Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Pasangan


__ADS_3

Cukup menjadi diri sendiri saja sekarang perihal pasangan biar tuhan yang tentukan. Bukankah hati itu tidak pernah ada yang tahu, begitupula dengan takdir.


-Permata Biru-


Sesampainya di rumah Joy, aku memilih untuk duduk di teras karena memang sedikit gerah. Joy masuk ke rumahnya untuk mengambil berkas dna mungkin menghampiri tamunya yang sudah menunggu itu. Aku sendiri tidak mau tahu urusan Joy dengan sepupu atau rekan kerjanya itu.


Demi mengatasi kebosanan aku membuka-buka akun sosial media ku. Ada sebuah pesan masuk dari Agla yang mengingatkanku untuk tidak lupa mengenai rencana minggu depan. Aku tidak lupa kok hanya saja sedikit tidak antusias entah karena apa.


Ternyata mengisi kebosanan dengan membuka media sosial malah menambah kebosananku. Akhirnya aku membuka sebuah perpustakaan online. Melanjutkan membaca novel yang sempat tertunda selama beberapa hari itu. Saking asyiknya membaca aku tidak sadar bahwa ada dua orang yang sedang memperhatikan kegiatan membaca dan berkhayalku.


“Hoy ta.” Panggil Joy dari yang sudah berdiri di depan gerbang rumahnya.


Aku jadi berpikir segitu fokusnya membaca sampai tidak sadar urusan Joy dan sepupunya sudah selesai. Aku mendongak untuk melihat sepupu Joy yang terhalang helm. Dia membuka kaca helm nya dan tersenyum ke arahku. Walau tidak terlalu terlihat dengan jelas bagaimana wajahnya, aku balas tersenyum ke arahnya.


Mereka terlihat berbincang sebentar, aku tidak perduli toh bukan urusanku. Sepupu Joy melambaikan tangan kepada aku dan Joy yang di balas lambaian tangan oleh Joy. Sedangkan aku kembali asik menekuni aksi membaca ku.


“Asik bener nih kayaknya.” Ucap Joy dan duduk di sebelahku.


“Hehe iya nih tanggung.”


“Udah beres?”


Joy hanya mengangguk dan melihat aku dengan tatapan yang entahlah aku juga tidak bisa mengerti arti tatapannya itu.


“Kok bisa ya.” Ujar Joy lirih. Aku tidak terlalu mendengar dengan jelas karena sedang membereskan barangku.


“Hah apa Joy.”


“Eh bukan apa-apa kok.” Joy berdiri kemudian menutup pintu rumahnya.


“Ayo katanya mau pulang.” Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.


***


Senin pagi yang selalu menyebalkan karena harus kembali ke rutinitas. Ayo bangun jangan tidur lagi, kamu harus kursus. Selepas pulang dari rumah Joy kemarin, aku langsung tepar di kasur. Malamnya tidak bisa tidur, akhirnya jadi menonton drama korea sampai jam 1 subuh. Bangun-bangun untuk sholat dan kembali tidur setelah itu. Kembali bangun pukul tujuh untuk bersiap ke tempat kursus.


Dengan tidak semangat aku memasuki tempat kursus kali ini. Rasanya kantuk terus menyerangku selama belajar kursus hari ini. Sebelum Ibu Nining menegur, aku berusaha untuk konsentrasi dan terlihat serius belajar. Walau hasilnya memang tetap gagal total sih.


“Permata sudah beres belum?” bukan pertanyaannya yang membuatku sedikit gugup, tetapi suaranya yang menggelegar memenuhi ruangan kursus yang membuatku menjadi gugup dan gagap sekaligus.


“Be lum bu.”


“Sini coba lihat.”


Aku maju ke depan dengan kikuk. Dengan tangan gemetar memberikan hasil karya belajarku kepadanya. Aduh kok berasa sidang skripsi begini walau belum pernah sih. Semoga saja segera cepat. Eh kok bahas sidang skripsi sih.


“Emm ini kenapa masih tidak lurus saja sih?”


Aku menggaruk belakang kepalaku yang tertutup kerudung dengan bingung. Jangankan ibu aku saja tidak tahu kenapa tidak lurus. “Hehe tidak tahu bu.”


“Sini ayo coba ibu tunjukkin biar besok bisa ganti materi.”


Aku mengikuti Ibu Nining yang duduk di meja mesinku. Bu Nining menyalakan mesinnya dan mulai mempersiapkan beberapa lembar kain.


“Lihat dan perhatikan dengan baik Permata.” Aku mengangguk patuh, titahnya seperti ultimatum.


“Kalau mau lurus itu, simpan kain pakaiannya terlebih dahulu. Lalu, perhatikan cowaknya. Setelah itu simpan kain kerah sejajar dengan cowak pakainya. Ambil gas pelan-pelan. Kalau ingin lurus, tarik kerah sampai ujungnya menyatu kemudian gas pelan-pelan. Setelah sampai pada cowaknya tarik sampai ujung, lalu gas kembali."


Aku ngangguk-ngangguk seperti boneka kucing yang ada di toko mainan. Mungkin memang aku salah caranya sehingga tidak sejajar tadi. Setelah mendnegarkan penjelasan dan melihat langsung praktek ibu Nining aku menjadi tercerahkan.


