
Apakah benar jika awalnya pura-pura, akhirnya bisa jadi nyata ?
-Permata Biru-
Bandung, September 2018
Tidak terasa sudah dua minggu aku kursusmenjahit. Aku pikir menjahit itu hal yang mudah, tapi nyatanya tidak. Aku harus bisa mengukur, memotong, membuat pola dan mengatur gas dnegan benar. Satu masalahku adalah belum bisa mengatur gas dengan benar. Kata orang sih gas ku itu selalu kabur. Saking fokusnya aku menjahit aku jadi lupa dengan kedatangan Agla ke Bandung.
Agla memintaku untuk bertemu di kafe dekat dengan sekolah dulu. Baiklah kali ini aku berbaik hati akan menuruti keinginannya.
Rasanya seperti sudah tidak sabar ingin-ingin cepat-cepat besok. Walau masih ada beberapa jam lagi aku tidak bisa menghilangkan senyuman.
Rasanya senang sekali bertemu dengan orang yang sudah merasa dekat dengan kita. Kami rencananya janjian jam 1 siang. Lebih baik aku segera tidur sekarang agar besok tidak bangun siang.
Drrrrrr
Aku menggerutu mendengar suara dering ponselku yang sangat mengganggu itu. Padahal di weekend ini aku ingin tidur lebih lama karena aku tidak bangun subuh. Err siapa yang menggangguku pagi-pagi begini.
“Halo,” suara ku sedikit serak karena memang baru bangun tidur.
“Bangun woy.”
Masih setengah sadar aku mendengar suara itu, meski begitu aku mengenali suara itu.
“Apa sih pagi-pagi sudah bikin resek.”
“Anak gadis tuh harusnya bangun pagi. Nyiapin sarapan lalu layanin suami.”
Suami? Nikah aja belum sedeng nih anak. Dan aku malah ikutan ngaco karena menanggapi ucapannya itu.
“Hmm.”
“Eh lupa lo kan jomblo abadi.”
Sialan! pake ungkit-ungkit status lagi. Tuh kan sudah dibilang Agla itu resek. Aku jadi bangun seketika, mulutku bersiap untuk mengungkapkan kata-kata umpatan.
“Lah lo kan juga jomblo.”
“Sok tau lo, gue gak jomblo lagi tau.”
“Lo udah punya pacar?”
“Kagak lah.” Bantahnya.
“Lah terus.”
“Single dong.” Aku mendengus sama aja bambang. Bodohnya kok aku percaya sama kata-katanya.
“Iam single iam very happy.” Dia malah lanjut bernyanyi.
“Matikan nih ya.”
“Ehh tunggu tunggu.”
“Kita janjiannya jangan siang jam 10 pagi aja ya.”
Aku melihat jam di ponsel.
“Apaaa!”
“Jangan gila ya?”
Sekarang saja sudah jam 8 dan aku belum mandi, belum menyetrika pakaian biar rapi. Belum lagi dandan. Terus ke sana kan juga perlu waktu.
“Gak ada bantahan titik.”
Klik
Aku manyun dengan pipi yang mengembung. Membuat pipiku semakin lebar. Kan kita janjiannya siang bukan pagi gimana sih dia dasar plinplan, gertuku.
“Mau kemana ta, kok buru-buru banget sih.”
Mama menghentikan kegiatanku yang akan mengambil separu di rak.
“Mau ketemu sama Agla ma di kafe biasa.”
“Berangkat sama siapa?”
“Naik ojek di depan aja kayaknya.” Jawabku yang sedang memakai sepatu.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan ya.”
“Iya ma, asslamualaikum.” Teriakku yang sudah nyelonor keluar lupa salim hehe.
“Walaikumsalam.”
Aku berjelan ke depan komplek. Sepi sekali pagi begini, padahal hari ini weekend. Sampai di pangkalan ojek aku langsung meminta abang ojek untuk mengantarku ke kafe tempat janjianku.
