
Aku bahagia, bisa menjalani satu hari bersamamu. Menjadi diriku sendiri tanpa perlu memakai topeng.
-Permata Biru-
Sesuai dengan kesepakatan, kami—aku dan Agla—bertemu di car free day saja. Aku sih oke-oke saja, tapi kalau tidak bertemu bagaimana. Aduh Permata sekarang ini bukan zaman pra sejarah kali, yang perlu ketemu untuk komunikasi. Terus gunanya ponsel untuk apa kalau tidka di ciptakan. Sebelum di hentikan sepertinya aku akan terus berdebat dengan pikiranku sendiri.
Agla :Sudah Berangkat?
Me :Otw
Daripada berdebat dengan pikiran sendiri lebih baik segera berangkat bukan? Sebelum pergi aku menyempat diri meneliti barang-barang yang perlu di beli atau tidak.
Semenjak kuliah aku jadi mengenal berbagai macam skincare, tapi hanya sekadar pelembab atau serum saja tidak yang banyak-banyak karena aku adalah tipe orang pemalas. Sekalinya beli heboh sekali, besoknya kalau tidak ada minat lupa deh.
“Ma, Permata mau berangkat dulu, Asslamualaikum.“
“Waalaikumsalam, jangan lama-lama.” Aku berdecak malas, selalu saja begitu kalau mau berpergian itu.
“Mau nitip gak?”ama yang menggeleng aku yang tersenyum gembira.
“Daahh ma.”
Aku memasang headseat sebagai teman dalam perjalanan lari ku. Jarak dari rumah ke cfd bisa di bilang jauh, bisa juga tidak standar lah. Tetap saja kalau lari, ya capek apalagi sudah beberapa minggu ini gak lari.
Lagu anji menunggu kamu membuat perjalanan yang senang ini jadi mellow, tapi aku tetap menikmatinya. Apalagi aku semalam nonton web series yang, bikin berurai air mata. Mungkin aku saja kali yang baperan.
“Permata.” Ada seseorang yang sepertinya memanggilku, saat menoleh ke belakang hanya ada sekumpulan ibu-ibu yang memakai seragam senam. Hanya sekadar halusinasi, mungkin.
Kurang lebih setengah jam aku sampai di cfd. Sepertinya harus cari tempat duduk dulu ini, buat istirahatkan kaki. “Bu minumnya satu ya.” Aku membeli air mineral terlebih dahulu.
“Ahhh.” Leganya setelah minum air, seolah mendapatkan kesegaran bak di sedang di gurun.
Ting tong
Agla menelponku, segera saja aku simpan air mineral di pinggir trotoar.
“Hallo ta, dimana?” teriak Agla di sebrang sana, sepertinya dia berada di keramain. Suaranya berisik sekali.
“Kamu dimana?” tanyaku balik dengan suara tak kalah kencang darinya.
“Dekat dengan ibu-ibu yang senam nih.” Pantas saja suaranya bising.
“Aku di dekat perempatan nih, ngadem dulu di trotoar.”
“Yaudah aku kesana deh.”
Sembari menunggu Agla, aku memotret apapun sesuka hati, hanya saja bukan diriku yang menjadi objeknya. Foto kaki yang memakai sepatu olahraga itu aku jadikan status wa dengan caption ‘olahraga pagi di hari minggu’, karena mood ku sedang bagus aku menambahkan emot senyum di akhir kalimat.
“Woy ta, serius amat.” Tepukan di bahu yang membuatku kaget itu hampir saja menjatuhkan ponselku.
Aku berbalik menatap Agla dengan marah, “bisa gak sih gak usah ngagetin.”
Agla hanya cengengesan, “maaf, lagian tuh hp gak jatoh juga.”
“Ya kalau jatoh bagaimana!” marahku padanya.
Agla mengajakku bangkit, “udah deh sebagai permintaan maafnya traktir kupat tahu.”
Belum sempat aku menyetujuinya, dia sudah menyeretku saja. “Aku belum bilang iya Agla!”
“Nanti lagi marahnya, aku lapar nih.” Ucapnya santai. Mau tak mau aku mengikutinya, berontak pun percuma tenaga dia jauh lebih besar daripada aku.
Kami memasuki salah satu stand kupat tahu yang berjejeran di sepanjang jalan. Aku risi saat para pengunjung menatap kami berdua, duh Agla kenapa pula milih stand yang ramai sih, kesalku. Apalagi saat Agla memilih duduk di tempat, di depan tempat duduk kami ada sepasang kekasih yang sepertinya sedang kasmaran.
