Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Telepon tengah malam


__ADS_3

Telepon pacar orang terus, kapan telepon pacar sendiri?


-Permata Biru-


“Hai.” Sapa The Risma yang kini duduk di sebelahku.


“Tiketnya belum di buka?” aku menggeleng. Kembali melanjutkan kegiatan membaca di ponsel.


Ahhh, hari ini sangat lelah, aku ingin istirahat sekarang. Kasur, aku butuh kasur. Rasanya enak sekali mendengarkan musik sambil berbaring di kasur dengan mata terpejam.


“Ta.” Hanya khayalan saja ternyata.


Teh Risma sepertinya hendak pergi ke luar stasiun, “kenapa teh?”


“Mau nitip makan?”


Aku melihat jam dinding di staisun, “enggak deh teh kayaknya.”


"Aku mau cari makanan dulu ya.” Aku mengangguk.


“Titip tiket ya.” Aku mengangguk lagi.


Tidak lama setelah kepergian Teh Risma loket pembelan tiket di buka. Untung saja belum ramai yang beli jadi aku tidak terllau lama menunggu.


“Mau kemana?”


"Cicalengka dua."


Selesai dengan urusan transaksi pembelian tiket sekalian saja aku mendekati mesin scanner. Sebelum naik kereta tiket yang kita beli harus di scan dulu, maksudnya aku tidak tahu hanya menjalankan prosedur yang ada.


Duduk kembali di bangku yang kebetulan tidak di tempati orang lain, syukurlah aku malas kalau duduk di depan. Mmebuka ponsel kembali, kebetulan ebook yang aku download belum selesai di baca. Penasaran dengan ending novel yang aku baca, jaid harus tamat dengan cepat.


“Sudah beli tiket?”


“Sudah nih.” Aku memberikan satu tiket padanya.


“Makasih ya.” Ucapanya seraya menyodorkan uang padaku.


“Sama-sama.”


Ponsel Teh Risma bergetar, “bentar ya pacar telepon.” Aku mengangguk dan kembali membaca.


Diam-diam aku melirik teh Risama yang sedang teleponan itu. kapan ya aku bisa teleponan begini. Ada yang nemenin kebosananku menunggu kereta di stasiun ini. Sepertinya aku banyak berkhayal akan hal itu.


Aku sepertinya memang di takdirkan jadi jomblo mengenaskan. Tadi di kampus, aku harus mendengarkan teleponan The Rahma dengan pacaranya. Sekarang, di stasiun aku harus mendengarkan the Risma yang senyam-senyum sendiri karena teleponan dengan temannya. Nasib, nasib.


***


Sampai di rumah bukannya istirahat, aku malah berselancar di dunia maya. Membaca quotes-quotes yang bisa membangkitkan semangat, juga tertohok mengenai nasib ke jombloanku. Kok sekarang aku sangat mempermasalahkan status itu ya?


Dentingan notifikasi membuat ku segera membuka aplikasi pesan, sebuah pesan dari nomor asing. Antara penasaran dan ragu untuk membukanya. Tidak lama notifikasi kembali berbunyi. Agla? Tumben sekali selarut ini dia masih online, katanya sedang sibuk dengan organisasi.


Agla : Dia minta no kamu


Tanpa berlama-lama aku segera membalas pesan Agla, sedikit penasaran juga sebenarnya siapa yang meminta nomorku.


Me : Siapa?


Agla : Masih ingat cewek yang nelepon di kafe.


Oh tentu! Perempuan yang tidak hentinya meragukanku sebagai pacar Agla. Ada apa dia meminta nomorku? Menimbang-nimbang, apakah harus ku berikan? Kalau tidak nanti dianggap cemen, tapi kalau di kasih nanti semakin panjang urusannya. Kasih saja lah.


Me : Yaudah kasih aja.


Agla : Oke.


Beberapa menit aku terdiam, mau apa sih tuh perempuan yang maniak dengan Agla. Tidak lama nada telepon masuk membuat kesadaranku kembali. Aku menatap nomor asing yang tertera, apa ini nomor perempuan itu? Selarut ini dia menelponku? Untuk apa? Daripada terus bertanya-tanya lebih baik aku segera menjawab nya saja.


“Halo.” Aku duluan membuka suara.


Di sebrang sana suara mendesis terdengar jelas, “benar ternyata ini nomormu.”


Lah memangnya ini nomor siapa coba, dasar muka dua di depan Agla aja dia baik tidak terkira, di depanku. “Mau apa malam-malam telepon?” tanyaku tanpa basa-basi.


