan-lahan satu persatu namun, tidak banyak akhirnya ada beberapa orang yang membeli beberapa koran dan juga tisu. Tak bisa dihiraukan beberapa orang yang memberikan uang percuma kepada Bastian mungkin karena ia iba melihat Bastian yang memiliki penampilan seperti ini.


Tak heran pula para pembeli merasa iba melihat penampilan Bastian ataupun juga dengan teman-temannya yang lain, itu sebabnya mengapa master koran selalu mendatangi teman-temannya dengan penampilan yang lebih lusuh agar mereka para pembeli merasa iba.


Ya, bisa dikatakan ini juga merupakan bagian dari sebuah tindakan penipuan. Penipuan untuk bisa meraih beberapa lembar uang merah tak banyak namun, bisa membuat pria egois itu tersenyum besar dalam hati.


Cucuran keringat membasahi kening dan seluruh tubuh. Semakin berputarnya waktu membuat panas terik matahari semakin membabi buta menghantam permukaan kulit membuat sosok Bastian kembali berlindung di bawah tiang yang lampu merah.


Begitu melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2