
Ternyata kadang kita merindukan hal-hal kecil yang telah berlalu.
-Permata Biru-
“Ta main ke sma yuk.”
“Ngapain?”
“Ya ke SMA aja siapa tahu ada yang seru.”
Mau tidak mau aku pun mengikuti Agla yang sudah bangkit terlebih dahulu. Sekarang ikut saja kemauan Agla mau kemana asal pulangnya di anterin.
Sampai di SMA ternyata memang eskul yang kami ikuti dulu sedang ada acara. Sekalian saja kami mampir kesana. Membantu apa yang perlu di bantu.
“Kami mau ada games nih kak.”
“Kira-kira kakak ada games seru gak?” tanya Kiki ketua Akhwat Rohis di sma ku.
“Bagaimana Kalau perang air.”
“Maksudnya?” tanya Kiki.
Yang lainnya diam ada yang antusias ada juga yang mendengarkan dengan seksama.
“Kita kumpulkan botol bekas yang di buang sembarangan oleh sisa. Kalian tahu kan kayak permainan boy boyan itu loh.”
“Bedanya ini pakai botol yang diisi air. Jadi kita perang air gitu. Tapi gak asyik kan kalau gak ada tantangannya. Jadi kita harus ngambil bendera yang ada di lawan gitu. Ada yang jadi penyerang juga penjaga. Jadi mainnya itu dua babak biar sama-sama dapat bendera. Siapa yang paling banyak itulah pemenangnya. Gimana?” usulku yang membuat mereka menjadi antusias.
"Wah boleh kak seru sepertinya.”
Kami pun memulai dengan grup ku yang mulai duluan. Awalnya aku tidak ingin ikutan tapi mereka malah memaksaku untuk ikut. Dengansangat terpaksa aku ikutan. Aku kebagian menjadi yang penjaga. Aku mulai was-wasa karena Agla juga ikutan. Dia menyeringai ke arahku. Dengan hati-hati aku mulai memasang senjataku di tangan.
“Serang.” Perintah Agla yang membuat kami saling menyerang dengan menyemprotkan air dalam botol.
Agla terus menyerangku bertubi-tubi berulangkali aku berusaha fokus dan menyelamatkan benderaku. Jangan sampai agla lolos mengambilnya. Dia hampir saja menyemprotkan air itu ke wajahku jika aku tidak segera jongkok untuk menunduk.
“Heh apa-apaan curang malah jongkok di bawah bendera.” Hardiknya.
“Gak ada peraturan yang mengharuskan terus berdiri kan.” Balasku membuatnya menyerangku lebih ganas.
“Aku tidak akan menyerah sebuah itu.” kataku lantang yang mmebuat timku menjadi semangat. Sampai air di botolnya habis dia tidak berhasil mengambil benderaku. Aku menatapnya dengan tatapan menhgejek.
“Akan aku balas ya.” Tangannya mengepal.
Babak kedua telah di mulai.
Aku mencoba menyerang Agla dengan sekuat tenaga juga taktik agar dia lengah, ketika dia lengah aku akan mencoba mengambil bendera itu. aku terus menyemprotkan air pada wajahnya, perutnya, juga telapak kakiknya yang hanya mamakai sandal.
Aku mengajak adik kelas untuk mencoba mengelabui Agla, kebetulan dia sudah menang bendera.
“Aku yang semprot dia dan kamu yang ambil benderanya ketika dia lengah oke.” Bisikku pada adik kelas itu. Mata Agla memicing memperhatikan kami yang sedang berbisik-bisik. Keburu dia curigia aku mengajak arni, adik kelas itu untuk segera bereksekusi.
“Agla.” Panggilku keras yang membuatnya menoleh ke arahku. Segera saja aku menyemprot wajahnya yang lengah. Aku memberi kode kepada arni untuk mengambil benderanya.
“Pritt.”
