Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
14. Dewantoro


__ADS_3

...--***--...


Bastian tak henti-hentinya tersenyum sambil menjilati setiap sisi es krim yang begitu sangat-sangat nikmat. Sensasi dingin seakan menyatu di tenggorokannya membuatnya benar-benar bahagia.


"Kau suka makan es krim?" tanya pria tua itu yang telah membelikannya es krim yang ada di supermarket.


Rambut Bastian masih basah pria tua itu telah memberikan beberapa lembar uang recehan untuk Bastia dan dengan setia menunggu Bastian mandi di WC umum dan membelikan beberapa lembar pakaian untuk Bastian gunakan sedangkan baju yang berbau kotor itu dibuang saja di dalam tong sampah.


Kini tak ada lagi bau menyengat yang mengotori seluruh tubuhnya. Perlengkapan alat-alat mandi pun dibeli oleh pria tua itu.


Pria itu bernama Dewantoro, pria tua yang merupakan pemilik perusahaan terkenal yang ada di Jakarta.


Bastian baru mengetahui hal itu setelah pak Dewan menjelaskan dan memperkenalkan dirinya kepada Bastian saat mereka duduk di depan supermarket setelah saat ia membeli es krim itu dan beberapa barang-barang yang Bastian inginkan.


Ia melirik sini ke arah wanita yang tadi pagi sempat memarah-marahinya karena telah berhasil menyentuh permukaan dinding kaca itu hingga kotor.


Rasanya bagaikan mendapat piala bergilir saja, ia pula ingin tertawa melihat wanita itu yang seakan tidak menyangka jika dirinya bersama dengan pria berseragam orang kaya. Ya, bagi Bastian orang-orang yang memakai jas hitam seperti itu adalah orang kaya.


Pria yang memiliki banyak uang dan berleminang harta lalu betul saja sekarang lihatlah apa yang ada di samping Bastian! Sekantung besar barang-barang yang sengaja ia pilih di dalam supermarket itu dan atas izin dari pak Dewan.


Awalnya Bastian tidak mau karena takut tapi pria itu terus saja memaksa. Lagi pula kesempatan tidak datang dua kali bukan?


"Kau tinggal di mana, Nak?"


Jilatan Bastian terhenti. Ia kini mengingat perintah dari Master koran jika ada yang bertanya tentang diri maka harus menjawab sesuatu yang telah ditentukan oleh master kotan tapi apakah perlu ia berbohong kepada pria tua yang telah memberikannya barang-barang yang begitu banyak ini.


Tak mungkin ia berbohongan, tak boleh dituruti Master koran itu. Master koran itu hanya tidak ingin jika identitasnya sebagai penekan anak-anak untuk menjual koran di jalanan terungkap.


"Bastian tinggal di tempat pemukiman yang kumuh, tempat di belakang kompleks orang-orang kaya kompleks merpati, pak."


Prak Dewan mengangguk lalu kembali bertanya, "Kalau orang tua bagaimana?"


"Masih ada, hanya saja Bapak pergi."


"Pergi dimana? Merantau?" tebaknya.

__ADS_1


"Bukan pak. Bapak Bastian kabur katanya pergi."


"Pergi dimana?" tanya pak Dewan semakin dibuat penasaran.


Bastian menggaruk kepalanya dengan pelan. Rupanya pria tua ini jauh lebih penasaran daripada apa yang ia pikirkan.


"Tidak tau tapi dia pergi bawa lari perempuan," jawab Bastian sejujurnya.


Raut wajah pak Dewan terlihat terkejut seakan begitu tak menyangka dengan apa yang ia dengar.


"Oh kalau ibu kau bagamana?"


"Mama?"


"Iya Mama. Dimana Mama kau?"


"Ada di rumah, sedang sakit."


"Sakit apa?"


"Tidak tahu," jawab Bastian seadanya lalu sibuk dengan makanan yang masih ada di tangannya.


"Bastian hanya berdua."


"Tidak punya saudara?"


Pak Dewan kembali mengangguk cukup mengerti dengan situasi anak ini.


"Oh iya tadi kenapa kau mau membantu bapak padahal kita tidak saling mengenal."


"Tidak tahu hanya tidak senang saja kalau orang mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Apalagi kalau mendorong Bapak tadi hingga Bapak jatuh. Rasanya Bastian hanya ingin membantu saja."


Pak Dewan itu mengangguk. Ia menepuk pundak Bastian seakan begitu bangga membuat Bastian merasa bahagia saat ada yang menempuknya seperti ini.


"Oh iya Bapak mau tanya lagi."

__ADS_1


"Apa pak?"


"Kau tau apa isi di dalam koper ini?"


Bastian terdiam sejenak lalu akhirnya bicara, "Tidak tahu pak."


"Kau belum membukany?"


"Tidak pernah lagian itu tidak penting, pak karena ang pentingkan koper itu sudah ada tangan Bapak."


"Lalu kau tidak ingin tahu apa isinya?"


"Entahlah, pak kalau Bapak ingin memperlihatkan kepada Bastian maka Bastian akan dengan senang hati melihatnya.'


Mendengar hal itu membuat pak Dewan tersenyum. Ia meletakkan koper di atas pahanya lalu membukanya membuat kedua mata Bastian membinar.


Ia tak menyangka jika isi dalam koper itu adalah setumpuk uang merah yang begitu sangat banyak. Entah berapa jumlah dari tumpukan uang itu.


"Ini isinya uang, ada banyak di dalamnya."


Pak Dewan tersenyum. Ia bisa melihat kedua mata anak yang ada di depannya terlihat berbinar dan kagum.


"Kau mau?"


Pertanyaan itu membuat Bastian tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa, pak. Ini saja sudah cukup, terima kasih," tolaknya dengan lembut sambil menepuk-nepuk kantong kresek hitam membuat pak Dewan kagum dengan sosok Bastian.


Pertanyaan itu seakan tak ada henti-hentinya membuat Bastian dengan cepat bangkit lalu memegang kantong kresek besar berisi barang-barang yang telah ia beli.


"Bastian minta maaf, pak. Bastian harus pergi dulu," ujarnya lalu ia berlari meninggalkan pak Dewan yang kini berteriak berusaha menyuruhnya untuk berhenti berlari.


Suara teriakan yang memanggil namanya itu seakan di hiraukan oleh Bastian. Bastian benar-benar ingin pulang sekarang. Pria tua ini terlalu banyak bicara. Jangan sampai ia bertanya tentang Master koran dan tak bisa ia bayangkan bagaimana jika seandainya pria pak Dewan itu mengirim polisi-polisi untuk mendatangi tempat perkumpulan Master koran.


Ia tidak ingin pekerjaannya yang menjual koran dan tisu itu digusur begitu saja lalu jika itu terjadi bagaimana dengan nasib teman-temannya seperti Mandra, Joy dan Sodiq.

__ADS_1


Pak Dewan menghembuskan nafas panjang. Bocah laki-laki itu kini masih berlari sambil sesekali ia menoleh menatap ke arahnya yang masih berdiri di depan supermarket. Entah mengapa rasanya ada yang disembunyikan oleh anak itu.


Namun, ia berharap bisa kembali dipertemukan dengan anak baik itu.


__ADS_2