
Kamu itu baik, tapi baik aja belum cukup untuk lebih dari sekedar teman.
-Permata Biru-
Dentingan nada pesan masuk ituterus menerus mnegusikku yang mencoba memejamkan mata. Siapa sih yang berani menganggu masa bebas Permata Biru, gerurtu kesal. Bukannya kebebasan yang di dapatkan ini malah sebaliknya. Tidak tahu apa dia ini, bahwa aku harus nulis banyak artikel malam ini.
Pandu :
Permata, sekarang sibuk gak?
Kalau gak sibuk balas dong
Hari ini kuliah gak?
Kuliahnya jam berapa?
Argggg! Pandu ini kenapa berbeda sekali dengan Pandu yang tadi dengan sukarela membantuku, sekarang malah mengacaukan tidur siangku bertemu dengan calon imam.
Karena terlanjur kesal aku tidak membalasnya, lebih baik aku melanjutkan tidur, mengistirahatkan otak yang sejak tadi ku pakai berpikir. Jangan hiraukan orang aneh macam Pandu itu. Ayo tidur Permata.
Arggg! Sial mataku tidak bisa terpejam. Pellet apa sih yang di pakai Pandu sehingga bisa mengacaukan tubuh dan pikiranku. Dengan malas aku kembali membuka pesan dari Pandu. Belum sempat membukanya Pandu meleponku.
“Hallo.” Jawabku malas.
Suara di sebrang sana terdengar bising, entah berada di belahan muka bumi mana keberadaan Pandu itu. “Lesu bener.” Komentarnya.
Aku tidak menghiraukan perkatannya, tubuhku lemas sekarang butuh tidur, berkali-kali juga sudah menguap, sialnya mata belum mau terpejam. “Ada apa?”
“Nyapa aja.”
“Nyapa aja?!” aku kesal, benar-benar kesal sekarang. Ku kira ada hal penting yang akan di bicarakannya. Aku lupa yang menelpon ini Pandu bukan Agla atau salah satu temanku.
“Kenapa? Gak boleh?”
“Gak boleh!!” Hardikku marah.
Jujur saja aku sangat tidak suka bicara di telepon sebenarnya, agak canggung aja gitu, lebih enak ngobrol langsung. Apalagi aku dan Pandu baru kenal. Bukannya aku sombong karena tidak mau menjawab panggilannya, tapi aku bukan orang yang suka mengahabiskan waktu untuk hal begitu sih.
“Kok marah sih?”
“Iyalah kamu ganggu tidurku!!” kataku dengan anda yang tidak bersahabat.
“Sudah kalau ganggu aku tutup teleponnya.”
Sepertinya Pandu tahu kalau aku memang terganggu, kali ini tanpa menunggu jawabanku dia langsung menutup teleponnya.
Aku merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang tidak berubah selama satu tahun ini.
Pantas saja aku tidak punya teman dekat, sifatku ke Pandu tadi saja mungkin membuat dia berpikir beberapa kali ketika mendekatiku.
Aku tersentak, memang Pandu ada tanda-tanda mendekati gitu? Memikirkan sifat Pandu membuatku pusing.
Aku beranjak dari kasur menuju lemari pakaian yang di bawah lacinya tersimpan beberapa berkas-berkas penting. Lebih baik aku mengurus perihal tes cpns bukan daripada mengurusi hal asmara yang belum jelas.
Persyaratan dan berkas yang harus ada itu seperti ijazah SMA karena aku belum lulus ujian, terus skck dari kepolisian yang untungnya sudah buat bulan juli masih bisa di pakai sampai sekarang. Terpenting jangan sampai lupa dengan KTP. Berkali-kali ku cek berkas-berkas dan memasukkannya dalam satu map. Biar gampang kalau butuh.
Selesai dengan mengurus berkas-berkas, aku memilih untuk membaca alur pendaftaran yang kemungkinan tidak mudah. Kalau mudah sih sudah barang tentu banyak yang daftar bukan. Semakin di lihat alurnya memang rumit sih, pantas saja sudha banyak yang menyerah di awal. Huft, semangat Permata.
