Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Bimbang


__ADS_3

Memutuskan dua hal yang berpengaruh terhadap masa depan itu memang sulit.


-Permata Biru-


Benar, aku telat sampai ke stasiun. Saat sudha di stasiun kereta ynag akan aku tumpangi sudah lewat beberapa menit yang lalu sebelum kedatanganku. Sial, aku harus menunggu lagi entah jam berapa. Loket tiket pun masih ditutup, kira-kira jam berapa ya bukanya. Daripada menduga-duga akan lebih baik jika aku bertanya bukan.


“Pak setelah ini ada kereta lagi jam berapa?” tanyaku pada satpam petugas kereta yang menjaga gerbang dan tempat scan tiket. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Bentar lagi kok teh, jam tiga kurang.”


Syukurlah, aku tidak akan telat ke kampus kalau begitu.


Aku duduk di depan meja satpam itu. Mangatur napas sehabis berlali dari tempat turun angkot ke stasiun. Untung saja bawa minum, kalau tidak sudah pasti kehausan.


“Mau kemana teh?”


“Mau ke Cikudapateuh pak.” Pak satpam yang bernama Angga itu tampak mengangguk-ngangguk setelah mendengar jawabanku.


Aku tidak memperhatikan dia lagi dan fokus ke ponsel, membaca buku yang belum sempat ku baca lagi karena main bersama Agla waktu itu, lupa sampai sekarang kalau belum selesai membacanya. Saking asyiknya membaca aku tidak sadar kalau loket tiket sudha di buka.


“Teh loketnya sudah buka tuh.” Untung saja Pak Angga ini mengingatkanku kalau tidak mungkin saja sampai kereta datang aku akan terus membaca.


“Makasih pak.”


Aku melangkah ke depan, untung saja tidak mengantri terlalu panjang seperti biasanya. Sepertinya jam segini memang agak sedikit pengunjung ke Bandung. Iyalah kebanyakan pulang jam segini itu bukan berangkat sepertiku. Membeli tiket, scan tiket dan masuk ke area tempat kereta api berhenti, duduk di tempat teduh, mungkin itu kebiasaanku dua tahun ini setelah kuliah di Bandung.


Dulu aku sering di antar bapak ke kampus, tapi sekarang bapak kan harus kerja mana bisa anterin aku terus-terusan. Lagipula kalau naik motor itu capek di jalan, pegal pinggang dan panas bokong. Lebih enak naik kereta, adem karena ada ace, tidak perlu berdesakkan karena bukan berangkat di jam kerja.


Bisa melihat pemandangan dari jendela kereta, terpenting buatku adalah bisa melihat orang baru setiap hari. Selain tidak bosen juga bisa mengambil hikmah dari sekadar mengobrol atau mengamati tingkah laku mereka.


Seperti saat ini, duduk bersama dengan ibu-ibu yang sepertinya seorang tki. Aku tidak mengerti apa permasalahan mereka, tapi aku betah mendengarkan mereka mengobrol. Walau tindakan mengupingku ini tidak di benarkan, paling tidak aku dapat pengalaman agar tidak mengambil jalan yang salah seperti ibu yang duduk di sampingku ini.


Pada intinya, ibu yang duduk di sampingku ini dulu nikah muda entah dengan siapa aku tidak tahu. Anaknya itu sekarang tinggal dengan pembantunya di sebuah perumahan yang entah dimana karena dia bekerja menjadi tkw sekarang. Mereka bercerai sepertinya dan ayahnya—suami ibu yang duduk di sampingku itu—menelantarkan mereka berdua.


Ibu itu cerita kepada teman yang duduk di depannya, bahwa ada laki-laki yang mendekatinya di tempat dia bekerja. Entah dimana dia bekerja antara negeri jiran dan arab, aku tidak tahu pasti. Yang pasti dia berkata untuk sekarang prioritasnya adalah anaknya yang harus di jaganya dengan baik.


