Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Stasiun Jadi Saksi Bisu Semuanya


__ADS_3

Dekat denganmu sebuah keberuntungan atau musibah.


-Permata BIru-


Di ujung jalan tempat biasanya aku menunggu, belum ada tanda-tanda kehadirannya, mataku menjelajah mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Sampai aku menemukan dia, dekat dengan parkir motor, tersenyum ke arahku. Aku segera menghampirinya.


“Lama nunggunya?” hanya kata itu yang terucap dari mulutku.


Dia kembali tersenyum, “gak kok baru datang, mau pulang sekarang?” aku mengangguk.


Dia kembali duduk di motornya.


“Tunggu.” Ucapku yang melepaskan tas.


Dia menoleh ke arahku dengan pandangan yang bingung, “apa?”


“Pakai tasku.” Aku memberikan tasku pada Pandu. Pandu menurut dan mulai memakai tasku. Aku akhirnya naik ke motornya.


Aku menunduk malu saat melewati orang-orang yang sedang menunggu jemputan ataupun sudah di jemput. Rasanya sungguh malu, berasa seperti orang yang di jemput pacar saja, padahal kami tidak ada hubungan apa-apa.


Aku merapatkan jaket karena dinginnya angin malam membuat perutku kembali mulas. “Kamu beneran gak apa-apa jemput aku ke stasiun?” tanyaku sekaligus khawatir jika mengganggu waktunya.


“Kan sudah bilang tidak apa-apa, malah seneng kok.” Ucapnya.


“Kok seneng sih?” aku bingung dengan jalan pikiran Pandu.


“Seneng aja bisa jemput Permata di stasiun.”


Terserah dia lah, yang terpenting sekarang adalah aku selamat sampai rumah. Aku menatap pemandangan gunung yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu.


“Kamu gak mau peluk gitu.” Ucapnya yang mmebuatku jadi bergidik.


“Enak aja peluk-peluk bukan muhrim.” Ini yang mmebuatku ragu di jemput Pandu.


Drrr


Dengan sengaja pandu mengencangkan kecepatannya. Aku memegang erat-erat pegangan pada besi di belakangku. Gila apa ya dia ini, suka banget bikin orang kesel itu.


“Peluk dong.” Enggak banget ucapku dalam hati.


“Mau peluk?” dia mengangguk.


Aku memegang tasku dan memeluknya erat, “tuh sudah.”


“Mana?”


Aku tidak menjawabnya dan malah asyik memeluk tasku sendiri. Memangnya dia siapa mau di peluk segala. Aku belum pernah sedekat itu dengan laki-laki, ini saja minta di jemput pertama kalinya. Jujur saja teman-teman SMA ku rasanya tidak ada yang seperti Pandu. Kok aku jadi sedikit menyesal meminta bantuan Pandu, apa aku salah meminta bantuan padanya?


“Dari tempat kursus lurus aja kan?”


“Iya Pandu.”


Aku kembali memperhatikan jalan di depan sana. Maklum banyak lubang kecil yang membahayakan sebenarnya. “Pandu awass.”


Baru saja berpikir sudah kejadian kami tersandung lubang untung saja tidak besar dan hanya oleng.


“Hati-hati makanya.”


“Iya ini juga hati-hati kok.” Ucap Pandu yang tersenyum lebar.


Aku yang merasa khawatir menjadi lebih waspada ketika ada lubang. Sejatinya aku sudah tahu jalan di daerah ini bagaimana karena sering melewatinya. Malam yang semakin larut membuatku menjadi berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana ya rasanya di jemput oleh pacar di stasiun.


Aku mengusir pikiran itu jauh-jauh, untuk apa sih di jemput pacar. Lebih baik di jemput oleh suami yang jelas-jelas sudah muhrim. Pasti aku akan memeluknya dan tidak merasa kedinginan seperti sekarang.


“Permata.”


“Permata.”


“Permata.”


“Ini lurus aja?” kesadaranku kembali.


Sebelum menjawab aku melirik kanan-kiri yang ternyata sudah berada di dekat tempat kursus. “Lurus aja, nanti ada sebuah masjid, lalu belok kiri.”


Tidak lama kami sudah menemukan masjid itu dan Pandu membelokkan motornya. “Dari sini lurus aja, nanti ada rumah yang banyak pohonnya berhenti disana.” Ucapku yang melirik kiri kanan dan menyembunyikan wajah, takut ada yang melihatku di bonceng oleh seorang laki-laki.