Aku menarik-narik jaket yang Agla kenakan, “Gla pindah yuk.” Ajakku padanya yang fokus kepada ponsel, kadang aku bingung dengan dia yang punya banyak fans tapi maish belum move on dari mantannya.
Dia menaruh ponselnya di meja. “Apaan sih.”
Badannya kini menghadap ke arahku, “tau gak kalau kupat tahu ini tuh yang paling enak.” Aku menggeleng.
Dia berdecak, “ish ta, gue pesenin nih ya, yang kayak biasa kan.” Aku mengangguk. Agla bangkit dan mulai pesan ke depan. Tadi kami memilih duduk terlebih dahulu karena sedang mengantri di depan.
“Ta, lo tau gak gue ngajak kesini mau ngapain?” tanya Agla saat sudah kembali ke tempat duduknya. Aku menggeleng. Selain tidak tahu aku memang tidak mau membahas itu sekarang.
“Itu karena-“ ucapan Agla terpotong oleh bunyi ponselku. Aku meliriknya, ngapain sih Pandu nelpon pagi-pagi.
“Aku mau ngucapin makasih karena bantuan kamu waktu itu perempuan itu gak gangguin aku lagi. Bahkan nih dari kabar yang aku denger, dia lagi ngedekatin kating. Bagus kan infonya.”
“Iya bagus.” Komentarku yang masih melirik ponsel karena kedip layar yang menampilkan pesan dari Pandu terus-menerus.
Agla melihat apa yang sedang ku perhatikan, “lihat apa sih?”
__ADS_1
“Gak kok bukan apa-apa, gimana tadi. Jadi cewek itu gak gangguin lagi?”
Agla menggebrak bangku yang membuat para pengunjung sedikit terkejut. Sontak saja aku langsung memukulnya. Kini kami menjadi pusat perhatian pengunjung stand kupat tahu. Gak banget memang Agla ini.
Agla melirik sekali lagi ponselku yang menampilkan adanya pesan baru. “Siapa ta?” mungkin dia heran, tumben sekali aku di terror pesan seperti ini.
Aku mematikan layar ponsel. “Orang aneh.” Jawabku acuh yang kini fokus kepada kupat tahu yang telrihat menggoda.
“Tumben amat sini liat.” Agla sepertinya maish penasaran dengan orang yang mengirimiku pesan.
Aku memberikan ponsel kepada Agla. Dia terlihat membacanya, selanjutnya aku tidak peduli dengan apa yang di lakukannya, sibuk dengan kupat tahu yang memang enak ini. paling suka dengan bumbu kacangnya, rasanya pas dan tidak berlebihan. Porsinya juga pas, tidak sedikit juga tidak banyak. Biasanya aku selalu komentar kalau rasa dan harganya tidak sesuai, tapi ini worth it sih kalau rasanya seenak ini.
Agla terlihat mengotak-ngatik ponselku, “di balas?”
Dia masih serius. “Hem.”
Air the hangat yang masuk ke tenggorokanku terasa sedap sekali. “Jangan anaeh-aneh deh.” Peringatku pada Agla yang masih asyik dengan ponselku.
Tanpa menoleh sedikitpun dia menjawabnya, “liat aja nanti deh.” Aku mengangguk, biarkan saja lah dia. Lebih baik aku makan kupat tahu lagi, mumpung lagi gratis.
“Dimakan dulu deh kupatnya keburu dingin.” Sepertinya Agla menurut karena ponselku di simpan di meja.
“Pandu siapa?” aku menoleh kepada Agla yang tengah memakan kupatnya.
Untung saja aku tidak tersedak, tapi tetap saja aku minum dulu sebelum menjawabnya, tenggorokkanku terasa kering. “Temen di tempat kursus.”
“Deket?”
Aku mengernyitkan dahi, kenapa dia bertanya begitu. “Gak juga, kenapa?” tanyaku sambil meminta Agla untuk mengambil kerupuk di dekatnya.
Agla masih asyik mengaduk makanannya. “Dia chat kamu terus.”
“Gak usah di balas.” Sahutku datar. Sedetik kemudian aku tersadar dan menatap Agla lekat-lekat, “kamu balas apa tadi?” tanyaku penasaran sekaligus panic, jangan-jangan Agla membalas yang tidak-tidak lagi.
“Cek aja sendiri.” Buru-buru aku mengambil ponsel dan terlihatlah beberapa pesan yang di kirim Pandu dan juga Agla, benar kan Agla membalasnya. Aku menyimpan ponsel di meja lagi.
Agla menatapku heran, “kenapa gak di baca?”