Aku paling tidak suka basa-basi, langsung saja berkata demikian biar dia tahu teleponnya itu mengganggu waktu istirahat orang lain. “Tidak sabaran juga rupanya.” Dia sedikit meanahan tawa sepertinya.


Aku mencibir dalam hati, maunya apa coba! “Ohh iya iya, ada apa ya meminta nomorku segala?”


“Hanya ingin memastikan bahwa kalian pacaran beneran bukan pura-pura.” Cuma mau ngomong gitu aja harus pake telepon, harus banget tengah malam memang kayak gak ada besok saja.


Lagian kenapa dia tidak percaya sekali jika aku dan Agla pacaran, walau memang pura-pura kenyataannya. “Mana ada bohongan, kok gak percaya banget sih aku sama Agla pacaran.” Aku kesal sungguh, harus melakukan apa biar perempuan resek satu ini percaya.


“Ya berasa aneh aja gitu.” Sialan ni cewek nantangin ya, pekiku yang sudah pasti hanya dalam hati.


“Aneh apanya, sudah ya aku mau istirahat.”


Aku berusaha tidak meladeni ucapannya. Jangan sampai aku terbawa emosi jika berusan dengan dia.


Dia mengumpat yang sudah pasti tidak ku dengar dengan jelas. “Memang aku juga mau telepon malam-malam begini.” Dia juga kesal kan nelpon malam-malam begini, apalagi aku.


Lantas kalau memang dia tidak mau kenapa harus menelponku coba, aneh. “Sudah ya kalau hanya ingin itu yang kamu bicarakan, tutup nih.” Lebih segera tutup saja teleponnya kalau dia juga tidak mau.


“Tunggu dulu.” Cegahnya.


Aku membuang napas kasar, tidak jadi menutup teleponnya. “Apa lagi?” mencoba berusaha sabar.


Dia yang tidak bicara membuatku ingin mematikan telepon saja. Tanganku sudah gatal ingin memencet tombol telepon warna merah, sebelum dia kembali bersuara. “Agla gak menunjukkan tanda-tanda dia punya pacar.”


“Ngomong apaan sih.”


“Aku sama Agla dulu sering banget teleponan.” Harus banget ya dia memberitahuku, bodo amat dia mau teleponan atau tidak itu urusannya dengan Agla bukan denganku.


“Tiap hari, hampir tidak terlewat.”


“Terus?” gentian kini dia yang menghela napas kasar.

__ADS_1


“Gak ada tanda-tanda Agla mempunyai pacar dulu, kok sekarang dia tiba-tiba bilang punya pacar. Di media sosial juga dia terlihat seperti single.”


“Lalu, apa masalahnya?”


“Awalanya ku pikir kalian memang benar pacaran, tapi setelah dipikir-pikir kok aneh.”


Kamu yang aneh jawabku dalam hati, ngurusin hubungan orang saja kerjaannya.


“Apalagi setelah melihat lihat jarang ada kebersamaan kalian yang di post instagram.”


Aku menatap telepon yang masih terhubung itu dengan gemas. “Harus banget ya di tunjukin.”


“Ya harus biar orang-orang percaya bahwa kalian ada hubungan.” Ucapnya dengan nada yakin.


Meski pernah pacaran, aku bergidik membayangkah hal-hal privasi di publikasikan ke masyarakat luas. “Norak tau gak berasa pamer aja, aku gak mau kayak gitu.”


“Loh kok gitu, aku tahu kok dia punya mantan pas SMA.”


Kok dia jadi bawa-bawa mantan Agla sih. Aku menepuk jidat, kok bisa lupa kalau di instagram Agla banyak foto mantannya. Tidak kepikiran juga jika perempuan satu ini akan mencari tahu sedetail itu, hampir saja terbongkar ini.


“Ya terus aku harus ngikutin kayak gitu, gak juga kan. Berasa gak punya pendirian ngikutin orang lain.”


Dia tertawa, “ini nih yang nunjukin aku ragu kamu pacar Agla. Hubungan kalian itu aneh. Di instagram juga gak nujukin kamu punya pacar kan”


Aku terdiam, pendirianku itu bisa menjadi boomerang. Haduh kok **** banget sih. Ayo cari kata yang pas, “aku kok yang larang Agla biar gak post kemesraan kita.” Semoga alasan klise ini bisa masuk akal.


“Dan Agla bukan tipe pelarang.” Balasnya.


Tenang, jangan emosi. Tarik napas, buang.


“Manusia bisa berubah kan?”


“Katanya tadi berprinsip, bagamana sih,” desisnya.


“Ya itu kan prinsipku bukan prinsip Agla, Agla yang mau kok merubah prinsipnya.”


