
Bukannya malah mendapat koper itu ia bahkan akan digiring menuju rumah sakit, itu pun jika ada yang melihatnya kalaupun tidak, ya mungkin saja Bastian akan dibuang di bawah kolong jembatan setelah habis di babak berluri dengan pukulan di kerja preman.
"Sudah sekarang kita buka apa isi kopernya!"
"Baik."
"Buka cepat aku sudah tidak sabar ingin melihat apa isi kopernya!"
"Aku lihat pria tua itu keluar dari tempat bank sambil membawa koper..."
Dari sini Bastian bisa mendengar suara dari dua preman itu yang masih bercakap-cakap mereka terlihat menebak apa isi dari koper yang terlihat sangat berkesan berharga.
"Ah, sial ternyata kopernya dikunci."
"Dikunci?"
Preman yang satu lagi melangkah mendekati koper itu hingga akhirnya Bastian dari sini bisa melihat jika ada kunci pada koper itu Bastian bernafas lega pria tua itu ternyata pintar juga.
"Kalau dikunci bagaimana caranya kita bisa mengambil koper ini?"
"Ah, kalau begitu ambil palu kita buka paksa koper ini. Aku sudah tidak sabar untuk membukanya."
"Baiklah," jawabnya menurut.
Bastian terdiam. Ia bisa melihat sosok dua satu preman itu yang melangkah pergi sementara yang menjaga koper itu kini menyendiri sambil mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Apa kau sudah dapat?"
"Belum!" teriaknya.
"Aku sudah cari tapi belum dapat palu. Kau simpan dimana?!!"
"Ah, masa kau tidak lihat itu di atas meja."
__ADS_1
"Yang mana?!!"
Suara teriakan itu terdengar saat pria yang berada di dalam ruangan berusaha mencari palu.
"Itu di atas meja."
"Tidak ada, cepat sini kalau kau tidak percaya kau cari sendiri!"
Pria yang sedang duduk di atas kursi itu mengoceh lalu dengan langkah malas ia bangkit dari kursinya dan melangkah masuk ke dalam ruangan berusaha untuk mencari temannya.
Mengenai palu yang sejak tadi mereka cari tak mampu melihat waktu luang Bastian dengan cepat bangkit lalu berlari menuju ke tempat perkumpulan preman itu. Ia melangkah dengan pelan hingga jantungnya terasa berdebar-debar dua kali lipat seperti apa yang terjadi tadi.
Kali ini ia memang tidak berlari namun, ia harus menantang maut kini ia benar-benar telah berada di dalam tempat di mana dua preman yang ia kejar tadi saat ia melangkah kakinya dengan pelan seakan kakinya yang satu ini berada di surga dan satunya lagi berada di neraka. Tujuannya hanya satu berlari dengan koper itu atau ia akan tertangkap basah dan mendapat masalah yang lebih yang lebih rumit lagi.
Bastian bisa mendengar suara dua preman yang masih membahas tentang dimana palu itu berada.
Saat jarak antara Bastian dan koper itu sangat dekat dengan cepat Bastian meraih koper itu membuat suara decitan papan di mana koper itu tergeletak berbunyi membuat nyawa Bastian seakan melayang pergi.
"Siapa itu?" suara teriakan dari dalam terdengar membuat Bastian dengan cepat meraih koper itu yang berhasil membuatnya terkejut.
Ia pikir koper itu begitu ringan namun, rupanya koper ini begitu sangat berat bagaikan batu yang diangkat oleh Bastian.
Dengan susah payah Bastian segera berlari di saat bersamaan dua preman itu melihatnya.
"Dasar anak bodoh!!!" teriaknya sambil menunjuk.
Bastian menoleh menatap dua preman yang menatapnya dengan tatapan terkejut mungkin mereka pikir Bastian tidak akan ikut campur lagi namun, rupanya Bastian jauh lebih berani daripada itu. Ia seakan menantang maut.