Menyekolahkannya sampai jenjang tertinggi, mendidiknya menjadi anak yang berperilaku baik dna berbudi pekerti. Tidak seperti ayahnya (maaf) menelantarkan mereka berdua. Sepertinya orang yang diajak ngobrol di sebrangnya itu teman dekatnya. Mereka menceritakan banyak hal, mulai dari kegiatan dia menjadi tkw, hal-hal yang terjadi di Indonesia selama dia di luar negeri dan anaknya yang tumbuh besar.


Semenjak bercerai yang ada di pikiran ibu itu hanyalah anaknya. Bagaimana dia mencari nafkah untuk anak seorang diri, di negeri orang yang kebanyakan dia tidak kenal. Oh ya disana dia juga bercerita mengenai perkumpulan-perkumpulan gitu, mungkin semacam perkumpulan para tenaga kerja di luar negeri.


Dia juga berecerita jika awal-awal dia bekerja disana, dia sangat boros. Banyak membeli barang-barang branded yang kemungkinan tidak ada di Indonesia. Dia berkata untung saja dia cepat sadar dan lebih mengutamakan menabung daripada melakukan pemborosan.


Aku sadar, hidup di negeri orang bukan tidak mudah untuk mengendalikan nafsu. Apalagi melihat barang branded di depan mata. Akhir kata dia bercerita mengenai seorang pria yang mendekatinya itu berniat serius dengannya, aku tidak tahu apakah dia akan memilih pria itu atau anaknya. Aku berdoa semoga saja mereka baik-baik saja.


Mendengarkan cerita semacam curhat begitu bukan hal baru bagiku, terlebih lagi seorang ibu yang harus menghidupi anaknya sendiri. Terkadang aku merasa beruntung mempunyai keluarga yang utuh, lengkap tidak kurang sedikitpun.


“Ini sudah stasiun kiaracondong ya?” tanyanya padaku yang pura-pura mendengarkan musik. Untuk menambah aktingku, haedseat yang sejak tadi terpasang di kuping aku lepas.


Aku menatap sekeliling tempat pemberhentian kereta. “Iya bu di kiara condong. Ibu itu menyuruh anaknya untuk menggendong tas kecilnya. Dia sendiri membawa beberapa tas besar yang entah apa isinya.


Satu stasiun lagi aku turun, kali ini aku mendengarkan musik beneran. Lagu karena su sayang dari near membuatku menjadi berpikir. Walau tidak tahu pasti artinya, sedikitnya aku mengerti arti lagu itu.

__ADS_1


Orang yang menikah saja bisa bercerai apalagi pacaran, lalu bagaimana jadinya kalau orang dekat tapi tidak ada hubungan. Aku mengahayati musik yang mengalun dengan memperhatikan kendaraan yang menunggu kereta lewat. Banyak pasangan yang naik motor saling bermesraan, apakah aku akan merasakan hal itu nanti, aku tidak tahu.


Apalagi setelah mendengar cerita ibu tadi, setiap orang pasti tidak akan sesuai harapan kita bukan sikap dan sifatnya. Maka dari itu aku perlu mengadakan seleksi alam sebelum dekat dengan seorang laki-laki. Bukan sok jual maha;, tapi karena memang intan berlian yang berkilau itu mahal kan. Aku tidak mau jadi mas campur yang berkilau, tapi kilaunya hanya sementara dan mudah di dapatkan siapa saja.


Ting


Suara pesan masuk itu mengagetkanku yang sedang melamun.


Pandu : Hari ini kuliah?


Me : Iya


Pandu : Sudah berangkat? Pulang jam berapa? Mau di jemput di stasiun? Kuliahnya siang, pulangnya malam?


Pertanyaan beruntun dari Pandu membuatku bingung untuk menjawab apa dulu.


Me : Sudah, tidak usah di jemput. Sudah ada yang jemput.


Pandu : Siapa? Pacar?


Kenapa dia selalu berpikir bahwa aku punya pacar sih, geramku. Aku tidak jadi membalas pesan Pandu karena sebentar lagi stasiun pemberhentianku. Turun dari stasiun aku memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu, selain buang air kecil aku juga akan sholat terlebih dahulu si stasiun sepertinya.


Keluar dari stasiun aku menunggu angkot yang belum muncul, jam segini sepertinya susah angkot ya. Mana macet lagi, gimana ini sekarang sudah jam 4 lagi. Memang jika jalanan lancar tidak akan setengah jam perjalanan ke kampus, kalau macet begini.


