Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Pandu? Pengganggu?


__ADS_3

Kamu siapa? Hanya orang asing yang kini masuk dalam otak ku.


-Permata Biru-


Mendadak aku tersenyum sinis mendengar teriakan Pandu. Siapa kamu? Membantuku atau sebaliknya? Huh apa peduliku dengan Pandu.


“Bu, ini yang kemarin.”


Bu Nining membenarkan letak kacamatanya, menelisik dengan jeli hasil karyaku. Gara-gara mati lampu kemarin baru selesai sekarang materi saku bobok satu ini.


“Ini.” Aku melongo, semua yang aku berikan pada Bu Nining di kembalikan. Salah apa lagi kali ini?


Aku tidak bergerak sedikit pun, bola mataku terus tertuju pada tumpukkan kain di meja.


“Buat ulang.”


“Hah?” Aku tidak salah dengarkan ini. Bisa menyelasaikan sampai sini saja sudah mendingan, ini harus buat ulang lagi.


Bukannya mengambil dan segera memperbaikinya, aku malah mendekati Bu Nining yang sedang memotong kain, “ini salah mananya lagi ya bu?”


Bu Nining mengalihkan perhatiannya. Mengambil setumpuk kain baru, memberikan kain itu padaku. “Mau tau salahnya apa?” aku mengangguk polos.


Bu Nining mengambil saku yang telah ku setorkan tadi. “Ini.” Dia menunjuk salah satu hasil jahitanku yang jahitannya keluar batas. “Jahitannya kurang rapi, masa saku buka begini tidak rapat.”


“Lihat ini, masa jahitannya melenceng.” Telunjuk Bu Nining tepat di kain yang jahitannya melenceng, jeli juga dia ini.


“Belum lagi ini masa tidak kejahit.” Ada bagian sisi kiri saku yang lupa ku jahit.


“Tidak indah dilihat, masa kerijut.”


Memangnya kalau kerijut tidak boleh ya?


“Sepertinya kurang narik, masa tinggi sebelah.” Aku ingin tertawa melihat hasil jahitanku yang terakhir ini.


“Hehehe iya bu di benerin lagi.” Aku memungut satu-persatu saku di meja dan buru-buru pergi dari hadapan Bu Nining.


“Dari kemarin tuh anak ngapain aja sih!” Suara Bu Nining yang memang keras masih terdengar ketika aku berjalan menjauhinya. Ingin ku jawab ya belajar lah bu, masa main sih.


Di depan mesin jahit aku jadi memikirkan kesalah-kesalahanku. Apa benar yang di katakana oleh Bu Nining itu. Jahitannya tidak rapi? Memang sih karena aku masih belum pandai mengatur gas nya. Kurang narik? Itu benar juga karena bingung, tarik sini yang ini mencong, tarik sana yang lain ikut ketarik, kerijut jadinya.


Aduhhhh, bagamana ini?!


“Hoi.”


“Astagfirullah.” Aku terkejut, suara yang entah datang darimana itu mengagetkanku. Emosi yang sejak tadi ku tahan ingin di ledakkan sekarang juga.


Setelah mengetahui sumber suara, aku tidak jadi memarahinya. Aku malah berbalik dan kembali berpikir untuk menemukan cara agar hasil jahitanku bisa bagus. Dia kini duduk di hadapanku, menatap aku yang masih memperhatikan kain-kain di meja, “ngelamun aja bukannya di kerjain.”


“Ini juga mau.” Sahutku malas.


“Ya ayo.” Ajak Pandu.


Aku menatap Pandu bingung, dia tidak salah sarapan kan? Tadi marah-marah sekarang berubah. “Malah melamun lagi, ayo ikutin.” Dia kembali mengagetkanku.


Ku pikir dia akan membawaku kemana, ternyata ke mesin paling ujung. Eh ngapain sih ke ujung segala. Aku jadi was-was menatap Pandu yang kini duduk di depan mesin.


“Mana kainnya?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.


“Apa?”


“Kainnya mana?”


“Eh oh bentar ada di tas.” Aku kembali ke meja tadi dan mengambil kain yang belum di jahit. Sebisa mungkin aku berjalan dengan cepat, walau tetap tidak bisa karena jarak antar meja mesin yang sempit.


Aku memberikan setumpuk kain itu padanya.


“Satu aja kenapa banyak-banyak sih? Mau banget ya aku yang ngerjain?”


