
...***...
Mobil yang ia lajukan itu kini memasuki area pekarangan rumah disambut para penjaga keamanan yang dengan cepat membuka pagar dengan lebar-lebar.
"Selamat sore, pak," sambut pria itu membuat Bastian tersenyum.
Ia menghentikan laju kendaraannya dan melangkah turun dari mobil lalu dengan cepat pelayan yang berseragam hitam itu meraih koper yang di bawah oleh Bastian.
Langkah Bastian memelan saat ia bisa melihat sosok wanita dengan perut buncit yang menantinya di pintu. Senyum Bastian merekah dengan indah. Itu Vira, gadis yang dia nikahi setahun yang lalu karena kemauan pak Dewantoro.
Ternyata selain isi surat ahli waris yang menerangkan jika semua harta warisan diberikan kepada Bastian, selain itu pula ada kalimat paling akhir bertuliskan jika Bastian diwajibkan untuk menikahi gadis bernama Vira itu.
Bastian menghentikan langkahnya saat ia telah berada di hadapan gadis itu.
"Selamat sore."
Gadis itu tersenyum membuat Bastian berlutut hingga wajahnya berhadapan langsung dengan perut buncit yang baru berusia 7 bulan itu.
Ia mengelus perut wanita itu dengan sangat lembut.
"Tidak lama lagi, tidak lama lagi kita akan bertemu. Tidak sabar rasanya bisa bertemu dengan anakku ini."
Bastian mengecupnya lalu ia menatap Vira yang begitu sangat malu. Bastian bangkit lalu ia menyentuh pipi Vira yang kedua pipinya langsung memerah.
"Kenapa?"
__ADS_1
Wanita itu menggeleng membuat Bastian lagi-lagi tertawa kecil. Begitu lucu sikap wanita bernama Vira ini. Kini baru Bastian ketahui jika pernikahan tanpa ada kata pacaran itu begitu sangat indah. Lebih baik juga jika seseorang tak memiliki hubungan pacaran sebelum menikah karena seseorang yang telah melakukan hubungan pacaran akan cepat merasakan bosan namun, jika tidak berpacaran terlebih dahulu maka hubungan suami istri akan lebih romantis.
Ada sikap malu-malu yang terjadi di antara mereka berdua.
"Kenapa? Kenapa pipi kamu jadi memerah?"
"Tidak apa-apa," jawabnya.
Bastian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan pelan.
"Perutmu sudah membesar, usianya bahkan sudah 7 bulan tapi kau masih malu jika aku tetap seperti ini? Sampai kapan kau malu seperti ini?"
Vira menggeleng. Ia bahkan tak tahu sampai kapan akan terjadi.
Bastian duduk di kursi berhadapan dengan meja yang telah dipenuhi dengan makanan. Ada banyak kursi di sini. Sengaja Bastian letakkan kursi yang benyak agar mereka bisa makan bersama-sama. Makan dengan siapa? Ya tentu saja dengan para pembantu di rumahnya dan juga para supir-supir serta penjaga keamanan rumah.
Bagi Bastian semuanya adalah keluarga, tanpa mereka semua Bastian akan kesulitan. Bastian juga tidak sungkan menyuruh para pembantunya untuk mengajak anak-anaknya yang ada di rumah untuk tinggal di rumah ini.
Ia tidak ingin jika anak-anak dari para pembantunya itu merasa jauh dari keluarganya atau orang tuanya karena Bastian sangat tahu bagaimana rasanya jika jauh dari orang tua dan setiap saat acara makan semuanya akan dipenuhi dengan canda tawa.
Para pembantu yang ada di rumahnya dan sopir-sopirnya juga tak segan untuk memberikan candaan saat acara makan. Begitu sangat bahagia, semuanya terasa sangat damai dikelilingi dengan orang-orang baik.
Apalagi yang Bastian butuhkan saat ini? Istri, dia punya Vira yang begitu sangat menyayanginya. Anak, tinggal 2 bulan lagi keturunannya itu akan lahir dari rahim sang istri. Keluarga, dia punya pembantu dan sopir-sopirnya yang juga begitu sangat menyayanginya. Sahabat, ia punya mandra, Joy, Badrul dan Sodiq lalu apa yang ia tidak punya?
Kedua orang tua? Ya memang sosoknya tidak ada saat ini tapi mereka ada di hati Bastian dan setiap hari jumat Bastian akan datang ke makam pak Dewantoro dan Mamanya yang tempat pemakamannya diletakkan di tempat yang berbeda.
__ADS_1
...***...
Bastian menyeruput secangkir kopi lalu meletakkannya di atas meja dan memandangi pemandangan di depan rumah yang saat ini tengah berada di teras rumahnya yang berada di atas balkon.
Sudah menjadi kebiasaan Bastian duduk menyendiri untuk mendapatkan kedamaian pribadi. Dia sangat menyukai angin malam, angin malam yang dulunya selalu ia rasakan saat pulang setelah menjual koran.
Ia memejamkan kedua matanya dengan rapat-rapat menarik nafas dalam-dalam. Rasanya masih tetap sama hingga kedua matanya kembali terbuka. Rasa yang sama namun, di waktu yang berbeda. Sudah cukup lama ia tak menjadi anak penjual koran yang telah menjadi punggung keluarga. Kedua pundaknya itu harus tetap kuat sama seperti dulu.
Bastian menoleh menatap sang istri yang sudah tertidur lelap di atas kasurnya dan kemudian Bastian kembali menatap langit-langit dengan bintang yang berkelap kerlip di atas sana.
Suatu saat nanti jika anaknya telah lahir dan tumbuh menjadi anak yang sesuai dengan harapannya make ia akan menceritakan semuanya. Ia akan menceritakan bagaimana kisah hidupnya. Ia akan menceritakan bagaimana kisah anak si penjual koran yang berjuang untuk sang Mama yang kini telah damai di alam surga.
Bastian tahu jika kisahnya ini tidak terlalu menarik hanya saja tentu kisahnya akan selalu teringat sampai kapanpun. Ada banyak sebuah nilai yang bisa kita ambil. Sebuah kesimpulan dalam sebuah cerita,.
Sebuah cerita pasti memiliki nilai dan kesimpulan masing-masing dan Bastian harapkan jika kesimpulan itu bisa diterima oleh orang banyak.
Ia hanya ingin memberikan pemahaman kepada orang-orang jika banyak-banyak bersyukur adalah hal yang paling luar biasa dalam kehidupan.
Dengan bersyukur kita akan bahagia karena orang yang tidak merasakan kebahagiaan adalah orang yang tidak pernah bersyukur maka dari itu bersyukurlah dalam segala sesuatu yang terjadi di dunia ini karena apapun yang terjadi di dunia ini itu sudah karena kehendak Tuhan.
Tuhan tidak akan mengizinkan sesuatu terjadi jika Tuhan tidak mengiyakan.
Sampai di sini kisah anak si penjual koran. Tolong jangan lupakan kisahnya!
...~Tamat~...
__ADS_1