
6 Tahun Kemudian....
Selain menjadi anak angkat dari tuan pak Dewantoro kini salah satu tugas dari Bastian adalah pengantar jemput pria yang semakin hari semakin bertambah tua itu. Kulitnya yang mengeriput menunjukkan berapa lamanya ia hidup di dunia ini.
Bastian nampak mengemudikan setir mobil dan tentu saja ini ilmu yang ia dapatkan adalah dari sang guru yaitu pak Dewantoro yang telah memberikan ilmu yang banyak untuk Bastian seperti mengemudikan mobil, mengurus tentang bisnis-bisnis, belajar cara berkomunikasi dengan baik, cara berdiskusi, berpresentasi. Ya semuanya Bastian lakukan.
Selain ia menjadi anak angkat dari pak Dewantoro ia juga ditugaskan untuk menjadi wakil dari pria tua itu yang akan mengikuti rapat menggantikan pak Dewantoro jika ia berhalangan untuk hadir.
Di perusahaannya, Bastian sudah sangat dikenal dengan baik bahkan para karyawannya beranggapan jika Bastian adalah anak kandungnya. Ya saat awal-awal memperkenalkan putranya itu Bastian sejak kecil memang selalu diajak untuk datang ke perusahaan. Mengenalkan ia secara dini bagaimana dunia kerja di dalam perusahaan.
Awalnya Bastian pikir para pria berdasi yang duduk di dalam kantor itu hanya duduk berleha-leha namun, ternyata kepala mereka akan pusing memikirkan jalannya perusahaan ini serta mempertahankan perusahaan agar terus berjalan adalah hal yang begitu sangat menyulitkan dan Bastian juga baru tahu jika apa yang selama ini ia pikirkan mengenai pria berdasi itu tidak seperti apa yang ia pikirkan selama.
Ini bukan hanya masalah duduk namun, mereka benar-benar bekerja dan tidak hanya berleha-leha untuk mendapatkan uang dengan cara mudah melainkan mereka harus memutar otak untuk mengurus perusahaan.
Bastian membuka pintu mobil saat pak Dewantoro melangkah menghampirinya. Raut wajah Bastian nampak kebingungan saat melihat pak Dewantoro yang terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali dengan lambat. Raut wajahnya bahkan menunjukkan ia terlihat sangat lelah.
"Bagaimana hari ini pak?"
"Ada apa, nak?"
"Hanya bertanya."
"Tidak apa-apa, nak hanya lelah saja."
Bastian mengangguk lalu ia berlari untuk membukakan pintu kepadanya lalu baru saja pak Dewantoro melangkahkan kakinya berniat untuk melangkah masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas membuat Bastian yang terkejut itu dengan cepat memeluknya membuat beberapa karyawan dan penjaga keamanan yang lain dengan cepat mengerumuni bos besarnya itu.
...****...
"Dia hanya kelelahan mungkin dua tiga hari dirawat di rumah sakit pasti akan sembuh."
Bastian menganggukan kepalanya saat dokter yang telah memeriksa pak Dewantoro menjelaskan.
Pria berjas putih ala dokter itu menepuk pundak Bastian kemudian berpamitan pergi. Bastian menoleh menata pak Dewantoro yang terlihat tersenyum. Ia menatap wajah pak Dewantoro yang masih terlihat pucat. Bastian menarik kursi lalu duduk di samping pria yang masih tersenyum ke arahnya itu.
"Sekarang lihat apa yang terjadi? Bastian kan sudah bilang kalau bapak itu jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Sekarang apa bapak sekarang sakit"
"Ya namanya juga manusia pasti ada sehat dan sakitnya."
"Tapi Bastian tidak mau kalau bapak sakit."
Pak Dewantoro tersenyum begitu bahagia. Ia membelai rambut anak angkatnya itu membuat Bastian mengusap punggung tangan pak Dewantoro. Bastian benar-benar telah menyayangi pria yang telah mengangkatnya sebagai anak 6 tahun yang lalu itu.
__ADS_1
"Kau sekarang sudah besar bahkan tubuhmu lebih tinggi daripada aku dan wajahmu juga tampan sama seperti aku ujarnya lalu tertawa kecil."
"Bagaimana sekarang? Apa kau sudah mau kuliah?"
Bastian menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, pak."
"Kenapa?"
"Tidak mau saja," jawab Bastian walau sejujurnya di dalam hatinya yang paling dalam ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya.