Aku jadi malu dan buru-buru mengambil tumpukkan kain sisanya, “iya kirain minta semuanya gitu.”


Tiba-tiba aku merasa ini ada yang janggal. “Pandu kamu kenapa ya?”


Tanpa menatapku dia menjawab dengan enteng, “kenapa apanya ya, baik iya kok aku baik.”


Aku menatapnya kesal, “bukan itu, tadi marah-marah sekarang kok-“


“Oh iya aku masih marah sama kamu kan.” Dia mematikan mesin dan sejurus kemudian menghadapkan badannya padaku.


“Aku gak jadi bantuin kamu.” Keninggku berkerut bingung. Aneh banget sih orang ini.


“Sebelum kamu jawab urusan pentingmu itu apa?” Kenapa sih manusia satu ini kepo sekali dengan urusan orang.


Aku menatapnya serius, “maaf ya itu urusan pribadi.” Langsung saja ku ambil kain-kain di meja itu dan pergi meninggalkan Pandu.


“Eh tunggu.” Cegatnya yang tidka ku hiraukan.


Brak


Untung saja dia memukulnya tidak terlalu keras, kalau keras sudah di pastikan kami akan menjadi pusat perhatian banyak orang di tempat kursus ini.


“Kenapa gak jawab?”


“Sudah di bilang kan itu bukan urusanmu.”


“Apa susahnya tinggal bilang.”


“Gak mau.”


“Bilang.”


“Gak!”


“Bilang.”


“Gak!!”

__ADS_1


“Udah ya ganggu terus dari tadi kapan bisa selesainya ini.” Mendengar itu Pandu akhirnya mundur dan berbalik arah.


“Besok akan ku tanya lagi.” Telunjuknya mengarah pada wajahku, siapa takut.


***


“Aduh ini gimana ya?” sedari tadi yang kulakukan hanyalah menatap tumpukkan kain, tanpa berani menyentuhnya. Bukan tidak berani, takut salah lagi.


Aku mengeluarkan kembali kain yang salah tadi. Menelitinya dengan seksama. Satu persatu aku mulai paham kesalahanku, tapi menjalankannya aku tidak yakin apakah bisa berhasil atau tidak.


“Aku coba satu deh semoga berhasil semangat Permata.” Menyemangati diri sendiri saat jatuh adalah kebiasaanku.


Kenyataannya hanya dua saku yang mampu ku selesaikan sampai menjelang pulang. Huft, kalau begini adanya, bisa-bisa kursusku tidak akan sampai tuntas. Melihat yang lain masih semangat, aku malah lesu.


Agla :


Ta, sudah post ig?


Agla sudah nih, coba cek.


Kemungkinan sih berhasil karena teman-teman pada nanyain sih semoga saja berhasil, jangan lupa baca komentarnya.


Astaga, lupa kalau ada janji untuk post foto di instagram, mana belum buat lagi. Aku coba buka instagram Agla terlebih dahulu, bagus sih. Kini aku membaca komentar sesuai pesannya.


Gila!! Kok temen-temen Agla bisa percaya sih. Untung saja tidak di tag, kalau iya bisa malu jadinya. Apalagi kalau temen-temen SMA nya percaya. Tunggu-tunggu, temen SMA.


Oh tidakk!!


Me :


Agla, hapus deh gak jadi pasang post begituan.


Tidak lama Agla langsung membalas pesanku.


Agla :


Loh kenapa? Kan bagus, temen-temenku juga udah percaya kok.


Aduh gimana sih ini anak. Dia sih enak mentang-mentang suka post begituan santai-santai saja kalau ketahuan pacaran oleh temannya. Kalau pacar pura-puranya itu bukan aku sih tidak masalah lah ini kan.


Me : Gak mau ya kalau sampai ketahuan sama temen SMA


Agla : Loh, salah?


Me : Iyalah, pokoknya gak jadi aja deh batal. Kalau belum di hapus nanti bocorin sama perempuan gila itu.


Bodo amat dia mau protes apa, pokoknya aku gak mau kalau sampai temen-temenku tahu aku punya hubungan khusus dengan Agla.


Gak! pokoknya gak.


Aku kembali membuka laman instagram, masih loading ternyata. Jelek juga sinyal di tempat kursus ini. Awas saja kalau dia belum hapus postingannya itu, akan ku telepon perempuan itu. Aku meremas tangan yang sudah terkepal kuat itu.