“Rumah kamu yang mana?”


Aku menunuk rumah yang sudah kelihatan pagarnya, “itu berhenti disana.”


Pandu menghentikan motornya dan aku turun dari motor. Mengambil kembali tasku yang di gendongnya. “Terima kaish ya.”


“Mana rumah kamu?” mungkin dia heran karena kami berhenti di sebuah tanah kosong dekat sebuah gang kecil yang buntu.


“Itu.” tunjukku pada rumah di sebelah kanan kami.


“Terima kasih ya.” Ucapku tulus.


Pandu mengangguk dan mulai membelokan motornya. Aku melangkah ke teras rumah, melambaikan tangan kea rah Pandu.


***


“Assalamualaikum.” Jawabku lesu.


“Waalaikumsalam.” Jawab Mama yang sedang menonton televisi.


“Pulang naik ojeg?”

__ADS_1


Aku hanya bergumam sebagai jawaban. Rasanya badanku tidak enak sekali. Ingin segera istirahat saja, tapi belum ngantuk. Aku akhirnya memutuskan menemui Mama di ruang keluarga setelah berganti pakaian.


“Bapak belum pulang?”


“Belum.”


Mama menghadapkan tubuhnya padaku, “kamu tadi pulang sama siapa?”


Aku menunduk malu, “teman, aku takut naik ojek.” Mama tidak bertanya lagi dan aku memutuskan untuk memainkan ponsel.


Me : Pandu terima kasih banyak ya.


Tidak lama Pandu sudah membalasnya.


Pandu : Sama-sama, lain kali kalau butuh bantuan lagi tinggal bilang aja kok.


Aku yang merasa tidak enak karena terus merepotkannya.


“Kamu sudah makan?” tanya Mama kepadaku yang sibuk memainkan ponsel.


Aku mengangguk, “tadi gak ada dosen hehe jadi sekelas makan dulu.” Aku akhirnya mengadukan diri bahwa tadi tidak ada dosen dan malah nongkrong.


Mama tidak berkata apa-apa lagi. “Bapak kemana emang?” tanyaku.


“Ke Jatinangor.”


Aku mengangguk-ngangguk, “ngapain?”


Pandu : Kok gak di balas sih


Pandu : Sudah tidur


Aku membaca sekilas pesan dari Pandu, “ada apa ke Jatinangor?”


“Gak tahu ada urusan aja katanya.”


“Aku masuk ke kamar dulu ya.” Mama mengangguk mengerti.


Me : Ada apa ya?


Me : Sudah sampai rumah?


Pandu : Sudah makanya kirim chat juga, kirain udah tidur.


Me : Baru mau


Pandu : Ya sudah kalau mau tidur


Aku tidak lagi membalas pesan Pandu karena mulas di perut sudah kembali lagi. Aku mencoba memejamkan mata dan menyelimuti seluruh tubuhku yang menggigil.


***


“Assalamualaikum mami.” Sapaku pada The Sabila yang sibuk menjahit. Setelah di ceramahi Bu Nining karena masuk telat aku akhirnya bisa duduk dengan tenang di mejaku.


“Waalaikumsalam ces, kamu ini rumahnya deket masa telat.”


Aku memberikan cengiran yang lebar. “Hehe maaf deh kesiangan tadi.”


“Alah klise.”


Tidak ku pedulikan cibiran Mami itu, aku malah menatap Mami serius karena ada hal penting yang harus ku bicarakan dengannya. “Mami aku mau cerita.”


“Cerita apa ces.” Ucap Mami yang tetap fokus pada pekerjaannya. Aku sendiri harus menunggu mesin yang nganggur.


“Gini mami, masa ada yang deketin aku di sip b.” bisikku pada Mami.


Sontak saja Mami mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan penuh selidiknya. “Kan kan mami bilang juga apa pasti ada sesuatu yang penting kemarin, ini toh hihihi.”


Mami tertawa, untung saja tawanya bukan tawa yang menggelegar.


Aku menatap sekeliling tempat kursus. “Bukan gitu Mami…”


Ada jeda sebelum aku kembali menjelaskan perasaanku yang sebenarnya, “dari awal aku sudah ragu sama dia, apalagi dia yang suka deketin cewek, tapi…”


“Tapi…” Mami mengikuti gaya bicara menggangtungku.


“Tapi dia membantuku. Bahkan tadi malam dia menjemputku dari stasiun, aku jadi bingung mami.”


