Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
6. Kehidupan Bastian


__ADS_3

Bastian membuka pintu yang sama sekali tidak dikunci oleh pemilik rumah. Suasana yang sunyi berhasil menyapa sosok Bastian yang membuka pintu rumah.


Nuansa rumah yang tidak tertata rapi menjadi pemandangan yang Bastian lihat pertama kali. Kursi plastik nampak tersusun mengitari meja tua. Lemari-lemari tua yang bahkan sudah tak menggunakan pintu lagi seakan menjadi pelengkap suasana ruangan tamu itu.


Jika kita mendongak ke atas maka kita bisa melihat langit-langit rumah yang memperlihatkan kayu-kayu yang menjadi pondasi atap rumah yang terbuat dari seng yang nyaris berkarat. Semua terlihat memerah menandakan bagaimana lamanya seng-seng ini melawan panas terik matahari serta guyuran hujan.


Bastian melangkahkan kakinya menelusuri ruangan membuat suara papan yang diinjak berdencit pelan.


Jika saja sosok pencuri berhasil masuk ke dalam rumah ini maka mungkin dia akan memilih pulang tanpa perlu mengobrak-abrik isi rumah. Dilihat saja seakan membuat orang telah berhasil menebak jika tak ada sebuah harta di rumah ini atau sebuah barang berharga yang bisa untuk dicuri.


Inilah rumah Bastianm Ia harus tinggal di rumah ini bersama dengan sosok Mamanya.


"Ma!"


Sosok wanita yang sedang berbaring di atas kasur tuanya itu menoleh sehingga wajah pucat dengan kedua mata sayu seakan menyambut kedatangan Bastian.


Minara adalah nama dari wanita itu. Wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Bastian seorang diri. Ia merupakan seorang janda yang berusia 40 tahun.


Minara adalah wanita yang menurut Bastian sukar untuk merasakan kesehatan. Sudah beberapa tahun ini Mamanya seakan jauh dari kata sehat. Penyakitnya yang selalu batuk-batuk dan demam tinggi itu tak pernah reda bahkan Bastian bingung mengapa mamanya tidak pernah sembuh padahal ia selalu rajin memberikan minum obat batuk kepada Mamanya.


Bagaimana dengan sosok Ayahnya? Ayah dari Bastian telah pergi lebih tepatnya menikah lagi bersama dengan gadis pilihannya dan memilih untuk meninggalkan Bastian dan istrinya di rumah tua ini.


Banyak alasan yang membuat Ayahnya itu pergi meninggalkan Bastian. Termasuk faktor ekonomi dan Mamanya yang telah sakit-sakitan membuat Ayahnya kini berpaling hati.

__ADS_1


Harus bagaimana lagi mungkin itu sudah pilihan Ayahnya. Melarang pun tak mungkin, Bastian hanya anak kecil yang hanya bisa mencari uang untuk Mamanya dengan cara menjual koran di pinggir jalan. Dengan hasil yang tak seberapa Bastian harus menghidupi Mamanya yang sakit-sakitan itu.


Bastian melangkah mendekati sosok Mamanya yang berusaha bangkit dari tempat tidurnya sambil sesekali terbatuk-batuk menyentuh bagian dadanya yang terasa nyeri saat ia batuk.


"Kau sudah pulang, nak?"


Suara serak itu terdengar. Ia kembali terbatuk membuat Bastian merasa iba dengan Mamanya itu. Mengapa Mamanya ini tidak pernah sembuh?


Bastian begitu sangat sedih melihat sosok Mamanya yang harus terbaring sakit seperti ini.


"Bastian sudah pulang, Ma. Bastian bawa beras dan 2 bungkus mie."


Mirna tersenyum ia mengelus pipi putranya yang begitu sangat ia sayangi. Saat ini hanya Bastian yang dia punya karena semuanya telah pergi jauh meninggalkannya.


