
Mungkin aku yang tidak mau berbaur dengan mereka. Bukan mereka yang tidak mengerti perasaanku.
-Permata Biru-
Tidak terasa sekarang sudah masuk hari kamis lagi. Senin, selasa, dan rabu seolah waktu berjalan dengan sangat cepat. Kesibukan kuliah dan kursus, membuatku tidak sadar jika hari sudah berganti. Tidak sadar jika sekarang adalah hari terakhir aku kuliah.
Menurutku tidak ada perubahan yang berarti selama tiga hari itu, selain komunikasi aku dan Pandu yang menjadi intens. Aku jadi sering berbalas pesan dengan Pandu entah kenapa dan tidak tahu apa sebabnya. Aku bahkan mengabikan perasaan ragu yang dulu sempat hadir dalam benakku.
Aku juga akan curhat sama Mami tentang hal ini, nanti saja lah. Besok juga masuk kursus lagi, aku berdoa semoga saja ingat untuk curhat sama Mami besok. Agar tidak lupa apa aku harus menyetel alarm saja kali ya. Aku menyetel alarm untuk besok pagi dengan catatan curhat kepada Mami. Jangan sampai lupa.
Pandu : Hari ini kuliah?
Me : Iya
Pandu : Sudah berangkat?
Me : Ini lagi di kereta.
Pandu : Pulangnya jam berapa?
Me : Gak tahu, paling jam sembilan atau sepuluh, tergantung dosen sih.
Pandu : Malam juga ya, mau di jemput.
Me : Gak usah ah, ngerepotin. Di jemput bapak kok.
Pandu : Kalau bapak gak jemput bilang ya.
Me : Lihat nanti saja.
Aku memutuskan untuk mematikan data ponsel dan memilih untuk mendengarkan musik dari download. Aku jadi kecanduan mendengarkan lagu-lagu dari near, setelah lagu karena su sayang viral dan Pandu sering memutarkan lagu itu di tempat kursus, aku jadi suka dengan lagu ciptaan orang ntt itu. Suaranya yang khas serta liriknya yang sarat makna sangat enak di dengar di telinga, apalagi saat sepi dan sendiri seperti saat ini.
Biasa sa cinta satu sa pinta
Jang terlalu mengekang rasa
Karena kalau sa su bilang
Sa trakan berpindah karena su sayang
Baur bait pertama saja sudah mengingatkan ku akan Pandu. Aku menggantikan lagu itu dengan lagu yang lain. Sebenarnya aku sangat suka dengan lagu ini, menceritakan seseorang yang sedang jatuh cinta. Tetapi aku takut, jika dalam lirik ini terjadi padaku.
Aku yang sekalinya jatuh cinta, tidak pernah berkata dusta dan mengkhianatinya. Kalau dia, entah siapapun itu berbuat hal di luar nalarku. Aku takut sebenarnya, bukan karena takut jatuh cinta, tapi takut patah hati untuk kedua kali.
Badai tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap taufan menyerang kau di sampingku
Ku aman ada bersamamu
Bait pertama yang sungguh menyentuh jiwa, kata-kata yang tertata apik bersatu padu dengan suara dan music bagaikan melody yang indah. Jeritan seorang perempuan tentang seseorang yang selalu di sampingnya. Kalau saja seseorang yang aku cintainya itu seperti dalam lagu ini, selalu melindungiku aku tidak segan untuk jatuh cinta.
Badai puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap pagi menjelang kau di samping ku
Kau aman ada bersama ku
Lalu, kapankah kita akan merasakan hal itu saat jatuh cinta saja setakut ini. apakah aku harus benar-benar mulai membuka hati?
Selamanya sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
Hanya maut yang mampu memisahkan cinta sejati. Sejatinya aku belum menemukan cinta sejati itu. perjalananku masih panjang. Aku tidak tahu apakah Pandu benar cinta sejatiku atau bukan. Aku masih ragu akan dirinya, semuanya terlihat abu-abu, bagai kertas koran yang buram.
***
“Dwi? Tumben sudah datang?” tanyaku ketika masuk ke dalam kelas dan sudah mendapati Dwi duduk di kursi.