“Sekarang kamu coba.”


“Baik bu.”


Aku melakukan sesuai intruksi dan contoh ibu Nining tadi, tapi tetap saja masih sedikit kesusahan.


“Nih kalau sudah sampai cowak itu rapikan kembali. Coba angkat dulu sepatunya.”


Ibu Nining kembali menginterupsiku dan mengajarkanku. Aku menuruti perintahnya dan kembali melanjutkannya. Selesai, hasilnya lebih baik dari yang aku serahkan ke Ibu Nining tadi.


Ternyata memang benar. Bukan aku yang tidak bisa, hanya saja aku belum tahu caranya. Mungkin jika aku tidak menyetorkan terlebih dahulu kepada ibu Nining sampai kapanpun aku tidak akan bisa. Terima kasih banyak Bu Nining atas ilmunya.


Hari ini aku bisa menyelesaikan tugasku dengan baik. Walau tidak mendapatkan pujian tetapi Bu Nining terlihat puas akan karyaku kali ini. Yuhu bisa naik tingkat belajarnya.


***


Hay Ta


Aku mengerutkan kening tat kala melihat pesan dari Joy. Ada angina apa siang-siang begini dia kirim pesan padaku. Joy itu memang tidak bisa di tebak ya.


Iya Joy


Sibuk ta?

__ADS_1


Ah gak juga baru pulang kok


Darimana? Bukannya libur


Itu tadi abis kursus Joy. Sekarang aku ikut kursus menjahit di dekat rumah.


Ohh ganggu gak nih?


Apaan sih nih Joy suka tiba-tiba biin deg-degan deh?


Ada apa nih


Aku malah balik bertanya karena memang bingung. Di satu sisi lelah sehabis belajar kursus tapi di sisi lain penasaran dengan sifat aneh Joy.


Cuma mau tanya kok


Oh tanya aja


Telpon ya ta


Tak lama nada dering telepon masuk mengalun indah. Aku buru-buru mengangkatnya seraya duduk tegak. Tiba-tiba kerongkonganku sedikit haus.


“Ta gak sibuk nih?”


“Gak kok Joy.”


Aku membasahi kerongkongan dengan air dingin.


“Aku mau tanya sesuatu tentang kamu boleh?”


“Tanya apa dulu nih Joy.”


“Kalau kriteria laki-laki idaman kamu bagaimana ta?”


Uhuk uhuk


Aku tersedak air minum dingin yang kini terasa panas dan kebas di tenggorokan. Seperti Joy kejedut sesuatu ya, kok bisa-bisa nya bertanya hal aneh seperti itu.


“Bisa ulangi Joy pertanyaannya?” aku harap-harap cemas karena takut salah dengar tadi.


“Aku mau tau kriteria calon idaman suami kamu?”


“Jelas.”


“Ta kok malah diem sih.” Suara Joy mengembalikan kesadaranku.


“Kok nanya itu sih.”


“Ta bisa gak sih kalau di tanya itu langsung jawab tidak usah balik tanya.” Kok jadi Joy yang kesal sih.


“Oke oke sebentar Joy aku mikir dulu nih. Pertanyaan kamu itu dikit tapi berat.”


“Hmm.”


“Eh ngomong-ngomong kamu gak sibuk Joy.”


“Gak ta off har ini.” Sepertinya Joy beneran kesal nadanya terlihat tidak ramah.


“Baik Joy, kriterianya itu gimana ya Joy gak muluk-muluk sih.”


“Yang baik, sayang keluarga, seiman, mampu membawaku ke jalan yang lebih baik gitu sih Joy.”


Tidak ada balasan dari Joy membuatku kembali berpikir tentang yang aku ucapkan barusan. Apa benar begitu kriteriaku untuk calon suami nanti.


“Yang penting sih sayang sama aku Joy.”


“Berarti kalau dia jelek, gak punya apa-apa, pengangguran kamu mau asal dia sayang sama kamu.”


Giliran aku yang kesal sekarang. “Ish Joy ya gak gitu juga kali.”


“Hemm iya deh iya.”


“Kok tumben sih tanya begituan.”


“Kenapa ada masalah?”


“Ya tidak sih, tapi aneh aja.”


“Terus kalau yang tanya begitu Adrian tidak aneh.”


“Ish Joy.”


“Oh iya ta laki-laki yang kemarin nyapa kamu di kondangan siapa?”

__ADS_1


Aku kira mereka sudah lupa dengannya, ternyata tidak. Aku akhirnya menjelaskan siapa laki-laki itu secara rinci kepada Joy. Untung saja Joy tidak sekepo Adrian dan tidak seember bocor Adrian juga jadi aku bisa bernafas lega. Selesai dengan telepon Joy aku mendapat pesan dari Angka.


Angka laki-laki yang aku kenal dari komunitas psikologi. Dalam beberapa hari ini aku sering terlibat berbalas pesan dengannya. Dia itu kuliahnya satu tingkat di bawahku, tetapi mungkin karena kecintaannya kepada psikologi membuatnya terlihat lebih pintar daripada aku. Yang ngaku suka psikologi tetapi tidak pernah mau meperlajarinya.