Ada sebuah rasa penyesalan yang dirasakan oleh Mirna. Dulu ia dengan Zainal, mantan suaminya itu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.


Banyak pria yang tergila-gila dengan Mirna namun, ia selalu menolak dan mengatakan ingin fokus kuliah. Orang tuanya saat itu bangga bukan main kepada putrinya karena ia memiliki putri yang lebih mementingkan pendidikan daripada harus mengutamakan cinta kepada lawan jenis.


Namun, rasa bangga mereka itu sirna saat putrinya telah jatuh cinta kepada seorang pria yang merupakan pegawai di tempat usaha perdagangan orang tuanya.


Entah bagaimana bisa sebuah cinta yang tak pernah diduga datang tiba-tiba antara Mirna dan Zainal. Mereka berdua menjalin hubungan hingga akhirnya Zainal berniat lebih serius kepada dan akhirnya Mirna menyetujui.


Ia berani mengajak Zainal datang ke rumah lalu memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya itu benar-benar murka saat Mirna memperkenalkan Zainal.

__ADS_1


Kedua orang tuanya paham betul bagaimana kondisi Zainal yang hanya merupakan pria miskin yang merantau mencari pekerjaan dan akhirnya mendapat pekerjaan di toko perdagangan orang tua Mirna.


Orang tua Mirna tak setuju lalu menghina Zainal tepat dihadapan Mirna hingga akhirnya Zainal dipecat hingga Mirna patahlah hatinya. Cemberut setiap hari dan tidak lagi mementingkan pendidikannya.


Kedua orang tuanya berusaha untuk merayu putrinya itu agar bisa mengerti dengan keadaannya dan mengatakan jika perbedaan kasta antara orang kaya dan orang miskin tidak bisa disatukan dan keesokan harinya kedua orang tuanya mendapatkan kabar jika Mirna dan Zainal melarikan diri, pergi entah ke mana.


Jauh perjalanan Zainal dan Mirna akhirnya merantau ke Jakarta, tempat Zainal lahir hingga karena cinta Mirna rela tinggal di rumah orang tua Zainal yang jauh dari kata layak itu.


Baginya bisa tinggal bersama sosok pria yang dia cintai adalah hal yang paling membahagiakan baginya, tak peduli bagaimana kondisi saingan.


Bagaikan ditelan bumi kini Mirna tak pernah memberikan kabar kepada kedua orang tuanya hingga akhirnya Bastian lahir.


Hidup di bawah garis kemiskinan membuat Mirna akhirnya merasa lelah dan berniat untuk pulang namun, merasa malu lebih tinggi dari rasa kemauannya.


Harus bilang apa ia kepada kedua orang tuanya jika ia pulang nanti?


Mau ditaruh dimana wajahnya itu? Gosip-gosip orang-orang pasti sudah menyebar. Kepergiannya pasti sudah menjadi buah bibir di masyarakat sekitar rumahnya. Malu dan malu hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah tua ini.


Rasa penyesalan semakin kian membara di saat ia mendapatkan informasi dari tetangga-tetangga jika suaminya itu membawa lari seorang gadis yang berada di daerah lain.


Entah ke mana perginya suaminya itu hingga sakit hati serta sakit fisik semuanya berbaur menjadi satu.


Bermunculan niat untuk mengakhiri hidup namun, ia teringat sosok putranya, Bastian yang sangat membutuhkan dirinya. Jika saja ia tidak memikirkan putranya itu mungkin ia sudah tersiksa di neraka karena dosa-dosanya yang telah ia perbuat.

__ADS_1


Tak ada saksi saat pernikahannya akad nikah yang terbilang sederhana yang hanya disaksikan orang tua Zainal tanpa didampingi oleh saksi dari keluarga mempelai wanita.


Apakah pernikahan itu bisa dikatakan sah? Tentu saja tidak lalu bagaimana dengan Bastian apakah ia juga adalah termasuk anak haram?


__ADS_2