
...***...
Bastian melangkah masuk ke dalam kamar kedua matanya berbinar saat menatap seisi ruangan kamarnya ia. Ia baru percaya seisi kamar ini adalah kamarnya setelah pak Dewantoro melangkah keluar dari kamar.
Bastian duduk di pinggiran kasur menyentuh permukaan kasur yang begitu sangat lembut. Ia kemudian berlari menyentuh permukaan jendela dan membukanya hingga pemandangan taman yang indah berada di belakang rumah yang megah ini begitu terpampang dengan jelas.
Ada kolam renang di belakang sana Bastian benar-benar merasa bahagia andai saja Mamanya ada di sini mungkin ia juga akan bahagia melihat rumah orang kaya yang selalu menjadi bahan ilusi saja.
Selama hidupnya Bastian tak pernah menyangka ia bisa berada di rumah ini, rumah yang begitu sangat. Ia mendongak menatap lampu yang indah. Bastian pasti tahu lampu itu memiliki harga yang sangat mahal bahkan ada TV di dinding kamar ini. Tuhan, begitu megah ruangan kamar ini. Ini yang kedua kalinya Bastian melihat sebuah TV. Yang pertama ia hanya bisa melihat TV di rumah koh Li itu pun tv-nya harus dipukul dulu sebelum dinyalakan.
"Kamu apa kan Papaku?" suara pertanyaan itu terdengar membuat Bastian dengan cepat menoleh menatap wanita bernama Melinda yang memasang wajah begitu sangat marah ke arah Bastian.
Bastian menegouk salivanya. Entah mengapa aura kemarahan Melinda begitu sangat terpancar. Bastian tidak tahu apa kesalahannya sehingga Melinda akan begitu marah kepadanya.
"Kenapa Bu?" tanya Bastian takut.
"Heh, kamu nggak usah ya panggil saya ibu! Saya itu bukan Ibu kamu. Saya bingung kenapa kamu bisa ada di tempat ini dan kenapa kamu bisa kenal sama Papa saya?"
"Pak Dewantoro yang telah menolong aku di jalanan dan juga menolong Mama."
"Mama kamu dimana?"
"Mama aku sudah meninggal, Bu."
__ADS_1
"Sudah aku bilang tidak usah memanggil saya dengan sebutan Ibu! Saya tuh bukan Ibu kamu. Ngerti nggak, sih?"
Bastian hanya tertunduk lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Awas ya kamu! Jangan mencuri di rumah ini!"
Setelahnya wanita bernama Melinda itu melangkah keluar dari kamar meninggalkan Bastian yang kini hanya terdiam. Bastian pikir setelah ia tinggal di sini kehidupannya akan menjadi lebih baik namun, rupanya tidak.
"Memangnya siapa yang mau mencuri di rumah ini?" bisik Bastian dengan pelan.
Memanglah benar kehidupan tak ada yang tahu bagaimana kehidupan dan perjalanannya yang selalu saja ada halangan. Tak semua perjalanan akan berjalan dengan mudah dan tak semudah itu untuk dihadapi.
Dan itu semua terjadi pada Bastian. Ia pikir kehidupannya akan berjalan dengan mulus ketika ia tinggal di rumah orang kaya ini namun, rupanya tidak setiap harinya ia harus menunduk saat ia bertemu dengan Melinda.
Di suatu ketika Bastian sedang bermain bersama Reno bermain mobil-mobilan Bastian sangat bahagia bisa bermain dengan Reno apalagi mainan Reno yang sangat bagus. Ada berbagai macam jenis mainan yang ia miliki. Reno pun tidak masalah jika Bastian memainkan beberapa mainannya namun, semuanya lenyap begitu saja ketika Melinda memukul tangan Bastian, melarang Bastian untuk menyentuh mainan milik anaknya itu.
