
...***...
Bastian terpatung menatap bingkai foto dimana di sana terdapat wajahnya dan juga wajah pak Dewantoro yang tersenyum begitu bahagia sambil merangkul pundaknya begitu sangat erat tapi itu hanya dulu sebuah kenangan dan rangkulan yang menjadikan kenangan yang berharga bagi Bastian yang untuk pertama kalinya merasakan kehangatan seorang Bapak.
Pintu terhempas membuat Bastian begitu sangat terkejut. Kedua matanya membulat menatap beberapa pria berseragam polisi dengan pistol di tangannya serta borgol melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ada apa ini?" tanya Bastian dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya.
"Betul dengan Bapak Bastian?"
"Iya benar."
"Saudara, anda kami tangkap."
"Tangkap?"
"Iya, Anda diduga telah membunuh pak Dewantoro di rumah sakit."
"Membunuh?" pertanyaannya itu terlontar dengan wajahnya yang tidak menyangka sehingga seseorang melangkah masuk ke dalam kamar membelah beberapa polisi yang menghalangi jalannya dan akhirnya nampaklah Melinda yang nampak tersenyum begitu sangat licik bersama dengan Reno yang menyusul di belakangnya.
"Tangkap dia, Pak! Dia yang sudah membunuh Bapak saya!"
"Membunuh?" bisik Bastian lagi yang begitu tidak mengerti.
Jujur saja ia tidak menyangka jika Melinda benar-benar menuduhnya telah membunuh pak Dewantoro.
"Aku tidak membunuh Bapak Dewantoro!" protes Bastian saat beberapa polisi itu memaksa menarik tangannya dengan keras lalu memborgol kedua tangannya itu.
Bastian sama sekali tidak memberontak saat polisi-polisi itu yang memborgol pergelangan tangannya. Dia tahu kebenaran akan terungkap.
"Pak, aku bukan pembunuh, pak! Aku ini sangat sayang dengan pak Dewantoro jadi Bastian tidak mungkin membunuh pak Dewantoro."
"Bapak bisa menjelaskannya di kantor polisi!"
"Tidak usah disuruh menjelaskan, pak! Langsung saja masukkan dia ke dalam penjara," sahut Melinda yang berada di belakang.
"Pak, tolong pak! Mengerti dengan aku, pak!
"Silahkan nanti dijelaskan di kantor."
"Pak tolong dengarkan penjelasan Bastian dulu, pak. Dimana tindak keadilan pak kalau seperti ini, pak."
"Bapak polisi!" teriakan.seseorang membuat para polisi dan Bastian menghentikan langkahnya.
Bastian menoleh menatap supir dan para pembantunya yang berlarian mengerumuni.
"Pak, tolong jangan tangkap tuan Bastian! Bastian tidak bersalah. Dia tidak membunuh pak Dewantoro!"
Kedua mata Melinda membulat begitu lancang sekali para pembuatnya membantu Bastian. Mereka telah berani membela anak angkat itu.
"Hei kalian! Kurang ajar kalian semua telah membela pembunuh tuan kalian sendiri. Yang selama ini menggaji kalian itu Papa saya bukan Bastian. Bastian itu hanya anak angkat dia bahkan telah membunuh pak Dewantoro harusnya kalian juga marah sama dia bukan malah membela dia!!!" gertaknya membuat para pembantunya itu tersentak kaget.
"Kalian mau saya pecat? Iya kalian mau saya pecat sekarang?"
Tunjuknya membuat sopir dan para pembantu-pembantunya itu kini tertunduk dan saling bertatapan seakan tak tahu lagi apa yang harus dilakukan sekarang ini.
"Dan kalian semua harus tahu kalau saya yang berkuasa di rumah ini. Saat ini dan selamanya saya yang memegang ahli semuanya bukan pak Dewantoro karena saya ini anak satu-satunya dari pak Dewantoro.
__ADS_1
"Tapi Nyonya-"
"Apa kalian melawan? Kalau kalian berani bicara sedikit pun saya pencet kalian sekarang juga!" ancamnya membuat sopir-sopir dan parah pembantunya itu kini terdiam, membungkam dan membisu, tak berani berkata-kata. Mereka semua takut jika Melinda benar-benar akan memecat mereka semua.