“Cie anak mami sudah besar.” Godanya yang membuatku memberenggut malu. Bukannya mmebantu anaknya yang sedang bingung ini malah begitu respon Mami.


“Ish mami orang aku belum selesai cerita juga.”


“Menurut mami, aku boleh deket apa jangan?”


“Kok tanya mami sih?” Mami balik bertanya padaku. Iya juga sebenarnya, kan yang menjalani ini aku bukan Mami, tapi tetap saja aku perlu bantuan Mami.


Aku berpikir sejenak. “Mmm ya mami kan sudah berpengalaman.”


Mami mematikan mesin dan menatapku serius, “ yang kamu rasain sebenarnya gimana ces?”


Yang aku rasakan? Ada senang dan keraguan, jadi aku juga bingung sebenarnya mengekspresikan hal ini bagaimana. “Gimana ya, aku sendiri masih bingung. Tadi juga sudah ku bilang aku ragu, tapi dia baik terutama suka membantuku. Aku..”


“Mungkin dia suka kamu kali ces, deketin aja.” Mami kembali menggodaku.


Aku meraba pipi yang terasa panas, masa sih Pandu suka sama aku. Aku belum memutuskan untuk sampai kesana, aku masih memikirkan apakah dekat dengan Pandu ini hal baik atau buruk, ribet memang pemikiranku ini. Seperti makan buah simalakama, kalau maju takut menyesal kalau mundur juga takut menyesal.


“Tau ah Mami aku pusing.” Aku membalikan badan, menatap mesin yang menjadi saksi bisu kedekatan ku dengan Pandu.

__ADS_1


“Ces.” Mami kembali bersuara. Aku tidak menoleh dan memilih diam di tempat menunggu Mami melanjutkan kalimatnya.


“Kamu itu masih muda, perjalanannya masih panjang. Nikmatin dulu lah waktu sendirinya. Apalagi kamu kuliah, sibukin diri dulu lah. Cari pacar mah gampang.” Nasihat Mami yang walau aku tidak menoleh ke belakang aku mendnegarkannya dengan seksama.


“Ish Mami aku gak mau pacaran tau.” Protesku.


“Terus…”


Aku berbalik dan menopang dagu di meja Mami, “gak tau juga Mami, aku masih bingung dengan perasaanku sendiri.”


“Di satu sisi tidak ingin menjauh, tapi disisi lain takut kecewa.”


“Pemikiran kamu itu wajar kok ces, Mami paham karena kamu belum ngerasain enaknya cari uang dan ngabisin uang sendiri.”


“Ces Mami kasih tahu ya, Mami aja yang sudah pacaran lama dan sudah cukup umur untuk menikah belum ada kejelasan. Udahlah kamu beresin kuliah dulu, cari kerja dulu. Kalau udah kerja di jamin deh lupa sama yang namanya cari pacar.”


“Mami dulu juga gitu pas masih kerja, bisa kemana aja gak khawatir ngabisin uang orang tua. Gak perlu tuh minta sama pacar buat beli kosmetik. Sekarang saat Mami gak kerja, mau beli lipstick aja susahnya minta ampun.”


“Jadi intinnya, kalau kamu masih labil begini jangan dulu mikirin pacar lah. Pikirin dulu tuh kuliahmu, karir ke depannya mau gimana. Kalau usia sudah 20 ke atas tuh susah ces, apalagi usia hampir seperempat abad kayak Mami, nikah mulu yang di tanyanya.”


“Sekarang fokus belajar jahit aja, sana belajar nanti ibu marah. Eh tapi Mami pacaran siapa sih yang bisa membuat princes Mami galau, kenalin ya.” Aku cemberut mendengar kalimat terakhir Mami.


Mami kembali menyalakan mesinnya, “kalau memang dia baik, ya deket sih gak apa-apa. Kamu bilang juga gak mau pacaran jadi ya udah kata mami sih fokus aja kuliah dulu.”


Aku mengangguk mengerti. “Baik mami.”


Aku merenung, apa yang mami katakan memang benar, lalu kenapa aku meragu ya.


Aku tahu dia baik, sangat baik. Lalu, kenapa keraguan itu hadir. Aku yang tidak bisa membaca situasi atau gimana ya?


Aku bangkit untuk mencari mesin yang tidak di pakai. Daripada sepanjang kursus hanya melamunkan hal itu lebih baik aku belajar dengan baik dan benar agar hasilnya tidak mengecewakan. Untungnya sepanjang aku kursus mulasnya sedikit berkurang, walau masih terasa tapi masih bisa di tahan.