Permainan pun usai kami di suruh berkumpul di lapangan basket yang dijadikan tempat lomba semprot air tadi. Yang menjadi wasit menyuruh kami untuk mengumpulkan bendera yang telah kami ambil dari lawan.
“Tim merah jumlahnya ada 6 dan tim biru ada 8.” Ucap sang wasit yang tak lain ketua ikhwan aku tidak tahu siapa namanya.
Aku yang merasa tim biru seketika bersorak dan berkumpul dengan teman se tim ku. Yey akhirnya aku menang dan Agla kalah.
“Mereka curang tuh.” Tuduh Agla kepada tim ku.
Aku seketika saja menghampirinya. “Gak ya kita gak curang, kalau kalah ya kalah aja dong. Gak usah bilang kami curang.” Balasku.
“Sudah-sudah yang kalah sesuai peraturan harus menerima hukuman. Dan yang menang berhak memberikan hukuman kepada yang kalah.
“Tuh denger apa kata wasit ya.” Aku memperingati Agla.
Hukumannya di putuskan dnegan mereka menyanyi dan berjoget potong bebek angsa dengan vocal I dan o.
“Piting bibik ingsi, ingsi di kiwili nini minti dingsi dingsi impit kili siring kikiri siring kikinin lilili.”
“Hahahahahah.”
__ADS_1
Kami tertawa melihat aksi konyol kelompok agla yang bernyanyi dan berjoget. Ada yang benar da nada yang gak karuan.
“Satu lagi hukumannya dong.” Lantangku menantang Agla. Agla mendengus.
“Potong bobok ongso ongso do kowolo nono monto donso donso ompot kolo sorong kokoro sorong kokonon lolololo.”
Kami semua tepuk tangan dengan aski mereka. Mereka berani menerima hukuman.
***
“Hahahaha.”
Aku tidak berhenti tertawa mengingat aksi konyol agla tadi. Kami telah selesai dalam lomba dan sekarang kami di suruh untuk makan. Padahal kan aku tidak meminta. Mereka ini adik kelas yang baik selali bukan.
Kami mengantri untuk mengambil makanan. Seperti prasmanan di kondangan hanya saja makanannya tidak semewah di kondangan. Tapi, kehangatan juga kekeluargaan dapat aku rasakan disini.
“Sekarang sedang menjalankan program apa?” tanyaku pada adik kelas.
“Masih sama sih kak, proram kajian rutinan dan sebentar lagi aka nada demo untuk mos.”
Aku mengangguk-nganguuk tanda mengerti.
“Kalau ada yang tidak mengerti atau ada yang ingin di tanyakan silahkan saja jangan sungkan.”
“Juga kalau butuh bantuan jangan sungkan juga meminta.”
“Terima kasih banyak kak.”
Hanya dentingan sendok yang menjadi suara sekarang. Kami makan dengan tenang juga suasana sore kali ini yang cukup cerah menambahkan kesan kehangatan untuk kami.
“Kak, kalau untuk menarik minta anak baru agar bisa masuk ke organisasi ini bagaimana?”
Aku berpikir sejenak. “Yang kalian rencanakan untuk mos nanti apa saja?” aku malah balik bertanya.
“Masih sama dengan tahun sebelumnya, yaitu ada games, penampilan nasyid pemutaran documenter perkenalan organisasi, sambutan.”
Ide di kepalaku seakan berunculan. “Biasnaya kan pemutaran film yag merupakan penjelasan organisasi itu sedikit membosankan karena menampilkan slide-slide foto-foto, gimana kalau di ubah?” usulku.
“Iya sih kak itu sangat membosankan, tapi mau di rubah bagaimana.”
“Nah kan itu foto, coba kalau itu menjadi sebuah video keseruan kalian selama di organisasi ini siapa tahu dengan melihat keseruan itu bisa menjadi daya tarik tersendiri.”
