Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
11. Lari


__ADS_3

Bastian menatap mereka dengan lekat-lekat dan mengintai setiap gerak-gerik yang orang itu lakukan. Cukup lama preman-preman itu terdiam sambil menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya dan tanpa sadar jika ada sosok Bastian yang sejak tadi menatapnya hingga kedua mata Bastian membulat saat preman itu langsung menarik koper milik pria berjas hitam itu dengan paksa dan membawanya pergi sementara temannya yang satu lagi mendorong pria tua itu hingga terjatuh ke aspal.


Bastian seketika bangkit dari tempat duduknya. Ia tanpa aba-aba dengan cepat berlari melintasi jalanan yang tengah dilalui oleh para pengendara hingga suara klakson yang berbunyi berusaha untuk menegur sosok Bastian yang nyaris tertabrak saat ia menyebrangi jalanan.


"Heh! Punya mata tidak?!!"


"Mau mati, ya!!!"


Suara terikat itu terdengar berusaha menegur sosok Bastian yang tak peduli sedikitpun. Kini tujuannya hanya satu yaitu menolong pria itu yang telah kehilangan kopernya.


Pria tua yang masih tergeletak di tanah itu dengan cepat bangkit dengan susah payah lalu berlari mengejar dua preman yang telah berhasil mengambil koper miliknya.


"Tunggu jangan ambil koperku!!!".suara teriakan itu berhasil didengar oleh Bastian yang masih berlari di belakang pria tua itu.


Lari yang cepat membuat Bastian berhasil melewati sosok pria tua yang terlihat menatap ke arah Bastian yang telah melewatinya.


"Biar aku yang kejar, pak," ujar Bastian tanpa menoleh menatap wajah yang sudah panik itu.


"Iya cepatlah kejar!"


Bastian semakin memperlaju kecepatan larinya mengejar preman-preman yang masih berlari cukup kencang. Pria tua itu menghentikan larinya lalu ia menunduk sebelum memegang kedua lututnya. Jantungnya berdebar-debar seakan tak mampu lagi untuk berlari. Nafasnya seakan terasa sangat sesak jika ia terus-terusan berlari maka ia bisa saja pingsan di tempat ini.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosan pria tua itu meraih ponsel dari saku jasnya lalu menekan-nekan layar ponselnya itu untuk menghubungi polisi sementara di satu sisi Bastian masih berlari mengejar 2 preman yang masih terlihat di sana.


Beberapa orang-orang menoleh menatap ke arahnya dengan pandangan yang begitu sangat serius. Tak bisa dihiraukan oleh Bastian yang sesekali nyaris menabrak tubuh para pejalan kaki yang melintas.


"Hei, tunggu!!!" teriak Bastian sambil menunjuk 2 preman yang mendengar suara teriakan dari Bastian langsung dibuat menoleh menatap bocah bertopi merah memegang sekantong tisu dan juga tumpukan koran.


Mereka tak mengerti mengapa bocah penjual koran itu mengejarnya. Apa mungkin ia berniat untuk menolong pria tua yang telah ia rebut kopernya.

__ADS_1


"Kenapa bocah itu mengejar kita? Dasar bodoh," umpat salah satu darinya.


"Mungkin dia ingin ikut campur dengan urusan kita."


"Cepat lari itu hanya itu hanyalah anak kecil."


Sekencang apapun Bastian berlari tetap saja pria dewasa itu lebih bisa menaklukkan kecepatan. Bastian dibuat terengah-engah nafasnya seakan tertahan di dada. Wajahnya memerah dengan suhu tubuhnya yang meningkat serta jantungnya berdebar-debar kencang seakan ingin meloncat dari tempatnya larinya.


Keringatnya telah bercucuran membasahi tubuh. Ia menoleh menatap pria itu yang masih berlari di depan sana hingga tak berselang lama Bastian menoleh menatap ke arah yang sempit dan Bastian terdiam ia sepertinya tahu harus melakukan apa sekarang.


Tanpa pikir panjang Bastian segera berlari melewati gang sempit itu. Gang sempit itu adalah tempat dimana ia bisa mengambil jalan pintas agar ia bisa mencapai preman-preman itu tanpa harus berlari kencang seperti apa yang telah ia lakukan setidaknya jarak antara ia dan preman itu tidak terlalu jauh. Suara langkah kaki Bastian terdengar menginjakkan kakinya pada permukaan tanah melewati gang sempit yang bahkan sesekali ia menemukan orang-orang yang sedang membuang air kecil di sana.


