
Tiba saatnya saat makan malam, nasi telah matang dan disajikan di atas karpet tua bergambar karakter hello Kitty yang telah banyak terkelupas. Jangan mengira jika karpet tua ini adalah hasil pencarian Bastian ditumpukan tempat sampah ini adalah milik mereka sendiri.
Mirna meletakkan dua mangkuk mie. Satu mangkuk untuk Bastian dan satunya lagi untuk Mirna.
"Makanlah, nak! Mama sudah memasakkan nasi dan mie untuk Bastian."
Bastian mengangguk sambil mengusap rambutnya yang telah ia sisir itu dengan rapi. rambutnya masih basah dan rambutnya itu masih wangi setelah ia menggunakan shampo hari ini. Sepertinya hari ini debu semakin banyak karena musim telah memasuki musim kemarau sehingga debu debu bertebaran ditiup angin hingga kepalanya jauh lebih cepat kotor.
"Terima kasih, Mak."
Tak ada jawaban dari sosok Mamanya ia hanya terdiam lalu sibuk makan. Bastian tersenyum bahagia aroma mie kuah soto tercium membangkitkan rasa laparnya. Sudah sejak tadi sore ia membayangkan betapa lezatnya makan sebungkus mie dengan rasa soto.
Suasana kini terlihat sunyi tak ada lagi percakapan di antara mereka. Suara kunyahan terdengar dan dentingan piring menjadi nada suara yang terdengar menjadi pelengkap hingga akhirnya suara isakan dari Mirna terdengar membuat Bastian dengan cepat menoleh menatap ke arah Mamanya yang dengan cepat menghentikan suara tangisannya setelah sadar jika Bastian tengah sedang menatapnya.
"Kenapa, Ma?"
Mirna menggeleng pelan. Ia tersenyum sejenak seakan ingin memberitahu sosok Bastian jika ia tidak apa-apa dan akhirnya bibir yang berusaha menutupinya dengan senyuman kembali bergetar hingga akhirnya tangisan itu pecah.
Mirna menangis sesegukan dan membuat Bastian mengernyitkan bingung.
"Mama kenapa? Apa Mama sakit lagi?"
Tak adada jawaban dari Mamanya itu ia terus saja menangis sambil sesekali mengusap pipinya yang telah basahi oleh air mata.
"Kepala Mama sakit? Kalau kepala Mama sakit sekali besok kita ke rumah sakit kalau sudah ke rumah sakit pasti Mama akan sembuh."
__ADS_1
"Tidak perlu. Ma-ma-ma takut suntik," jawabnya.
Jawaban Itu lagi yang harus aku dengar. Seakan tak ada lagi jawaban selain itu. Takut suntik dan takut suntik, memangnya sebesar jarum suntik itu sehingga Mama begitu sangat takut tapi sepertinya bukan itu yang membuat Mama takut tapi tagihan pembayaran rumah sakit yang tentu saja akan membuatnya takut takut Mama tidak bisa membayarnya.
"Terus kenapa Mama menangis?"
Hening sejenak. Mirna terdiam. Tetesan air mata yang mengalir dari kedua matanya menetes membasahi mangkuk bercampur di dalam semangkuk yang masih banyak itu.
Tangisan Mirna kembali pecah membuat Bastian merasa khawatir. Bastian takut jika penyakit Mamanya semakin parah jika ia menangis.
"Andai saja Mama tidak bertemu dengan Ayah kau itu mungkin kehidupan aku tidak seperti ini."
"Andai saja Mama mengikuti ujaran orang tua Mama mungkin Mama tidak seperti ini."
"Mama telah menghancurkan kehidupan Mama sendiri. Demi cinta Mama rela hidup meralat dindalam kemiskinan seperti ini bersama dengan Ayah kau tapi dia dengan bodohnya dan kejamnya meninggalkan Mama seorang diri dan menitipkan satu anak yaitu, kau pasti."
Kedua matanya merah meneteskan air mata satu persatu membasahi makanan yang ada di atas karpet.
Bastian hanya bisa terdiam tak tahu harus berkata apa.
"Dulu dia sendiri yang mengajak aku untuk kabur bersama. Dia mengucapkan janji manis dan aku mulai terbuai."
"Aku berpikir jika cinta bisa membuat orang bahagia namun, rupanya tidak malahan cinta yang menghancurkan aku hingga jadi seperti ini."
"Andaikan aku tidak bertemu dengan Ayah kau itu mungkin aku tidak akan hidup seperti ini."
__ADS_1
"Mungkin aku sudah jadi sarjana dan bekerja di sebuah kantoran besar. Kalaupun tidak mungkin aku yang akan menjadi penerus di usaha orang tuaku.
"Mama sekarang harus bagaimana? Aku yang dulu berusaha untuk menghilang dan sengaja tidak memberi kabar agar tak dicari oleh orang tua tapi kini aku mengharapkan seseorang datang dan menjemput aku pulang.
"Kamu tahu tidak, Bastian? Mama ini itu ingin pulang ke rumah Mama dan bertemu dengan orang tua lalu minta maaf dan mengatakan kalau semua yang diucapkan dulu adalah benar adanya."
"Mama ingin mengatakan kalau cinta tidak selamanya membuat orang bahagia. Aku menyesal telah mengenal Ayah kau itu," ulangnya lagi.
Dada Bastian terasa sakit seakan ada yang menikamnya dari dalam, tak mampu Bastian utarakan dengan kata-kata. Perasaan Bastian hancur, perih sekali.
Secara tidak langsung Mama seakan mengatakan jika ia menyesal bertemu dengan Ayah dan itu berarti kehadiran Bastian juga adalah penyesalan baginya.
Mama memang tidak mengatakan hal itu secara langsung kepada Bastian namun, Bastian bisa menarik kesimpulan jika kelahirannya juga termasuk dalam sebuah penyesalan.
Tak sadar pandangan Bastian menjadi buram dikarenakan air mata yang menghalangi pandangannya hingga setetes air mata membasahi semangkuk mie soto milik Bastian.
Bastian mengusap air matanya berlagak sok kuat menahan agar tidak terisak-isak. Ia tidak ingin jika Mamanya tahu kalau ia sedang menangis.
Kini Bastian berpura-pura menikmati semangkuk mie buatan Mamanya. Menyeruput kuah hingga setetes air mata itu berhasil berbaur pada sesendok kuah soto. Rasa air mata ini, air mata kepedihan. Air mata kesedihan. Adakah yang bisa mengganti air mata ini dengan sebuah kebahagiaan.
Apakah ada?
Dimana?
Tolong tunjukkan satu persatu.
__ADS_1
Kini kuah soto rasa air mata di malam kepedihan diiringi isak tangisan Mama. Adakah yang lebih menyedihkan daripada ini? jika ada maka Bastian yakin, bahwa kisah itu tentu saja masih bagian dari diri Bastian.