Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
21. Bastian Bukan Anak Angkat


__ADS_3

"Sepertinya semakin hari kau ini semakin bertambah besar saja, ya. Sepertinya di sana di rumah kaya itu kau makan banyak."


"Ah, tidak juga," jawab Bastian sambil mengusap perutnya yang memang beberapa hari ini selalu buncit. Jujur saja di sana ia makan makanan enak. Anggap saja jika kehidupannya itu terjamin.


Keduanya kini saling melangkah setelah bel berbunyi mereka memutuskan untuk melangkah berdampingan menuju gerbang utama sekolah.


"Oh iya kau mau jalan pulang ke rumah?" tanya Joy yang kini masih melangkah.


"Tidak."


"Lalu kau pulang bagaimana?"


"Aku juga-"


Belum selesai Bastian melanjutkan penjelasannya tiba-tiba mobil berwarna hitam yang cukup mewah itu berhenti tepat dihadapan Bastian membuat dua bocah itu terdiam dengan perhatiannya yang tertuju kepada mobil mewah. Kaca mobil itu diturunkan perlahan memperlihatkan sosok pak Dewantoro yang melepas kacamata hitamnya lalu ia melirik menetap ke arah Bastian.


"Bastian, apa kau sudah pulang?"


"Iya pak," jawab Bastian lalu ia menoleh menatap ke arah Joy yang kini menatapnya dengan tetapan yang sedikit kagum.


"Wah, kau mau pulang naik mobil?" bisik Joy yang rupanya sejak tadi menatapnya dengan tatapan kagum.


"Iya," jawab Bastian sambil menggaruk kepalanya. Ia sedikit malu.


Bastian melangkahkan kakinya mendekati mobil lalu..


"Bastian!" panggil Joy membuat Bastian menghentikan langkahnya.


Ia menoleh menatap ke arah Joy yang kini masih berdiri di sana.


"Kau tidak ingin bertemu dengan teman-teman?"


Kini Bastian terdiam. Ia sedikit bingung dengan pertanyaan itu hingga kemudian ia menoleh menatap ke arah pak Dewantoro yang masih terdiam di dalam mobilnya.


"Entahlah mungkin aku tidak tahu juga apakah aku bisa pergi menemui teman-teman tapi kalau pak Dewantoro mengizinkan maka-"


"Pergi saja, nak!" sahur pak Dewantoro membuat Bastian tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi itu.


"Jadi besok kita akan ketemu dimana?"


"Bagaimana kalau kita ketemu di pinggir jalan tempat dimana kita bisa berkumpul," usul Bastian.


"Baik, aku setuju. Kita ketemu setelah pulang sekolah."


...***...

__ADS_1


Mobil kini melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil sesekali Bastian menoleh menatap pak Dewantoro yang terlihat serius mengendalikan setir mobil miliknya.


"Bagaimana pelajaran hari ini?" tanyanya sambil sesekali tersenyum menatap ke arah Bastian.


"Bagus, pak."


"Sudah dapat teman rupanya di sana. Jadi sepertinya kau tidak terlalu sulit untuk mendapatkan teman. Aku lihat tadi ada teman yang mengajakmu bertemu dengan teman-temannya itu."


"Ah, bukan pak, itu teman aku dari dulu."


"Dari dulu?"


"Iya pak. Namanya Joy, dia anak orang kaya tapi selalu datang untuk menjual koran bersama dengan aku dengan teman-teman yang lain.


"Oh ya?"


"Iya pak."


Keduanya kini saling berbicara, sedikit membahas tentang keseharian Bastian saat Mamanya masih hidup dulu. Kini mobil melaju memasuki area pekarangan rumah yang luas membuat Bastian melangkah turun dari mobil bersama dengan pak Dewantoro yang kini berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.


"Loh, Papa udah pulang?" tanya Melinda yang bangkit dari sofa.


"Iya, hari ini rapat cepat selesai jadi Papa cepat pulang."


Kedua mata Melinda menatap ke arah sisi pak Dewantoro seakan sedang mencari seseorang.


"Reno?"


"Iya, Melinda udah chat Papa, loh buat nyuruh jemput si Reno soalnya aku nggak bisa jemput di sekolahnya."


"Kenapa nggak telepon aja? Papa nggak sempat lihat chat jadinya Papa langsung ngejemput si Bastian saja."


"Papa itu gimana, sih? Masa Papa lebih mentingin si Bastian daripada cucu Papa sendiri. Papa harusnya sadar, dong kalau si Bastian itu hanya anak angkat."


"Dia itu cuman numpang hidup di sini masa Papa lagi mentingin anak orang lain daripada cucu Papa sendiri-"


"Melinda! Jaga ucapan kamu! Bastian itu bukan anak angkat tapi dia sudah termasuk anak Papa sendiri. Papa sudah mengangkatnya bahkan Papa sudah membuat akte kelahiran untuk Bastian atas nama Papa sendiri di situ."


