Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Keputusan


__ADS_3

Ternyata kamu bukan hanya sekedar singgah, tapi mengacaukan hidupku. Salahku yang menerimamu dengan tangan terbuka.


-Permata Biru-


Sampai pulang pun aku tidak membalas lagi pesannya, setelah pesan terakhirnya itu yang membuat hatiku berdebar, tapi bingung.


Pandu :


Kalau rindu bagaimana?


Sebuah pesan yang entah bisa membuatku jadi tidak memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan. Tidak selera jajan cilok kuah yang biasanya enak itu. apa yang sedang terjadi padaku?


“Ah.” Aku menepuk pipiku, “sadar Permata, kamu tidak boleh memikirkan cinta untuk sekarang. Harus fokus dulu masa depan. Ya, fokus masa depan.”


Orang-orang di stasiun menatapku aneh. Bahkan mungkin menganggapku gila karena bicara sendirian. Aku nyengir dan memohon maaf karena membuat mereka menyangka yang tidak-tidak atas sikapku ini.


Huft, tenang Permata itu pasti bukan apa-apa, ucapku dalam hati memerintah otakku agar bisa berpikir jernih.


Ting


Angka :


Maaf Permata baru balas sekarang. Ada angin apa nih menyapa?


Emot senyum di akhir pesannya membuatku ikut tersenyum. Untung saja pesanmu cepat datang Angka, kalau tidak aku bisa gila memikirkan pesan Pandu. Aku kan juga perempuan yang mudah baper kalau di gituin. Sudah, lupakan.


Me :


Masa nyapa saja tidak boleh sih. Cie sedang sibuk apa nih calon psikolog.


Aku terkekeh, senang sekali rasanya bisa menjadi Permata yang jail, suka menggoda orang dan terpenting tidak memakai topeng palsu untuk terlihat baik-baik saja seperti ketika di hadapan Mama.


Angka :


Bukan begitu hanya saja sedikit heran.


Tidak ada yang istimewa kok, hanya kesibukan biasa kok.


Aamiin semoga bisa jadi psikolog beneran ya.


Me :


Boleh cerita?


Angka :


Ada apa?


Boleh saja kalau mau berbagi cerita, asal jangan membagi perasaan


Hampir saja aku menyemburkan tawa kalau tidka ingat akan keberadaanku sekarang. Bisa-bisa aku di anggap gila beneran setelah tadi berbicara sendiri di depan umum. Imajinasi manusia sekarang itu kadang membuatku ngeri.


Me :


Gombalan yang errr


Serius, mau cerita nih


Angka :


Ceritakan saja


Aku menghela napas, semoga dengan bercerita aku bisa mendapatkan sebuah solusi.


Me :


Bagiamana rasanya kalau di kekang?


Angka :


Memangnya kita tawanan di penjara pakai di kekang segala


Kan, aku bilang juga apa. Apa aku mirip dengan seorang tawanan. Sepertinya iya, tawanan di rumah oleh Mama sebagai polisinya.


Me :


Aduh kok jadi lupa mau menjelaskan apa ya.


Angka :


Kok bisa gitu?


Aku menarik napas dalam-dalam. Pasokan udara di sekitar stasiun sepertinya semakin menipis. Apa ini efek angin malam mungkin. Baru saja hendak mengetik suara panggilan kereta tujuanku datang. Terpaksa aku menunda untuk membalas Angka. Nanti saja di kereta biar enak.


Me :


Jadi, begini mama menyuruhku untuk ikutan tes cpns, aku ragu angka. Satu sisi menjadi seorang pns bukan impianku kini, dulu mungkin iya sekarang tidak. Disisi lain, aku tidak ingin membantah orangtua, juga sebagai anak hanya ini yang bisa aku lakukan. Toh nantinya juga aka nada seleksi kan tidak tahu lolos tes juga.

__ADS_1


Angka :


Kemungkinan lolosnya?


Aku mengangkat bahu yang sudah pasti tidak akan di lihat Angka. Bodoh, rutukku.


Me :


0,01 % mungkin


Jawabku tak yakin dengan persenan itu, aku sendiri tidak ada minat sama sekali. Demi apa aku agar mau melaksanakannya?


Angka :


Kenapa begitu?


Mungkin dia heran kali ya, setidakyakin itu aku gak lolos. Entahlah hatiku begitu tidak meyakininya jika ikut tes ini bisa lolos. Niatnya saja belum ada apalagi harapan untuk lolos.