Tunggu dulu, alurnya ini kan pasti tidak mudah. Aku harus tanya siapa ya yang memang ikutan tes cpns juga. Mau tanya The Rahma gak enak kalau di telepon atau chat, lebih enak ngobrol langsung, teman yang lainnya kemungkinan gak pada ikut. Siapa ya yang kira-kira bisa membantuku?
Sudah dulu deh memikirkan hal itu. lebih baik aku coba cari bahan untuk menulis artikel. Apa yang cocok untuk tema kali ini ya? Bulan ini ada agenda mengumpulkan artikel untuk di bubukukan, aku mau mengangkat tentang apa ya? Yang menarik dan juga berisi.
Aku mencoba mencari buku di aplikasi perpustakaan nasional. Setelah menulis ‘Pendidikan’ di laman pencarian beberapa judul buku bermunculan. Ada satu judul buku yang menarik perhatianku ‘Mendidik Pemenang Bukan Pecundang’, sepertinya ini bisa di jadikan bahan refensi.
Aku mendowload terlebih dahulu buku itu, setelah selesai di download aku mulai membacanya. Bahasanya enak di baca, meski bahasannya berat aku tidak mudah mengantuk. Selain itu, buku yang di tulis oleh dua orang ini menyajikan beberapa pengalaman di lapangan. Banyak sekali kejadian yang membuatku kagum, tercengang, dan terharu.
Apalagi mengenai seorang kaisar pandir telanjang, seolah potret yang terjadi di Indonesia tercantum dengan gambling dalam tulisan itu. terima kasih mbak Puji dan mas J. Sumardianta, wawasan ku bertambah karena membaca buku kalian berdua.
“Huaaa.” Beberapa kali aku menguap ketika membaca buku ini.
Sepertinya kantuk ku mulai datang kembali. Lebih baik istirahat sekarang atau enggak sama sekali. Baiklah ayo tubuh kita istirahat dari banyakanya kenyataan pahit dalam hidup.
***
__ADS_1
“Ta, bangun sudah mau ashar.” Teriak Mama dari luar kamar.
Aku menggeliat kecil, tapi belum beranjak dari kasur. Jam berapa sekarang ya? Tanganku meraba-raba kasur, mencari letak keberadaan ponsel. Karena tidak menemukan ponsel di kasur, aku bangkit.
Pukul setengah 4.
Aku keluar kamar dan masuk ke kamar mandi.
“Ta.” Panggil Mama ketika aku hendak ke kamar lagi.
“Iya ma.”
“Jadi ikut tes cpns?”
“Jadi ma.” Mama tersenyum, aku lega bisa menuruti keinginan Mama. Walau ada bagian hatiku yang terasa kosong.
“Kapan di bukanya?” aku lupa tidak melihat jadwalnya.
“Belum tahu, nanti di cek lagi. Belum di buka kok.”
Mama mengangguk, aku undur diri untuk masuk ke kamar. Melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim, yang terkadang aku masih sering bolong. Seusai shalat aku duduk terdiam di ranjang kasur sembari memainkan ponsel.
Pandu kembali mengirimi ku pesan, apa dia tidak ada kegiatan lain selain kursus dan mengangguku. Apa aku coba membalasnya saja, tapi kalau di balas nanti waktuku akan tebruang sia-sia. Coba dulu sajalah.
Pandu :
Sudah sampai rumah? Sudah makan belum?
Hari ini kuliah?
Me :
Gak, hari ini libur. Ada apa ya masih sibuk ini.
Aku sengaja membalas begitu agar dia tahu bahwa aku tidak ada waktu untuk membahas hal tidak penting, waktuku berharga hanya untuk membahas tentang sudah makan atau belum. Aku kan manusia pasti butuh makan lah, mana mungkin tidak akan makan.
Pandu :
Sekarang lagi apa dong?
Kok jadi membandingkan Pandu dengan Agla sih? Intinya mereka berdua berbeda, bukan berarti aku menganggap Agla yang beda dari kebanyakan lelaki lain, aku suka sama dia. Tidak begitu, kami dekat dari SMA, satu kelas selama tiga tahun. Satu organisasi dan dia selalu meminta bantuanku.