"Papa, bagaimanapun isi surat itu dibuat tapi tetap saja Bastian itu bukan anak kandung Papa. Dia hanya anak angkat jadi Papa enggak usah memperlakukan Bastian itu seakan-akan Bastian adalah Papa sendiri!"


"Papa itu harus memperlakukan Bastian sebagai anak angkat bukan anak sendiri!" lanjutnya.


"Melinda! Jaga ucapan kamu! Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu di depan Bastian!" Tunjuk pak Dewantoro.


"Kenapa? Kenapa Melinda nggak bisa ngomong kayak gitu sama Bastian? Kenapa, sih Papa sayang banget sama Bastian ini padahal dia itu cuman anak pinggir jalan yang numpang makan dan hidup di sini."

__ADS_1


"Papa juga buat Melinda heran, bisa-bisanya Papa mau nyekolahin dia dan kasih dia tumpangan hidup di sini," sambungnya.


"Melinda! Papa ini sudah mengangkat Bastian sebagai anak kandung Papa sendiri jadi kamu nggak boleh ngomong seperti itu sama dia. Bastian ini sudah resmi menjadi adik kamu."


"Idih, sampai kapanpun Melinda nggak akan pernah terima dia sebagai adik kandung."


"Melinda!"


"Papa! Papa harusnya ngerti, dong Pa! Papa itu harusnya lebih sayang sama Reno daripada Bastian bukan malah sayangnya cuman kepastian aja."


"Melinda! Papa tidak pernah membeda-bedakan antara cucu Papa dengan anak Papa-"


"Stop bilang kalau Bastian ini tuh anak Papa!"


"Karena memang Bastian itu sudah resmi jadi-"


"Cukup Papa!" teriak Melinda membuat pak Dewantoro hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan erat seakan tak mampu lagi menghadapi anaknya ini.


"Melinda!" teriak pak Dewantoro berhasil membuat Melinda tersentak kaget dengan teriakan Papanya itu.


"Papa nggak mau lagi dengar kata-kata dari kamu lagi! Bastian tetap akan menjadi anak Papa sampai kapanpun."


Bastian kini hanya mampu terdiam sambil sesekali menoleh ke arah Melinda lalu ke arah pak Dewantoro saat mereka bergantian bicara ditambah lagi saat Melinda meninggikan nada suaranya membuat Bastian merasa tidak enak.


Iya tentu saja pertengkaran ini tidak akan terjadi jika ia tidak ada di rumah ini dan mungkin saja keadaan rumah ini akan baik-baik saja tanpa kehadiran Bastian. Kini Bastian merasa bersalah, bersalah karena telah bertemu dengan tempat Dewantoro.


"Pokoknya Papa nggak suka kalau kamu ngomong kayak gitu lagi sama Bastian: Sampai kapanpun juga Bastian tetap akan tinggal di rumah ini!" ujar pak Dewantoro lalu ia melangkah pergi.


Kedua mata Melinda yang telah marah itu menyorot Bastian dengan mata elangnya membuat Bastian hanya mampu meneguk salivanya dengan keras. Entah mengapa tubuhnya gemetar saat ditatap tajam oleh Melinda.


"Sekarang kamu senang kan lihat semua ini? Kamu senang, kan keluarga ini berantakan? Kamu senang kan aku berantem sama Papa aku?"


"Eh, kamu pikir kamu sudah menang buat keluarga aku jadi berantakan seperti ini? Kamu senang kalau Papa lebih sayang sama kamu daripada sama Reno, cucu dia sendiri?"


"Tidak, Bastian tidak pernah berpikir seperti itu."


"Ala, alasan kamu. Bilang aja kalau kamu senang. Kamu mau rebut Papa aku, kan? Iya kan? Kamu mau rebut semuanya, kan?"


Bastian melipat bibirnya ke dalam lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan, tak sanggup lagi ia berbicara.


Melinda melangkahkan kakinya mendekati sosok Bastian membuat nyali Bastian seakan menciut.


"Kamu dengar, ya! Saya tidak akan pernah membiarkan kamu bebas tinggal di rumah ini dengan bahagia!"


"Saya yakinkan kalau setiap harinya kamu akan menangis kalau perlu kamu menangis darah dan keluar dari rumah ini!"

__ADS_1


"Saya juga akan meyakinkan kalau kehidupan kamu tidak akan baik-baik saja! Kamu akan menderita di rumah ini!" ancamnya dengan nada suara yang ditekan membuat jantung Bastian seakan berdebar-debar.


Rasanya Bastian ingin sekali menangis. Ia begitu sangat takut dan kali ini iya sangat menginginkan pelukan Mamanya. Kalau keadaannya seperti ini siapa yang akan melindunginya sementara Mamanya sudah pergi jauh.


__ADS_2