“Akhirnya beres juga.” Aku menggeliat kecil dan kembali bangkit menghampiri Mami.


Karena sekarang sudah pada kenal dengan teman kursus, aku tersenyum melewati orang yang di kenalku.


“Teh Nia pindah yak e sip b.”


“Gara-gara kamu gita sepertinya.”


“Kok aku?”


Desas-desus itu mmebuat langkahku memelan. Teh Nia? Sip b? ada apa sebenarnya. Bukan urusanku sih, tapi penasaran juga kenapa Teh Nia memutuskan pindah sip.


Aku menghampiri meja Mami. “Mami Teh Nia pindah sip ya?”


“Kata siapa ces?”


Aku menunjuk Teh Gita dan siapa aku lupa namanya, mereka masih mengobrol.


“Mungkin.” Jawab Mami sambil mengangkat bahunya.


“Gak betah kali di sip ini.”


Dan yang terjadi selanjutnya adalah bergosip. Dua perempuan disatukan dalam satu waktu itu memang selalu bergosip.


****


Tidak terasa waktu tiga jam itu terasa sangat cepat, kini sudah saat nya aku pulang ke rumah. Ingin segera istirahat saja karena mulas sudah mulai terasa lagi.


“Dah Mami.” Aku melambaikan tangan kepada Mami di depan gerbang. Arah pulang kami berbeda.


Setelah turun dan membayar ojek aku segera masuk ke rumah karena tidak tahan dengan mulasnya. “Ta sudah pulang.”


“Iya Ma Assalamualaikum.” Ucapku yang langsung masuk kamar untuk mengambil obat.


“Waalaikumsalam, anak itu ada-ada aja.” Ucap Mama yang masih bisa ku dengar ketika masuk ke kamar dan kembali lagi keluar untuk minum obat.


“Ahhh.” Leganya setelah meminum obat pereda mulas.


Mama mendekatiku yang masih memegang perut. “Lagi dapet?” aku mengangguk sambil mencari posisi duduk yang enak walau tetap saja terasa sakit.


Mama masuk ke kamarnya, tak lama dia kembali dengan sebuah balsam di tangannya. “Balik badan.” Kalau sudah begini lupa rasanya kalau aku selalu kesal dengan tingkah Mama.


Aku menurut dan Mama segera mengolesi punggungku dengan balsam. Enak sekali rasanya, perut kramku sedikit melunak. Rasa mual pun sudah tidak lagi terasa.


“Ta, di tv pengumuman pendaftaran cpns sudah di buka.” Ucap Mama di sela-sela pijatannya.


Aku terdiam sebentar, otakku loading sebentar ketika mendengar kata cpns. Apa?! CPNS?! Aku berbalik. “Ma sekarang tanggal berapa?”


Mama menatapku heran, “tanggal berapa ya Mama juga lupa.”


Aku langsung ngacir ke kamar, tidak ku pedulikan lagi sakit yang aku rasakan sekarang. Hanya satu yang harus aku cek, pengumuman tenggat pendaftaran. Aku grasak-grusuk mencari ponsel yang entah disimpan dimana.


“Mana ya.” Ucapku yang masih mencari keberadaan ponsel. Di meja tidak ada, di tas depan tidak ada dan sekarang sedang mencari di tas belakang yang penuh dengan kain.


“Aduh dimana ya, kenapa sih penyakit lupa ku kumat disaat begini.” Gerutuku kesal pada diri sendiri.


Aku mengeluarkan semua isi tas, mencari ponsel di tumpukkan kain yang untung saja ketemu. “Ayo, ayo dapat dong.” Ucapku yang terus menscroll tangkapan layar.


What?!! 2 hari lagi deadline nya, gimana dong. Aku mengigit bibir bawahku. Aku harus tanya siapa coba, temanku tidak ada yang ikut sepertinya. Tenang, Permata tenang.


Aku menarik napas dalam-dalam. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah membaca peraturan dan persyaratan dengan baik-baik. Aku mencoba membuka laman websitenya, disana sudah ada panduannya ternyata. Oke itu bagus, sekarang aku harus coba daftar.


Drrrr


Disaat genting begini malah ada yang menelpon tidak tahu siatuasi sekali sih. Aku mematikan telepon itu sepihak. Kembali fokus membaca tata cara mendaftar dan persyaratan yang di perlukan.

__ADS_1


Pandu : Ta besok ada acara?


__ADS_2