Sepuluh menit kemudian angkot muncul dengan satu penumpang. Ada kemungkinan ini angkot ngetem terlebih dahulu. Aduh bisa telat kalau begini jadinya. Aku terus melihat jam di ponsel, tidak lupa melihat jalanan yang sepi, berharap ada penumpang yang naik.


Sepuluh menit kemudian, barulah ada yang naik kembali. Angkot mulai jalan di tengah kemacetan yang padat merayap. Aku sudah tidak berharap datang tepat waktu, yang aku inginkan sekarang adalah bisa sampai secepatnya di kampus, telat atau tidak urusan belakang. Telat juga bukan masalah sebenarya karena dosen juga telat datang biasanya, masalahnya sekarang sudah mau setengah lima dan jalanan macet parah.


***


“Tumben telat.” Bisik Dwi.


“Ketinggalan kereta.” Kami sama-sama memperhatikan ke depan lagi.


Tidak terasa sudah satu jam lebih kami duduk mendengarkan penjelasan dosen. Adzan magrib yang berkumandang menandakan bahwa kelas telah berakhir.


“Baik pertemuan hari ini kita cukupkan sekian saja.”


“Ada yang ingin di tanyakan?”


“Tidak.” Jawab kami serempak.


Waktu istirahat sudah tiba, aku dan Teh Rahma memutuskan untuk ke kantin.


“Permata nitip gorengan ya tiga ribu sama minumnya ya, uangnya di kamu dulu deh.”


Ucap A Syarif sebelu kami pergi, aku mengangguk mengerti.


Sekarang A Syarif tidak kerja, baru saja keluar dari kerjaan lamanya sebagai parkir area. Aku baru tahu kalau gaji tukang parkir itu ternyata besar juga, masuk dalam kategori umr lah tidak di bawahnya. Meurutku itu sudah lumayan sih, untuk pria lajang seperti a Syarif.


Cukuplah kalau untuk nongki di kafe kece, asal jangan tiap hari saja bisa-bisa dompet jebol nanti.

__ADS_1


“Ta mau beli apa lagi?” tanya Teh Rahma.


Aku menatap dua plastic gorengan yang ada di tanganku, dua cup besar minuman berasa dan satu biscuit cokelat. “Gak teh, udah cukup kayaknya.” Segini saja cukup, kalau tidak habis bagaimana, masa mau di bekel ke rumah.


“Yaudah ayo.” Kami mengantri terlebih dahulu sebelum membayarnya.


Kantin yang pindah ke lantai 3 membuat kami yang kelasnya di lantai dua harus turun tangga. Dulu saat semester satu dan dua ruang kelasku berada di lantai 3, jadi kalau mau ke kantin tidak perlu naik turun tangga. Paling kalau mau ke mushala harus turun tangga ke lantai satu.


Kadangkala kami juga membeli makanan ke luar, seringnya sih ya di kantin yang serba terbatas ini. the Rahma bilang males kalau harus turun ke bawah. Kalau bosan dengan gorengan Teh Rahma paling akan nitip, aku sendiri kadangkala beli makanan di stasiun. Jadi saat istirahat kadang sudah kenyang dan memilih untuk ke mushala saja.


“Teh Syarah.” Begitu sampai di kelas Teh Rahma heboh sendiri menghampiri Teh Syarah yang baru datang. Mereka duduk di belakang. Aku duduk di bangkuku lagi, menunggu kedatangan a Syarif dengan Dwi.


“Teh Syarah tahu gak kemarin dia bikin snap di instagram bareng cewek.” Ucap Teh Rahma yang sepertinya sudha terisak itu. Aku tidak mau menguping lagi sebenarnya, tapi suara mereka curhat itu kedengaran sampai ke tempat dudukku.


Aku mencoba membalas pesan Pandu agar tidka ikut hanyut dalam pembicaraan mereka. Sebenarnya aku ingin gabung dan memberikan saran kepada Teh Rahma, tapi rasanya terlalu aneh kalau aku ikut gabung dengan mereka. Aku yang selama ini diam ikut memberikan saran, aneh saja.