Lalu jika mereka benar-benar di pecat lalu dimana mereka akan mencari uang untuk membiayai keluarga mereka yang ada di kampung. Kini mereka hanya bisa terdiam memandangi Bastian yang masih menatap mereka dengan wajah begitu cemas.
"Ikut kami!" ujar polisi itu lalu kembali menarik Bastian yang kembali berteriak dan memohon.
"Pak, tolong pak dengarkan Bastian! Dengarkan aku, pak! Bastian tidak mungkin membunuh pak Dewantoro."
"Pak, tolong, pak! Aku aku tidak mungkin membunuh pak Dewantoro!"
"Hentikan!"
Suara pria terdengar membuat polisi menoleh menatap ke arah pria berjas hitam yang berdiri di bibir pintu. Bastian juga ikut menoleh menatap pria berjas hitam.
Ia masih sangat ingat pria ini yang kedatangannya dulu ke rumah sakit. Pria berjas hitam yang sama yang datang di ruangan rumah sakit sehari sebelum pak Dewantoro meninggal.
"Bastian tidak bersalah, bukan Bastian yang telah membunuh pak Dewantoro. Dia meninggal karena sakit di rumah sakit."
"Apa ada punya bukti?" sahut Melinda.
"Saya punya, saya bahkan bisa menelpon pihak kedokteran yang telah menangani pak Dewantoro di rumah sakit dan anda semua bisa melihat CCTV yang terpasang di rumah sakit kalau pak Bastian tidak membunuh pak Dewantoro."
"Tapi kami hanya menjalankan tugas dari Melinda," ujar polisi itu.
"Dia mengatakan itu karena tidak merasa senang dengan kedatangan Bastian di rumah ini."
"Heh, kamu jangan ikut campur, ya! Kamu tuh sebenarnya siapa?" Tunjuk Melinda yang begitu sangat kesal.
Pria berjas itu tersenyum. Ia melangkahkan kakinya masuk.
"Ahli waris?"
"Iya."
Mendengar hal itu membuat Melinda tersenyum begitu bahagia.
"Jadi kamu Seto yang telah membuat surat ahli waris dari Papa!"
Melinda tersenyum lagi begitu sangat bahagia. Ia melangkahkan kakinya mendekati Bastian dan beberapa polisi yang masih memeganginya.
"Baik kalau begitu saya ingin pak Seto membacakan surat ahli waris semuanya dan setelah itu saya ingin jika orang yang namanya tertera di dalam kertas itu bisa tinggal di rumah ini dan nama yang tidak tertera di nama di kertas itu harus keluar dari rumah ini."
"Hari ini juga," lanjutnya membuat Bastian tertunduk.
Sepertinya tidak lama lagi ia akan keluar dari rumah ini. Melinda menoleh menatap ke arah Bastian dengan rata yang begitu sangat sinis dan penuh kebencian.
"Siap-siap keluar dari rumah ini!" bisiknya begitu sangat jahat.
...****...
Kini mereka semua telah berkumpul di dalam ruangan keluarga sementara Seto berdiri di hadapan semuanya sambil memegang sebuah kertas yang siap untuk dibacakan bersama dengan polisi-polisi yang akan menjadi saksi dalam pembacaan ahli waris tersebut.
"Pak Seto bisa tolong dibacakan isi ahli waris dari keputusan Papa saya soalnya saya tidak punya banyak waktu dan juga saya tidak ingin berlama-lama melihat wajah pembunuh Papa saya di sini."
"Bastian tidak membunuh kak Melinda!" bantah Bastian membuat Melinda tersenyum sinis.
__ADS_1
Ia tak peduli dengan apa yang Bastian katakan dengan bantahnya lagi pula tidak lama lagi ia akan keluar dari rumah ini. Melinda sesekali menatap jam tangan yang ada pada pergelangan tangannya lalu bunda dengan kesal.
"Pak Seto bisa lebih cepat!" pintanya membuat pak Seto menganggukkan kepalanya.
"Isi surat keputusan dari pak Dewantoro kalau ahli waris rumah beserta isinya perusahaan dan harta yang dimiliki oleh pak Dewantoro diberikan kepada..."
