
Bagiku seorang teman itu seperti timbal balik, jika dia memang baik aku juga akan baik, jika tidak aku juga tidak bisa menampik bahwa aku masih bisa berbuat baik juga.
-Permata Biru-
“Teteh mau kemana?” tanyaku saat kami sudah duduk di kereta.
Duduk bersisian dengan orang asing sudah menjadi kebiasaanku semenjak naik kereta satu tahun lalu. Mungkin memang sifat tidak bisa diam ini sudah mendarah daging dalam hidupku, tidak bisa berhenti bicara jika ada orang yang duduk berdekatan.
Apalagi kini aku kenal dengannya. Namanya Risma, mahasiswi yang satu angkatan dengan, tapi beda kampus dan jurusan. Dia kuliah di Universitas yang aku samar-samar mengingat kampusnya itu. Dia satu tahun di atasku, mungkin itu yang membuat kami mudah akrab.
“Cicalengka. Kamu?”
“Rancaekek.”
Aku melihat ke jendela. Kerlap-kerlip lampu malam hari membuatku takjub. Perasaan takut dan kesal jadi hilang begitu saja. Ini pertama kalinya aku naik kereta selarut ini. Saat kembali ke stasiun dua puluh menit lamanya, Teh Risma menepati janjinya untuk membelikanku tiket, syukurnya jadi aku tidak perlu mengatre.
Kami ngobrol ngaler-ngidul seputar kuliah untuk mengisi kebosanan dan kekosongan waktu. Dan selama itu kami belum tahu tujuan masing-masing. Memang ya sesame wanita itu kalau sudah nyambung ngobrolnya seakan lupa pada hal lainnya
.
“Kamu tiap hari naik kereta?”
“Baru kali ini sih naik kereta malam. Teteh?”
“Tiap hari sih.”
“Sudah biasa berarti pulang malam.”
“Ya begitulah, pulang malam paginya harus kerja di puskesmas. Untuk modal nikah.” Bisiknya sambil terkikik. Aku jadi ikutan terkikik.
Nikah? Aku belum kepikiran kesana lagi sih semenjak kuliah dan tidka dekat dengan siapapun. Usiaku kini menginjak 19 tahun, sudah seharusnya bukan aku memikirkan itu.
Pernikahan dan segala keruwetannya.
“Teteh sih enak sudah ada calon, lah aku masih jomblo.” Aku sedikit tertawa di akhir kalimat, sebenanrya aku hanya bergurau saja berucap demikian.
“Jangan gitu dong, nanti juga ada kok.”
“Hehe iya teh.”
Selanjutnya obrolan kami pun ngaler-ngidul, kesana-kemari. Sudah ku bilang kan kalau dua orang cewek yang sudah akrab itu pasti akan membicarakan banyak hal, termasuk kami. Padahal kita baru kenal, tapi entah kenapa begitu ringan aku berbagi cerita dengannya.
Malam ini, tidak sedingin biasanya. Ac kereta juga seolah menyejukkan. Bintang dan kerlap-kerlip lampu di jendela menabah kekagumanku pada perjalanan pulang malam ini. Aku senang, hatiku menghangat. Ada satu cerita yang akan ku tuliskan di diari sepulang dari sini.
“Duluan ya teh.” Tujuanku pulang sudah sampai.
“Hati-hati di jalan ya.”
“Teteh juga hati-hati, cari tempat yang ramai.” Dia mengangguk dan berpindah tempat sesuai saranku. Tujuan Teh Risma merupakan tujuan terkahir penumpang kereta, wajar bila aku khawatir dia perempuan dan sendirian.
“Dahh.” Aku melambaikan tangan kepada jendela tempat Teh Risma duduk untuk terakhir kalinya. Aku merasa semesta memang sengaja mempertemuan kita berdua.
Esok, entahla aku tidak mau menduga-duga. Jika masih di pertemukan tentu saja aku senang karena ada teman mengobrol selama perjalanan. Jika tidak, tidak usah khawatir hidupku senang-senang sendirian selama ini.
***
“Ayo permata semangat.” A Deni menyemangitiku ketika dirinya melewati mejaku sebelum kembali ke mejanya, aku menoleh ke arah a Deni yang sudah berjalan menuju mejanya, “terima kasih a Deni.” Ucapku tulus.
Aku menatap tumpukan kain kecil di mejaku, kali ini masih saku tapi saku bobok 1. Pertama-tama aku menyimpan lembaran kain yang paling besar untuk di taruh di dasar. Di tengahnya sudah ada pola persegi panjang. Aku mengambil potongan kain yang lebih kecil untuk di tempatkan disisi bawah pola kotak persegi panjang itu. aku jahit bagian yang sudah di beri ciri itu.