“Begini kan tadi itu kita main games, kita bisa masukan video itu sebagai pengenalan kegiatan organisasi. Terus kalau aga kurban juga suka ada video kan, kalau ada pembinaan atau acara makrab nah it bisa di masukan. Terus kalau ikut lomba-lomba. Untuk awal video kalian bisa menjalaskannya dalam video. Misalnya kalian membuat video yang paling lama 1 menit lah. Kalian berkumpul lalu menunjukkan logo, tujuan Pembina atau hal lainnya mengenai inti organisasi yang ingin kaiian perkenalkan keoada peserta didik baru.”
“Iya iya bagus juga kak terima kasih sarannya nanti akan kami diskusikan.”
“Terus juga untuk nasyid daripada bosan itu-itu saja. Kenapa kalian gak buat satu lagu yang lagi popular tetapi liriknya kalian ubah dengan yang mengandung unsur islami. Dengan begitu kan bisa jadi daya tarik anak baru.”
“Untuk vedio kalian juga harus pastikan kalau speaker nya bisa terdengar untuk seaula kalau tidak kalian harus menyiapkan cara cadangannya yaitu ada tutor untuk menjelaskannya.”
“Wah terima kasih banyak ya kaka atas sarannya.”
“Sama-sama.”
“Begini kak untuk mading sendiri sering di corat coret untuk anak-anak kita harus bagaimana ya.”
“Tulisan-tulisan madding itu kan buah pikiran yang berguna untuk mengajak kepada kebaikan, jika memang mereka tidak suka kalian bisa buat kotak saran di pojok madding kalau memang masih ada yang mengganggu kalian bisa melapor kepada pemnbina.”
“Jangan sungkan untuk berkomunikasi dengan Pembina selama Pembina tidak sibuk dan kita tidak mengagnggu waktunya ada baiknya jika mencoba meminta saran pada Pembina.”
Mereka semua mengangguk semoga saja apa yang aku sampaikan bisa mereka terima baiknya, salahnya bis amereka perbaiki dan jangan di tiru.
“Ta pulang yuk.” Agla memanggilku.
“Huh kamu habis makan langsung pulang.”
Adik kelasku yang laki-laki atau ikhwan menertawakan Agla akbat ucapanku. Agla jadi memberengut malu dan menatapku galak. Tatapan seolah berkata aws kamu ya ta. Gak takut balasku.
Aku mengikuti adik kelas yang tengah membereskan piring sebagai alas makan. aku mencoba membantu mereka yang langsung di tolak mereka. Malu lah kalau Cuma numpang makan saja. Dengn terpaksa aku akhirnya duduk kembali di tempat tadi dan mencoba mengajak mengobrol anak-anak perempuan.
“Kalau kajian masih rame?” tanyaku.
“Ya gitu kak, kadang banyak kadang enggak.”
“Iya padahal udah kami ajak tapi ya gitu.”
__ADS_1
“Sabar mungkin ini ujian buat kalian. Setiap organisasi juga pasti begitu kok. Awal-awal banyak akhirnya ya sedikit.”
“Mungkin itu yang dinamakan seleksi alam, menghilang dengan sendirinya. Yang masih menetap itulah yang benar-benar hebat, tetap teguh pendirian.”
“Suatu saat kalian akan merindukan masa-masa itu ko. Makanya nikmatin saja selama kalian masih di beri kesempatan.”
“Baik kak.”
Rasanya aku ingin tertawa saja karena memberi nasihat sudah seperti seorang motivator saja. Agla kembali mengkode ku untuk pamitan.
“Sepertinya sudah sore, terimakasi banyak ya untuk hari ini. Semoga kajiannya makin rame dan demo nanti sukses. Boleh minta kontak yang bisa di hubungi.” Aku menyalin nomor ketua akhwat.
“Sekali terima kasih banyak untuk jamuannya."