“Bu, ini Permata main ponsel.” Teriakan Pandu itu tanpa sadar membuatku meninju tangannya dengan keras.


“Awww, sakit tahu.” Pandu mengusap tangan yang tadi terkena tinjuanku itu.


“Sakit tau.” Sepertinya kali ini Pandu tidak bohong.


“Iya maaf kan gak sengaja, lagipula kenapa teriak begitu sih.”


“Udah salah malah nyalahin lagi, tidak akan ku maafkan.”


“Maaf deh beneran kok ini bukan sengaja.”


“Ada syaratnya?”


“Syarat?”


“Harus beritahu dulu apa urusan penting itu.”


“Kalau begitu minta maafnya batal, gak jadi.” Ucapku ketus. Meninggalkan Pandu yang bengong, lebih baik segera bersiap untuk pulang bukan.


Anehnya saat pulang aku masih memikirkan Pandu yang masih marah. Ada apa denganku? Kebiaasaan, suka banget mikirin perasaan orang lain daripada diriku sendiri. Aduh, sadar Permata! Aku jadi menepuk-nepuk pipiku pelan.


***


“Ta, sudah cari-cari mengenai pembukaan cpns?”


Ting, dentingan sendok membuat Mama memelototkan matanya padaku. Sorot tidak suka atas kelakuanku itu terlihat kentara sekali. Kapan aku bisa memlih pilihan hidupku sendiri ma?


“Ma, aku gak mau ikutan daftar.” Ucapku masih berusaha bersikap sabar atas kelakuan Mama yang selalu mengaturku.


Mama semakin mendekat ke arahku. “Apa salahnya sih mencoba. Siapa tahu bisa masuk.”


Mama paling bisa membuatku tidak bisa menjawab ucapannya. Ayo otak berpikir, seruku pada tempurung di kepala itu. “Kalau masuk, kalau enggak?” Mencoba membalikan ucapan Mama yang sepertinya tidak berhasil.


“Ya mencoba dulu dong masa langsung masuk gitu aja.” Paksa terus jangan kasih kendor, tau banget kalau anaknya ini gak tegaan dan gak bisa bilang enggak.


“Aku gak mau.” Tolakku.


Mama menatapku marah, tatapan emosinya itu kadang membuat ingin menangis sekarang juga. Bukan karena takut, tapi karena aku berpikir sampai kapan terus terjerat seperti ini. “Maunya apa sih?!”


Sebelum air mata itu benar-benar tumpah aku segera beranjak dari sana. “Yang pasti bukan jadi PNS.”


“Kamu?!” Amuk Mama yang tidak ku hiraukan sama sekali.


Aku bukan boneka atau robot yang seenaknya di atur untuk jadi begini atau begitu. Aku manusia, yang menginginkan kebebasan setelah selama ini terkukung dalam banyak aturan. Harus belajar lah, jangan pulang sampai malam, jangan banyak main, jangan ikut eskul, please aku bukan anak kecil lagi.


Mood ku yang hancur tamba ancur. Dengan ogah-ogahan aku keluar kamar untuk mandi.


Melewati Mama yang masih duduk di ruang keluarga, sebuah ruang yang tidak menampilkan kehangatan sama sekali.


***


Perasaanku sedikit terhibur ketika naik kereta. Melihat lalu-lalang orang-orang yang melewati tempaku duduk. Hidup itu lucu, sungguh lucu. Aku selalu iri dengan mereka yang bebas menentukan pilihan, mereka juga iri denganku yang bisa kuliah.

__ADS_1


Lalu apa arti bahagia sebenarnya?


Sepertinya semesta memang sedang berpihak padaku. Duduk sendirian bukan lah masalah, justru terkadang ramai seringkali banyak masalah. Bergelut dengan pemikiran-pemikiran konyolku, menatap jendela sambil mendengarkan music. Atau sekedar scrool Fb, ternyata memang rutinitasku di kereta dan itu membuatku senang sekaligus tenang.


Me :


Hai Angka sudah lama tidak menyapa apa kabarmu?


Aku juga tidak tahu kenapa ingin sekali menghubungi Angka si anak psikologi. Hanya saja aku butuh teman berbagi sekarang. Teman? Aku terlalu tertutup untuk urusan pribadi. Angka kan tidak pernah bertemu, jadi aman-aman saja kalau aku cerita padanya.