Me : Bukan pacar tapi orangtuaku.


Pandu : Kalau orangtua tidak menjemput kabairn saja ya.


Baru saja aku akan mengetik iya, ketika kembali mnedengar isak tangis Teh Rahma. Untung saja kali ini kelas sedang sepi. Jadi tidak terlalu menimbulkan keributan yang berarti.


“Dia sekarang kuliahnya pindah ke medan, kembali lagi ke semester satu. Kemarin juga pulang gak nyamperin aku the hiks.” Aku menoleh ke belakang, Teh Syarah menepuk bahu Teh Rahma dengan sayang sambil memeluknya dari samping.


“Sabar ya Rah.”


“Selama ini aku nungguin dia biar bisa lulus bareng, nungguin dia kejuaran, gapai mimpi-mimpinya dulu. Sekarang dia seolah bersikap tidak peduli hiks, aku harus apa teh?”


“Kemarin juga ke Bandung gak bilang sama sekali, kalau bukan tau dair ibunya mungkin gak akan ketemu.”


“Hari terakhir dia di Bandung kemarin ngajak ketemu buat makan pas minggu kemarin. Aku iyain the. Eh malam seninnya gak tau malam selasa dia nonton konser sama cewek.”


“Katanya sih temennya, temen masa sih rangkulan gitu mesra lagi. Dimasukin insta story dia.”


“Dia bilang, temennya itu memang pinjem hp dia, tapi dia juga masa mau-mau aja sih diajak foto begitu. Aku udah capek teh.”


“Setelah itu kalian komunikasi lagi gak?”


“Paling dia nanyain kabar yang di jawab seperlunya saja si the. Habis itu ngilang lagi masa hiks, hiks, hiks.”


“Tenang Rah, laki-laki masih banyak kok.”


“Iya the, tapi ini udah berapa tahun. Dari kami masih sejak SMK hampir mau lima tahun the. Apa itu gak berarti buat dia, siapa yang selalu di sampingnya saat dia jatuh, dia terpuruk, aku teh hiks.”


Aku tidak jadi membalas pesan Pandu. Apa aku akan mengalami hal yang sama seperti Teh Rahma. Dulu saat aku menjadi pelampiasan awanya biasa saja, tapi sakitnya masi terasa saat kami putus pas sedang sayang-sayangnya. Setelah itu terjadi aku baru sadar, bahwa aku jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang bersamaan.


Mendengar tangis Teh Rahma yang sesegukkan membuatku memikirkan ulang kedekatanku dengan Pandu. Aku ragu, apakah mungkin Pandu tidak akan menyakitiku, seperti cowok Teh Rahma yang menyakiti Teh Rahma. Aku tahu cowok itu suka sekali kebebasan, masih senang main-main dan sepertinya cowok Teh Rahma itu masih mengalami dua hal itu. Apakah Pandu juga begitu?


Aku memang tidak mungkin menyamakan Pandu dengan cowok Teh Rahma yang belum pernah aku temui itu, tapi dari gaya biacaranya aku sedikit paham cowok itu punya sifat seperti apa. Aku pernah lihat fotonya, di bilang ganteng ya standar lah.


Dulu kalau tidak salah saat semester satu Teh Rahma juga pernah curhat kepada Teh Nadifah yang kini memilih pindah ke Semarang, melanjutkan kuliah di UNDIP. Aku lupa-lupa ingat sebenarnya, Teh Rahma bercerita jika cowoknya itu deket dengan anak UPI yang sama-sama aktif di bidang olahraga.

__ADS_1


Aku tidak tahu kalau itu orang yang sama atau bukan, tapi sepertinya iya soalnya cowok yang dekat dengan Teh Rahma yang langgeng memang itu. Aps semester dua pernah dekat dengan teman a Syarif, tapi tak lama putus juga karena teman a Syarif itu dekat dengan cewek lain.


Apakah semua laki-laki itu memang tergoda untuk selingkuh? Apakah keputusan memberikan respon kepada Pandu ini merupakan jalan terbaik atau sebaliknya?


__ADS_2