Bagaimana rasanya membawa koper itu? Hahaha, rasanya ingin Bastian tertawa tapi apakah bisa ia tertawa dalam suatu seperti ini.
Kini kedua lututnya terasa ngilu benar-benar sangat berat bahkan seluruh tubuhnya sekarang bukan lagi memanas tapi mendingin. Ia benar-benar telah berada di suatu suasana yang begitu sangat menakutkan.
Gambaran wajah Mamanya itu seakan tergambar di langit saat ia mendongak berusaha mencari pasokan udara untuk mengisi kedua paru-parunya yang seakan sudah untuk lelah untuk bernafas.
__ADS_1
"Mama!!!" teriak Bastian yang sudah tak tahan lagi.
Rasanya dia ingin pulang memeluk Mamanya erat-erat dan mengucapkan kalimat perpisahan. Sepertinya liang kuburnya telah ada di depan mata.
Sungguh menyesal seharusnya Bastian tak perlu berniat baik menolong pria tua itu dengan kopernya yang sangat berat ini. Entah apa isi koper ini sehingga begitu sangat berat.
Kantong berisi tisu itu seakan menghalangi jalan membuat Bastian terasa terhalangi langkahnya. Senyum Bastian kini bermunculan. Rasa bahagia tak lagi bisa ia utarakan dengan kata-kata saat melihat Joy yang ada di depan sana.
"Joy!!!" teriak Bastian dengan suara yang benar-benar lantang.
Yah, lari yang kenceng ini berhasil membuat suaranya seakan benar-benar menggelegar membuat Joy yang sedang berada di siring jalan menanti lampu hijau itu menoleh menatap Bastian.
"Apa yang kalau lakukan di sini? Bukannya ini bukan tempat untuk kau. Kau kan sudah di bagikan tempat lalu apa yang kau lakukan di sini!!!"
"Ini terlalu jauh untuk kau datangi!!!" teriaknya lagi.
"Ceritanya panjang, ambil ini!" Bastian lalu tanpa pikir panjang ia membuang tisu-tisu beserta koran-korang di jalanan membuat dua jenis dagangan yang selalu dijual oleh Bastian itu berserakan di jalanan beraspal.
Ringanlah sudah beban yang harus dibawa oleh Bastian membuat langkahnya kini semakin cepat. Bastian menghentikan larinya lalu ia menoleh kiri kanan berusaha mencari tempat persembunyian hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlari dan bersembunyi di dalam tong tempat sampah.
Bastian tak peduli bagaimana baunya tempat sampah itu. Ia kemudian menimbun tubuhnya dengan beberapa sampah yang ia temui. Bagaikan tentara yang ingin mengelabui musuh. Bagaikan hewan yang ingin beradaptasi dengan alam. Dengan cepat bocah penjual koran ini mematung di dalam tong sampah dengan sampah yang begitu menyengat indra pembaunya. Benar-benar busuk namun, seketika itu juga bau seakan menghilang saat ia bisa mendengar suara dua preman yang seakan sedang mencarinya.
"Dimana dia tadi?"
"Aku lihat dia lewat di sini."
"Dasar bodoh. Anak itu mungkin ada di sana. Ayo kita lihat!" ujar percakapan itu terdengar lalu tak berselang lama suara langkah terdengar membuat Bastian bernapas dengan lega.
Bastian bangkit hingga sampah berjatuhan dari tubuhnya membuat semua orang menoleh menatap Bastian.
Bastian kembali berlari membuat orang-orang menoleh menatap ke arahnya karena terdapat beberapa sampah yang menempel di bagian tubuhnya terlebih lagi saat ia melintas membuat semua orang-orang menutup kedua hidungnya karena bau menyengat dari tong sampah itu yang berhasil mengotori tubuh Bastian.
Bagi Bastian itu semua tidaklah penting. Yang ia pikirkan adalah yang penting ia selamat. Mereka hanya tidak tahu saja apa masalah yang telah dilewati olehnya hingga seperti ini.
__ADS_1