Kenapa otakku malah memikirkan tentang Agla dan Pandu, padahal ada hal mendesak yang harus aku lakukan sekarang daripada memikirkan mereka berdua. Ada satu tugas dari grup kepenulisan online, membuat sebuah puisi tentang diri sendiri.
Aku
Bisu
Ah masa sih begitu, aku kan tidak bisa bisu, hanya berteman dalam sunyi dah tidak bisa berbicara sesuai keinginan hati. Apa itu dapat dikategorikan bisu juga? Bisu dalam arti lain menurutku, tapi masa kata itu di jadikan puisi.
Berteman dengan kesunyian
Berbicara pada malam, sendirian
Menatap langit dan rembulan
Yang selalu menjadi saksi setiap kesakitan
Wah ini sepertinya bagus, apa aku harus mengolah lagi. Coretan demi coretan yang memenuhi kertas putih mmebuat dahiku kadang mengkerut, mulutku tertawa dan air mata menitikan tanpa sadar. Sudah berapa lama aku berteman dengan si sepi?
Aku tidak tahu, hanya dengan menulislah aku bisa mengungkap segala perasaan yang menyimpitkan dadaku. Rasa sakit, sesak, kecewa, sedih, penuh haru biru, dan semua yang aku alami setiap hari, selalu aku tuliskan dalam sebuah buku yang bernama diari.
Rasanya ingin tertawa kebiasaan dari kecil ku itu masih menjadi kegiatan rutin sampai saat ini. siapa yang mneyangka di umur 19 tahun ini aku masih suka menulis diari. Jika ada yang mengetahui hal itu mungkin aku akan jadi bahan tertawaan.
Semoga tidak ada yang mengetahuinya sampai aku sendiri yang menceritakannya dalam sebuah novel atau biorafi tentang diirku sendiri. Aku tidak ingin terkenal, justru ingin membagikan hal-hal menyedihkan itu agar jangan sampai ada orang yang hidup sepertiku lagi.
Rasanya, sangat senang apabila sebuah kisah atau tulisan yang di tulis berdasarkan hati serta persaan tulus itu bisa sampai kepada pembaca. Dengan harapan, mereka dapat mengambil hikmah dan pelajaran, ambil baiknya buang buruknya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Aku harus bergegas untuk segera mandi. Sehabis isya nanti tulisanku di kumpulkan dan nanti dinilai. Aku belum membuat sebuah gambar yang memuat sebuah tulisan menarik.
***
Saat sudah menghidupkan data nama Pandu kembali menjadi daftar teratas pengirim chat. Suka bener dia chat aku yang bukan siapa-siapa. Bukannya tidak mau membalas chat nya, tapi aku harus segera mengumpulkan tugas puisi ini. Kalau tidak, waktunya keburu habis. Aku membaca sekali lagi puisi yang ku buat.
__ADS_1
Aku
Berteman dengan kesunyian
Berbicara pada malam, sendirian
Menatap langit dan rembulan
Yang selalu menjadi saksi setiap kesakitan
Hanya mampu berdiam diri
Bagaikan puteri kecil yang terpenjara dalam istana
Tidak mampu berkata tidak
Juga tidak bisa pergi sesuka hati
Aku tersenyum puas dengan puisi buatanku, tujuanku bukan untuk menang. Hanya ingin membagikan setiap rasa yang ku kecap, pahit manisnya kehidupan dengan aku sebagai tokoh utamanya. Aku menggeliat kecil, berpikir itu melelakan.
Usai selesai pekerjaan yang satu, aku harus melaksanakan pekerjaan yang lain. Libur itu lebih melelahkan daripada hari-hari biasa. Bermain media sosial sebentar tidak akan ada masalah bukan, apalagi ponselku terus berdenting, pesan yang masuk minta segera dibaca.
Agla :
Ta, nanti kita ketemuan di cfd aja ya gue mau lari dan sekalian sarapan disana.
Me :
Ok
Beralih membaca ke pesan lain yang sama-sama pentingnya untukku. Aku memijat kepalaku dengan pelan, pening rasanya saat deadline menulis sudah di depan mata sudah ada deadline lain yang minta di selsaikan.