“Hai ta, orang rumahku deket kok darisini.”
Aku tidak tahu kalau rumah Dwi itu dekat dari kampus, “Lagi apa sih?” tanyaku lagi ketika dia asyik dengan ponsel di tangannya.
“Ini lagi nonton korea, mumpung ada wifi.”
“Hah? Ada wifi? Paswordnya apa?” Aku baru tahu jika di lantai 2 ini juga ada wifi, sebagai mahasiswi yang kere, aku tentu tidak akan melewatkan ini dong.
Aku meminta Dwi untuk menyebutkan passwordnya. Setelah tersambung aku langsung ikut nonton dengan Dwi, lumayan jadi irit kuota. “Makasih ya Dwi.”
__ADS_1
“Sama-sama ta.”
“BTW kenapa pindah ke sore?” tanyaku yang kini sudah hanyut menonton sebuah film.
Dwi mencopot salah satu headseat yang terpasang di telinganya. “Tadinya mau sambil kerja, *** belum dapat juga sih.” Aku mengangguk mendengarkan sambil sesekali fokus menonton.
“Nonton apaan sih ta?” Tubuh Dwi condong untuk melihat apa yang aku tonton.
“Kirain gak suka drama korea.”Cibir Dwi.
Aku terkekeh, “suka aja sama dengan jalan ceritanya. Alurnya keren-keren.”
“Eh tapi ini bukan drama korea, tapi web series Indonesia.”
“Masa sih??” tanya Dwi terlihat tidak yakin.
Aku menunjukkan web series itu pada Dwi. Web series yang di garap oleh salah satu vlogger make up terkenal di Indonesia dan salah satu produk yang merupakan pabrikan Indonesia juga. Keren sih dramanya, drama kantoran gitu, jadi pengen kerja di kantoran seperti yang ada di web series ini.
“Lihat grup deh.”
“Kenapa?”
“Mata kuliah pertama gak masuk katanya.”
Mendengar hal itu sontak saja aku langsung membuka whatsapp. Langsung melihat grup. Kalau tahu dosen tidak akan masuk, aku akan datang ke kampus telat saja. Aku menyimpan ponsel di meja dengan kesal.
“Kenapa gak bilang dari awal sih?” tanyaku entah pada siapa.
Dwi di sampingku juga tampak menggerutu. “Cari makan dulu yuk laper.” Ajak Dwi.
Aku butuh air dingin sekarang. Ajakan Dwi adalah opsi terbaik saat ini. “Mau makan kemana?”
“Ke depan aja pengen seblak.”
“Ayok lah.” Dwi bangkit lebih dulu, aku mengikutinya.
Sebenanrya di depan kampus itu banyak sekali penjual makanan seperti seblak, nasi goreng, ayam bakar, jus, cilok dan lainnya. Hanya saja aku terllau malas jika harus jajan sendirian, aku memlih jajan gorengan di kantin saja daripada di sebrang.
Jam setengah lima sampai malam itu, jam-jamnya kendaraan ramai berlalu-lalang. Aku tidak bisa menyebrang jalan sendirian. Jadi ya lebih memilih memakan apa saja yang ada di kampus.
“Mau makan apa?” tanya Dwi ketika kami sudah menyebrang jalan.
“Sama aja deh.”
Kami berjalan menuju penjual seblak, sembari menunggu pesanan yang perlu di masak itu, aku membeli minuman terlebih dahulu. Pilihan ku jatuh pada susu putih dancow, Dwi pesan capucino cingcaw.
Daerah kampusku itu memang banyak kampus lain di sekelilingnya. Di depan kampus saja ada kampus swasta yang cukup besar dan sudha terkenal.
Di belakang kampus itu juga ada kampus UNPAS, sebelum ke kampus aku juga melewati beberapa kampus. Jadi bisa di pastikan jika lingkungan di kampusku memang penuh dengan kos-kosan dan kafe tempat nongkrong.
Mau makan apapun sebenanrya tidak sulit juga. Saat semester dua kemarin, kami pernah buka bersama di kampus dengan di traktir oleh dosen. Makanannya tidak perlu repot bawa dari rumah karena pesan lewat abang gojek. Memang kalau jaman canggih itu beda, semua serba mudah dan praktis.