“Lagian kok seneng banget kayaknya ngurusin hidup Agla kamu ini, sekali lagi aku bilang ini ya. Jangan ganggu hubungan Agla.


Agla sangat mencintaiku, kamu bisa apa kalau dia mencintaiku.”


Skakmat


Bip


Pusing banget ngurusin hidup percitaan orang lain itu ternyata. Rasa kantuk yang tadi sudah hadir kini entah menguap kemana. Sekarang harus bagaimana ya? Pura-pura tidak terjadi sesuatu, atau hubungi Agla.


Sepertinya opsi kedua yang terbaik sekarang, apalagi melihat status Agla yang online, segera saja mendial nomornya. Panggilan pertama dia tidak menjawabnya. Panggilan kedua juga begitu. Awas saja kalau panggilan ketiga ini tidak di angkatnya, tidak akan ku bantu dia lagi.


“Halo?”


“Agla?”


“Iya ta?”


Aku mengumpulkan tenaga sejenak. “Tuh cewek kenapa sih suka bener ngurusin hidup orang! Sudah di bilangin, eh malah gak percaya. Niat banget dia sampai stalker-stalker instagram orang! Bosan hidup kali ya tuh orang!” semburku pada Agla.


“Kalau masih mau ketawa, bilang nih sama dia kita gak ada hubungan apa-apa!” Ancamku.


Seketika saja tawa Agla berhenti. Dia berdehem untuk emnetralkan suaranya, kebiaasaan Agla dari yang peciilan jaid serius.


“Terius harus gimana dong?”


Agla ini kenapa sih, kalau dketa sudah ku pukul dia, “kalau tau juga gak akan nelpon kali.” Aku memutar bola mata dengan malas.


Dia terdiam, “oke serius nih, dia bilang apa aja memang?”


“Ya bilang gitu.” Aku mendadak kehilangan kata-kata. “Ngungkit-ngungkit kebucinan Agla bersama mantannya dulu di SMA.”


“Apaan sih kok bahas itu,” gerutunya.


Aku terkikik, walau bukan itu poinnya tapi memang benar hal itu yang dia bicarakan padaku tadi, “memang dia bilang gitu kok?”


“Apa hubungannya?”


“Dia bilang, kenapa gak ada foto kebersamaan kita di instagram kita berdua. Kalau kita berdua memang pacaran, ya minimal tunjukin kebersamaannya itu di instagram.”


Terdengar helaan napas Agla di sebrang sana, “terus kebucinan lo dulu itu, menjadi bukti kalau memang sama mantan yang dulu itu sering pamer kemesraan di medsos,” lanjutku.


Kami sama-sama terdiam, “hmm begitu ya. Baiklah gue akan post foto lo?”


Mataku melotot, “heh! Lo gila!”


“Apaan sih, katanya tadi biar kita kelihatan serius. Jangan setengah-setengah dong kalau bantuin itu.”


“Ya, tapi-“


“Daripada dia curiga terus.”


Aku terdiam, benar juga apa yang di bilang Agla. “Ini akan berhasil memang?”


“Bisa jadi.”


“Kok gitu?”


Aku berpikir kembali. “Tunggu dulu, jangan sekarang.”


“Kenapa memangnya?”


“Kalau post sekarang sama aja kita ketahuan bohongnya.”


“Coba deh post kata-kata yang mengartikan bahwa kita sedang jatuh cita satu sama lain,” lanjutku.


“Good.”


“Gila ta idenya memang cemerlang gak salah jadiin patner nih.” Di puji seperti itu pipiku kok terasa panas ya.

__ADS_1


“Kata-kata apa ya yang cocok.”


“Bentar mikir dulu.”


“Aha,” teriakku yang membuat di sebrang sana menjadi gaduh, terdengar seperti ada benda yang jatuh.


“Terkejut nih. Bilang dulu kalau mau teriak itu!”


“Maaf.”


“Bilang dulu kalau mau teriak lagi.” Bisa gitu ya?


“Iya iya, dengerin ya. Aku bakalan post kata-kata begini, kamu adalah nahkoda yang menjalankan kapalku dan..”


“Dann..”


“Kamu post begini, kamu akan menjadi kapal yang menjadi tempat palayaranku mengarungi lautan. Menjadi satu-satunya permata yang bersinar di hidupku.” Hening seketika.


Prok prok


“Sungguh terharu Agla yang ganteng tiada tara ini. Tidak disangka punya teman secerdas Permata Biru.”


“Kemana saja selama ini sampai gak sadar.”


“Oke baiklah nanti akan di post ibu Permata Biru yang cerdas. Sudah dulu ya, baru pulang nih ngantuk dan capek,” keluhnya seperti seorang anak yang mengadu pada ibunya. Dasar Agla.


