Aku Si Penjual Koran

Aku Si Penjual Koran
16. Tolong Mama!!!


__ADS_3

Bastian memeluk tubuh Emaknya dengan erat menyandarkan kepalanya di lengan Mamanya yang hangat. Senyum yang merekah menjadi pengantar tidur di saat ia bisa melihat wajah Mamanya yang bersinar bagaikan bulan malam ini.


Suara jangkrik terdengar mengisi keheningan malam menghantarkan kesunyian malam ini. Malam yang begitu terasa hangat berbeda di malam yang biasanya. Saat ini Bastian memeluk tubuh Mamanya dengan erat. Makan malam yang enak semalam itu membuat hidunpnya benar-benar merasa sangat bahagia dan tidur dalam keadaan yang begitu sangat sangat lelap.


Bastian aku jika makanan enak yang selalu dimakan oleh orang kaya itu benar-benar membuat tidurnya menjadi lelap. Bastian berharap suatu saat nanti dia akan menjadi orang kaya dan membuat Mamanya tidur dalam keadaan kenyang seperti ini.


Suara detakan jarum jam terdengar mengisi keheningan malam. Suara hantaman keras terdengar, itu adalah suara gemuruh dari langit ditambah lagi kilatan cahaya yang menyebar pemukiman warga yang begitu sangat menakutkan.


Jeder!!!


"Hah!!!"


Kedua mata Bastian membulat karena terkejut setelah mendengar suara keras yang berhasil membangunkan dirinya dari tidur yang lelap itu. Nafas Bastian terengah-engah, dadanya kembang kempis tak karuan hingga keringat bercucuran membasahi keningnya yang basah bahkan Bastian bisa merasakan jika baju yang digunakan itu juga ikut basah.


Jantungnya berdebar-debar sangat cepat saat suara gemuruh dari langit itu benar-benar berhasil membuatnya hampir saja jantungan. Ia mendongak menatap jarum jam yang masih menunjukkan pukul 2 malam.


Dari sini Bastian bisa mendengar suara angin kencang dan merasakan angin kencang yang masuk dari celah-celah dinding rumahnya yang telah keropos itu. Sepertinya hujan akan turun dari langit membuat dirinya menarik nafas panjang lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tangannya yang kini merangkul sosok Mamanya yang masih tertidur lelap.


Saat jemari tangannya menyentuh tubuh Mamanya itu sontak kedua matanya membulat. Rasanya jantungnya berhenti berdetak, nafasnya juga ikut tertahan di tenggorokan seakan tak mampu lagi untuk melakukan semuanya.


Rasanya nyawa Bastian seakan ikut terhenti dan melayang begitu saja keluar dari rongga tubuhnya saat ia bisa menyentuh tubuh Mamanya yang kini telah mendingin. Bastian sontak bangkit dari tempat tidurnya menjauhkan jemari tangannya yang telah menyentuh tubuh dingin Mamanya dengan bibir yang bergetar.


Bastian terdiam sejenak lalu mendekati sosok Mamanya yang masih terbaring di sana.


"Ma-mama!"


Tak asa sahutan.


"Mama!" panggil Bastian namun, Mamanya tak merespon. Tak ada suara sedikitpun bahkan sebuah sahutan dari Mamanya.


Bastian terus memanggil dan memberanikan diri untuk menyentuh dan mengguncang tubuh Mamanya dengan keras berusaha membangunkan Mamanya yang tak kunjung memberikan sahutan sedikitpun.


"Mama! Mamaaaa!!!"


Suara nada teriakan Bastian perlahan meninggi berusaha memaksakan Mamanya segera bangun namun, semuanya tidaklah terjadi.


Dengan tubuh yang gemetar Bastian menyandarkan telinganya itu di dada mamanya berusaha mencari suara detakan jantung yang tak kunjung ia dengar.

__ADS_1


Bibir Bastian bergetar berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terisak dan menangis. Dengan seluruh keberanian yang ia kumpulkan Bastian meletakkan jari telunjuknya di depan hidung Mamanya cukup lama berusaha menanti hembusan nafas Mamanya yang tak kunjung ia rasakan juga.


Rasanya perasaan Bastian hancur, hancur sehancur-hancurnya. Apakah mungkin Mamanya itu pergi meninggalkan dirinya? Tidak ingin semua terjadi. Bastian tak ingin jika hal itu benar-benar terjadi kepada Mamanya.


Bastian belum siap jika Mamanya harus pergi meninggalkannya. Cukup Ayahnya yang meninggalkannya, tak perlu Mamanya juga.


"Mama!" panggil Bastian lagi yang kesekian kalinya.


Entah berapa kali guncangan yang ia lakukan berusaha untuk membangunkan Mamanya itu.


"Mama! Mama tolong jangan tinggalkan Bastian! Tunggu di sini, Ma!"


"Kita akan pergi ke rumah sakit. Bastian akan pergi cari bantuan!" pamitnya lalu ia melangkah pergi keluar dari rumah menatap ke seluruh pemukiman warga yang benar-benar telah sunyi, tak ada sedikitpun orang yang di sini.


"Tolong! Tolong mama Bastian!"


"Tolong Mama Bastian sakit!!!" teriak Bastian lalu berlari tanpa menggunakan alas kaki.