Pola di atasnya pun aku melakukan hal yang sama.
“Mau di bantu?” Pandu tiba-tiba saja duduk di hadapanku. Aku menggeleng tanda tidak butuh bantuannya kali ini. Bukannya pergi dia malah menopang dagu menatapku.
Aku yang risi berusaha mengusirnya, “gak ada kerjaan memang?” dia menggeleng. Aku tidak bisa berbuat banyak. Terserah dial ah mau diam disana sampai pulang pun. Harus fokus Permata.
“Aku tahu nomor ponselmu.” Ucap Pandu ketika aku sedang mengerjakan tugas menjahit dari Bu Nining.
Aku mengernyit heran, kapan aku memberikan nomorku pada Pandu. Perasaan tidak pernah. Sudahlah tidak usah di pikirkan, dia hanya ngarang cerita mungkin. Jangan merusak pagiku yang ceria ini deh.
Pandu tidak hanya berhenti sampai situ ternyata, dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan nomorku yang tertera di ponselnya. Kalau dia memang tahu nomorku terus kenapa?
“Apa?”
Dia memasukkan ponselnya ke saku jaketnya kembali, “tapi tidak berani buat chat duluan.” Adunya, aku ingin tertawa seketika.
Laki-laki yang senang mendekati perempuan macam Pandu tidak berani chat duluan. Ah cemen, batin ku senang mengetahu fakta itu sepertinya. Sekuat tenaga aku menahan tawa agar tidak meledak di depan pandu.
“Kalau mau tertawa ya ketawa aja, tawamu manis.” Mendadak tawaku terhenti.
Bukannya malu atau apa dia malah tersenyum manis. Pandu dan gombalannya itu memang juaranya, jangan di tanggapi. Aku melanjutkan kegiatanku lagi, tidak peduli dengan yang pandu lakukan.
Cekrek
Aku menatap Pandu yang kini menatap ponselnya. Dia memperlihatkan hasil jepretannya padaku. “Lihat cantik kan?” ucap Pandu yang kini menjauhkan ponselnya dariku yang ingin merebutnya.
__ADS_1
“Hapus!” titahku yang sama sekali tidak dihiraukannya.
“Gak ah, mau aku simpan sebagai kenang-kenangan.” Dia tersenyum jail.
Aku sangat tidak suka dengan senyum jailnya itu, berusaha untuk tidak peduli gangguan pandu lagi. Bodo amatlah dengan foto itu, nanti saja aku urusi. Sekarang sedang asyik-asyiknya menjahit.
Jepret
Kakiku berhenti mengatur gas. Memperhatikan mesin yang mati, apakah mesin ini rusak? Aku melihat sekeliling yang juga sama kecewanya denganku.
“Yah mati belum juga ngejahit.” Keluh Pandu, menatap tumpukkan kain di hadapannya.
“Bu listriknya mati?” tanya seseorang yang entah siapa aku tidak tahu.
Bu Nining mengecek ke luar. Terlihat dia mengobrol dengan Pak Satpam. Sepertinya benar, listriknya mati. Mau bagaimana lagi?
Bu Nining kembali masuk. “Sepertinya kali ini kursus di liburkan saja. Listriknya mati, jadi otomatis kita tidak bisa melanjutkan kursusnya.” Jelas Bu Nining.
“Bukan hanya sekolah ini kok, sepertinya satu kecematan sama mati listrik. Kata Satpam gardunya sedang ada perbaikan.” Lanjutnya.
Aku menghela napas, bagaimana bisa aku mengejar ketertinggalanku kalau begini. Ah padahal aku sedang senang-senangnya menjahit. Malah mati nih listrik harus siapa yang disalahkan sekarang.
“Yey libur.” Entah siapa yang berteriak gembira itu. Yang jelas kini aku mulai membereskan barang-barang.
“Jadi nih makan-makan.” Aku lupa akan hal itu, apa aku harus ikut?
Kami beranjak ke luar, buat apa disini juga toh listriknya mati kan, mesin tidak bisa di nyalakan. Kami berkumpul di depan tempat kursus. Teh Rein memaksaku untuk ikut. Aku bimbang, aku ingin ikut sih tapi takut terlambat masuk kampus nanti.
Masih pukul 9 sepertinya keburu deh, pikirku. Pokoknya habis dzuhur langsung pulang ke rumah jangan main-main lagi. Eh memangnya aku mau main kemana. “Gimana teh?” tanya Teh Rein entah ke berapa kali.
Aku menatap teman-teman yang sudah duduk di motornya itu. “Gak lama kan?” malah balik bertanya hehe.
“Gak kok, paling dzuhur juga sudah pulang.”
