Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
22. Teman-teman


__ADS_3

Suara bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Semua murid-murid sekolah dasar melangkah keluar dari ruangan kelasnya masing-masing.


"Sekarang kau ingin pergi menemui teman-teman?" tanya Joy membuat Bastian menganggukan kepalanya dengan semangat, tak sabar rasanya bisa bertemu dengan teman-temannya itu.


Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan mereka semua, teman si penjual korannya.


"Kemarin aku sudah memberitahukan mereka dan mereka tidak menyangka kalau kau itu diangkat menjadi anak orang kaya."


"Benarkah kau mengatakan itu kepada mereka?"


"Iya aku mengatakannya."


...****...


Tatapan kagum tertuju ke arah Bastian yang berdiri dengan seragam sekolah yang putih bersih, rambut yang tertata rapi, kulit yang nampak lebih putih dari biasanya serta penampilan yang benar-benar menunjukkan hal yang baru darinya.


"Kau jauh lebih putih. Lihat kulit kau usng sangat putih dan bersih!" puji Mandra sambil menyentuh tangan Bastian seakan tangan Bastian ini adalah benda yang sangat berharga.


"Wah, lihat juga rambut Bastian rapi dan harum!" puji Badrul.


"Apa kau memakai minyak wangi rasa buah? Ini sangat wangi sekali," tambahnya lagi membuat Bastian menggeliat geli saat Badrul nyaris menciumi lehernya.


"Ah, tidak juga. Ini hanya parfum murah."


"Berapa murahnya?"


"Aku juga tidak tahu. Pak Dewantoro yang membelinya."


"Pak Dewantoro itu siapa?"

__ADS_1


"Kalian lupa ya? Aku kan sudah menceritakannya kemarin," ujar Joy mengingatkan.


"Oh Bapak angkat kau itu," ujarnya membuat aku mengangguk.


"Wah, kalau seperti ini aku juga mau diangkat menjadi anaknya. Kau tidak bisa ya memberitahu pak Dewantoro untuk mengangkat satu anak lagi? Aku juga mau menjadi anaknya angkatnay."


Bastian hanya menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil, ada-ada saja kawanku ini.


"Oh iya Bastian, bagaimana menjadi anak orang kaya?" tanya Mandra.


"Pasti sangat seru sekali, kan? Kau pasti akan tidur di tempat kasur yang empuk, lemari yang besar-"


"Dan makanan yang enak-enak," potong Badrul dengan raut wajahnya yang seakan membayangkan makanan enak-enak.


"Dan juga naik mobil. Aku bahkan tidak pernah naik mobil," ujar Sodiq.


"Oh iya Bastian kau makan berapa kali di sana? Kau makan lima kali ya?" tanya badul yang mengangkat beberapa jemari tangannya.


"Wah, makan tiga kali. Aku bahkan hanya makan satu kali saja," ujar Badrul.


"Pantas pantas saja sekarang Bastian semakin hari semakin berisi makanya terjamin." Sodiq ikut bicara sambil menepuk-nepuk pundak Bastian.


"Heh! Jangan dipegang-pegang nanti bajunya kotor! Bajunya ini pasti mahal. Iya kan Bastian?" tanya Mandra yang telah memukul punggung tangan Sodiq membuat Sodiq sedikit meringis sementara Bastian hanya menggelengkan kepalanya pelan, teman-teman ini suka sekali melebih-lebihkan.


Baru saja Bastian ingin bicara tiba-tiba pengantar makanan meletakkan beberapa mangkok berisi bakso ke atas meja membuat teman-temannya itu berbinar kedua matanya. Ya, hari ini Bastian sedang mentraktir teman-temannya itu makan bakso.


Sebenarnya ini adalah keinginan mereka sejak dulu namun, selalu saja ada halangan. Entah karena salah satu dari mereka yang tidak mendapat banyak upah atau mereka yang lebih memilih membeli beras daripada makan bakso bersama-sama di warung.


"Wah, bakso ini pasti lebih nikmat karena-"

__ADS_1


"Gratis!!!" ujar mereka dengan kompak sementara Bastian nampak tertawa, cukup bahagia bisa makan bersama dengan teman-temannya itu.


Kini beberapa menit berlalu mereka masih asyik dengan semangkok bakso yang mereka nikmati yang makan dengan lahap bahkan mantra sempat terbatu saat ia terlalu cepat saat memakan bakso miliknya membuat mereka semua saling tertawa cekikikan.


Terlebih lagi dengan Bastian sudah cukup lama ia tak bisa tertawa seperti ini bersama dengan teman-temannya. Hari ini ia benar-benar menikmati kebersamaan bersama teman-temannya karena tawanya itu tetap saja akan hilang jika ia telah tiba di rumah karena kehadiran sosok Melinda dan Reno yang tentunya akan semakin membencinya.


...****...


"Ini uang untuk manda, Badrul dan-"


"Sodiq!" teriak Sodiq membuat pak Dewantoro tertawa kecil lalu menjulurkan uang berwarna biru itu.


"Itu uang buat kalian semua, ya. Lain kali kalau kita ketemu nanti Bapak kasih uang lagi."


Sodiq yang sejak tadi mengelus-ngelus uang berwarna biru di tangannya langsung mendongak menatap ke arah pak Dewantoro yang masih berada di dalam mobil.


"Yang bener pak?" tanya Sodiq yang berteger di jendela mobil.


"Iya beneran."


"Wah, besok mungkin kita akan ketemu lagi pak."


"Hah, itu kan mau kau!" tegur Mandra yang berniat untuk memukul kepala Sodiq namun, dengan cepat ditahan oleh Joy.


"Kalau begitu Bapak pergi dulu ya."


"Iya pak."


"Aku juga, Bastian pamit," pamit Bastian lalu tak berselang lama mobil dinyalakan membuat kawan-kawannya itu melangkah mundur.

__ADS_1


"Hati-hati ya! Lain kali kita akan bertemu lagi."


Bastian mengangguk hingga tak berselang lama pak Dewantoro menancapkan gas melajukan mobil meninggalkan Mandra, Joy, Badrul dan Sodiq di sirin jalan.


__ADS_2