Agla? Anak itu pasti sedang sibuk dengan organisasi dan teman-temannya. Teman kampus? Aku saja belum tahu dengan benar sifat mereka bagaimana, meski sudha kenal hampir dua tahun. Miris sekali tidak bisa ada seseorang yang bisa diajak bertukar pikiran.


Ting


Dengan tergesa aku mengecek ponsel dan membaca sebuah pesan yang masuk. Bodohnya aku tidak melihat siapa yang pengirim pesan itu. Bahuku merosot, ternyata bukan pesan yang aku harapkan. Hanya nomor asing yang aku malas membalasnya.


089896****


Hoi.


“Terus sekarang aku harus curhat pada siapa?” ucapku pada jendela yang sudah pasti tidak akan menanggapi ucapanku itu.


Aduh mengingat perkataan Mama tadi pagi membuat mood ku turun dengan drastis. Aku harus apa coba. Padahal tadi sudah agak baikan perasaanku, sekarang aku tidak tahu. Bingung tidak ada kegiatan aku memakai headseat dan menghidupkan musik. Baru beberapa menit mendengarkan sudah terhenti, sebuah panggilan?


Aku tidak menjawabnya, nomor asing yang tidak ku tahu siapa itu menelponku sampai tiga kali, ketiganya tidak ku angkat.


Repot-repot di angkat kenal aja tidak.


Bagaimana kalau itu penipuan seperti dulu lagi, aku bergidik.


Karena kesal dengan pesan masuk yang mengganggu ketenanganku mendengarkan music, akhirnya aku membuka pesannya. Masih dari nomor asing yang tidak ku tahu siapa itu.


089896****


Angkat dong.


Me :


Siapa ya


Setelah membalas begitu, ada panggilan masuk lagi. Kali ini aku segera menolaknya, ini di kereta dan aku tidak suka menelpon di tempat umum. Lagipula sebegitu pentingnya apa yang akan di bicarakan orang asing itu sampai harus menelponku.


089896****


Kenapa gak di angkat terus sih


Aku mengernyitkan dahi, siapa orang ini tiba-tiba seperti memarahiku saja.


Me :


Memang penting banget sampai harus di angkat


089896****


Penting dong


Dasa orang aneh, kok dia bisa punya nomorku sih. Aku menimbang-nimbang, apa jangan di bales saja ya. Toh gak kenal juga kan. Jadi, buat apa di bales buang-buang kuota dan tenaga saja.


089896****


Tuh kan gak di bales lagi?


Gak di bales lagi? Siapa si dia, terlallu malas untuk meneliti pesannya. Lebih baik abaikan saja orang macam dia ini.


089896****


Sesibuk apa sih sampai tidak bisa membalas pesan orang lain


Me :


Maaf ini siapa ya? Kita kenal


Belum sempat aku melanjutkan untuk memintanya jangan menghubungi atau mengirim pesan lagi, dia sudha keburu membalas.


089896****


Kalau dekat sudah di cubit deh, sayang jauh dan tidak tahu rumahmu dimana.


Jadi, gak save nomorku.


Nomor siapa sih? Siapa juga yang mau save nomor asing.


089896****


Ini Pandu, P A N D U


Hah? Jadi ini nomor Pandu, aku scrool chat nya ke atas. Benar ini memang Pandu. Sebegitu kalutnya aku sampai tidak sadar kalau ini nomor Pandu.


089896****


Jangan lupa save, kamu masih utang maaf padaku.


Dia siapa? Kok mengaturku.


Me :


Maaf untuk yang tadi, maaf untuk tidak mengenali nomormu dan tidak menyimpannya, maaf tidak menjawab pesan atau panggilanmu karena aku memang sednag sibuk.


089896****


Tidak peduli sesibuk apapun dirimu, aku hanya ingin berkomunikasi. Menyapa mu karena mungkin minggu depan tidak bertemu, kamu pindah sip lagi kan?


Aku tidak menjawabnya, hanya saja entah kenapa kini aku memikirkannya. Kalau tidak bertemu memang kenapa ? apa dia bakal bilang rindu seperti dilan gitu. Sok romantis!


Arggg! Otak dan hatiku tidak sejalan sekarang, jangan sampai aku baper sama dia.

__ADS_1


Kamu siapa? Hanya orang asing yang kini masuk dalam otak ku.


__ADS_2