‘Yaudah deh.” Tapi aku sama siapa?
Teh Poppy yang baru datang menatap kami dengan bingung. “Kok? Pada mau kemana?”
“Mau makan-makan teh, ayo ikut.” Teh Rein menjawab dan mengajak Teh Poppy.
Teh Poppy menatapku, “Mau ikut?” aku mengangguk.
“Ayo teh.” Aku jadi ikut-ikutan yang lain untuk mengajak Teh Poppy.
“Gak tahu tempatnya.”
“Permata kamu sama siapa?”
Aku tersenyum bodoh, “tidak tahu teh.”
“Yaudah sama teteh aja.” Ajakan yang bagus teh, aku senyam-senyum sendiri.
“Ayo.”
“Eh iya.”
Akhirnya aku dan Teh Poppy yang merupakan anak baru di sip b ikut untuk makan-makan. Agak keki juga sebenarnya, belum kenal semua. Jadi malu, padahal biasanya malu-maluin.
“Ini kemana?” tanya Teh Poppy ketika kami melewati perempatan jalan.
“Lurus saja teh, ikuti motor itu.” jawabku sambil menunjuk motor yang ada di depan kami. Aku tahu itu motor salah satu teman kursus di sip b, a Deni.
Sebenarnya aku tidak tahu dimana rumah Teh Rein, hanya saja aku memang tahu jalan ke daerahnya. Bibiku ada yang tinggal di daerah sana, jadi bukan daerah asing juga sih. Hanya tidak tahu tepatnya dimana Teh Rein tinggal.
***
“Mau masak apa saja nih?” tanya Teh Titan yang duduk di dekatku. Aku dan Teh Poppy hanya ikut saja mereka tidak mau berkomentar, maish canggung saja rasanya.
“Mau makan pete dong.” Laki-laki di sebrangku berkomentar.
“Mau kangkung dan sambel dong.” Teh Titan dengan perempuan yang tidak memakai kerudung itu akhirnya meminta Teh Rein selembar kertas. Mereka berdua menuliskan daftar menunya setelah menagih uang iuran dari kami.
Baru kali ini aku ikut gabung dengan semua anggota sip b, canggung tapi kocak juga sih mereka humble. Tidak membeda-bedakan, paling hanya Pak Guru yang selalu mereka jahili. “Ada anak baru ni perkenalan dong, kita kan belum kenalan.” Ucap Pandu.
Aku dan Teh Poppy saling lirik. “Ayo perkenalan dulu dong.” Pandu kembali menyuruh kami untuk berkenalan. Aku mempersilakan Teh Poppy terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri.
Teh Poppy menatap teman-teman di sip b dengan canggung, “aduh jadi malu nih di tatap begitu.” Seketika gelak tawa menggema setelah mendnegar ucapan Teh Poppy.
“Aku Poppy, gak pindah sih sebenarnya. Siangnya harus ngurus anak jadi bisanya hanya pagi.” Jelas Teh Poppy mmebuat mereka semua mengangguk. Kini giliranku, tapi kenapa aku jadi gugup ya saat banyak pasang mata menatapku.
Aku kikuk. “Aku Permata Biru, panggil aja Permata. Senang berkenalan dengan kalian.” Mencoba tersenyum manis, yang ada jatohnya mulutku jadi terasa kering.
“Kenapa pindah?” pertanyaan yang mungkin ada di benak teman-teman sip b.
“Aku…”
__ADS_1
“Ada urusan hehe..” aku tersenyum garing, sulit sekali berkata kenyataannya pada mereka. Padahal tinggal bilang, ‘aku ada kuliah sore’ rasanya lidahku terlalu kelu.
“Gitu ya.” Pandu memecahkan keheningan yang terjadi.
“Kalau begitu kami pamit dulu mau beli bahan-bahan.” Kita semua mengangguk ketika Teh Rein dan Teh Titan beranjak pergi.
“Teh Poppy nanti pulangnya nebeng sampai perempatan ya.” Ucapku di saat teman-teman yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Oh boleh kok.” Aku bernapas lega, tidak perlu takut pulang sendirian sekarang.
“Permata ini Pak Guru nanyain.” Pandu berucap nyaring sekali sampai-sampai semua orang menoleh ke arahku dan Pandu.
“Nanyain?” beoku, duh aku kok jadi lola begini sih.
“Iya dia nanyain kamu tinggal dimana.” Sahut pandu sambil senyam-senyum sendiri. Aku jadi curiga padanya.
“Bapak nanya saya?” Lah, kok aku jadi ikut-ikutan yang lain manggil dia bapak sih. Aku mengutuk bibir yang tidka bisa di control itu.