Me :


Karena sesuatu tanpa niat itu tidak selalu berhasil


Angka :


Wow analisa yang bagus


Aku tidak menyangka dia akan menanggapinya begitu. Apakah itu sebuah analisa yang bagus? Ku rasa tidak. Hanya orang bodoh yang menganalisa kemungkinan tidak lolos dan sepertinya aku mausk dalam kategori orang bodoh itu.


Me :


Hanya kemungkinan


Pada intinya menurutmu lebih baik aku ikut atau tidak?


Angka :


Jika kamu memang tidak menginginkan itu lebih baik jangan, tapi selagi bisa mencoiba kenapa tidka toh seperti katamu hasilnya juga kemungkinan tidak. Jadikan ini sebagai pengalaman.


Aku hanya bisa memberikan sedikit saran jika nanti kamu tidak ingin katakana saja jangan menuruti kata perintah orang lain yang belum tentu kamu sukai. Ini bukan hanya tentang menuruti perintah, tetapi juga untuk masa depanmu. Pikirkan itu baik-baik.


Jleb


Apa yang Angka katakan sangat sesuai dengan apa yang aku rasakan. Selama ini aku selalu mengalami penyesalan bukan akhirnya. Mulai sekarang aku ingin mengikuti kata hatiku saja, jika memang aku ingin dan itu baik untuk masa depan aku akan lakukan. Jika tidak lebih baik menolak sekarang bukan?


Me :


Terima kasih ya angka.


Angka :


Sori, sudah dulu ya mau istirahat


Aku keluar dari laman facebook. Sedikit lega rasanya setelah curhat sama Angka. Mungkin memang Tuhan sengaja mengirim Angka untukku, menyelesaikan masalah yang sedang ku alami. Malam ini aku bisa tidur dengan tenang.


***


Hari ini hari terakhir kursus, kuliah juga sudah mulai libur karena jadwalnya sampai hari kamis kemarin. Yey pulang kursus bisa bebas ngapain aja, sorakku. Sabtu dan minggu juga free, tidak ada kegiatan kursus serta kuliah, bebas untuk ku gunakan menulis. Banyak artikel yang mesti ku kerjakan.


Kali ini aku tidak kesiangan, jadi menyempatkan diri untuk sarapan di rumah. Lumayan selain hemat ongkos jajan, juga biar bisa lebih konsentrasi ketika belajar menjahit. Lagian aku harus semangat, ini hari terakhir aku di sip b. Minggu depan aku kembali lagi ke sip a, tidak akan bertemu Pandu. Kok jadi ingat dia sih? Apaan banget sih aku ini.


“Ta, sudah dilihat belum pendaftaran cpns itu. Kemarin Mama lihat di tv sudah di buka. Bener gak?” Hadeuh, pagi-pagi sudha di beri pertanyaan yang bikin mood turun, sabar, sabar.


“Belum liat ma, kan belum ada waktu senggan. Mungkin nanti lihat kalau ada waktu.” Ucapku, lebih baik cepat-cepat pergi ke tempat kursus biar tidak di tanya-tanya lagi.


“Jangan lupa lihat ya ta.” Teriak Mama dari dapur. Liat nanti sajalah kalau ada niat, aku akan coba kalau enggak ya gak mau makasa diri sendiri lagi.


“Ma, Permata berangkat dulu, Assalamualaikum.” Cepat-cepat aku pamit.


“Waalaikum salam.”


Sepanjang jalan menuju tempat kursus, aku memikirkan ucapan Mama tadi pagi, ucapan Angka di cha facebook kemarin. Sampai kapan aku harus begini terus?


Mengikuti keinginan orang lain yang tidak perna ku sukai. Meski Mama memang bukan orang lain, tapi apa aku harus terus-menerus menurutinya smapai tua nanti. Kalau bisa, ingin mengatakan semua kegundahan yang terjadi selama ini.


Kalau bisa, sejak awal aku menolak untuk kuliah di jurusan Akuntansi. Bukan karena tidak sayang, justru aku tidak ingin suatu saat menyesal. Meski mungkin tidak akan ada menyesalnya kuliah, hanya saja aku merasa menyesal tidka belajar sesuai dengan keinginan hati.


Apalagi ini Mama maksa banget aku untuk ikutan cpns, harus banget memang? Aku kan juga punya pilihan sendiri. Tidak suka diatur dan terikat aturan. Jadi PNS itu meski mendapat pesangon tetap saja seorang pegawai dan itu artinya aku tetap bawahan dari orang-orang yang jabatannya lebih tinggi daripada aku.


