
...***...
Bunga-bunga berwarna pink dan daun pandang yang telah dirilis tipis-tipis ditaburkan di atas makam pak Dewantoro. Sebuah kayu nisan bertuliskan nama pak Dewantoro disertai dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya juga ditulis di sana.
Kedua bahu Bastian tersebut tersentak-sentak ke atas. Ia menangis sesegukan begitu tak bisa ia tahan rasa kesedihannya untuk melepas malaikat yang telah memberikan banyak pengorbanan untuknya.
Hatinya begitu sangat perih, sakit sangat-sangat sakit, tak terbayangkan bagaimana kehidupannya jika tak ada pria ini di kehidupannya. Kini siapa lagi yang akan ada di sampingnya sementara hanya pak Dewantoro yang ia punya dan sekarang ia pun telah pergi, pergi jauh meninggalkannya. Takkan pernah kembali.
Bapaknya telah pergi Mamanya juga dan kini pak Dewantoro juga menyusul kepergian mereka. Satu persatu para pelayat melangkah pergi meninggalkan Bastian beserta dengan para pembantu-pembantu rumahnya dan juga beberapa sopir yang selalu setia menemani Bastian.
"Papa! Papa!"
Suara teriakan itu terdengar begitu sangat nyaring membuat Bastian menoleh. Dari sini ia bisa melihat Melinda yang berlari disusul dengan putranya yang bernama Reno itu. Melinda berlutut di samping makam pak Dewantoro menatap kayu nisan yang bertuliskan nama pak Dewantoro di sana.
Kemudian tak berselang lama ia menoleh menatap ke arah Bastian yang masih ada di sampingnya lengkap dengan kacamata hitam yang menutupi kedua mata Bastian.
"Ini pasti gara-gara kamu, kan!" tunjuknya dengan kedua mata yang masih melotot.
"Kak Melinda tidak boleh menuduh Bastian seperti itu! Kepergian Bapak itu sudah kehendak Tuhan."
"Kamu jangan bawa-bawa nama Tuhan, ya! Saya tahu meninggalnya Papa itu karena kamu. Karena kamu yang tidak becus ngurus Papa saya di rumah sakit! Iya kan."
"Tidak! Bastian tidak pernah berpikir seperti itu. Aku merawat Bapak dengan baik."
"Alah, atau jangan-jangan Papa meninggal gara-gara kamu yang sudah tidak mau merawat Papa jadi kamu sengaja membunuh Papa supaya kamu tidak repot-repot untuk merawat Papa saya, iya kan ?"
Tunjuknya dengan suara teriakan.
__ADS_1
"Gue enggak nyangka ternyata lo sudah licik itu," sahut Reno yang kini benar-benar menghakimi Bastian.
"Astagfirullah, kak Melinda. Aku berani sumpah! Aku tidak berniat dan tidak memiliki rencana seperti itu. Aku benar-benar sayang dengan dengan Bapak Dewantoro."
"Alah, banyak omong kamu. Mana ada maling mau ngomong. Kalau pembunuh ya tetap pembunuh."
"Saya enggak bakalan biarin kamu hidup bahagia. Saya akan ngelaporin kamu ke kantor polisi dengan kasus tindakan pembunuhan terhadap Papa saya," ancamnya.
"Kak Melinda! Aku berani sumpah."
"Sumpah-sumpah! Saya enggak percaya dengan sumpah kamu! Pokoknya akan saya masukkan kamu ke dalam penjara."
"Kamu tega,ya sudah membunuh Papa saya," sambungnya lagi membuat Bastian kini tidak habis pikir dengan semua tuduhan itu yang dilontarkan untuknya.
"Kak Melinda! Aku tahu aku ini cuma anak angkat tapi saya tidak pernah berpikir seperti itu."
"Bahkan Bastian jadi takut mengganggu kak Melinda. Kak Melinda bisa pikir ulang berapa kali Bastian menyuruh kak Melinda untuk pulang tapi apa? Kak Melinda tidak ingin untuk pulang dan bahkan menolaknya dengan mentah-mentah," jelas Bastian.
"Heh! Sekarang walaupun kamu berkata dengan benar kamu tetap salah di mata saya! Kamu itu hanya anak miskin yang dulu hanyalah anak penjual koran."
"Aku tahu dulunya Bastian hanya penjual koran dan bahkan Bastian diangkat menjadi anak oleh pak Dewantoro."
"Bagus kamu rupanya masih sadar diri-"
"Tapi sekarang tidak lagi," potong Bastian.
"Bastian juga anaknya pak Dewantoro."
__ADS_1
Sudut bibir Melinda terangkat menatap begitu hina kepada Bastian. Sekaligus juga ia menertawai Bastian yang telah menganggap dirinya adalah anak dari pak Dewantoro.
"Berani kamu ngomong kalau kamu anak dari Papa saya!"
"Tidak, bukan Bastian yang bilang seperti itu tapi pak Dewantoro yang bilang ke Bastian kalau Bastian ini adalah anak pak Dewantoro."
"Iya dia bilang kayak gitu karena dia itu kasihan sama kamu. Ngerti nggak kamu?"
"Udah, Ma! Nggak usah dilain orang kayak gini. Dia itu cuman anak miskin. Semakin diladenin semakin ngelunjak. Ayo kita pergi!" ajak Reno lalu menarik pergelangan tangan Melinda dan membawanya pergi.
Bastian bisa melihat beberapa para pembantu dan supir-supirnya saling berbisik. Semoga saja mereka semua tidak terpengaruh dengan ujaran kak Melinda.
Bastian menghela nafas panjang. Ia melepaskan kacamata yang sejak tadi melindungi kedua matanya hingga nampaklah kedua matanya yang telah membengkak itu karena sudah semalaman ia menangis dan kali ini ia kembali menangis.
Dia tidak menangis karena tuduhan itu tapi ia menangis karena kak Melinda tidak nampak bersedih dengan kematian Papanya itu bahkan ia hanya menyalahkan dirinya yang telah membunuh pak Dewantoro.
Apakah iya bisa setega itu bahkan dia tidak pernah berpikir untuk menyakiti pak Dewantoro sedikit pun bahkan membunuh pak Dewantoro pun tak sampai ke sana pikirannya.
Sekarang lihat, tidak ada yang membela Bastian hingga ia kembali menangis. Dia terisak hingga akhirnya seseorang menyentuh pundaknya membuat pasien menoleh menatap supirnya yang selama ini selalu menemaninya.
"Jangan khawatir! Kalau misalnya nyonya Melinda ingin membawa kasus ini ke polisi maka kami semua akan siap menjadi saksi."
"Kami semua siap dimintai keterangan dan kami akan mengatakan kalau tuan Bastian adalah pria yang baik dan tuduhan itu akan kami bantah."
"Benar, kami tahu siapa yang menyayangi pak Dewantoro dan siapa yang tidak," sahut yang lain.
"Betul, Tuan. Nyonya Melinda tidak menyayangi pak Dewantoro dan yang hanya menyanyangi pak Dewantoro hanyalah tuan Bastian saja," sahut yang lainnya lagi buat Bastian tersenyum.
__ADS_1