“Kalau nanya sama Pak Guru itu harus keras, kayak begini nih Pak Guru dia tanya tuh.” Teriak Pandu sambil menunjukku.
Pak Guru menoleh padaku, “tanya apa?” sahutnya pelan. Selak tawa seketika menggema di teras rumah Teh Rein siang ini.
Aku jadi bingung, apa yang mereka tertawakan?
“Sttt jangan berisik, Mama lagi tidur.” Teh Rein datang menghampiri kami yang sedang tertawa. Teh Rein sudah pulang dari warung sepertinya.
Aku menatap mereka yang masih tertawa, meski tidak seberisik tadi. Tetap saja mereka masih tertawa. Aku benar-benar di buat bingung oleh tinkah mereka. Pandu meringsut mendekati aku yang seperti orang bodoh sekarang.
“Kamu tahu tidak kalau Pak Guru itu budi?”
“Budi?”
“Budek dikit, hahaha.” Pandu kembali tertawa bahkan kini sudah memegangi perutnya. Dia terlalu banyak tertawa sepertinya.
Teh Poppy bangkit, “kita ke dapur yuk, bantuin yang lain.” Ajak Teh Poppy.
Benar juga daripada tertawa tidak jelas disini lebih baik aku membantu mereka masak, walau hanya bisa membantu sedikit setidaknya aku tidak menjadi orang bodoh yang menonton pertunjukkan gelak tawa tidak jelas.
***
“Teh Titan.” Panggilku saat kami sedang memotong sayur kangkung.
“Iya?”
“Pak Guru itu kenapa? Kok bisa di tertawakan begitu?” pertanyaan yang sejak tadi bercokol di kepalaku itu akhirnya ku utarakan pada seseorang juga.
Teh Titan telrihat berusaha menahan tawa, “dia itu gak tahulah anak-anak suka sekali menggodanya. Hahaha.” Tanpa bisa di cegah tawa itu keluar juga dari mulut Teh Titan.
“Aduh maaf, bagaimana ya menjelaskannya.” Teh Titan menggaruk-garuk belakang kerudungnya.
“Anak-anak itu memang senang sekali menggoga Pak Guru karena dia kurang pendengaran.” Aku menatapnya tidak mengerti.
“Gini kalau kita tanya pelan-pelan jawabannya itu suka gak nyambung.”
“Contohnya tadi saat Pandu tanya kamu mau kenalan sama dia, dia malah menjawab hal lain. Itu yang membuat anak-anak senang sekali menggoda Pak Guru.” Begitu ya? Agak kasihan juga sih.
“Aduh aku gak kuat deh.” Adu Teh Tini yang kini memegangi perutnya juga tidak berhenti tertawa.
“Pak Guru itu ya kalau di tanya sama laki-laki jawabannya suka ngawur tapi kalau sama perempuan kok bisa nyambung.” Lanjutnya. Bisa gitu ya?
“Masa sih?” tanyaku penasaran.
“Tanya aja kalau gak percaya.”
Demi membuktikan itu aku bergegas keluar bersama dengan Teh Tini dan Teh Titan. Kami menghampiri Pak Guru yang duduk dengan tenang, tidak menghiraukan tawa teman-temannya. Teh Tini mendekati Pak Guru.
“Pak Guru ada yang mau kenalan nih?” ucap Teh Tini yang kini menarikku mendekat ke arah Pak Guru.
Aku menatap Teh Tini bingung, “tanya coba.”
“Pak Guru orang mana?”
“Sini.” Hah? Tidak lama tawa pun menggema. Kali ini aku ikut tertawa, masa aku tany orang mana jawabnya sini sih.
Pandu mendekati Pak Guru, “Pak Guru dia itu tanya Pak Guru orang mana?” ucap Pandu keras tepat di dekat telinga Pak Guru.
Pak Guru menatapku, “Oh, rancaekek.” Jawabnya.
“Tuh Rancaekek.” Ucap Pandu. Aku dengar Pandu gak usah di jawab lagi.
“Beda ya kalau cewek yang nanya mah.” A Deni ikut nimbrung dalam pembicaraan ini.
“Coba kamu tanya war.” A Deni menyuruh laki-laki jangkung yang duduk di sebelahnya untuk bertanya pada Pak Guru.
“Pak Guru sedang apa?”
__ADS_1
“Kursus.” Gelak tawa kembali menguar. Aku bahkan sampai menitikan air mata kali ini.
Daripada sakit perut karena terus tertawa aku pamit undur diri untuk kembali ke dapur. Aku berpapasan dengan Mama Teh Rein yang kebetulan sudah bangun, aku tersenyum canggung padanya. Malu sekali rasanya kepergok sedang tertawa ngakak.