Aku turun dan merapikan pakaianku yang tertiup angina juga kerudungku yang sedikit lecek akibat helm.
“Ini bang helmnya dan ini uangnya. Makasih ya.” Aku menyodorkan uang sepuluh ribuah dua lembar kepada bang ojek yang langsung di balas dengan senyuman olehnya.
“Makasih ya neng. Mau di tungguin pulangnya?”
“Makasih bang gak usah nanti nebeng temen aja.”
Tidak lama abang ojek pergi aku langsung masuk ke dalam kafe yang terlihat ramai. Aku mencari tempat duduk yang nyaman terlebih dahulu. Aku memilih spot meja dekat dengan jendela yang menghadap ke luar. Tidak terlalu terlihat jika dari luar. Bagus karena aku suka privasi.
Sambil menunggu Agla datang aku melihat dekorasi kafe yang terlihat banyak berubah setelah beberapa tahun tidak kemari. Meja yang di tata serapi mungkin, dinding yang di temple berbagai figura, juga lampu gantung yang menarik perhatianku sejak masuk kesini. Besar juga ya perubahannya selama beberapa tahun ini.
Aku sengaja belum memesan apapun karena menunggu Agla datang juga belum mau makan karena tadi setelah mandi aku makan terlebih dahulu. Aku mencoba menguhubungi Agla yang entah dimana sekarang, awas saja kalau dia membatalkan janji aku tidak akan membantunya. Demi mengusir kebosanan aku membuka media sosialku.
Sekarang aku kesal sama Agla karena sudah menunggu setengah jam, batang hidungnya belum terlihat sama sekali. Dengan amat terpaksa aku akhirnya memsan makanan agar ada kegiatan. Biar orang-orang tidak aneh memandangku.
“Lama nunggunya ta?”
“Dua jam.” Balasku sebal.
“Maaf tadi ada sedikit masalah kok di rumah. Kamu itu kan paling ahli menunggu. Menunggu jodoh saja mampu, masa menunggu selama setengah jam tidak mampu.
Dia duduk di hadapnku, wajahnya masih sama seperti terakhir kali kita bertemu bertemu. Tetap mengesankan di mataku. Apalagi matanya yang teduh, selalu membuatku merasa nyaman apabila di dekatnya.
Agla memperhatikanku yag sedang memakan roti bakar. Dia juga melirik semangkuk cup eskrim yang setengahnya sudah ku makan. Belum lagi jus mangga yang belum ku minum. “Kamu pesen sebanyak ini?”
“Yaiyalah emang siapa yang pesan kalau bukan aku. Lagian kamu datangnya lama bikin tambah bête aja.”
Agla akhirnya memanggil pelayan. Dia memesan kentang goreng juga jus alpukat kesukaannya. Dia terlihat asyik dengan ponselnya entah sedang apa aku tidak terllau peduli karena sedang makan.
“Jadi bagaimana rencannya?” aku sengaja bertanya duluan karena Agla terlihat asyik sekali dengan ponselnya dan aku tidak suka apabila sedang bertemu dengan orang tetapi tidak mengobrol dengan orang itu.
Akhirnya Agla menyimpan ponselnya di meja dan mulai memperhatikanku. “Oh iya aku sengaja ngajak kamu jam segini karena kita janjian akan telponan jam segini. Jadi begini, aku memang sengaja mengajaknya untuk ngobrol karena aku berencana memberitahu dia sesuatu. Dan yang akan ku beritahu itu mengenai pacarku. Aku tidak bilang akan memberitahu hal itu, aku hanya bilang akan memberitahunya hal penting.”
“Hmm.”
Tidak lama setelah itu terdengar deringan dari ponsel Agla. Wah benar ternyata, aku tidak menyangka wanita itu benar-benar nekat. Sepertinya dia memang serius menyukai Agla. Agla memberikan ponselnya kepadaku dan mneyuruhku mengangkatnya. Dia sendiri malah asyik makan kentang goreng.
“Hallo.” Suara wanita di sebrang sana terdengar antusias sekali.