“Gak ah, males nanti lagi. Chat nya panjang banget, pantes aja kamu lama tadi.”
Tidak ada lagi percakpan di antara kami, sama-sama sibuk dengan makanan. Sebenarnya aku tidak sibuk dengan makanan kali ini, pikiranku memikirkan bagaimana reaksi Pandu ketika pesannya di balas. Juga apa yang Agla pikirkan mengenai chat Pandu yang mirip marathon itu.
“Ta.” Panggil Agla.
Agla berbalik dan menggerakkan bahuku untuk mengahadap kearahnya. “Hati hati ya ta.” Aku seolah terhipnotis oleh mimic wajah tegas Agla.
Seketika paru-paruku sulit bernapas, seakan oksigen di sekitarku mneipis. “Kenapa?” cicitku.
Bukannya menjawab Agla menatapku lekat, manik mata Agla seolah menembus tubuhku. “Gak mau aja liat seorang Permata nangis nangis gara gara cowok.”
Agla terlihat khawatir sekali, ah masa sih. “Ohh gak usah khawatir kok tenang.” Ucapku berusaha untuk terlihat biasa saja, padahal jantung ini terasa loncat-loncat.
Agla melepaskanku, kembali menatap makannya dengan tatapan yang entahlah tidak bisa diartikan. “Kabarin kalau ada apa apa.”
Aku mengangguk mengerti. “Udah ah gak usah bahas dia.” Bosan dengan topik it uterus-terusan.
Kami sama-sama sibuk kembali dengan keheningan sampai makanannya tandas. Agla membayar terlebih dahulu, lalu mengajakku keluar stand. Katanya dia ingin berjalan-jalan sebentar di cfd ini. Terserah dia saja deh aku ikut aja sekalian lihat-lihat semoga ada barang aku butuhkan disini.
***
Kami berjalan beriringan. Agla di sisi kiriku anya menatap lurus ke depan, berbeda dengan mataku yang jelalatan kesana-kemari, memperhatikan orang-orang yang sibuk belanja, para pedagang yang melayani pembeli, para pedagang yang menawarkan barangnya dengan giat sampai pembeli mau dan terjadilah transaksi menguntungkan kedua belah pihak, sampai anak kecil yang merengek meminta di belikan sesuatu kepada ibunya.
“Gla.” Panggilku padanya yang sellau bersikap cool di tempat ramai. Kalau mantannya lihat ini mungkin dia kira Agla ini sudah move on, padahal aslinya jangankan move on ada cewek deketin aja minta di jauhin.
“Kenapa ta?”
“Aku mau cerita nih.”
“Cerita apa?”
“Mama nyuruh aku lagi.” Air mata di pelupuk mata mulai menunjukkan batang hidungnya.
“Nyuruh apaan sekarang?!” aku terlonjak kaget dengan nada marah Agla.
“Ikut cpns.”
Agla berdecak. “Dibilangin sih batu banget, apa susahnya si kalau bilang gak mau, kan tinggal bilang gak usah pakai drama begini.”
Aku jadi frustasi. “Gak semudah itu Agla.”
“Kamu gak mau mencoba.”
__ADS_1
“Ish ya bukannya di bela malah di marahin nyesel deh curhat sama kamu.” Aku jadi ikutan kesal karena yang aku butuhkan sekarang, dia mendengarkan saja, sudah cukup.
“Ya udah gak usah curhat.” Err orang satu ini kalau bukan temen ya, sudha ku bejek-bejek daritadi.
“Ya gimana gak ada temen lagi yang bisa di ajak curhat.” Benar, selain Angka yang bisa diajak ngobrol serius aku tidak punya teman lagi.
Agla menghentikan langkahnya. “Geng lima sekawan tau?”
Kepalaku menggeleng-geleng. “Gak tahu.” bahuku merosot berkata seperti itu.
Tuk
Agla malah menjitak kepalaku, “makanya kalau ada apa-apa itu bilang, jangan di pendem sendiri.”
“Kamu itu suka banget sih mendem sesuatu sendirian, gak capek apa? Lagipula nanti kalau sakit kan bukan orang lain yang ngerasain, makanya ke depannya cerita aja sama teman-teman siapa aja kek, jangan terllau tertutup gitu lah.” Naishat nya seperti seorang dokter pada pasiennya saja.
“Baik dokter Agla.” Dia menjitak kepalaku yang tertutup kerudung itu sekali lagi, aku lari meninggalkannya sendirian.
“Woy ta jangan lari.” Teriak Agla, aku menjulurkan lidah padanya. Siapa suruh dia rese.
