Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
24. Anak Kesayangan


__ADS_3

Pak Dewantoro terbatuk saat Bastian menyuapi pak Dewantoro membuat Bastian dengan cepat-cepat meraih segelas air dan membantu pak Dewantoro untuk minum.


"Apakah Bapak sudah tidak apa-apa?" tanya Bastian yang begitu khawatir.


"Tidak apa-apa, nak!"


Mendengar hal itu membuat Bastian kemudian duduk kembali di kursi dan mengaduk-ngaduk bubur yang ia telah ia bawa dari rumah. Pak Dewantoro tersenyum. Bastian, anak ini telah sangat baik kepadanya. Lihat saja semenjak ia dirawat di rumah sakit hanya Bastian yang menjaganya sedangkan putrinya itu tidak pernah lagi datang untuk menjenguknya bahkan menelponnya saja pun tidak pernah.


Mungkin pula putrinya itu sudah tidak lagi peduli dengan dirinya dan lebih mementingkan untuk berlibur di Bali.


"Bastian!"


"Iya pak?" sahut Bastian cepat.


"Bapak ingin bertanya sedikit."


"Apa pak?"


"Kenapa kau ingin merawatku seperti ini?"


Mendengar pertanyaan itu membuat gerakan tangan Bastian yang mengaduk bubur dalam sebuah mangkuk terhenti. Ia menoleh menatap pak Dewantoro yang masih menatapnya dengan wajah yang begitu serius.


"Karena Bastian sangat sayang dengan Bapak."


"Kenapa?"


Bastian tersenyum kecil.


"Kalau saja Bastian tidak dipertemukan dengan Bapak entah bagaimana sekarang nasib Bastian. Di dunia ini Bastian sudah tidak punya siapa-siapa lagi."


"Bapak Bastian telah pergi meninggalkan Bastian sementara Mama juga pergi dan hanya Bapak Dewantoro yang ada bersama Bastian."


"Di dunia ini hanya Bapak yang Bastian punya selebihnya tidak ada lagi."

__ADS_1


"Tapi Bapak lihat kau begitu sangat perhatian dengan Bapak."


"Bukankah seharusnya seorang anak harus menyayangi Bapaknya."


Penjelasan itu membuat pak Dewantoro tersenyum lalu ia mengelus kepala Bastian seakan Bastian adalah seorang anak kecil.


"Kau sekarang sudah benar-benar besar, tinggi dan gagah-"


"Seperti Bapak bukan?"


Pak Dewantoro mengangguk lalu tertawa. Ia berniat untuk bicara lagi tetapi Bastian lebih dulu menyuapi mulutnya dengan bubur.


"Banyak bicara tidak membuat orang sembuh bukan? Semuanya harus makan," ujarnya membuat pak Dewantoro kembali tertawa.


...***...


Bastian melangkah keluar dari ruangan rawat pak Dewantoro setelah pria berjas melangkah masuk ke dalam ruangan pak Dewantoro. Bastian tidak tahu siapa pria yang masuk ke dalam ruangan pak Dewantoro ia bahkan belum pernah melihatnya sama sekali.


Siapapun yang bertemu dengan pak Dewantoro, Bastian selalu tahu tapi melihat pria berjas itu Bastian sama sekali tidak pernah melihatnya.


Sesekali Bastian mengintip di kaca yang ada pada permukaan pintu rawat karena dibuat penasaran. Bastian hanya takut jika pria yang telah masuk itu bukanlah orang baik melainkan orang jahat. Dia tidak ingin jika suatu hal yang buruk terjadi kepada pak Dewantoro.


Bastian memilih untuk duduk di kursi besi yang berada di depan ruangan. Cukup lama ia duduk di sana hingga tak berselang pintu terbuka memperlihatkan sosok pria berjas itu yang melangkah keluar dari ruangan membuat Bastian dengan cepat bangkit.


"Saya sudah selesai, terima kasih."


"Sama-sama," ujarnya sambil berjabat tangan dengan pria berjas itu lalu ia melangkahkan kakinya pergi namun, tak genap beberapa langkah ia menghentikan langkahnya lalu berpaling menoleh menatap Bastian yang hampir saja melangkah masuk.


"Nama anda Bastian?"


Bastian sedikit mengeryit. Ia tak tahu mengapa pria berjas ini mengetahui namanya sementara ia sama sekali tidak mengenal pria ini.


"Iya," jawab Bastian.

__ADS_1


"Bastian, kau sangat beruntung. Pak.Dewantoro sepertinya sangat sayang dengan kamu. Saya permisi dulu,"ujar pria berjas itu lalu ia kembali melangkah pergi.


Bastian hanya dibuat terdiam tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria itu membuat Bastian tak ingin banyak berpikir ia kembali melangkah masuk ke dalam pintu mendapati pak Dewantoro yang sedang mengupas apel.


"Bapak ingin makan apel?" tanya Bastian yang mempercepatkan langkahnya.


"Iya, Bapak hanya ingin makan apel."


Bastian meraih apel yang sedikit terkupas dan mengambil alih apa yang telah dilakukan oleh pak Dewantoro.


"Kalau Bapak ingin sesuatu maka bilang saja ke Bastian! Bastian akan melakukannya."


Pak Dewantoro tersenyum.


"Terima kasih, nak. Kau terlalu sangat baik kepada Bapak."


"Tidak pak. Memang seharusnya seorang anak harus memberikan kasih sayang kepada Bapaknya. Apalagi Bastian tahu kalau Bapak telah banyak memberikan bantuan kepada Bastian."


"Bastian tidak akan tahu bagaimana keadaan Bastian jika tidak bertemu dengan Bapak."


"Nak, jujur saja Bapak tidak pernah berbohong bahwa Bapak benar-benar menyayangi Bastian bahkan jika disuruh memilih Bapak lebih sayang kepada kau daripada Putri Bapak itu."


"Ah, jangan bilang seperti itu pak!"


"Benar, nak. Bapak tidak berbohong. Lihat saja sekarang! Siapa yang menjaga Bapak? Kau bukan putri Bapak. Putri Bapak bahkan tidak peduli dengan Bapak."


"Bapak jangan bilang seperti itu! Kalau dia mendengar dia akan marah dengan Bastian dan menganggap jika dia tidak disayangi oleh Bapak karena kehadiran Bastian."


"Dia juga bahkan sering bilang kalau Bapak lebih menyanyangi Bastian daripada kak Melinda."


"Benar, itu benar. Bapak lebih sayang kau daripada dia. Lihat saja, Bapak yang berbaring sakit dia enak-enakan berliburan di Bali. Apakah ada anak yang seperti itu?"


"Melinda itu hanya mementingkan dirinya sendiri sementara dia tidak mementingkan kesehatan Bapak dan kebahagiaan Bapak."

__ADS_1


"Kau ini terlalu baik, sangat-sangat baik. Bapak sayang kepada kau," tambahnya.


"Ya, ya, pak sudahlah jangan terlalu memujiku! Aku sering sakit kepala jika terlalu dipuji. Makanlah buah ini supaya cepat sembuh!" ujarnya lalu mengunjulurkan buah apel yang telah dibelah menjadi kecil-kecil itu.


__ADS_2