Bastian pikir gang sempit ini tidak terlalu jauh rupanya butuh waktu beberapa menit untuk bisa menembusi jalanan gang ini.


Setelah ia berhasil keluar hingga jalanan beraspal terlihat Bastian menoleh menatap dua preman yang telah melewati lorong gang itu membuat Bastian tersenyum kecil.


Akhirnya apa yang ia lakukan berbuah baik jarak antara ia dan dua preman itu sudah tidak terlalu jauh. Dia kembali mengejar membuat salah satu preman yang berlari di belakang temannya yang masih memegang koper itu kembali menoleh.


"Bukannya dia anak buah dari penjual koran itu," tebak yang satu.


"Entahlah ayo cepat berlari! Anak kecil itu bisa saja menjadi masalah bagi kita."


Selama ia berlari langkah Bastian kini memelan dan memilih menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Dadanya kembang kempis tak karuan kini ia berpikir. Jika ia berlari terus mengejar dua preman itu maka itu hanya membuatnya menjadi lelah sendiri lalu apa yang ia lakukan jika ia telah mendapat dua pria dewasa itu.


Ya mungkin saja ia hanya akan dipukul bocah sepertinya tidak ada apa-apanya jika memukul perut berotot yang dimiliki oleh pria dewasa. Lama ia terdiam kini Bastian memilih untuk menyebrang jalanan lalu kembali berlari setelah ia menemukan sebuah ide.


"Loh, Bastian kenapa kau di sini? Bukannya ini tempat untuk kami?"

__ADS_1


Suara teriakan yang menegur Bastian karena telah berada di tempat area pembagian penjualan koran dan tisu mereka seakan tak terima jika Bastian berada di tempat ini. Ya tentu saja karena tempat pembagian penjualan koran dan tisu sudah diatur oleh Master koran dan itu tidak boleh diganggu gugat lagi.


"Sorry! Sorry aku hanya lewat saja!" teriak Bastian.


Cukup lama Bastian berlari hingga akhirnya ia menghentikan larinya kini bangunan-bangunan besar seakan mengapit sosok Bastian jalanan yang memanjang itu membuat Bastian merasa begitu takut.


Ia tak ingin jika preman-preman pasar kota melihatnya melalui tempat ini. Tentu saja mereka akan memalak dirinya karena mereka tahu dia adalah penjual koran yang mungkin bisa ia mintaki uang.


Suara klakson terdengar begitu nyaring. Suara-suara kendaraan tak mampu lagi dielakan diiringi dengan suara tawar-menawar para pembeli dan pedagang yang ada di pasar.


Ya kini Bastian berada di pasar tempat di mana para segerombolan geng itu selalu berkumpul di sini.


Untung saja Bastian bisa mengingat jika preman-preman itu sering berkumpul di tempat ini. Hal ini baru disadari oleh Bastian saat ia berusaha untuk mencari bagaimana caranya agar ia bisa mendapat dua preman itu tanpa harus perlu berlari begitu kencang dan mengejarnya.


Bastian menghentikan langkahnya ia menyandarkan tubuhnya di balik seng tebal yang nampak dihiasi dengan coretan-coretan bergambar tengkorak dan juga kalimat-kalimat yang tak layak untuk diucapkan.


Kini ia telah berada di tempat perkumpulan preman-preman itu ia meneguk salivanya semoga saja ia tak kena pukul oleh preman itu dengan gerakan pelan. Bastian mengintip menatap ke arah celah dimana sosok dua preman itu baru saja tiba mereka terlihat sesak nafas.


Bastian pikir hanya ia yang merasakan lelah saat berlari namun, dua preman itu juga. Mereka terlihat kelelahan.


"Bagaimana anak bocah itu tidak mengejar kita lagi, kan."


"Tidak lagi."


"Aku heran kenapa bocah itu mau ikut campur dengan urusan kita. Bisa-bisanya dia mau mengejar kita."


"Betul kalau saja bocah itu benar-benar ingin ikut campur dengan urusan kita maka aku tidak segan-segan untuk menghancurkan kepalanya."


Mendengar hal itu membuat jantung Bastian berdetak dengan cepat nafasnya seakan tertahan di tenggorokannya. Untung saja ia tidak benar-benar mengejar dua preman itu karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


Bukannya malah mendapat koper itu ia bahkan akan digiring menuju rumah sakit, itu pun jika ada yang melihatnya kalaupun tidak, ya mungkin saja Bastian akan dibuang di bawah kolong jembatan setelah habis di babak berluri dengan pukulan di kerja preman.


__ADS_2