"Kau takut dengan kakak kau itu?"
"Bukan begitu. Hanya saja-"
"Apa? Hanya apa?"
"Tidak enak saja."
"Kenapa tidak enak?"
"Nak, jangan kau pernah beranggapan kalau kau ini adalah anak angkatku. Kau ini anak kandungku. Ya aku bahkan lebih menyayangi kau itu daripada cucu dan putriku."
"Lihat saja yang selama ini selalu ada di samping Bapak hanya kau seorang, tidak ada yang lain."
"Ya itu karena hanya Bastian yang tahu kalau Bapak sakit. Coba bapak telepon dan beritahu mungkin dia akan cepat datang ke sini."
Mendengar hal itu membuat pak Dewantoro mengangguk lalu meraih ponsel yang ada di saku jasnya lalu mengusap layar ponselnya beberapa kali hingga ia menekan tombol speaker hingga suara dari deringan telepon terdengar. Menghubungkan, tak ada tanggapan.
"Lihat dia tidak angkat."
"Coba telepon lagi, pak mungkin dia lagi sibuk."
"Ah kau terlalu positif sekali. Dia memang tidak mau mengangkat telepon dari Bapak. Coba kau yang telepon!" pinta pak Dewantoro membuat Bastian mengangguk lalu segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Melinda.
Berdering! Cukup lama suara deringan yang terdengar hingga tak berselang lama suara sahutan terdengar dari sana.
"Halo!"
"Halo, kak Melinda-"
__ADS_1
"Eh nggak usah ya manggil-manggil saya kakak! Saya itu bukan kakak kamu!"
Suara teguran itu membuat Bastian menoleh menatap pak Dewantoro yang langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir berusaha memberitahu Bastian untuk tidak memberitahu bahwa dirinya mendengar ujaran anaknya itu.
"Maaf kak Melinda, Bastian hanya ingin memberitahu sesuatu yan-
"Nggak penting!" potongnya.
"Tapi ini penting."
"Soal apa? Kamu jangan buat saya jadi nggak mood, deh hari ini lagian kamu tuh ngapain, sih telepon saya?"
"Nggak penting banget," tambahanya.
"Maaf kak tapi bapak masuk rumah sakit."
"Heh itu bapak saya! Bukan bapak kamu, ngerti kamu?" gertaknya membuat Bastian tersentak sementara pak Dewantoro hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Bastian hanya bisa meneguk salivanya. Sebenarnya selama ini ia selalu menyembunyikan sikap buruk Melinda kepada bapaknya dan mengatakan jika Melinda selalu bersikap baik kepadanya.
"Bapak masuk rumah sakit," ujar Bastian memberitahu sebelum Melinda mengatakan hal yang jauh lebih banyak lagi.
"Oh, masuk rumah sakit, itu semua gara-gara kamu. Gara-gara kamu yang buat Papa saya jadi masuk rumah sakit. Kalau kamu nggak tinggal di rumah ini mungkin Papa" nggak masalah rumah sakit Bastian hanya mampu mengerikan kening tak mengerti mengapa Melinda menyalahkannya atas sakitnya pak Dewantoro.
"Ya sudah saya minta maaf, kak tapi kakak Melinda tidak ingin menjenguk bapak?"
"Urus aja sendiri! Kan kamu anak kesayangannya lagipula Papa itu tidak penting. Ngerti nggak? Ganggu aja. Saya ini lagi liburan tahu nggak di Bali. Bikin bad mood aja kamu itu."
Sambungan terputus membuat Bastian menghela nafas yang cukup panjang.
"Maafkan kak Melinda, pak," ujar Bastian membuat pak Dewantoro membelai rambut Bastian.
"Kenapa kau minta maaf nak? Melinda yang salah bukan kau."
Pak Dewantoro kini terdiam. Rupanya selama ini sikap anaknya itu tidak baik bahkan kepada ia dan Bastian sendiri.
Ia kemudian menoleh menatap putra angkatnya itu lalu kembali membelai rambutnya.
"Kau harus kuliah kalau kamu menolaknya berarti kau sudah tidak sayang lagi dengan bapak."
Kalimat itu sontak membuat kedua mata Bastian bergerak menetap ke arah pak Dewantoro yang masih terbaring di sana lengkap dengan selain infus yang terpasang di tangannya.
__ADS_1