Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
7. Isakan Mama


__ADS_3

"Mak!" panggil Bastian sambil menyentuh pelan bahu sang Mama yang langsung tersadar dari lamunannya.


Ia bisa melihat sorot mata lelah sang putra yang masih memandangnya.


"Apa?"


"Bastian lapar. Bastian mau makan. Bisakah Mama memasak nasi untuk Bastian!"


Mirna tertawa kecil terbatuk sesekali lalu berujar, "Iya, mari berasnya biar Mama masak!"


Bastian tersenyum lalu menjulurkan beras yang telah ia beli di Koh Li yang iya singgahi tadi bersama dengan teman-temannya. Mirna bangkit membuat Bastian menatap Mamanya yang terlihat memejamkan mata, tubuhnya seakan tergoyang-goyang namun, berusaha ia tahan sambil berpegangan pada bahu Bastian yang telah lelah memeluk koran-koran dari pagi sampai menjelang sore agar tidak jatuh.


"Ada apa, Ma?" tanya Bastian khawatir.


Mirna membuka kedua matanya perlahan. Suasana rumahnya seakan terputar-putar membuat kepalanya pusing dan pening, benar-benar tak bisa membuatnya untuk kuat walau hanya sekedar berpura-pura di hadapan Bastian.


"Ada apa, Ma? Apa Mama sakit lagi?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bastian. Mama tidak apa-apa."


Bastian hanya terdiam menatap Mamanya yang kini melangkah keluar dari kamar. Langkahnya terlihat terhuyung-huyung lalu berpegangan pada bibir pintu sambil menyentuh keningnya yang mengernyit berusaha mengurangi rasa pening di kepalanya bahkan ia bisa merasakan kepalanya berdenyut nyeri sekali.


Bastian hanya menatap iba kepada sosok Mamanya. Ia tahu Mamanya benar-benar sakit. Ia ingin sekali mengantar Mamanya itu berobat ke rumah sakit namun, Mamanya selalu melarang dengan alasan Mamanya takut suntik padahal Bastian tahu alasan Mamanya menolak karena mereka tidak punya uang.


Sakit yang Mamanya rasakan membuatnya tak bisa bekerja sehingga hanya Bastian yang harus turun tangan untuk membantu keuangan Mamanya. Bisa makan pagi dan malam adalah sebuah kesyukuran bagi Bastian.


Apa yang mengharuskan seorang anak bersusah payah seakan terlihat sebagai anak gelandangan di jalan raya lalu memohon pada pengendara mobil untuk membeli beberapa koran dan tisu yang ia jajakan. Itu semua ia lakukan hanya untuk bisa melihat Mamanya minum obat dan makan Pagi dan malam hari.


Bastian bangkit mengikuti langkah Mamanya namun, niatnya itu tertahan saat ia bisa melihat tumpukan cucian yang berada di depan lemari tua yang tak lagi memiliki pintu.


Yah, semenjak Mirna sakit, ia tak lagi melakukan pekerjaan rumah sebagaimana mestinya dan itu pula yang harus mewajibkan Bastian untuk melakukan tugas Mamanya seperti mencuci piring, mencuci baju, menyapu dan mencari uang makan.


Setelah melipat dan menyusunnya dengan rapi di dalam rongga lemari akhirnya Bastian memutuskan untuk mandi, meraih handuk tua yang ia pungut dari tempat sampah beberapa minggu yang lalu bersama dengan teman-temannya saat orang-orang kaya yang bergelimang harta itu membuang pakaian yang tidak layak mereka gunakan di tempat sampah.


Mungkin sebagian orang pakaian itu tidak layak digunakan namun, bagi Bastian dan teman-teman yang lain barang-barang itu adalah barang yang berharga bahkan mereka sempat tertawa cekikikan saat mendapatkan pakaian yang masih layak pakai itu tapi itu bagi mereka beda cerita lagi jika di tangan orang-orang kaya.

__ADS_1


Bastian melangkah melewati sosok Mamanya yang terlihat sedang mencuci beras di dapur. Dapur dan ruangan mandi berdekatan sehingga saat Bastian berada di dalam kamar mandi ia bisa mendengar suara cucian beras dari luar.


Guyuran demi guyuran Bastian lakukan. Rasanya kelelahan terbuang begitu saja di bawah oleh guyuran air. Debu, bekas paparan sinar matahari, udara kotor seakan berguguran dari tubuhnya, mengalir dan terikat oleh air yang membasahi seluruh tubuhnya.


Bastian yang sedang menggosok kepalanya itu kini terdiam. Suara isakan tangis kecil terdengar dari luar membuat Bastian melangkah pelan lalu mengintip pada celah tempat mandi pada dinding keropos yang terbuat dari kayu.


Dari sini ia bisa melihat sosok Mamanya yang terlihat sedang menangis. Bastian tidak mengerti mengapa dan apa alasan Mamanya bisa menangis seperti itu. Terdengar memilukan bahkan kedua bahu Mamanya terlihat naik turun terus seakan rasa kesakitan itu sulit untuk dikeluarkan.


Tiba saatnya saat ia mengaduk mie yang berada di dalam mangkuk berwarna putih terlihat tetesan air mata membasahi dan berbaur pada mie kuah yang tengah ia aduk.


Bastian dibuat ikut sedih. Tak seorangpun yang bisa hidup di dalam situasi seperti ini. Sakit yang tiap hari menghantam tubuhnya ditambah lagi pikiran yang selalu memikirkan sosok kedua orang tuanya dan suami yang telah menghianatinya. Apalagi yang bisa ia harapkan pada dunia ini yang penuh kekejaman, tak ada lagi sebuah harapan.


Lelah sudah pasti Mamanya itu lelah. Lelah menghadapi dunia ini begitu pula dengan Bastian.


Sebenarnya ia sudah lelah bahkan sesekali saat rezeki tak menghampirinya koran-koran tak terjual satupun begitu juga dengan tisu-tisu. Harus membuat bocah sepertinya pulang dengan tangan hampa malam itu. Saat itu ia tak makan dan membuatnya menangis sesegukan dengan perut kelaparan.


Apa yang bisa diharapkan dari sebuah kepahitan dunia. Apakah memang dunia seperti ini.

__ADS_1


Orang yang miskin akan semakin miskin dan melarat sementara orang kaya akan semakin kaya dengan perut kekenyangan di setiap harinya tanpa perlu merasa khawatir akan kelaparan.


__ADS_2