Aku terus saja berlari, sedikit susah memang karena berada di tengah keramaian, beberapa kali menabrak orang. Lelah dan tidak memungkinkan lagi berlari karena sudah berada di ujung jalan cfd, aku berhenti sejenak.
Agla menghampiriku yang sedang mengatur napas, dia juga terlihat ngos-ngosan. “Udah ah jangan lari-lari lagi capek ngejarnya.”
“Siapa suruh ngejar sih.”
Agla mendengus, “tau gitu gak di kejar tadi.”
Agla duduk di sebelahku, menatap kerumunan yang penuh dengan manusia itu.
“Ngapain ngajak lari dan sarapan bareng?”
Bukannya menjawab Agla malah kembali menjitak kepalaku, “makanya kalau orang ngomong tuh di dengerin.”
“Kapan? Gak inget tuh, lagipula jangan jitak lagi sakit tau.” Aku mencebikkan bibir dengan kesal.
Agla mengusap kepalaku, lebih tepatnya mengacak-ngacak kerudungku. “Di ingat ya Permata, perempuan itu gak gangguin lagi, jadi sebagai rasa terima kasih aku traktir deh.”
Mendengar kata traktir mataku berbinar cerah. “Asyik!! Beli barang boleh?”
“Asal jangan mau ngeborong.” Candanya yang mmebuatku ikutan terkekeh.
“Mau beli apa emang?”
Aku berjalan mendahului Agla. “Udah ikut aja.”
“Begini nih kalau ngajak main anak kecil, berasa mau di ajak jalan ke luar negeri aja ckck. Memang ya masa kecil kurang bahagia itu seperti ini.” gumam Agla yang masih bisa ku dengar.
“Aku denger ya.” Agla pura-pura tidak melihatku, ish dasar ya.
Agla itu memang menyenangkan dan menyebalkan di waktu yang bersamaan. Untuk mengalihkan kekesalan, aku memilih melihat-lihat stand yang ada di cfd. Ada banyak sekali stand makanan, mulai dari makanan berat seperti kupat tau atau bubur ayam, sampai cemilan ringan seperti keripik.
Mau beli apa dulu ya? Melihat banyak orang yang mengerubungi satu stand, aku berniat mengahampiri stand tersebut. “Aku mau belu itu.” ucapku pada Agla, menunjuk satu stand yang banyak pengunjung itu, walau sebenarnya aku tidak tahu apa yang mereka beli dari sana.
“Ayo,” ajak Agla.
Saat sudah mendekati kerubungan itu, barulah kami tahu bahwa itu stand sosis bakar. Agla sempat memintaku untuk pulang saja karena penuh, tentu saja aku tidak mau. Lebih baik menunggu karena sudah sampai sini, panas-panasan dan berdesakan, masa mau menyerah begitu saja sih.
“Pak, sosis bakarnya dua.” Aku tersenyum manis mendengar Agla yang memesan di depan pemanggangan.
“Di tunggu ya a.” aku mengangguk antusias, sedangkan Agla hanya cemberut dan menampilkan raut tidak bersahabat.
Lima belas menit kemudian sosis bakar yang kami pesan datang. Agla buru-buru menarikku keluar dari kerumunan saat sudah selesai membayarnya. Dia terlihat risi, apalagi melihat banyak perempuan yang menatapnya.
“Permata permata.”
Seseorang seperti memanggilku lagi dari belakang. Aku berhenti berjalan, menarik-narik jaket yang di kenakan Agla untuk berhenti sejenak. Menoleh ke kanan-kiri, hanya orang-orang yang tidka ku kenal.
“Gla, denger gak kayak ada yang manggil aku gitu.” Ucapku yang masih mencair asal suara, tapi tidak ketemu.
Agla malah memperhatikan gerak-gerikku yang mencair sesuatu. “Hah mana ada. Gak mungkin, kamu kan bukan artis yang punya fans.” Ucap Agla yang tertawa dan menggeleng tidak percaya.
Aku menghentakkan kaki dengan kesal. “Ish Agla serius.”
Agla menarik bahuku untuk menghadap ke depan lagi. “Udah aku juga serius, jalan lagi yuk keburu panas nih.” Sepertinya memang benar ucapan Agla, dia juga terlihat mengusap keringat didahinya.
“Mau kemana lagi memang?”
“Enaknya kemana?”
“Makan es krim yuk.”
__ADS_1
Aku menarik tangan Agla untuk menuju ke salah satu stand es krim favoritku. Kali ini Agla tidak protes atau melakukan pemberontakkan, baguslah.