Kedua mata Melinda menyipit begitu sangat tak sabar mendengar namanya disebut sementara Bastian kini hanya bisa menunduk pasrah dengan semuanya.
"Bastian putra Dewantoro," sebutnya.
"Apa?" bisik Bastian yang tidak menyangka bahkan setelah mendengar itu membuatnya langsung mendongak menatap ke arah pak Seto yang terlihat tersenyum.
Kedua mata Melinda membulat begitu sangat terkejut. Ia tak menyangka dengan apa yang telah ia dengar.
"Bastian? Kenapa nama itu yang disebut? Kenapa nama Mama tidak ada di isi surat itu?" bisik Reno yang begitu juga sangat terkejut.
Melinda memukul meja dengan keras. Ia bangkit dari sofa lalu menunjuk pria berjas itu.
"Kamu jangan sembarang ngomong, ya!"
"Sembarang ngomong apa ibu Melinda? Saya hanya membacakan surat yang telah ditentukan oleh pak Dewantoro."
"Surat itu nggak bener harusnya ahli waris dan semua harta kekayaan Papa saya itu jatuh ke tangan saya karena saya itu anak kandungnya bukan sama anak angkatnya."
"Bastian itu hanya anak. Dia hanya menumpang dan hidupnya itu hanya di jalanan sebagai penjual koran!!!" tunjuknya dengan sebuah teriakan yang begitu melengking.
"Ini sudah ketentuan dari pak Dewantoro, tidak bisa lagi diganggu gugat. Saya hanya menulis apa yang diperintahkan kalau anda tidak percaya saya bisa menunjukkan videonya."
"Ada beberapa bukti yang telah menunjukkan jika pak Dewantoro yang telah menyuruh saya untuk menulis surat wasiat ini "
"Saya sangat tidak menyangka. Ini semua sangat-sangat gila. Saya tidak mau kalau harta Papa saya itu jatuh kepada dia! Dasar gila," umpatnya.
"Kamu! Kamu sengaja, kan memaksa Papa saya untuk memberikan semua hartanya kepada kamu, iya kan?"
Bastian bangkit sambil menggelengkan kepalanya. Di saat-saat seperti ini kak Melinda lagi-lagi menuduhnya yang bukan-bukan.
"Aku tidak pernah berniat untuk mempengaruhi pak Dewantoro."
"Dasar pembohong kamu. Kamu senang, kan? Kamu senang kan setelah berhasil menguasai semua harta Papa saya? Kamu harus mati! Kamu harus mati!!!" teriak Melinda membuat polisi-polisi itu dengan cepat menangkap Melinda sebelum ia benar-benar mendekati Bastian.
"Pak, tolong bawa wanita ini keluar dari rumah sesuai dengan perjanjian!" tunjuk pak Seto.
"Baik, pak," jawab polisi-polisi itu lalu menarik pergelangan tangan Melinda dan membawanya keluar dari rumah membuat Melinda berteriak berusaha memberontak begitu juga dengan Reno.
"Dasar kamu! Kamu mengambil semua harta keluarga Papa saya, dasar licik!!!" teriak Melinda.
Kedua mata Bastian memejam dengan erat. Ia terduduk di sofa sambil meremas kepalanya yang begitu sangat sakit. Semua ini bukan kemauannya. Ia bahkan tidak pernah berniat untuk menguasai semua harta pak Dewantoro.
Seseorang menepuk pundaknya membuat Bastian menoleh menatap pak Seto yang tersenyum ke arahnya.
"Jangan bersedih dan jangan menyesali semuanya! Kamu memang pantas untuk mendapatkan semuanya."
"Tapi aku tidak tega melihat kak Melinda dengan Reno pergi dari rumah ini."
"Kenapa kamu masih peduli dengan dia? Mereka bahkan tidak peduli dengan kamu."
"Tapi-"
__ADS_1
"Sudah, jangan terlalu baik! Terlalu baik juga tidak bagus."
"Sesuaikan kebaikan itu kepada orang yang tepat. Orang jahat seperti mereka juga harus dibalas dengan kejahatan."