“Iya haloo.” Ada jeda setelah aku berbicara.
Wanita itu sepertinya tidak percaya dengan aku yang mengangkat telpon Agla, hmm baiklah permainan di mulai. “Ini Agla? ”
Aku berusaha menetralkan mimic mukaku yang ingin tertawa. “Agla nya sedang di toilet. Ada apa ya?”
Suara di sebrang sana menghilang. Aku mengecek apakah sambungan telepon masih tersambung atau sudah di matikan. Masih tersambung ternyata, sepertinya wanita itu benar-benar kaget.
“Kalau boleh tahu ini dengan siapa ya?” pertanyaan yang bagus, mari kita mulai dramanya. Senyumku jadi tersungging sinis.
Aku berdehem agar tidak kentara seperti sedang berakting. Aku memperingatkan Agla untuk tidak bersuara. “Saya yang seharusnya tanya sama kamu nih, kamu siapa?”
“Kan aku duluan yang tanya, gimana sih!” Kok dia nyolot ya. Di luar dugaan dia malah memarahiku. Rupanya dia memang lawan yang sepadan, tidak mau kalah.
“Yaudah aku jawab kamu jangan kaget ya.” Aku berusaha berbicara selembut mungkin, tidak ingin emosi.
Tidak ada jawaban darinya membuatku berpikir dia menyetujui ucapanku tadi.
Dengan sangat santai aku berkata, “aku pacarnya nih dan sekarang kami sedang kencan.” Sebisa mungkin aku berusaha menekankan kata kencan agar dia berpikir bahwa teleponnya telah mengganggu acara kencan kami.
“Hah masa sih?” jawabannya itu bikin aku jadi sedikit kesal karena dia tidak percaya padaku.
Aku pura-pura terlihat sedikit kaget mendengar ucapannya. “Iya kamu gak percaya?”
“Agla gak pernah cerita kalau dia punya pacar. Dia juga tidak terlihat seperti punya pacar kok. Selama ini aku tidak lihat dia berhubungan dengan siapapun dan hanya aku wanita yang dekat dengannya.” Wah percaya diri sekali dia ini. Mari kita lihat siapa yang akan menang nona.
“Wah begitu kah, mungkin karena kami kan ldr jadi kamu tidak tahu.” Aku menyeringai penuh arti.
Wanita itu terdiam kembali. “Jadi ada apa kamu menelpon pacarku?” Aku seakan tidak canggung mengucapkan kata pacarku padanya. Padahal selama ini aku selalu canggung apabila membahas pacar-pacaran dengan sahabat perpempuanku.
“Bisa bicara dengan Agla? Aku ada pelru dengannya. Kami juga sudah janjian kok. Dia ingin membertahuku hal penting.”
__ADS_1
“Wah kebetulan dia sudha kemblai dari toilet nih. Sebentar ya aku tanya dia terlebih dahulu.”
Aku melirik Agla yang asyik bermain gama di ponselku. Aku menendangnya karena dia tidak juga melihat kode dariku. Matanya seakan protes padaku. Dengan pelan gerakan bibirku berkata dia mau bicara denganmu. Agla malah cuek menyuruhku untuk melanjutkan saja.
Melihat dia yang cuek aku lantas berkata, “say nih ada cewek nanyain kamu?” dengan sengaja aku mengencangkan volume bertanyaku agar Wanita itu mendengar.
Di sebrangku Agla hanya tertawa melihat aktingku. Aku melotot mara padanya. Bibirnya menyunggingkan seringaian.
“Kamu angkat aja say gak lihat nih aku lagi main game tanggung.”
Aku kembali mendekatkan ponsel agla ke telinga. “Nah kamu dengar sendiri kan dia bilang apa.”
“Ah bohong mungkin itu Agla palsu.” Dia masih tidak mau percaya kalau itu Agla dan aku pacar pura-pura Agla. “Gak percaya kita kirim foto mesra kekamu deh.” Aku mengkode Agla untuk membantuku kali ini.