“Memang aku gak capek apa?! Enak aja bilang kamu capek sendiri.”


“Aku juga baru pulang menuntut ilmu ini tiba tiba aja ada perempuan yang telpon malam-malam bikin gedek!”


“Sudah sudah istirahat kalau capek , bye.”


Bye


Melihat layar telepon yang tidak menampilkan paggilan, aku segera mematikan data ponsel. Mengambil kabel charger, bukan hanya manusia saja kan yang perlu diisi baterai, ponsel juga.


“Huaa.” Sepertinya aku mengantuk lagi sekarang.


Waktunya tidur. Selamat datang mimpi, ah aku sangat merindukan kasur dan teman-temannya. Aku memeluk guling dengan erat.


“Selamat mimpi indah. Cukup kenyataan saja yang buruk, mimpi jangan.” Ucapku sebelum memejamkan mata.


***


“Kenapa pesanku gak di balas?” aku terkejut, gunting yang sedang di pakai sampai jatuh ke bawah.


Pandu ini ya, baru datang bukannya ngucap salam malah langsung nangkring di hadapanku. Kurang kerjaan banget dia ini.


Menatap ku yang tidak memperdulikan kehadirannya membuat Pandu kesal. “Kenapa pesanku gak di balas?” tanyanya lagi.


Aku mengernyitkan dahi. Dia mengirim pesan padaku, kapan? “Pesan apa?”


“Pake tanya pesan apa, ya pesan lah chat.”


Maksudnya itu pesan apa yang dia kirim sampai-sampai dia harus heboh duduk di depanku dan menanyakan hal itu hanya karena aku tidak membalas pesannya.


Merogoh saku jaketnya, Pandu mengotak-ngatik ponsel yang dia ambil dari saku jaket itu. Menunjukkan ponsel nya padaku, “nih liat.”


Aku melihat ponsel itu bingung, aduh ni otak kenapa jaid tidak bisa berpikir ya. Pasti efek kesal dengan perempuan itu sepertinya.


“Coba buka ponsel,” titahnya.


Aku mengambil ponsel di dalam tas. Membuka aplikasi chat dan meneliti apakah benar ada pesan darinya kemarin.


Ada nomor baru yang mengirimi ku pesan, apa nomor ini? daripada penasaran aku langsng saja membukanya. Hanya menyapa saja, tidak bilang bahwa itu Pandu.


“Ini,” aku menunjukkan pesan itu pada Pandu takut salah orang.


Dia mengangguk, “aktif kok gak di bales?” Kok dia malah sinis ya?


Aku melihat kembali pesan itu, melihat jam yang tertera disana saat pandu mengirim pesan. Pantes tidak di bales aku baru pulang saat itu. Beberapa menit sebelum aku menerima pesan Agla. Setelah itu sibuk sidang debat dengan terdakwa di sidang paripurna. Kok ngaco ya?


Tidak ku pedulikan Pandu dan tatapan kesalnya itu. Tubuhnya condong mendekatiku yang asyik dengan kegiatan sendiri. “Kenapa gak di bales?”


“Ada urusan.” Jawabku tanpa menatapnya.


Dia bangkit, “masa bales pesan aja gak bisa!”


Terdiam sejenak meredakan emosi yang sudah mengepul dari semalam.


Aku mengutak-ngatik ponsel, “tuh sudah di bales.” Menunjukan balasanku padanya.


“Sudah basi,” ketusnya.


Kok jadi dia yang marah ya. Gak ada yang mengharuskan membalas pesannya kan? Memang penting banget balas pesannya itu. “Yang penting sudah di balas,” acuhku.


“Memangnya sedang apa sih? Balas pesan aja gak bisa!”


Kini aku menatapnya, “ada urusan dan itu penting!”


“Sepenting apa sih sampai balas pesanpun gak bisa padahal sedang online.”


Kok dia aneh ya. Aku sibuk kemarin. Gak tau aja dia kan kalau kemarin jam segitu aku baru pulang. Kenapa juga dia harus tahu aku sedang apa? Teman juga aku tidak tahu.


“Maaf ya aku sibuk.”


“Sibuk apaan?”


“Sibuk ngurusin orang.”


“Orang siap-“


“Udah ya aku mau lanjut jahit dulu.” Potongku sebelum dia protes dan tanya tanya lagi. Aku melengos meninggalkannya yang seperti sedang menahan emosi.


Sebelum pergi aku sempat mendengar teriakannya, “kamu belum jawab, urusan penting apa sampai online lama pun gak di balas.”

__ADS_1


Siapa kamu? Mengganggu hidupku?


__ADS_2