"Kamu nggak perlu ya ajak dia main! Dan kamu, kamu jangan ajak anak saya main kalau mainannya rusak bagaimana? Kamu mau ganti rugi? Hah? Kalau mainan ini sampai rusak, saya usir kamu dari rumah ini biar kamu jadi anak gelandangan di depan sana!" ancamnya dengan hanya satu tarikan nafas.
Sepertinya jika sedang menghinanya ujaran Melinda itu benar-benar begitu lancar.
"Mama! Mama jangan kayak gitu! Reno yang suruh kak Bastian buat mainin mainan Reno," bela Reno.
"Eh, Reno jangan bela-bela Bastian! Kamu tahu nggak Bastian itu anak miskin. Dia itu datang ke rumah ini cuman mau makan enak tahu enggak kamu?!"
__ADS_1
"Ma tapi kan kak Bastian itu sudah jadi anak dari Opah."
"Siapa yang bilang?"
"Opah sendiri yang bilang."
"Sudahlah Reno! Nggak usah kamu bela-bela dia! Dia itu cuman anak miskin."
Bastian hanya bisa terdiam melirik Reno diam-diam dan ketika Melinda sudah pergi Reno si anak baik hati itu akan membantu Bastian untuk tidak menangis walaupun rasanya sangat susah sehingga Bastian hanya bisa menutupi kesedihan itu sambil tersenyum lalu berpura-pura meminta izin ke toilet dan menangis di sana.
Bastian memandangi wajahnya dari pantulan cermin memperlihatkan betapa rendahnya diri ini saat dimarahin oleh Melinda. Sekarang Bastian tahu ada berbagai macam jenis karakter sifat seseorang. Ada yang baik namun, kebaikannya hanya terlihat di hadapan orang tertentu saja.
Ada pula yang jahat, jahat dalam segi hal namun, jika dihadapkan dengan orang tertentu ia akan baik. Ada pula yang jahat, jahat sejahat-jahatnya walaupun dia dipertemukan dengan orang baik dia akan tetap menjadi jahat. Ada pula orang yang ceria namun, orang ceria itu akan menjadi sedih jika dihadapkan pada suatu kondisi hal. Iya Bastian telah menyadari semuanya.
Mungkin kehidupan Bastian akan jauh lebih baik jika Melinda itu tidak ada di rumah ini. Saat Melinda pergi bekerja dalam mengurus perusahaan pak Dewantoro maka kehidupan Bastian di rumah ini akan begitu sangat bahagia. Itu yang dirasakan oleh Bastian, Bastian bisa leluasa berlarian, melompat-lompat di atas tempat tidurnya saat Melinda tidak ada di rumah sedangkan Reno sedang sibuk bersekolah.
Tapi Bastian sadar diri sebelum Melinda pulang ia harus buru-buru merapikan tempat tidurnya dan kembali mandi sebelum banyak perkataan buruk yang selalu terlontar dan mengatakan jika Bastian anak pengotor, berbau busuk walaupun Bastian sudah mandi dan tidak sesuai dengan kenyataannya.
Apapun yang selalu Bastian pikirkan mengenai rumah orang kaya tidak sesuai dengan apa yang terjadi saat ini. Ia pikir hidup menjadi kaya tidaklah selalu membuat seseorang bahagia rupanya Bastian tidak merasakan hal itu. Ia hanya merindukan kehidupannya yang seperti dulu bermain di pinggir jalan dan menjual koran-koran lalu pulang dengan uang recehan yang selalu ia serahkan kepada Mamanya dan setelahnya ia akan makan mie yang dimasak oleh Mamanya.
Bastian rindu saat-saat seperti itu. Sekarang Bastian tahu mengapa Joy, sahabat penjual korannya itu lebih memilih untuk menjual koran daripada hidup di dalam rumahnya yang mewah itu.
Rupanya kebahagiaan seseorang tidaklah diukur dari seberapa kaya mereka namun, kebahagiaan diukur dari seberapa bersyukurnya mereka.
__ADS_1
Jika Bastian haruslah memilih sebuah keadaan maka ia hanya menginginkan kembali seperti dulu menjadi anak si penjual koran.