Agla melirik piringnya yang masih ada beberapa potong kentang.”Sayang sepertinya aku gak suka sayurnya pindahin ke piring kamu ya” ucap Agla genit. Aku melotot , membantu sih tapi gak gitu juga.
“Gak usah, maaf ganggu kencan kalian.” Dia terlihat kesal, aku seketika menahan tawa. Dia mematikan secara sepihak sambungan teleponnya.
Agla tertawa ngakak seketika, aku memandangnya dengan tatapan sebal tapi juga jadi ikutan tertawa.
“Puass ya? Tapi awas saja kalau dia ganggu aku.” Ada sedikit ketakutan karena bisa jadi dia akan membalikanku suatu saat nanti.
“Hahaha dia gak akan berani macam-macam kok tenang aja. Hahaha sayang ini mau sayurnya.”
Aku melempari wajahnya dengan kentang goreng. Sayur apaan, dia gak pesan makanan yang ada sayurnya. Dasar pembohong akut dan aku jadi ngikutin dia.
“Gimana kuliahmu ta, aman?” tanya Agla setelah meredakan tawanya.
Aku terdiam sejenak memikirkan nasib kuliahku yang bisa dibilang tidak cukup baik. Nilai si masih aman tapi aku gak yakin kalau materi yang diberikan dosen akan masuk semua ke otakku. “Banyak pusingnya daripada amannya.”
Agla kembali tertawa dia malah mengejekku. “Makan tuh makanya nentuin pilihan itu jauh-jauh hari.”
Aku berusaha memikirkan alasan apa yang cukup masuk akal. “Gue gak mau ah kualat sama orangtua. Jauh-jauh hari kalau ortu gak setuju gue bisa apa.” Tanpa sadar aku mendesah pelan.
“Ck nih ya ta, coba aja kalau kamu ikut ke Jogja. Beuh disana itu rame banget. Anak-anaknya pada asyik-asyik, tempat nongkrong juga asyik. Dosen juga ramah-ramah. Ya seru deh pokoknya.”
Seketika rasa iri itu menyusup ke relung hatiku. Jogja dan segala mimpiku ada disana, apa mungkin aku bisa meraihnya. Sadar Permata apa yang di depan mata sekarang lebih penting.
“Biarin lah, gak tertarik.” Tiba-tiba saja aku kehilangan selera untuk menghabiskan makananku.
“Beneran nih, nanti aku kasih tiket kereta gratis malah histeris.”
Mataku jadi berbinar. “Oh kalau itu beda lagi sih ceritanya.”
“Dasar cewek.”
“Ngomong-ngomong kenapa kamu gak mau sama cewek itu padahal dia cantik loh.”
“Gak ah die cerewet panas tahu kuping gue.”
Aku menatapnya meminta penjelasan.
“Awal-awal aku sering telponan sama dia, terus ya gitu lah lama-kelaman gue merasa bosan.”
“Dasar cowok.” Aku membalikkan kata-katanya tadi.
“Gue juga merasa belum bisa sepenuhnya lupain Intan."
“Roman-romannya ada yang belum move on nih. Iyasih siapa yang bisa lupain kisah cinta selama masa SMA.”
“Ngeledek ya.”
Aku malah menjulurkan lidah padanya tanda semakin mengejeknya.
“Terus kalau sudah tahu kamu punya pacar emang dia ada kemungkinan menjauh gitu.”
Agla mengangkat bahu tak tahu. Membuatku merasa menyesal karena telah membantunya. “Dasar ye gak berubah Agla Agla.”
“Ya kan niatnya mau mencoba siapa tahu bisa.”
“Ta main yuk?”
Aku memutar bola mataku dengan malas. “Ini sudah main Agla.”
“Ke SMA yu.” Ajaknya yang mmebuatku mengerutkan kening. Mau ngapain ke SMA coba kan sudah lulus.
“Ayo ikut aja.”
Mau tidak mau aku pun mengikutinya yang akan ke SMA.
__ADS_1