Dia menuruni anakan tangga lalu berputar kiri dan kanan sambil berteriak berusaha mencari orang yang bisa membantunya di bawah langit yang menyambarkan kilatan-kilatan diiringi dengan suara gemuruh dari langit.


Dia berlari menaiki anakan tangga lalu memukul permukaan pintu milik Mandra, sahabatnya itu namun, bagaimanapun dan sekuat apapun Bastian memukul tak ada sedikitpun sahutan dari dalam sana.


"Tolong!!! As-salamualaikum! Mandra!"


"Pak! Bu! Tolong mama Bastian! Tolong!!!"


Tok tok!!!


Bastian kembali melangkah turun dan memukul-mukul pembukaan pintu milik rumah-rumah yang berada di sekitar rumahnya berusaha meminta pertolongan dari seseorang dan sangat berharap seseorang datang untuk membantunya.


Tak ada jawaban dari siapapun membuat Bastian tanpa pikir panjang segera berlari menuruni anakan tangga dan menarik sebuah gerobak yang biasa digunakan kedua orang tua Mandra untuk memungut sampah-sampah seperti kardus dan lain sebagainya untuk dijual kembali.


"Mandra! Bastian pinjam ya! Nanti Bastian kembalikan!!!" teriak Bastian lalu ia melangkah menarik gerobak itu dan setelahnya ia kembali berlari menaiki anakan tangga lalu menggendong dengan susah payah tubuh Mamanya yang kini telah kaku.


Tubuhnya Mamanya itu benar-benar telah mendingin. Entah mendapat kekuatan dari mana sehingga Bastian bisa mengangkat tubuh Mamanya itu. Dengan sekuat tenaga Bastian merapatkan tubuh Mamanya itu di permukaan gerobak tua dengan pelan takut kepala Mamanya terbentur di permukaan gerobak itu.


Ia menyentuh wajah Mamanya yang tak pernah membuka kedua mata sedikitpun dengan wajah Bastian yang kini telah menjadi cemas.

__ADS_1


"Mama, doain Bastian! Bastian akan bawa Mama ke rumah sakit!"


"Mama tenang, ya! Mama harus selamat. Bastian akan bawa Mama," ujarnya sambil mengelus pipi Mamanya yang telah mendingin itu.


Setelahnya ia menarik gerobak itu melewati jalanan yang tidak mulus. Jalanan bebatuan dan tidak rata menjadi halangan bagi Bastian untuk menarik gerobak yang sekali terhenti karena bebatuan yang menghalangi putaran ban.


Tubuh Bastian yang bergetar hebat, seluruh tenaganya benar-benar telah ia keluarkan. Sekuat tenaga ia menarik gerobak itu sambil sesekali menoleh menatap Mamanya yang masih terbaring dalam gerobak.


Bastian menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah kiri kanan dimana kendaraan berlalu lalang melintas jalanan besar.


"Tolooong! Tolong Mama saya!!!"


"Tolong! Sepertinya Mama Bastian pingsan! Tubuhnya dingin! Tolong!!!" teriak Bastian saat ia melihat kendaraan yang berlalu lalang.


Entah mengapa semua orang seakan tidak ingin menolongnya. Entah mengapa pula orang-orang seakan terbuat dari batu hatinya itu hingga tak ada satupun orang yang menghentikan kendaraannya bahkan tak ada sedikitpun orang yang berniat untuk melihatnya dan menolongnya.


Entah mengapa semua orang seakan merasa membenci sosok Bastian, tak ada sedikitpun orang yang ingin atau berniat untuk menolongnya. Kedua air mata Bastian menetes namun, dengan cepat ia mengusapnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk menangis.


"Tolooong!!! Tolong bawa Mama ke rumah sakit!!!!"


"Tolong!!! Tolong Bastian!!! Mama sakit!!!" teriak Bastian lagi.


Piiiip!!!


Suara klakson terdengar nyaris menusuk gendang telinga. Bastian menoleh saat ia bisa mendengar suara yang nyaring melintasi jalan raya dan hampir saja tubuhnya itu terhampas ke jalan raya namun, beruntung pengemudi pemilik kendaraan bermobil mewah itu menghentikan mobilnya lalu dengan cepat ia kembali berteriak.


"Hei Nak! kenapa di jalanan?!!"


Rasanya suara itu tak asing lagi di pendengaran Bastian. Ia pernah mendengar suara itu tapi entah dimana hingga senyumnya merekah saat ia menatap sosok pria yang telah ia tolong tadi sore untuk menyelamatkan koper yang berisi uang merah itu dan pria yang sama yang telah memberikan barang-barang dan mempersilahkan Bastian untuk memilih apapun yang diinginkan di dalam supermarket itu.


"Pak! Pak Dewantoro!" ujarnya bahagia.


Bastian segera berlari meninggalkan gerobak dan menghampiri pria tua itu.


"Pak Dewantoro tolong saya! Tolong mama Bastian!"


"Ada apa?"

__ADS_1


"Mama saya kritis! Dia pingsan dan tidak mau bangun. Tubuhnya mendingin," aduh Bastian dengan wajah yang sangat panik serta bibirnya yang bergetar, ingin menangis.


__ADS_2