“Iya kak kami juga berterima kasih banyak karena mau mampir dan memberi saran.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku melambaikan tangan ke arah mereka. Aku berdiri sebentar memperhatikan mereka. Dulu, aku sama seperti mereka, menjadi adik kelas, senior dan sekarang alumini yang kini merindukan masa-masa itu, sangat merindukannya. Waktu berlalu sangat cepat ternyata.
“Ta ayo.” Sebelum Agla menyeretku aku menyudahi nostalgia mengingat masa lalu itu.
“Ta.”
“Hmm.” Angina sore bertiup menerbangkan kerudung yang sekarang tidak memakai helm.
“Jadi kangen SMA.” Ucap agla yang membuatku kembali terdiam.
Aku masih ingat saat pertama kali aku mengikuti organisasi itu karena aku terpaksa dan gengsi ikut-ikutan teman sebangku yang akhirnya malah sampai tamat sma aku ikut organisasi itu. berbeda sekali dengan beberapa temanku yang semangat di awal dan malah ngilang lama-kelamaan.
Aku sangat amat mengingat jika dulu ingin memiliki pacar kakak kelas dan membuat sebuah kenangan indah di sma. Semua itu di patahkan karena aku ikut organiasi keagamaan yang membuatku berpikir banyak mengenai keinginanku punya pacar kakak kelas. Karena nyatanya semenjak ikut kajian aku jadi tidak mau berpacaran.
Berbeda dengan sekarang yang entah eknapa rasanya sangat ingin sekali pacaran. Aku tidka mengerti rasa ingin itu di sebabkan oleh apa. Tuntutan atau keadaan. Aku menatap punggung agla yang sedang menyetir.
Seseornag yang selalu menjadikanku tempat curhatnya, dan aku juga begitu. Meski kini kami terpisah jarak hubungan perteman kami tidak putus.
Aku masih ingat dia yang memberikanku pencerahan untuk mempunyai mimpi menjadi seornag psikolog. Dia juga yang membuatku terjebak dalam hubungan ang bernama friendzone dulu, aku sempat menyukainya dulu. Tapi dia akhirnya berpacaran dengan intan temanku satu organiasi. Sudhalah memang bukan jodohnya.
“Ta rumahmu masih yang disana kan?”
“Yaiyalah dimana lagi emang., kecuali kalua aku membeli rumah sendiri baru deh pindah alamat rumahku.”
“Amiin.”
Amiin jawabku dalam hati. Agla ini selalu mencairkan suasan ketika aku sedang sedih. Dia paling suka menjahiliku. Entah kenapa. Pada saat orang lain tidak pernah meminta bantuan ku di organisasi dia malah meminta bantuan padaku.
“Agla gak ada oleh-oleh nih buatku.”
“Gak ada, oleh-oleh terus pikiranmu.”
“Harusnya Permata yang kasih oleh-oleh untuk Agla." sahutnya.
“Gak ada kan kuliahnya libur maubeli oleh-oleh diimana."
“Oh iya ya.”
Kami sampai di depan rumahku dengan selamat. Aku turun dari motor Agla. “Mau mampir dulu gak?”
Agla melihat jam yang melingkar di tangannya. "Gak usah deh sudah sore nih mau packing lagi soalnya besok sudah harus berangkat lagi nih.”
“Cepet amat.”
“Liburnya juga cuman sehari.”
“Iya deh yang anak rantau kangen ortu makasain pulang.”
Agla tertawa, “Terserah deh makasih ya bantuannnya nanti kalau butuh lagi minta tolong lo lagi.”
“Dasar ada maunya ja dari dulu baru nyamperin.”
“Yaudah gue pulang dulu ya, salam buat ortu assalamulaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati."
__ADS_1
Aku masuk ke dalam rumah pikiran menerawang mengenai kejadian tadi.
Bertemu Agla, menjadi pacar pura-puranya. Aku menepuk jidat sampai kapan aku harus berpura-pura menjadi pacarnya kalau wanita itu masih mengganggu Agla. Dasar permata Ceroboh seklai luoa menanyakan hal itu tadi padanya.