Aku kembali dengan dua cup plastik minuman, “nih Dwi.” Aku memberika minuman pesanan Dwi padanya.
“Makasih ya ta, nanti ya uangnya.” Aku mengangguk.
Untungnya pas aku sampai pesanan seblakku sudah datang, tidak perlu menunggu lagi jadinya. Aku mengaduknya terlebih dahulu, sekalian mendinginkannya. Baru saja satu suap, panas langsung menjalar di lidahku.
“Panas ya ta?” Dwi memberikan sebuah tisu padaku.
“Huum.”
***
Jam pelajaran pertama sebentar lagi akan habis. Selepas makan, aku dan Dwi kembali ke kelas yang untungnya sudah ada yang datang—tidak hanya kami berdua. Teh Rahma juga sudah datang dan terlihat kembali sibuk di belakang dengan Teh Syarah.
“Dosenya hari ini tidak masuk yey.” Ucap Teh Rahma yang mulai berdiri dari tempat duduknya untuk memberikan pengumuman itu.
“Ahhhh, asyikk.” Ucap A Agung yang kembali asyik main game.
“Horee.”
Teriakan demi teriakan menyusul membuat kelas yang tadinya ramai semakin riuh ricuh karena kegaduhan. Ada yang joget-joget, ada yang bikin insta story pura-pura kesal karena sudah datang ke kampus, ternyata dosen gak masuk—dua-duanya lagi.
“Gimana kalau kita nongki dan makan-makan yuk di angkringan.” Usul Teh Syarah.
Teh Rahma juga angkat bicara, “susu murni kuy.”
Suara teriakan setuju dan rekomendasi tempat mulai bersorakan di belakangku. Aku menutup telingaku dengan headseat. Suara mereka itu mirip toa, menulikan. Aku tidak ingin ikut campur, lagipula seringnya aku tidak ikut kegiatan nongkrong mereka. Selain jarang di ajak aku takut pulang ke malaman.
“Kuy nongki mumpung dosen gak masuk, besok libur ini juga.” Usul Teh Iis yang di setuji geng nya.
“Mau berangkat sekarang nih?”
“Sholat magrib dulu lah.” Usul Dzikri.
Kami serentak turun ke bawah. Aku juga ikut membereskan barangku dan turun ke bawah. Teh Rahma menghampiriku yang akan keluar kelas.
__ADS_1
“Ta mau ikut gak?” ucapnya yang kini berjalan beriirngan di sampingku.
Aku menatap Teh Rahma dengan bingung, ikut? Kemana? “Mau kemana teh?”
“Makan-makan di angkringan.”
Aku berpikir apakah akan ikut atau tidak. “Aku-“
“Mau ya, nanti teteh anterin deh ke stasiun nya.” Bujuk Teh Rahma.
Sebenarnya bukan masalah di antar atau tidak ke stasiun sih, tapi takut pulang larut dan tidak dapat kereta kalau aku ikut nongkong sambil makan nanti. Kalau ketinggalan kereta aku mau pulang naik apa, jalan kaki gitu, kan tidak mungkin.
“Bukan gitu-“
“Udah ikut ya.” Potong Teh Rahma yang mmebuatku mengangguk pasrah.
Biarkan sajalah kali ini aku ikut mereka, mumpung tidak ada dosen. Mungkin benar kata Te Rahma tidak akan terlalu lama. Lagipula ini bukan makan di kafe atau restoran, hanya akringan biasa yang aku sendiri tidak tahu tempatnya seperti apa.
Seusai sholat magrib, kami berkumpul di parkiran depan. Aku ikut saja kemana mereka akan pergi, selain tidak tahu tempat nongkrong yang enak, aku juga tidak ada kendaraan untuk kesananya jadi ikut nebeng siapa saja.
“De, kamu sama siapa berangkatnya?” tanya Teh Tri yang meurpakan anak baru dari kelas percepatan yang kini seangkatan dan satu kelas denganku.
Aku mengangkat bahu, “tidak tahu teh.”
“Teh Rahma ini Permata sama siapa?” tanya Teh Tri kepada Teh Rahma yang sedang berdebat dengan A Aris.