Sedih rasanya, mengetahui hal itu. Semuanya abu-abu, seperti makan buah simalakama, jika aku menuruti perintah aku hanya takut seperti sekarang. Menyesal karena kuliah di jurusan yang sama sekali tidka ku minati.


Tidak di ikuti, seolain orangtua, takut menyesal juga. Memikirkannya membuatku pusing saja.


“Permata tumben datang pagi.” Sapa Teh Titan, aku mendudukan diri di sebelahnya.


Memangku tas dan membuka ponsel, Bu Nining belum datang, otomatis tempat kursus belum di buka.


“Hehe lagi semangat aja, gak enak dong kalau telat.” Meski memang tidak telat karena selalu pas datang tempat kursus sudah di buka.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Teh Titan, membuatku berselancar di dunia maya. Kali ini aku melihat-lihat iinstagram, apakah ada lomba menulis yang baru atau tidak.


Setiap harinya perputaran waktu sangat cepat sekali rasanya. Pemberitahuan, berita, gossip artis, begitu cepat bergulirnya sesuai dengan berbagai artikel dan pemberitaan dari berbagaia media.


Begipula dengan acara semacam lomba, event, atau seminar yang selalu ada postingan setiap harinya di akun khusus info lomba. Ada yang mmebuatku menarik kali ini.


Lomba menceritakan pengalaman mengikuti tes cpns.


Waktunya kok bisa pas sekali sih, sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui. Saat aku bingung mengenai keikutsertaan tes cpns yang tanpa minat dan niat itu. Sekarang, Ada lomba blog mengenai pengalaman masuk tes cpns.


Kenapa aku tidak menuruti saran Angka saja, sebagai bahan pengalaman. Toh bagus juga akhirnya, bisa tahu kan tes cpns itu bagaimana. Aku punya niat ikut tes sekarang, meski bukan untuk lolos. Setidaknya untuk mengikuti lomba itu.


Akan ku screen terlebih dahulu postingan ini. Lagipula, belum ada pengumuman mengenai tes yang sudha di buka atau belum. Aku akan semangat untuk menjalaninya kalau begini. Senyumku mengembang tanpa sadar.


“Permata ayo ibu sudah datang.” Ajak Teh Titan.


Aku tersadar, “duluan saja teh.” Aku masih membaca bagaimana syarat dan ketentuan untuk mengikuti lomba itu. Sambil memegang ponsel, aku masuk ke dalam tempat kursus.


Sama seperti kemarin, aku duduk di mesin yang biasa Teh Sabila tempatin. Belum banyak yang datang untungnya, jadi aku bisa duluan duduk disana. Satu hal yang aku mesti aku syukuri lagi adalah tidka pelru menunggu menanti kain yang belum Bu Nining potong. Kain kemarin saja belum aku jahit semua hehe.


Dengan semangat empat lima aku mulai menyalakan mesin. Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi, harus belajar sebaik-baiknya. Sebelum mulai, aku berdoa terlebih dahulu agar kursusnya lancar.


“Permata kenapa hanya diam?” tanya A Deni yang kini duduk di depanku, tempat mesin obras berada.


Aku nyengir dan menggaruk kepala, “hehe aku masih belum bisa menghasilkan jahitan yang bagus. Dari kemarin salah terus.” Keluhku pada a Deni.


A Deni mendekatiku, “sini coba lihat.” Aku memperlihatkan hasil kerja kerasku kemarin dan beberapa lembar kain yang belum di jahit.


“Ohh, mesinnya sudah nyala.” Aku mengangguk.


A Deni mulai menyusun tumpukan kain itu, “coba jahit dulu ini.” aku menuruti apa kata a Deni, karena memang aku ingin bisa dan tidak ingin salah lagi.


Dengan cekatan A Deni menyusun kain-kain itu, “ini coba jahit lagi, usahakan sejajar dengan garis teplak ya.” Dengan sangat hati-hati aku menjahitnya, tidak ingin membantah perintah a Deni.


“Sudah begini?” aku bertanya bukan karena tidak tahu aturannya, tapi lebih ke ingin tahu apakah sudah benar atau belum.


A Deni membolak-balikan kain yang sudah ku jahit, “bener kok begini, sekarang jahit yang atasnya coba. Harus sejajar garis lagi ya” A Deni menempelkan kain baru dan kembali menyuruhku untuk menjahitnya. Aku menurut lagi.