Angka pernah bilang padaku perihal iri yang aku rasakan waktu itu. Katanya semua manusia itu di ciptakan dengan sempurna, maka jangan pernah berendah diri.


Waktu itu aku sempat berpikir bahwa aku memang tidak mampu. Aku mendoktrin diriku bahwa aku tidak lebih baik daripada Puteri. Aku tidak pernah berpikir ulang mengenai kelebihanku dan hanya memikirkan kelemahanku saja yang membuatku merasa kecil. Padahal Angka bilang bahwa semua manusia itu sama di hadapan Tuhan, kecuali mengenai keimanan seseorang.


Maka mulai hari itu aku tidak mau merendahkan diriku sendiri, bukankah jika aku tidak menghargai diriku orang lain pun akan beranggapan sama.


Hai ta sudah bisa menghargai diri sendiri?


Ah iya sudah lumayan baik Angka


Sebenarnya apa yang membuatmu merasa rendah diri


Ah tidak hanya iri kepada teman saja yang di kerubungi banyak cowok


Hah? Jadi kamu iri karena demikian


Hahahah ta, ta asal kamu tahu ya ta secant-cantik nya perempuan laki-laki itu akan tetap memilih perempuan baik-baik untuk dijadikan istrinya.


Benarkah begitu? Tanyaku dalam hati. Rina yang menikah dengan kakak kelas most wanted sudah menjadi buktinya bukan. Tetapi rasnaya masih kurnag percaya saja.


Yang namanya laki-laki itu memang selalu terkesan dnegan permpuan cantik dan bisa di bilang gelap mata. Tetapi tetap saja untuk urusan pendamping menginginkan yang terbaik.


Jadi begitu ya aku baru tahu hehe


Iya perihal jodoh kita kan tidak pernah tahu, hanya saja kita bisa memilihnya bukan karena jodoh untuk masa depan kita


Kucinya adalah yakinlah kalau suatu saat nanti kamu akan mendapatkan seseorang yang memang layak untuk bersanding denganmu. Kamu juga harus yakin bahwa dia memang jodoh terbaik yang di pilihkan Tuhan untukmu


Jika sudah begitu kenapa harus merisaukan urusan jodoh atau pasangan Bukan?


Aku jadi memikirkan kata-kata teh Sabila tadi


Flashback


“Teh menurut teteh wajar gak sih kalau di usia yang masuk 20 an belum punya pacar ?”


“Wajar lah emang ad ayang mengharuskan usia segitu punya pacar?”


“Ya tidak sih, Cuma rasanya aneh saja.”


“Aneh gimana?”


“Saat teman-temanku sudah pada punya gandnegan dan aku masih sendiri. “ aku membayangkan beberapa temanku yang sering jalan-jalan atau kondnagan dengan pacarnya.


“Justru kamu harusnya bersyukur.” Aku menatap the sabila dnegan serius.


“Bersykur the?” the sabila mengangguk.


“Sebenarnya bukan aneh sih. Aku juga gak terlalu mau pacaran. Kalau memang sudah ada yang serg mau langsung serius aja gak mau pacaran-pacaran ah.”


“Nah kalau gitu gak usahlah pacaran.”


“Nih ya teteh kasih tahu.” Aku mendekat ke arahnya untuk mendnegarkan ceirtanya.


“Lebih sekaran itu puas-puasin aja main. Dulu teteh juga gitu kok. Mumpung masih sendri enak. Kemana-mana juga enak, apalagi kalau udah bisa cari uang sendiri enak loh.”


Memang sih aku uga merasa begitu kok enak rsanya jomblo. Tidak melulu nnagis Bombay karena cowok. Juga pikiranku bebas memikirkan apapun.


“Terus ya kalau udah punya cowok itu ribet. Kayak teteh sekarang ini masih di awing-awang.”


“Maksudnya?”


“Maju tidak mundur tidak.”


“Mau maju dia masih seneng main-main. Di putusin dia gak mau.”


“Rumit ya teh.”


“Jadi, mending puas-puasin dulu aja sekarang mah. Kamu kan masih kuliah belajar aja yang bener.”


“Hmm iya teh.”


Flashback off.


Satu hal yang bisa aku tangkap punya pacar bukan berarti bisa bahagia selamanya. Salah satu alasan aku memutuskan untuk tidak mau pacaran lagi karena aku pernah sakit hati saat smp dulu. Di tinggal saat sedang sayang-sayangnya. Lebih parah lagi aku hanya di jadikan tempat pelampiasan.


Kalau di pikir-pikir benar juga sih.


Punya pacar itu banyak aturan. Belum lagi kalau pacarnya cemburuan, tambah ribet lah. Kalau istilah sekarang itu posesif. Puas-puasin saja dululah masa-masa lajang yang tidak akan terulang kembali. Lebih baik sekarang istirahat karena besok akan nonton movie marathon huhuyy.

__ADS_1


Bukankah dengan punya pacar pun belum tentu menjadikan dia jodoh kita bukan?


__ADS_2