“Teteh kosong?” bukannya menjawab Teh Rahma malah bertanya balik kepada Teh Tri.
“Bentar teh tanya yang lain dulu.” Ucap Teh Rahma yang kini menghampiri teman-temanku yang sedang mengeluarkan motor.
Teh Tri mencari-cari motornya, “kalau tidak ada kamu sama teteh saja ya.” Aku mengangguk saja karena memang tidak tahu harus satu motor dengan siapa.
“Bentar ya nunggu abang dulu.” Dari kabar yang aku dengar sih Teh Tri ini sedang dekat dengan A Asep, aku sih mendukung-dukung saja hubungan mereka, toh mereka temanku. Hanya saja aku tidak ingin jika keduanya saling menyakiti.
Aku tidak bilang ke Mama jika akan nongkrong terlebih dahulu karena memang maish ada satu kelas yang ternyata tidak ada dosen, baguslah jadi aku tidak perlu berbohong untuk ijin main. Aku menatap Teh Tri yang sibuk dengan teleponnya, teman-temanku juga sepertinya menunggu a Asep yang entah dimana keberadaannya.
“Teh Tri, Permata sama Teh Tri aja ya.” Teriak Teh Rahma dari atas motor. The Tri mengangguk sembari masih sibuk dengan teleponnya.
“Ini abang kemana ya, yang lain sudah pada mau jalan, dia malah ngilang.” Gerutu Teh Tri.
“Sudah pada berangkat?” Suara A Asep yang datang dari dalam kampus membuat kami kaget, sejak tadi kami melihat ke jalan dia datang dari arah berlawanan tiba-tiba saja.
“Sudah, abang sih kemana saja.”
“Tadi abis sholat sama Dzikri.”
“Tolong bantu keluarin motornya.” Teh Tri memberikan kunci motor kepada A Asep.
“Jadi nongkrongnya neng?”
“Jadi bang ini mau berangkat.” Ucap Teh Tri yang mengajakku untuk naik ke motornya.
“Kamu sama Teh Tri ya.” aku mengangguk.
“Yaudah hati-hati di jalan neng, nanti abang nyusul.”
Teh Tri mulai melajukan motornya, menyusul teman-teman yang sudah berangkat lebih dulu, aku melihat motor Putri di depanku.
“Teh ini jauh gak?”
“Gak kok, ini ke angkringan kan?”
“Iya teh.” Walau sebenarnya aku tidak tahu dimana tempat yang di maksud ‘angkringan’ itu.
“De, ini belok kemana ya tadi?”
Aku menoleh ke kanan-kiri, memperhatikan dengan seksama, siapa tahu saja motor mereka ada disekitaran itu. Bodohnya aku tadi lupa memperhatikan jalan, jadi tidak tahu mereka belok kemana. Untung saja sepertinya Teh Tri tau dimana tempatnya.
Dari kejauhan aku melihat motor mereka, untung gak nyasar. Mereka berkumpul dalam beberpa meja yang telah di beri karpet. Aku baru tahu kalau angkringan itu seperti ini. Menikmati makan malam dengan angina malam dan ramai kendaraan di tengah kota. Suasana yang dingin terasa hangat saat aku dekat dengan mereka.
Mungkin aku yang tidak mengakrabkan diri dengan mereka, jadi tidak pernah aku dan selalu merasa tidak nyambung. Kalau berkumpul dalak satu frame begini, sama saja seperti aku dengan teman-teman sma ku.
“Mau pesan apa ayo?” tanya Teh Rahma yang meminta kertas untuk menuliskan pesanan.
Aku melihat-lihat buku menu, padahal tadi aku sudah makan seblak. Tidak apa sih sekalian makan malam, nanti di rumah tidak perlu makan lagi.
“Syarif susu murni stroberi.”
“Ta kamu mau apa?”
“Em..” aku membolak-balikan buku menu, “aku susu murni tawar aja, jangan pake gula lagi. Hangat.”
Teh Rahma mengangguk dan menuliskan pesanan ku. Aku melihat mereka sangat akrab jika sudah begini.
Mama:
Ta, bapak gak bisa jemput, kamu nanti naik ojek aja ya.
__ADS_1