“Nih.” Aku menyodorkannya lagi pada a Deni. A Deni mengambil gunting jatrek miliknya, dia sendiri yang memboboknya. Dia menyimpan asil jahitan itu di meja, setelah kain di baliknya.


“Sekarang, coba jahit kedua sisi ini sambil di rapikan dan lihat apakah sejajar kanan-kiri atau tidak.” Mengikuti sarannya itu ternyata saku bobok buatanku kali ini seimbang.


A Deni kembali menyimpannya di meja, di depanku. “Lihat, kalau ingin rapi tarik sedikit yang atas ketika sedang di jahit.” Aku mencobanya, wah ternyata benar sekali setelah melihat hasilnya, lebih bagus dari kemarin.


“Tinggal jahit bagian luarnya sekarang, biar bisa dijadikan saku.” Dengan senyum lebar aku menjahitnya.


“Makasih banyak ya a Deni.” Aku tersenyum lebar, memandang penuh haru hasil jahitanku kali ini.


“Sama-sama, sana setorkan dulu biar bisa di lanjut atau tidka.” Aku mengangguk, mematikan mesin dan segera meninggalkan a Deni.


Sekembalinya ke tempat meja mesin, aku menyemangati diri sendiri terlebih dahulu. Semangatku nambah setelah mendengar Bu Nining menyuruhku untuk melanjutkannya. Wah, lega skeali rasanya tidak sia-sia aku mendengarkan saran a Deni tadi.


***


“Sudah selesai?” Aku menoleh kepada Pandu, karena mood sedang bagus sekarang aku menjawab pertanyaan Pandu dengan anggukkan.


“Pinjam mesinnya ya.” Aku mengangguk lagi, dengan semangat membereskan saku bobok yang telah di buat itu. Ingin segera menyetorkannya pada Bu Nining.


Kok, Bu Nining gak ada ya. Saking seriusnya menjahit, sampai tidak sadar kalau Bu Nining pergi. Haduh Permata saat sedang semangat untuk setor, malah tidak jadi setor.


“Bu Nining ke pabrik dulu, mau ngambil kain.” Jelas Pandu yang sepertinya melihatku yang terus menatapa ke depan.


“Mm iya gak apa-apa kok.” Sabar, semua itu ada prosesnya, jangan cepat senang dulu.


“A Pandu mau nitip?” teriak Teh Titan yang sudah setengah jalan keluar Pintu.


“Seperti biasa ya.” Balas Pandu setengah berteriak juga. Lah memang ini mereka sedang di hutan apa. Sudahlah.


Mumpung sedang tidak ada ibu aku memberanikan diri untuk membuka ponsel. Membaca persyaratan yang tadi sempat tertunda. Juga aku mencari pengumuman apa sudah di buka untuk tes cpns. Dan benar, pendaftarannya belum di buka.


Aku tidak sedih, justru dengan begitu aku punya persiapan dalam menyiapkan berkas-berkas untuk tes masuk, kan. Aku fokus dengan ponsel, tidak sadar jika sedari tadi Pandu menatapku dengan tatapan bertanyanya.


“Apa?”


“Kenapa tidak membalas pesanku lagi?”


Ingatanku mendadak kepada kejadian kemarin, aku yang tidak fokus kuliah. Ada apa sih denganku ini kok tiba-tiba jadi gugup.


“Keburu tidur kemarin.” Aku berusaha untuk tidak memandang balik Pandu yang menatapku.


“Tapi online.” Jawabanku tetap saja tidak membuatnya percaya ternyata.


“Lagipula masa jam 8 sudah tidur.” Tidak tahu saja dia jika saat itu aku masih berkeliaran di tempat asing, stasiun bisa di bilang tempat asing juga kan?


“Salah gitu kalau jam 8 sudah tidur gak juga kan. Sedang ngobrol dengan teman kemarin, tidak tahu kamu chat.” Jawabanku kali ini semoga saja membuatnya percaya dan tidak tanya-tanya lagi.


“Lah aku kan sama-sama chat juga gimana sih.” Wajahnya terlihat kesal.

__ADS_1


Aku menyimpan ponsel di meja, tidak lagi minat membaca apapun. “Kan chat nya di Facebook bukan whatsapp.” Seketika dia jadi terdiam. Dia juga kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sebenanrya apa tujuan Pandu tanya tentang hal itu terus, dari kemarin marah cuma gara-gara aku tidak membalas pesannya. Terserah aku saja deh mau membalas pesannya atau tidak. Dia juga bukan pacarku kan?


__ADS_2