Menulis untuk buku saja belum beres, sekarang sudah ada jadwal menulis di blog. Tak apa, aku memang senang menulis, semoga dengan kegiatan ini bisa memberikan efek positif bagi pembaca. Apalagi ini dalam bidang pendidikan. Sepertinya hari ini aku akan begadang lagi, cayo.
***
Aku memilih nulis setelah mendapat inspirasi dari buku yang tadi ku baca. Mengenai kaisar pandir telanjang yang di kaitkan dengan realita pendidikan masa kini. Kita semua seolah di bodohi, murid lari dan guru mengejarnya. Padahal jika bisa berjalan beriiringan kenapa harus berlomba siapa yang dulu sampai.
Mengungkit dunia pendidikan memang tidak akan pernah ada habisnya. Negara tetangga yang maju dan kita masih tertinggal bahkan mungkin masih diam di tempat. Seringnya pergantian menteri pendidikan yang menyebabkan pergantian kurikulum yang terus ikut berganti.
Saat kurikulum 2013 saja masih belum berjalan dengan baik, sudah di ganti lagi dengan kurikulum nasional. Sebenarnya ini salah siapa? Pemerintah yang sering ganti menteri pendidikan, muridnya yang kurang pengawasan dan guru yang kurang keterampilan.
Banyak guru yang masih sulit menggunakan computer dan itu bukan hanya sekadar omong kosong belakang. Contohnya saja saat aku SMA, banyak sekali keluhan tentang sulitnya memahami otak kumputer saat masa tua, maka jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu muda.
Bukan itu poinnya, guru yang kurang cakap itu, menurutku karena selama ini menerapkan sistem yang memang tidak ada sangkut pautnya dengan computer. Seperti contoh, saat pelajaran matematika, guru menjelaskan di papan tulis dan murid mendengarkan sembari mencatat.
Jika pembelajaran itu di lakukan menggunakan alat bantu komputer, pasti kita semua tidak akan buta arah dan kurikulum 2013 akan lebih mudah di terapkan. Aku salut dengan guru bahasa sunda di SMA dulu, saat kami kelas 2 SMA dulu. Aku dan teman-teman pernah di beri tugas untuk membuat sebuah video klip music sunda dan wawancara tempat bersejarah di Bandung.
Kedua tugas ini sangat membutuhkan bantuan computer dan teman-temannya.
Sebuah video yang bagus tentu saja harus id edit terlebih dahulu dan jika di tampilkan mentah-mentah, mungkin tidak akan enak dilihat dan di tonton. Dari sinilah kami banyak belajar mengenai mengedit video yang tentu akan berguna di masa depan. Tidak hanya materi saja yang kami peroleh, tapi juga sebuah praktek lapangan.
Sepertinya hal-hal di atas bagus jika aku masukkan dalam artikel nanti. Aku akan mencatat poin-poinnya dulu sembari mengumpulkan beberapa data dan referensi agar akrtikelku tidak terkesan sok tahu. Saat mengidupkan data ini lah Pandu kembali mengirim pesan padaku.
Pandu : Kenapa belum tidur
Me : Maaf ya masih sibuk
Pandu : Tidur sudah malam
Semakin dia mengirim pesan terus semakin aku kesal, dia menyuruhku tidur lalu kenapa terus mengirim pesan. Sudah tahu aku tadi bilang sedang sibuk masih saja kirim pesan. Lalu, kenapa juga aku malah membalasnya ya?
Pandu : Sedang apa?
Me : Kepo banget sih
Pandu : Bukannya terima kasih karena sudah dibantuin
Me : Terima kasih
Pandu : Begitu caranya berterima kasih
Me : Mau kamu apa sih pandu ?
__ADS_1
Pandu : Sudah punya pacar?
Aku langsung mematikan data ponsel. Dadaku bergemuruh, bukan karena semacam berdegup akibat jatuh cinta, tapi karena kesal. Punya hak apa dia bertanya seperti itu. Kenal saja baru-bariu ini, kok begitu ya. Kamu itu baik Pandu, tapi baik aja belum cukup untuk lebih dari sekedar teman.